Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA46. Kabar membawa emosi


__ADS_3

"Aku diapain, Bang?" Izza mengatur nafasnya setelah diperdaya suaminya. 


"Entah, jalan sendiri." Chandra berguling ke samping istrinya, setelah ia terkulai lemas di atas tubuh istrinya. 


"Kek ada yang tak bisa ditahan gitu, Bang." Izza menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. 


"Kli*a*s." Chandra berbaring menghadap istrinya, kemudian memeluk tubuh istrinya. 


"Kepala bawah nyut-nyutan." Chandra membenahi miliknya yang menempel di pinggang istrinya, karena satu kakinya terangkat untuk memeluk istrinya. 


"Wajar tak?" Izza mengusap pipi suaminya yang berada di bahunya. 


"Keknya." Chandra mencoba meredam geloranya, yang masih berapi-api karena rasa yang membuatnya candu itu. 


Bahkan, ia tidak merasakan lelahnya tubuh karena berkeringat parah tersebut. 


"Pengen lagi, tapi kasian sama kau." Chandra menarik rahang istrinya untuk mempermudah mengincar bibir istrinya. 


"Besok ya, Bang? Kek ada perih-perihnya tuh." Izza mencoba mengungkapkan apa yang ia rasa. 


"Heem, aku ngerti." Chandra menjauhkan kembali kepalanya. 


"Aku cuci dulu ya? Kau cuci juga ya?" Chandra melepaskan istrinya, ia bergerak menjauh dari tubuh istrinya yang tanpa busana itu. 


"Heem." Izza masih menikmati lelehan hangat yang keluar dari dalam intinya. 


Ia melirik ke arah jam dinding, waktu sudah menjelang tengah malam. Ia baru sadar, bahwa permainan mereka tidaklah begitu lama, tapi begitu terasa sampai ke hatinya. Chandra bukan hanya menumpahkan n****nya saja, tapi cinta dan kasih sayangnya. 


Malam itu, mereka tertidur pulas dengan berpelukan. Indahnya cinta mereka yang berbaur dengan rasa dan kehangatan bersama. 


Pagi yang terbilang siang, mereka berdua terbangun dari tidurnya saat matahari sudah menyinari teras rumah mereka. Bukannya kehangatan yang diterima oleh keluarga besar itu, malah mereka kedatangan tamu yang membuat hati mereka mendadak menjadi panas kembali. 


"Hei, aku tau anak aku di rumah aja. Pukul sepuluh aku baru pulang, aku pun tengok dia masuk ke rumahnya sendiri." Givan tidak biasa dalam menanggapi tamunya pagi ini. 


"Tapi dia pulang-pulang nangis. Dia bahkan bilang sendiri, kalau Chandra yang buat dia begini." Rohan terbawa suasana nada bicara Givan, padahal ia datang dengan baik-baik. 


"Udah aku bilang, kalau datang ke sini bawa anaknya! Kau selalu negur aku, tapi anak kau tak datang ke sini. Gini aja, pulanglah ke rumah, nanti kami datang ke rumah kau." Givan sudah terlanjur kesal. Ia berencana akan membeberkan semua bukti tentang anak perempuan Rohan tersebut, di depan keluarga Rohan.


Ia ingin memberi Sekar pelajaran dahulu, sebelum akhirnya menindaklanjuti jika Sekar kembali mengusik keluarga mereka. Bukan ia tidak mau repot, untuk mengurus keluarga tersebut di kepolisian. Tetapi, jika tentang asusila ini permasalahan akan dikembalikan ke hukum daerah. Sedangkan, Givan tidak mau anaknya terseret jika kasus Sekar naik ke hukum daerah. Apalagi, jelas dua anaknya dan satu menantunya berada di tempat yang sama. Sudah pasti, semua pihak akan mendapat hukum yang adil.

__ADS_1


Ia cukup trauma untuk itu, ia tidak mau anak-anaknya merasakan malunya dipajang di depan masjid dan mendapat hukuman yang membuat mereka trauma untuk keluar rumah. 


"Begitu? Oke, silahkan datang. Aku tunggu!" Rohan turun dari teras rumah tersebut, kemudian melangkah cepat dengan amarahnya. 


Givan tidak bisa jika hanya diam saja, ia merasa benar-benar terusik dengan permasalahan Sekar yang terus mengganggu kenyamanan keluarganya. Ia merasa, Sekar seolah ingin menghancurkan rumah tangga anaknya secara tidak langsung. 


"Bangunin Chandra, Canda!" bentak Givan jatuh pada orang yang salah. 


Untungnya, Canda sudah terbiasa dan tahu sifat dasar suaminya. 


"Duh, malu. Takut ganggu." Canda melangkah berat. 


"Udah, aku aja!" Givan menyalip Canda, kemudian ia mengetuk pintu rumah anaknya dengan begitu kencang. 


Brugh, brugh, brugh…


Hal itu, tentu saja mengganggu ketenangan tidur Chandra dan Izza. Mereka langsung kalap, dengan penampilan apa adanya. Untung saja, mereka telah berpakaian lengkap meski tidak rapi. 


"Iya, iya." Chandra berjalan cepat menuju pintu. 


"Hah?" Izza ikut paniknya saja mengikuti suaminya. 


Pintu terbuka, dengan wajah marah Givan yang terpampang jelas. Izza langsung merasa dihakimi, karena mereka bangun siang. Ia takut disalahkan, kemudian dihakimi karena tidak bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya. 


"Maaf, Yah. Kami…" Mereka berbicara bersama, dengan saling melempar pandang. 


Givan tidak peduli dengan penampilan mereka yang ala kadarnya itu. "Cepat ke Sekar, siapin bukti-buktinya sekarang juga!" tegas Givan cepat. 


"Iya, Yah." Chandra menjawab sekenanya. 


"Ditunggu, cepat!" Givan lekas kembali ke rumahnya sendiri, setelah mengatakan hal itu. 


"Oke, Yah." Chandra langsung bergegas ke kamar mandi. 


"Dek, buatkan apa gitu. Atau, sana ke biyung untuk minta makanan." Chandra memberi perintah sebelum menutup pintu kamar mandi. 


"Hah? Tapi, Bang." Izza menarik rambutnya dan menyatukannya ke belakang telinganya. 


"Kenapa?" seru Chandra dari dalam kamar mandi. 

__ADS_1


Jelas saja Izza malu untuk datang ke rumah mertuanya dan meminta makanan. Ditambah lagi, keadaannya yang masih kotor dan belum bersuci. 


Jika ia menjawab bahwa dirinya malu, ia khawatir suaminya marah. Karena jelas, Chandra sedang lapar dan terburu-buru. Sudah pasti, Chandra akan terpancing emosi, jika mendengar protesnya itu. 


"Aku mau cuci muka dan sikat dulu, Bang." Izza mengambil opsi untuk membenahi sedikit penampilannya. 


Chandra tidak menjawab, tapi kunci kamar mandi terbuka setelah Izza mengatakan hal itu. Tidak ada kegiatan yang lebih, karena mereka tengah sama-sama mendapat tekanan untuk bergerak cepat. 


Setelah Izza merasa penampilannya aman, ia berjalan keluar rumah dengan bergo instan yang menutupi kepalanya. Ia yakin, penampilannya tidak cukup rapi seperti biasanya. Tapi, ia sudah bercermin bahwa penampilannya cukup sopan. 


"Assalamu'alaikum, biyung mana, Yah?" Izza segan, saat berpapasan dengan wajah marah Givan di ruang tamu tersebut. 


"Dapur," jawab Givan singkat. 


Ia tengah sibuk menghubungi Hari dan Ceysa, agar mereka kembali ke sini. Ia ingin menang di hadapan Sekar, agar Sekar bungkam dan tak banyak menebar kabar buruk lagi. 


Ia sedikit memikirkan, benarkah tuduhan Rohan pada anaknya tersebut. Karena jelas sekali, malam tadi ia berbicara dengan anaknya. Namun, ia tidak habis pikir jika Sekar begitu berani banyak berbicara dusta. 


"Biyung…," panggil Izza ragu. 


"Hm?" Canda menoleh ke arah menantunya tersebut. 


Celana tidur, dipadukan dengan kaos anaknya yang kebesaran di tubuh Izza. Tetapi, kaos tersebut terlihat sepertiga dari tangan Izza. Didukung, dengan hijab bergo yang menutupi dadanya. 


"Ehmmm…" Izza sadar penampilannya tengah diperhatikan. 


Mau bagaimana lagi, ia tidak banyak membawa baju. Ia lupa untuk memindahkan pakaiannya, karena ia malah mementingkan perawatan kulitnya. 


"Aku belum beres-beres rumah bang Chandra, Biyung. Baju-baju aku pun, banyak ketinggalan di rumah aku." Izza tertunduk dengan menyembunyikan telapak tangannya di balik kaos tersebut. 


"Oh, iya. Belum ada tabung gas dan segala macam juga ya? Cuma ada lemari sama kasur aja. Panggil Chandra suruh makan di sini aja." Canda cukup peka akan masalah perut. 


"Iya, Biyung, maaf merepotkan." Izza sebenarnya tidak enak hati, hanya saja ia merasa tidak berdaya di bawah perintah suaminya. 


Ingin membeli makanan di luar, jelas Izza tidak percaya diri dengan penampilan seperti itu. Setidaknya, ia harus mandi terlebih dahulu. Sayangnya, ia tidak memiliki kesempatan untuk itu. Sedangkan, suaminya sedang buru-buru. 


"Tak apa. Sediakan aja buat Chandra." Canda sibuk kembali memetik sayuran hijau yang akan ia tumis tersebut. 


Ia tengah memasak makan siang, makanan untuk sarapan sudah setengah habis dimakan suaminya dan anak paling kecilnya yang sudah kembali ke sekolah setelah berlibur lama. 

__ADS_1


"Tapi bang Chandra minta dibawakan." Izza malu, jika harus berbicara secara gamblang. Ia belum tahu bagaimana seorang ibu mertuanya tersebut. 


...****************...


__ADS_2