
"Mantap ya Bunga ini?" Pakcik masih tertawa saja, meskipun panggilan video telah terputus.
"Tak tau, tak pernah nyobain." Aku merebahkan tubuh di teras rumah teduh pakcik ini.
Hidup dalam kesederhanaan, tapi nyaman dan tentram.
"Ya Pakcik pun tak pernah nyobain juga. Tapi kalau Pakcik nyari pendamping tuh, yang enak diajak ngobrol, bercanda dan enak dianu juga."
Aku langsung menoleh cepat ke arah pakcik muda ini. Pakcik sepertinya menyadari, jika aku memperhatikan beliau dalam diam.
Ia menyeruput kopinya. "Betul, Bang. Pakcik pernah jadi orang lain, dalam rumah tangga Pakcik. Bukan cosplay juga, tapi mencoba menjadi idolanya, menjadi yang ia inginkan. Nyatanya, memang sulit, sesak dan kaku sendiri. Berakhir pisah, karena memang penuh dengan kamuflase Pakcik mencoba jadi yang ia inginkan." Pakcik menatap lurus ke depan.
Ini sore hari, kami baru pulang dari ladang dan belum membersihkan diri. Kami tengah menikmati lelahnya hari ini dan juga ilmu yang aku dapat hari ini.
__ADS_1
Aku menatap plafon teras ini, yang terdapat beberapa noda air yang mengotori plafon berwarna putih itu. Seperti rumah tanggaku dan Izza, aku menuntut dirinya jadi yang terbaik. Hingga, perpisahan yang paling menyakitkan aku rasakan.
Senyum berdarah itu aku selalu terngiang-ngiang dan selalu merasa bahwa aku yang bersalah karena ini semua.
"Memang sama tante Ria, Pakcik gimana?" tanyaku kemudian.
Pakcik menyalakan sebatang rokoknya. "Biasa aja, kek hidup sama orang tua. Ya wajar gitu, nyuruh makan, mandi, sholat. Bercanda tetap, ribut ya tetap. Tapi Pakcik tak buat diri Pakcik, seperti yang dia inginkan. Pernah pun dia ada ngomong masalah kartu debit, ya Pakcik iyakan aja. Yang penting iya gitu dulu, actionnya ya tetap dengan aturan Pakcik. Yang penting uang kan perempuan ini? Debit Pakcik tak berikan, tapi uang tetap disumberkan. Request masak, tak request ya beli makanan. Pakcik pun paham, ada kalanya dia capek masak. Pakcik tak nyuci baju, tapi kalau dia tak sanggup ya laundry, Pakcik tak maksa dia harus ngerjain. Yang penting diurus gitu, dalam artian dia ada pikiran untuk laundry, jangan dikumpulkan aja. Tapi sejauh ini, tante kau ngerti kok. Jadi masalah tentang segala sesuatu di rumah ya tak ada, paling yang dipermasalahkan itu waktu, ngomel-ngomel wajar ke anak dan akhirnya kita bahas juga kenapa anak kita begini. Paling seriusnya, ya kalau udah menyangkut waktu. Tante kau dulu tak mempermasalahkan Pakcik ada urusan ke mana aja, tapi sekarang dia ingin tau tujuan Pakcik keluar dari rumah itu ke mana aja. Soalnya pernah ada kejadian, dia taunya Pakcik lagi di ladang. Tapi ada keluarga bilang, suami kau ke kota sama si A. Padahal laki-laki si A ini, tapi tante kau ngajak ribut, dengan alasan Pakcik senang-senang sendiri aja. Katanya, dia mau nongkrong ke kota tuh selalu ajak dia entah dia ada acara sama temennya atau sendirian. Tapi Pakcik tak sebaliknya, jadi dia marah besar. Mulai dari situ lah, kalau nongkrong ya izin dulu atau ajak dia. Masalahnya, tongkrongan laki-laki ini isinya laki-laki semua. Kalau ada perempuannya, meski pasangan dari salah satu laki-laki yang nongkrong, nanti dikira salome, dilihat negatif sama orang-orang yang tak tau."
Oh, pakcikku masih doyan nongkrong rupanya.
"Sering, tapi futsal sekarang. Pakcik malam minggu itu futsal, kadang tak cuma main, tapi lihat orang main futsal juga. Main futsal berangkat jam sembilan, bisa pulang jam satu malam juga. Ngamuk lagi lah dia, padahal udah izin udah diajak juga. Suntuk kalau diajak, bosen katanya. Tapi di rumah, kesel nunggunya tak pulang-pulang. Katanya khawatir kalau futsal terlalu lama, soalnya banyak cerita orang kena serangan jantung masa futsal atau olahraga lain. Khawatir juga di jalan, takut dibegal atau jadi korban tabrak lari. Tak bisa tidur kalau khawatir tuh katanya."
Apa seperti itu juga yang Izza rasakan dulu, saat aku membereskan pekerjaan dengan ayah? Ya kadang sampai menjelang tengah malam, jam sepuluh sampai jam sebelas lebih juga.
__ADS_1
"Pakcik kenapa masih sering futsal atau kumpul gitu?" Aku ingin tahu alasan laki-laki tak meninggalkan pergaulannya, padahal mereka sudah menikah.
Aku tidak pernah merasakan hal itu, tapi tidak ada salahnya juga aku memahami sudut pandang sebagai laki-laki muda.
"Ya gimana? Hiburan gitu. Lagipun, Pakcik kan tak macam-macam. Karena laki-laki itu biasanya gotong royong, misalkan salah satu teman ada masalah. Makanya, kalau Pakcik ada acara untuk anak Pakcik. Pakcik tak repot sewa kursi, gelar karpet atau semacamnya. Karena ada teman-teman Pakcik, yang datang dan nyumbang tenaga gitu. Kek nambah saudara, nambah kerabat kan gitu." Pakcik menghembuskan asap rokoknya, kemudian melepaskan kaosnya.
Masa ototku kalah dengan beliau. Bahkan, perut beliau begitu sixpack. Aku masih kurang sedikit, untuk terlihat ideal.
"Gitu ya, Pakcik?" Aku menguap karena nyaman sekali angin sore ini.
"Iya, nanti Pakcik ajak kalau Pakcik ada main futsal. Teman-teman kau di Singapore semua sih ya? Jadi di sini di rumah aja. Nanti Pakcik ajak-ajak, biar tak suntuk dan bosen di rumah. Biar tak meratapi terus, biar pikirannya terbuka." Pakcik tersenyum lebar dan menaik turunkan alisnya.
"Memang aku kek nampak meratapi kah, Pakcik?" Padahal, aku sudah mulai melakukan aktivitasku dengan rutin.
__ADS_1
"Iya, nampak di mata kau. Bukan ngajarin nakal juga, tapi hidup kau masih berlanjut gitu. Yang udah ya udah, tinggal rutin kirim doa aja. Itu kan tanda sayang juga, beda effort kita kalau dia masih ada. Effort kita untuk orang yang tiada, ya kirim doa, jangan lupa peringatan tahlil tahunannya. Sampai sekarang kan, tahlil tahunan bang Lendra masih diperingati. Itu tanda sayang biyung kau, itu tanda perhatian dan kepedulian kita semua untuk mendiang bang Lendra. Hidup kau masih panjang, kau harus mempersiapkan masa depan kau dari sekarang. Sekarang ini kau masih start loh, baru mau dimulai kehidupan kau yang sebenarnya. Kau belum ngerasain, rasanya mempertahankan usaha kau dan memperjuangkannya. Kau belum tau rasanya ladang diserang hama dan panen jauh dari harapan, kau tak tau sulitnya memasarkan hasil panen karena kau belum punya nama dan belum dikenal kualitas hasil panen kau. Kata Pakcik sih, tambak itu kau tak merasakan dari bawah. Karena buangan panen kau udah punya wadah, cara budidaya pun kau dapat resepnya. Ini bukan dicontohkan usaha aja, tapi hubungan asmara pun sama. Effort kau bakal dikuras untuk asmara, karena di usaha kau tak begitu kesulitan untuk memperjuangkan. Biasanya gitu, usaha stabil, asmara kacau dan butuh perjuangan lebih. Tapi ada juga orang yang lebih tak beruntung, di mana usaha sulit, asmara pun lebih sulit. Tapi yang penting kan upaya kita dulu kan? Lihat perjuangannya, bukan lihat hasilnya." Pakcik menyeruput kopinya di akhir kalimatnya.
...****************...