
"Ada apa?" Givan menyenggol lengan anaknya.
Chandra menggeleng. "Tak ada." Ia tertunduk kembali, ia kurang menikmati kehangatan keluarga kali ini.
"Ada apa dengan Ceysa?" Givan sedikit mengerti tentang rasa kasihan Chandra yang tersirat dari matanya.
"Tak ada, Yah," jawabnya perlahan.
"Hadi?" Givan mencoba menebak.
"Iya, Yah." Chandra mengangguk dan melirik ayahnya.
"Ceysa ada di sini juga, Hadi sama Sekar pasti gagal." Givan tahu sejarah kedekatan dua anak muda tersebut. Ia yakin posisi anak tirinya pasti menang, jika ia berada di sini.
"Sebenarnya siapa yang jodohkan mereka? Hadi juga kenapa tak ingat ada Ceysa yang selalu nungguin dia datang liburan ke sana. Tahun lalu ia terakhir liburan yang datang sama Sekar itu, terus dia tak datang-datang lagi ke sana. Aku nungguin padahal, sengaja nungguin dia datang sendiri. Tapi keknya karena pengaruh Sekar, dia jadi tak mau datang ke sana lagi." Chandra terus memperhatikan interaksi Hadi dan Sekar. Hadi terlihat sibuk meladeni adik-adiknya, dengan Sekar yang selalu mencoba memegang tangan Hadi.
Ia berpendapat, bahwa Hadi sebenarnya tidak mencintai Sekar. Hanya saja, ada alasan kekeluargaan yang membuat Hadi mempertahankan Sekar. Karena ia mendapat informasi sendiri dari Hari, bahwa Sekar adalah kerabat jauhnya neneknya.
"Kenapa kau nungguin Hadi datang? Kau bisa kabar-kabaran sama dia lewat HP, kau pun bisa minta Hadi datang kalau kau hubungi dia. Dia bukan orang hebat, yang tau isi hati orang yang jauh di pandangannya." Givan semakin mencurigai anaknya.
"Ya harusnya dia merasa." Tersirat kekesalan Chandra.
"Merasa apa? Apa Hadi buat salah?" Seiring terlontarnya pertanyaan dari ayahnya, Chandra semakin tersadar bahwa ia hampir saja membocorkan semuanya.
"Dia mecahin body gitar aku." Chandra menarik masalah kecil yang terjadi di sana.
Karena konflik sebenarnya, bukanlah hal itu.
"Masa?" Givan memicingkan matanya. Givan yang sudah berusia empat puluh sembilan tahun, dengan pengalamannya, tentu tidak percaya dengan pengakuan anaknya.
"Iya, Yah." Chandra terus memandang Hadi dari jauh, sampai Hadi menyadari bahwa dirinya diperhatikan sejak tadi.
Givan hanya manggut-manggut, ia menunggu anaknya berterus-terang padanya di lain waktu. Tapi ia pun tidak tinggal diam, ia akan mencaritahu sendiri. Ia pun sempat berpikir, untuk menanyakan langsung pada Hadi.
Chandra membantu kerepotan yang ada. Catering dalam jumlah banyak, diturunkan dari mobil box dan langsung masuk ke dapur untuk disiapkan. Acara buka bersama terakhir ini, dilangsungkan di rumah Givan. Barulah esok lebaran, rumah pusaka nenek dan kakek Chandra akan menjadi tempat berkumpulnya para anak cucu dan cicit dari mendiang Adi Riyana dan Adinda.
__ADS_1
Sampai akhirnya, ia harus terus menghindari Izza yang terus mendekatinya. "Aku jotos ya kau, Za! Aku minta nyicip dada kau, tak boleh. Tapi kau mepet terus! Sana berbaur sama Ra!" Chandra mengibaskan lengannya yang terus dipeluk oleh Chandra.
"Abang tuh ganteng betul setelah mandi. Kalau pakai sarung begini, damage-nya tak main-main." Izza mencoba memegangi kembali lengan pujaannya.
Mereka semua tengah menikmati pesta barbeque, dengan singkong yang menjadi best seller alat pembakaran tersebut.
"Kau mau apa?! Udah tak usah muji-muji! Udah biasa aku dengar!" Kesombongan dan keketusan ayahnya sedikit turun padanya.
"Jatah baju baru, satu set sama sandal dan kerudung. Tahun ini Abang pulang mepet betul, kita belum shopping." Izza memasang wajah penuh harap.
"Aku pun belum punya, tapi biyung pasti udah nyiapin sih." Chandra kembali menarik tangan keponakannya yang berlalu lalang di tempatnya.
Ia merasa begitu gemas, pada anak kakaknya yang baru berusia sebelas bulan tapi sudah bisa berkelana dengan kakinya sendiri.
"Kaleel, sini! Jangan ganggu Om lagi pacaran," seru Key, kakak Chandra yang merupakan ibu dari Kaleel.
Chandra memanyunkan bibirnya, kemudian mengangkat tubuh Kaleel dan menggendongnya. Ia meninggalkan Izza di teras rumah saudara-saudaranya, yang berada di sisi kanan dan kiri halaman rumah orang tuanya.
Satu rumahnya pun berada di sini, tapi ditempati sementara waktu oleh adik perempuannya yang datang dari pesantren. Ia tahu apa alasannya ia tidak diberi rumah sementara ia pulang seperti ini, karena Izza keluar masuk rumahnya seenaknya. Meski ia tidak melakukan apapun pada Izza, tapi orang tuanya memiliki kekhawatiran tersendiri.
"Pantas kok, kapan disegerakan?" Key merentangkan kedua tangannya menyambut tangannya yang ingin berpindah bersamanya.
"Nanti, Kak. Izzanya belum matang." Chandra mengambil tempat di samping kakaknya duduk.
"Kalau belum matang, dia tak mungkin mudah dekat sama anak-anak begitu. Tengok, dia akrab betul sama Dewa dan Adri." Key menunjuk anak dari sepupu laki-lakinya yang tengah bersenda gurau bersama Izza.
Chandra mengikuti arah tunjuk kakaknya. "Adri itu anak Adib?" Chandra sedikit bingung, karena jarak pernikahan mereka dan kelahiran anak-anak mereka cukup dekat.
"Iya, Dewa Gusti anak Aksa, dia baru dua tahun. Adri Agastya anak Adib, baru enam bulan. Eh, Adib sama kau itu tuaan kau, kau dilangkahi adik-adik sepupu kau. Kalau Aksa sih, jelas lebih tua dia dari kau. Dia lahir, biyung baru ngidam kau." Key menceritakan beberapa keponakannya, yang tidak dikenal jelas oleh Chandra.
"Adib kan buat syarat, biar kejangnya berhenti. Eh, tapi beneran sembuh kejangnya?" Chandra menurunkan nada suaranya.
"Ya kejang tiap malam sama istrinya," jawab Key kemudian mereka tertawa renyah bersama.
"Iya, tapi beneran sembuh kah?" Chandra penasaran dengan kepercayaan akan hal itu.
__ADS_1
"Sembuh beneran loh, tak pernah kambuh lagi sejauh ini sih." Key tahu, karena ia tinggal di sini bersama keluarga besarnya.
Ia sudah diizinkan untuk berpindah ke tempat yang paling dekat dengan usaha bagiannya dari ibu kandungnya dan Givan, tapi ia memilih untuk tetap tinggal di sini dan sewaktu-waktu mengecek usahanya tersebut bersama suaminya. Ia sedikit bingung, karena suaminya berprofesi sebagai seorang dosen, ia sama sekali tidak mengerti dunia bisnis. Sedangkan, dirinya sendiri ingin fokus menjadi ibu rumah tangga. Membuatnya memilih untuk menggunakan jasa orang kepercayaan, dengan dirinya sesekali untuk mengecek sendiri.
"Bagus lah." Chandra menyangga tubuhnya ke belakang.
"Bang, kapan?" Izza mendekatinya dengan suara merengek.
"Nanti Dek, jam delapanan," jawab Chandra kemudian.
"Mau ke mana?" Key memperhatikan Izza yang baru duduk di sampingnya sembari menggendong Adri.
"Beli baju, Kak. Biasanya aku dikasih jatah baju, tadi siang dihubungi susah betul. Kesalnya sih kalau ngebangunin tuh, Kak. Ya ampun, menguras emosi betul." Izza geleng-geleng kepala, membayangkan bagaimana kelak nanti dirinya serumah dengan pujaannya.
"Oh, di butik meme Tika aja. Tadi biyung nanya, katanya malam ini buka sampai tengah malam." Key merekomendasikan butik milik tantenya.
"Kalau malam lebaran gini sih, Kak. Buka sampai tengah malam semua banyakan, soalnya masih banyak yang nyari." Chandra tidak khawatir untuk itu.
Ia langsung menoleh ke arah seseorang yang baru saja melewatinya dan memakai sandal. Wajah pucatnya langsung membuatnya khawatir.
"Dek, dari mana?" Chandra memperhatikan wajah Ceysa.
"Itu dari dalam rumah biyung, habis beres-beres dan ngobrol." Disusul dengan Hadi yang turun ke anak tangga teras rumah Givan dan Canda yang diduduki Chandra. Hadi langsung mengenakan sandalnya dan terburu-buru pergi, ia melewati pintu samping untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Terlihat sekali Hadi seperti bukan Hadi yang dahulu.
"Kau sakit kah?" Chandra bergerak mengikuti adiknya yang berjalan ke arah pintu samping.
Ceysa memiliki rumah yang satu halaman menyatu dengan rumah orang tua Hadi, mereka melewati pintu samping yang sama untuk sampai ke rumah masing-masing. Chandra mengekori adiknya sampai ke rumah adiknya yang bersebelahan dengan kakak asuhnya, Jasmine.
"Dek, kenapa?" Chandra menanyakan ulang keadaan Ceysa. Ia yakin Ceysa akan buka suara mengenai keadaannya, jika mereka jauh dari keramaian.
Ia melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan jam tujuh. Chandra berpikir, ia memiliki waktu satu jam sebelum ia memenuhi keinginan kecil dari kekasihnya. Ia tahu itu bukanlah hal yang besar, tapi jika disepelekan sudah pasti kekasihnya akan merasa kecewa padanya.
...****************...
__ADS_1