Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA61. Mencari cara


__ADS_3

"Di mana RT atau RW setempat, Bang?" Gimana tidak menjawab pertanyaan tukang bakso tersebut. 


"Jauh, adanya di kampung sebelah. Kalau di sini, kost-kostan yang pemiliknya itu orang dari luar daerah. Non muslim pemiliknya itu, dia yang punya bagian mall di depan jiga." Jawaban tukang bakso tersebut, membuat Givan sedikit berputus asa. 


Jika pemiliknya kost ini, adalah orang dari daerah sini. Tentu, akan menjaga benar-benar hukum daerah yang berlaku. Tapi mendengar bahwa pemiliknya adalah noh muslim, Givan berpikir akan sulit untuknya memberi pelajaran Vano dan Azyu. 


"Gimana, Pak? Ada yang bisa dibantu?" Tukang bakso tersebut memahami kebingungan Givan. 


"Tak ada, Bang. Itu Ahyu orang mana aslinya?" Givan menerima air mineral kemasan botol dari anaknya. 


"Orang ******, Pak. Tapi Saya tak tau di daerah mananya, dia cuma cerita kalau dia dioper dari tempat kerjanya yang di sana untuk pindah ke sini. Bisa dibilang, dia ini senior di tempat kerjanya."


Givan sudah amat buntu sekali. Di satu sisi, ia teringat jika anaknya tengah mengandung. Di sisi lain, egonya mengatakan untuk memisahkan anaknya dan menantunya. 


Bertambah kuat keinginannya, untuk memberi pelajaran pada Vano dan Ahyu. Tapi sayangnya, warga sini tidak tahu dan tidak mencurigai pasangan haram tersebut. Ingin melapor pun, ia merasa serba bingung karena tidak adanya bukti dan saksi mata. Belum lagi, prosesnya akan merusak mental anaknya yang pasti berpengaruh pada kandungannya. 


Meski menantunya seperti itu, ia tetap berharap bahwa anak yang berada di dalam kandungan Jasmine tetap baik-baik saja. Tidak sedikitpun ia berpikir buruk, karena ayah dari cucunya adalah bukan laki-laki baik. Ia malah khawatir, karena anak di dalam kandungan Jasmine pasti akan down jika keadaan mental ibunya tidak baik-baik saja. 


"Jadi, warga di sini lepas tangan? Mereka tak keberatan ada kost-kostan tanpa pengawasan begini? Di kampung Saya, ada penginapan untuk wisata kebun kopi. Dapat izin warganya sulit, meski mereka paham perekonomian mereka bakal membaik dengan adanya penginapan dan wisata di kampungnya. Bukan cuma izin, pengelolanya pun diharuskan warga sananya, itu syarat dari mereka. Disertai, CCTV di setiap sudut dan di setiap pintu penginapan. Kok di sini bebas aja? Kan pasti rawan?" Givan menengadahkan wajahnya melihat sekeliling kost ini. Rupanya, sekeliling kost ini pun dipagar beton. 


"Saya tak paham untuk masalah itu, Pak. Tapi setau Saya, di sini pada bisa jaga marwah." Itu menurut pengamatan tukang bakso itu sendiri. 


"Saudara, saudara begitu? Yakin? Saya sih, tak yakin sama sekali. Saudara itu berkunjung, bukan tinggal bersama. Saya yakin, Ahyu dan Vano bukan saudara sekandung. Kalau memang sekandung, udah pasti mereka tinggal bersama sejak lama. Bukan Vanonya pulang pergi kek gitu lah." Givan membuang plastik bungkus baksonya di dekat gerobak jualan tersebut. 

__ADS_1


"Saya kurang tau, Pak. Saya cuma dua jam di sini dan langsung pulang, lewat sini pun karena jalan pulang ke rumah istri Saya."


Givan paham, tukang bakso tersebut tidak tahu menahu dan merasa bahwa itu bukan urusannya sendiri. Tentu saja, ia tidak menganggap penting urusan penghuni kost. Karena niatnya hanya mencari nafkah. 


"Gimana, Yah?" Chandra melanjutkan makan bakso dari plastiknya tersebut. 


"Ayah kacau, Bang." Givan menunduk dan menggelengkan kepalanya. 


"Eh, bayarin baksonya." Givan menyenggol lengan anaknya, kemudian ia bangkit dari duduknya. 


"Ini, Bang." Givan memberikan uang sesuai harga bakso tersebut. 


"Oh ya, makasih." Tukang bakso tersebut menerima dengan tersenyum lebar. Ia lebih lega hanya diberi upah baksonya saja, ketimbang menerima upah yang tidak jelas pekerjaannya. Ia terlalu takut untuk ikut campur masalah orang lain, apalagi ia tahu bagaimana tabiat keluarga teungku haji di masa lampau. 


Givan memandang kamar kost Ahyu yang tertutup tersebut, nama Ahyu begitu mirip dengan nama sepupunya, membuatnya mudah mengingat nama tersebut di usianya. 


"Pulang kah, Yah?" Chandra memperhatikan ayahnya yang terus melamun. 


"Ya udah, pulang aja." Givan melangkah lebih dulu ke motornya. 


Ia ingin bertukar bertukar pikiran dengan seseorang yang bijak dan memiliki pemahaman yang luas. Padan istrinya? Givan yakin, istrinya akan memberi saran untuk mengamankan anaknya lagi. 


Sepanjang perjalanan, kilas balik masa lalunya berputar di kelopak matanya. Hari ini ia sadar, menikahkan anak-anaknya terlalu dini nyatanya bukan jalan keluar agar anaknya aman. Jika menantunya seperti Vano, maka mental anaknya akan hancur. 

__ADS_1


Meski tak semua menantunya bertingkah seperti Vano, tapi Givan kini memiliki trauma tersendiri untuk menikahkan anaknya cepat-cepat. Ia kini khawatir, anak perempuannya menjadi janda di usia muda seperti ibunya. Ia sebagai putra dari seorang janda muda, memahami pandangan orang akan janda muda cantik dan terlihat berduit akan dituduh menjual diri. Pemikirannya semakin curam, bahwa takdir akan seorang Givan kecil akan dialami oleh cucu-cucunya. 


Lantas bagaimana menyelesaikan permasalahan Jasmine? Givan teringat akan anak asuhnya, kala melihat baliho besar yang menampakkan iklan susu ibu hamil. 


Mengatakan pada Jasmine, bahwa suaminya berselingkuh? Tentu tidak mungkin ia lakukan tanpa bukti apapun. Sedangkan, ia baru terpikirkan untuk mengabadikan dalam video saat pintu kostan Ahyu dibuka. Sayangnya, hal itu terlewat begitu saja karena ia tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini. 


Mengajak menantunya berbicara empat mata, ia yakin menantunya akan mengelak seribu bahasa. Ia paham betul tabiat laki-laki yang disudutkan, pasti pembelaan tidak masuk akal akan keluar begitu saja. 


Memisahkan secara mendadak hubungan anak dan menantunya, tentu saja dirinya akan terlibat masalah yang runyam dan dosa. Ia tidak ingin memisahkan anak dan menantunya menggunakan tangannya sendiri, tapi ia sedikit berharap agar anak dan menantunya berpisah agar anaknya tidak bertambah lara. 


"Yah, ammak tuh tinggal di mana? Ammak kan ibunya kak Jasmine, jadi mungkin ammak tau yang terbaik untuk kak Jasmine." Chandra memahami renungan ayahnya dari spion kirinya. 


"Ayah bakal dituduh tak bisa urus anaknya, kalau tiba masalah begini malah hubungi dia." Givan merasa butuh ibunya, jika dirinya dirundung masalah bertubi-tubi seperti ini. 


"Biar aku tengahi dulu aja kah, Yah? Maksudnya, aku ajak bang Vano ngobrol dulu gitu? Aku pura-pura gak mihak siapapun, netral gitu kan. Padahal, aslinya aku ini menyelidiki begitu." Chandra menawarkan dirinya.


"Memang kau bisa? Vano tak pernah berbaur, lagi pun laki-laki yang mengumbar n****nya pasti punya banyak alasan. Lebih-lebih, pasti akhirnya jelek-jelekin pasangan. Ayah makin tak terima, kalau dengar putri ayah dijelek-jelekan pasangan hidupnya. Sepenuh hati Ayah besarkan anak Ayah, biaya pun tak sedikit. Tapi masa pindah tanggung jawab ke suaminya, suaminya malah merendahkannya. Ayah tak bakal terima itu dan Ayah bakal lebih sakit hati, Bang." Givan pun tidak ingin tahu alasan di balik perselingkuhan tersebut, apalagi pernikahan mereka baru lima bulan. Pasti jelas, perselingkuhan tersebut karena Vano tidak bisa menjaga n****nya, apalagi jelas terlihat wanita simpanan Vano lebih menarik karena memiliki masa otot yang menimbulkan kesan seksi di tubuh tingginya. 


"Kita harus punya jalan keluar, Yah. Kasian kak Jasmine." Chandra mulai berbelok ke gang kampung halamannya. 


"Apa kita pakai cara…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2