Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA180. Terlihat tetap baik


__ADS_3

"Abang, aku tak mau orang tua aku tau." Ia berkata dengan tetap memelukku. 


Apa yang ada di pikiranku setelah mendengar ucapannya ini? Yaitu, tentang ia ingin tetap melanjutkan perzinahan selanjutnya. 


"Kau butuh hal itu, mintalah orang tua kau nikahkan kau dengan laki-laki baik, jangan asal orang begini." Aku melepaskan pelukannya, kemudian meluruskan pandanganku pada Hema. 


Aku tidak bermaksud body shaming, bukan karena Hema kurus. Tapi, karena dia mengakui sendiri bahwa dirinya adalah pemakai barang haram. Ia pun mengakui juga, bahwa dirinya sekarang dalam tahap rehabilitasi dan belum lepas. 


"Hema tak asal, dia bersih dan sehat."


Aku tidak tahu sejeli apa Bunga menyeleksi laki-laki, tapi di mataku tetap Hema bukanlah pilihan yang terbaik. Jika ia laki-laki baik, ia tidak akan menyentuh barang haram dan tidak akan melakukan hubungan haram hari ini. 


"Terus apa yang ada di otak kau, bisa-bisanya kau mau? Apa yang kau rasa, Bunga?! Kau pacaran, tak juga. Kau cinta dia, Abang tak yakin juga. Tapi secantik ini, kau mau sama dia tanpa hubungan yang jelas. Kau jangan buat diri kau lebih murahan lagi, Bunga." Harus bagaimana aku menyampaikan agar Bunga tidak sakit hati? 


"Kita memang tak punya hubungan, Bang. Tapi kami saling tertarik, aku pun jujur sama Abang di awal. Dia tak seburuk seperti penampilan yang Abang lihat yang ada di diri dia, dia lebih dari laki-laki yang Abang kira."

__ADS_1


Berani sekali Bunga memuji Hema di depanku. Oh, aku tahu. Aku tahu rumus dunia tentang laki-laki, yaitu orang kurus akan memiliki bentuk barang yang menarik. Aku tidak tahu gennya dan penjelasannya seperti apa, tapi lingkar pinggang laki-laki mempengaruhi sekali bentuk senjata warisannya. 


"Kau suka sama batangnya, udah ketebak." Aku menuduhnya bengis. 


Ingin rasanya aku mengutuk mulutku sendiri, sayangnya Bunga malah nyengir kuda. Kecewanya aku bertambah, karena tuduhanku benar akan hal itu. 


"Udahlah, Bang. Kan aku jadi malu sendiri, kalau ditebak semua begitu." Bunga mengusap-usap punggungku. 


"Abang tak main-main, orang tua kau harus tau hal ini. Abang tak akan menutupi hal sebesar ini, hanya untuk menyelematkan kau aja. Kalau kau malu dengan dosa kau sendiri, Abang bakal merasa beruntung sangat. Tapi hari ini, kau cari pembelaan dengan diri atas dosa yang kau lakukan secara sadar." Pendosa yang mengkhawatirkan dosanya lebih dirindukan surga, ketimbang seorang yang sombong yang bangga dengan kelakuan bejatnya. 


Ia ada pikiran ke sana, tapi ia ingin menyamarkan dosanya. Jika ia niat berubah karena Tuhannya saja bisa ingkar, apalagi hanya berjanji pada manusia. 


"Terus kau mau apa sekarang? Mau sogok Abang dengan uang? Atau, mau kasih Abang iming-iming badan kau? Tak akan bisa!" Aku memberi telunjukku tepat di depan wajahnya dan memberi jarak lebih dekat antara wajah kami. 


"Yaaa, tak gitu. Maksudnya, kita obrolin bersama. Biar Hema datang ke orang tua, dengan cara baik. Orang tua tak perlu tau kita begini gitu, Bang. Kita main kamuflase, kalau Abang setuju." Wajahnya nampak frustasi dengan helaan napas berat. 

__ADS_1


"Terus di belakang orang tua, kau tetap akan melakukan hal itu kan???"


"Yaaa tak, Bang. Duh, Abang." Bunga bersiap seperti akan menangis. Bibirnya sudah rapat, dengan bola mata yang nampak gelisah. 


"Kau ini gatal, Bunga! Abang bujuk, Abang iming-iming, Abang ajak, Izza tak pernah mau dan Abang menghormati keputusannya. Abang suka caranya bersikap, meski ada kesal wajar karena memang begitulah manusia. Tapi Abang suka dengan caranya bersikap dan menolak ajakan dosa itu, itu keren, dia punya value, dia punya harga diri dan dia bermartabat. Kenapa kau tak bisa begitu, Dek? Kau keturunan keluarga baik-baik, kau didikan orang-orang hebat, kenapa begini? Kenapa kalah dengan anak yatim dan hanya nyicipin didikan ibu?" Aku ingin dia paham, bahwa dirinya yang lebih beruntung dari orang lain tapi tidak bisa membawa dirinya dengan baik. 


"Abang lupa kalau orang tua kita ahli berzina, pendosa dan bahkan manusia jahat. Ayah Givan, kasus pemerkosaan, obat terlarang, berani dengan orang tua dan bahkan ia punya keturunan di luar pernikahan. Tak beda jauh dengan ayah Ken, dia punya kasus serupa yang tak dibesar-besarkan karena profesinya melindunginya. Terus Abang berharap kita jadi keturunan yang punya martabat dan value tinggi? Abang enak, ngerasain didikan orang tua. Kak Izza mending, didikan ibunya masih dirasakan. Aku gimana, Bang? Siapa yang didik, karena sejak dulu cuma uang yang masuk? Bulan puasa, tak bulan biasa. Apa ada yang hanya nyuruh untuk makan? Makan silahkan, aku tak makan mereka tak tau. Zakat fitrah, baju lebaran. Aku tak punya inisiatif sendiri, mereka tak akan ngurus aku. Di mana saat ayah Ken gencar kasih perhatian, karena masa itu ketahuan sakit yang hanya karena hal sepele jarang makan. Aku udah terbiasa apa-apa dengan diri sendiri dan keputusan sendiri, aku risih dapat perhatian orang tua. Maksud aku, aku bukan ingin perhatian yang terus diteror dari panggilan suara atau panggilan video. Tapi urus aku! Atur kehidupan aku, pastikan bagaimana keadaan aku! Terus sekarang aku harus tumbuh dengan value tinggi dan martabat yang kuat? Hei, Bang! Yang penting orang tua tak tau buruknya aku, mereka akan bangga dengan dirinya sendiri karena menganggap didikan mereka berhasil dan berkurang untuk meneror anaknya dari panggilan suara atau panggilan telepon," tutur Bunga bercampur emosi. 


Aku mendorong dahinya, ia kelewat batas. "Kau yang kena HIV, kau sendiri yang rugi, BODOH! Kau ingin membuat orang tua bangga, dengan cara seolah baik di depan mereka, padahal diri kau begitu rusaknya. Itu kau sendiri yang akan merugi, bukan orang tua dan bukan orang lain. Kalau begitu cara kau berpikir, ya udah emban tanggung jawab kau hidup kau sendiri. Mulai hari ini, Abang tak akan peduli dan tak mau tau bagaimana kau lagi. Kau tetap kerabat Abang, kau tetap adik Abang, Abang pun akan pura-pura beranggapan kau baik-baik aja dan kau tak bermasalah di luar. Kau bebas berekspresi, kau bebas melakukan, karena yang Abang tau pun di rumah kau adalah anak yang baik." Namun, tetap aku akan melaporkan segalanya pada orang tuanya. 


Tapi tentu, hal terakhir itu tidak akan aku katakan padanya. Biarkan dia akan bingung, masa orang tuanya menegurnya. Aku akan pura-pura tidak tahu, dengan laporan yang akun teruskan ke orang tuanya. 


Jika caranya begitu, aku pun akan tetap menjaganya dengan caraku. Dalam artian, ia pun risih aku didik menjadi lebih baik. Biarkan, biarkan ia dengan keinginannya yang terus seperti itu. Aku pun akan terus membiarkan diriku melaporkan segala sesuatu informasi yang aku tahu dengan mata kepalaku sendiri, tanpa Bunga ketahui. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2