
"Kau merasanya bagaimana, Jes? Jangan salahkan orang, kau terlalu curigaan." Aku menghela napasku.
"Bukan curigaan, aku cuma nanya. Abang terlalu lama tak jawab, seolah itu sulit aja." Jessie membuang pandangannya ke arah lain.
Bukan sulit sebenarnya, hanya saja aku tidak enak hati mengatakannya. Harusnya, ia tahu diri saja. Tidak perlu mendapat jawaban dariku, ia pasti bisa meraba pendapat orang lain tentang dirinya.
"Kenapa dengan Hema? Apa karena dia direhabilitasi karena kau, jadi kau takut Hema jelek-jelekan kau di depan aku? Bukannya kau cerita sendiri tentang bagaimana kau ya? Kenapa kau seolah benci dengan kehadiran Hema di lingkungan aku, bukannya kau yang menebar identitas kau sendiri? Kau tak perlu takut, berprasangka buruk, aku udah tau siapa kau." Rasanya sulit sekali menjaga perasaan seseorang.
Apa aku harus senantiasa jujur?
"Abang tinggal bilang, Hema ngomong apa aja tentang aku!" Ia menepuk dadanya sendiri, dengan suara yang memberikan penegasan untuk aku menjawabnya.
Ia tidak benar-benar hanya ingin cuci mulut, ia tengah mencari informasi tentang apa yang Hema sampaikan padaku. Begini ya cara bermain Jessie, aku jadi mulai memahami karakter anak kota satu ini.
"Kau b***** besar, dia user kau. Udah! Kenapa? Kenapa begitu ingin tau tentang yang Hema bilang? Apa kau takut dicap buruk oleh user kau?" Susah menjaga hati seseorang, biar sekalian sakit hati saja sana.
"Aku cuma ingin tau pengaruh Hema sekuat apa, sampai Abang tiba-tiba jauhin aku begitu." Ia menepuk pahaku dan mengusapnya.
"Kau pikir aku terpengaruh ucapan Hema? Aku tau identitas kau dari mulut kau sendiri kali! Aku bukan tiba-tiba jauhin, aku laki-laki yang punya tanggung jawab ke pekerjaan. Aku tak bisa selalu sama kau, Jes!" Aku menampik tuduhannya dan tangannya dari atas pangkuanku.
Aku takut bijiku tiba-tiba diterkam oleh tangannya, kan pasti mules sekali.
"Kenapa? Baru sadar sekarang kalau aku bukan perempuan baik? Kenapa tak dari awal Abang jauhin? Kenapa harus berbarengan dengan kedatangan orang-orang baru, baru Abang jauhin aku? Aku tersinggung loh dengan sikap Abang, aku perhatikan dan aku cermati, sikap Abang kek gini sejak aku nolak untuk ikut ke OYO masa di parkiran itu. Apa pikiran laki-laki hanya tentang perempuan yang mau buka celana aja? Aku tak mau, terus aku dijauhi begitu?" Ia terlihat berapi-api dengan mata yang mekar.
Jadi ia dengan rutin mengaji dan acara sok akrab itu, ternyata tengah memperhatikan dan mencermati perubahanku? Aku jadi ingat semua dengan usahanya memperhatikan gerak-gerikku, sampai aku dan keluargaku risih dengannya.
Cara mainnya tidak rapi sama sekali.
"Kau pikir??? Istri aku dulu nolak aku ajak mesum seribu kali, tak ada ceritanya aku jauhi dia. Kau pikir aku seburuk itu? Tak ada selang*****, masih ada tangan kali!" Aku mengangkat tanganku sebatas dada dan memperlihatkan telapak tanganku padanya.
Ia tertawa geli, dengan mencubit manja perutku.
"Ya harusnya Abang bilang aja, kalau ada red flag di diri aku. Abang tak perlu jauhi, Abang bisa sampaikan langsung ke aku."
Terlihat sekali rela berkorban untuk seorang pasangan.
"Tak ada red flag, aku tipe pengejar. Aku risih dikejar, aku tak nyaman dengan acara pedekate yang kau buat." Ia menginginkan agar mulutku menyakitinya.
__ADS_1
Tak apa, biarkan. Syukur-syukur, ia bisa pergi dariku dengan ucapanku barusan.
"Aku tak lagi pedekate, lagi." Ia terkekeh pelan dan geleng-geleng kepala.
"Ck…. Aku udah duda, aku bukan anak kemarin sore." Sombongnya mulut dusta ini, duda juga aku nol pengalaman.
"Aku butuh teman, serius." Ia menoleh dan tersenyum manis.
"Ya udah, terserah kau!" Aku menghela napasku dan memijat hidungku.
"Bisakah kita tetap berteman?" Ia menengadahkan tangannya ke arahku.
Kenapa ini?
Meminta uang kah?
"Tak bisa, sewajarnya aja. Aku sama istri aku dulu pun, awalnya berteman. Aku masih malas menjalin hubungan, aku terlalu repot dengan kesibukan aku." Aku menepuk telapak tangannya yang berada di depan dadaku.
Tawa kecilnya terdengar. "Teman curhat, virtual. Tak masalah lagi, Bang."
"Ya terserah, kalau sempat." Aku tak memiliki masalah hidup sekarang, aku memiliki masalah dengan kehidupan adik-adikku.
Aku kira mudah mengatur adik perempuan, ternyata Zio lebih mudah diatur ketimbang Cani, Ra dan Bunga. Satu kali diperintahkan, Zio langsung tindak dengan cepat. Tidak ada kata nanti, seperti yang sering dikatakan oleh Cani, Ra dan Bunga juga. Makan, nanti. Mandi, nanti. Tidur, sebentar lagi. Sholat, lima menit lagi. Jawabannya selalu membuatku naik pitam.
"Begitu? Oke deh, mungkin aku harus ngertiin kesibukan Abang ya?" Kini tangannya mengusap bahuku sampai ke tengkukku.
Merinding, mak.
"Curhat tuh voice note aja, barangkali tak sempat aku baca pesan chat kau." Itu pun kalau aku sempat mendengarkan.
"Lebih penting dengerin curhatan Bunga ya, Bang?" Ia merangkulku dan menarik leherku lebih dekat padanya.
Ya ampun, perempuan ini.
"Tak juga, Jes. Bukan kau, ya bukan Bunga juga. Kau selalu beranggapan, bahwa Bunga ada di hati aku." Kentara sekali, jika Jessie tengah menuduhku secara lembut.
"Karena kelihatannya begitu."
__ADS_1
Ia selalu membenarkan pendapatnya sendiri.
"Kau mau aku antar pulang? Udah jam dua belas kurang lima belas menit, aku butuh waktu di perjalanan untuk sampai ke sekolah Cani." Aku tidak mau adikku yang satu itu main drama dengan pulang sendiri, lalu ada tragedi angkot mogok dan ia merengek minta dijemput di angkot.
Masalahnya, angkot yang mana? Angkot itu banyak, ditambah ia tidak mengerti nama daerah tempat angkot mogok itu. Patokan yang ia berikan membingungkan, aku tidak mungkin memperhatikan mobil angkot yang menepi dan berhenti di jalanan.
"Boleh, ayo." Ia langsung berdiri dengan senyum sumringah.
Aku mengangguk dan aku langsung berjalan ke arah motorku. Sampai siang hari pun, aku tidak mendapat telepon dari biyung. Ayah tidak makan siang di rumah rupanya.
"Aku langsung ya?" Aku segera menarik gas motorku, begitu sampai di depan pagar rumah Jessie.
Sialan, ada orang tuanya di teras dan melihatku menurunkan anaknya. Bukan apa-apa, aku takut suatu saat ditegur karena membawa anak mereka.
"Oke, Bang. Makasih ya?" Jessie menepuk pundakku, ia memberikan senyuman lagi.
Aku mendapatkan adikku si putri drama tepat waktu. Ia memelukku di perjalanan, dengan merengek mengatakan….
"Haidku tembus ke rok, untungnya temen perempuan aku yang lihat. Aku malu betul, Abang." Curcol yang alami mengadu.
"Bawa pembalut kalau gitu. Darahnya kau cuci, pembalut kotornya bawa pulang dikresekin. Buang di rumah, barangkali mencolok kalau buang di tempat sampah sekolah." Ini adalah caranya Izza sejak zaman SMP.
Haidnya selalu banyak kalau tidak salah, bahkan pulang sekolah aku menemaninya ke toilet karena ia berganti pembalut dulu sebelum pulang. Saat jam istirahat pun, ia melakukan hal yang sama. Masa itu aku hanya berpikir untuk kebersihan, karena pernah membaca sebuah informasi tentang pembalut yang harus diganti sesering mungkin.
"Pasti repot, Bang." Cani terus bersandar di punggungku.
Beratnya jika seperti ini.
"Daripada tembus, repot sedikit tak apa. Terus bawa rok dua, buat jaga-jaga." Itu pun kebiasaan yang Izza lakukan.
Tinnnnn….
Laki-laki berseragam SMA seperti Cani, mendahului motorku dengan motor besarnya. Wajahnya tidak terlihat karena helm full face, tapi anggukan ramahnya membuatku langsung curiga karena Cani terus memperhatikan laki-laki tersebut.
Jangan-jangan, adikku ini mulai suka-sukaan dengan seorang laki-laki?
...****************...
__ADS_1