Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA265. Rencana LDR


__ADS_3

"Bang Chandra mau disuruh merantau? Aku harus LDRan gitu?" Mata Nahda mekar sempurna.


"Ya kau ikut, Dek." Ayah terlihat santai dengan perintah yang ia berikan itu 


"Nahda mau tengah semesteran, Yah." Aku selaku suaminya, mesti tahu tentang hal ini. 


"Tak mau ditinggal, ikut Abang terus." Nahda mengalungkan tangannya di leherku. 


Ia tak malu bermesraan denganku di depan orang tua. 


"Enak ya Abangnya?" Pertanyaan ayah di luar pakar kemertuaan. 


"Husttt….!" Biyung menyikut lengan ayah. 


Ayah terkekeh geli. 


"Kalau LDR, aku harus ngapain? Aku ngurusin siapa? Aku recokin siapa? Aku meluk siapa nantinya?" Nahda langsung memeluk lenganku erat. 


Aku melepaskan pelukannya, kemudian merangkulnya. Aku mengajaknya duduk di teras rumah bersama ayah dan biyung, agar lebih rileks mengobrol ini. 


Sekarang masih jam delapan malam, masih begitu sore untuk menumpang tidur di mertua. Tidak ada salahnya juga, duduk di teras dulu bersama mertuanya Nahda ini. 


"Bebas tugas, Dek. Tapi Biyung pernah rasain sendiri tuh, tak enak rasanya. Mending ikut aja, Dek. Meski bingung mau ngapain, tapi setidaknya tidurnya tetap nyenyak," tambah biyung kemudian. 


"Iya, Biyung. Tak bau keringat Bang Chandra, tak lelap tidurnya." Nahda menghirup aroma tubuhku, dari lengan belakangku dekat ketiak. 


Ini kenapa sih anaknya mama Aca? Perasaan, masa baru menikah ia tidak begini. Apa istriku tertukar masa di kampus? 


Aku melirik Nahda yang masih menghirup aroma tubuhku itu. Aku tidak habis pikir dengannya, kenapa ia melakukan hal itu di depan orang tuaku. 


"Kau tak pernah tengok perempuan jatuh cinta, Bang?" tanya ayah tiba-tiba. 


Aku mengarahkan pandanganku pada ayah. Aku menggeleng samar, lebih tepatnya aku kurang tahu bagaimana perempuan jatuh cinta. Sejak SMP dulu, aku menjanjikan Izza sebuah angan-angan pernikahan. Entah bagaimana cara kami mengungkapkan rasa cinta kami, tapi kami yakin dengan perasaan masing-masing. 


"Siapa, Yah? Bang Chandra punya perempuan lain di rumah pengolahan jahe?" Nahda melepaskanku dan menegakkan punggungnya. 


"Kalau dia respon aja, sebenarnya banyak, karyawannya yang menaruh hati pun banyak, nampak dari sorot mata mereka. Cuma suami kau terlampau tinggi dagunya, jadi dia cuma lihat langit aja. Orang-orang pada merhatiinnya pun, dia tak tau lah itu." Ayah memandangku sinis. 


Sindiran langsung. 


"Ya kali aku dongak aja, kesandung-sandung aku, Yah." Ayah berlebihan menurutku. 


Leherku bisa bergerak ke atas dan ke bawah, bisa menoleh ke kanan dan ke kiri. Ya kali aku mendongak terus, bisa jontor-jontor karena menabrak barang-barang di depanku. 

__ADS_1


"Memang kau tak sadar, kalau kau banyak yang merhatiin??" Ayah berbicara perlahan dan jelas. 


"Yaaa, entah-entah." Aku mengedikkan bahuku. 


Aku tidak punya pikiran ke arah sana. 


"Suami kau merantau sebentar pun aman keknya, Dek. Tengok respon dia aja begitu, value anak Ayah jelas tinggi. Lepas kau semesteran, nanti Ayah anter kau ke sana. Cuma butuh untuk nakut-nakutin aja, soalnya Ayah curiga orang Ayah yang punya kesalahan. Ayah tak bisa ke sana, karena Ayah mau ke Kalimantan, untuk urus surat-surat yang perlu diperpanjang. Kan tak bisa kalau suami kau yang urus, biar langsung ditandatangani sama Ayah soalnya."


Iyalah, jika dokumen penting ya tidak bisa diwakilkan. 


"Aku terserah aja, Yah." Jika tidak memiliki istri, aku langsung mengambil tiket malam ini juga. 


"Aku sebenarnya tak kuliah juga tak apa, Yah. Apalagi cuma tengah semester begini, bisa aku tinggalkan tanpa pikir panjang." 


Ya ampun, istriku. 


"Daripada aku jadi garing tak berfungsi, ya kan? Lebih baik ikut suami ke mana-mana."


Apa garing yang ia maksud, tentang bercocok tanam dan nyiram menyiram? 


"Yah, mungkin lepas semesteran aja. Aku yang kena amuk papa, kalau Nahda males kuliah begini. Kalau memang cuma untuk mengawasi, Zio aja dulu tak apa, Yah." Bukan maksudku karena Zio anak laki-laki juga, tapi saat aku tidak bisa kan masih ada dirinya. 


"Apa bedanya sama Nahda? Dia pun tengah semesteran juga. Plus, plus, plus, istrinya hamil muda tuh, gimana?" Ayah mengayunkan dagunya padaku. 


"Zio urus material di sini juga, Bang. Bantuin urus, kek lihat stok barang, pesan barang, sampai tukar barang yang rusak juga. Travel udah stabil, udah jalan sendiri dengan sistematis. Ada pakai jasa orang juga, jadi dia tak begitu repot kek awal," tambah ayah kemudian. 


Ya intinya mau tidak mau, aku harus bisa membujuk istriku. 


"Nanti aku ngomong lagi ke Nahda, Yah." Aku berbicara lirih. 


Biar masalah izin dari Nahda ini, menjadi topik pillow talk kami nanti. 


"Oke, semoga kau izinkan ya, Dek?" Ayah memandang Nahda penuh harap. 


Tuh, begitu. Nahda sering manyun ternyata, sekarang pun manyun saja dan tertunduk. 


"Aku dinikahkan segera, tapi diminta LDR juga, gimana sih?!" Ia menegakkan wajahnya dan memandang ayah dengan ekspresi anak kecil yang tengah pundung. 


"Ayah tak bisa, kalau pakai orang Ayah aja?" lanjut Nahda kemudian. 


Ayah menarik napasnya. "Ya itu tuh orang Ayah, Dek. Orang Ayah sama orang Ayah, ya bisa jadi nantinya malah diajak kongkalikong."


"Berapa lama???" Nahda memelukku seketika erat, wajahnya mendongak memperhatikan wajahku. 

__ADS_1


Ish, bagaimana sih anak perempuan mertua ini? 


"Tak tau Abang, Dek." Aku berusaha melepaskan pelukannya. 


"Mungkin satu bulanan," jawab Ayah kemudian. 


"Tuh, Ya Allah. Selama sebulan itu, aku harus ngapain?" Nahda pura-pura menangis, ia enggan melepaskan pelukannya padaku. 


Ada apa dengan Nahda ini? 


"Kau haid belum, Dek?" tanya biyung random. 


"Ya udah dong, Biyung. Waktu kelas enam SD keknya tuh, kalau tak salah ingat."


😮‍💨


Nahdaku. 


"Maksudnya…. Bulan ini, kau kedatangan tamu bulanan kau belum?" jelas ayah dengan amat perlahan. 


Kenapa malah menanyakan tentang haidnya Nahda. 


"Udah sekali setelah nikah itu, Yah." Karena selebihnya, kami berhubungan badan rutin setiap hari. 


"Ehh, bentar. Aku cek kalender aku dulu." Nahda mengoperasikan ponselnya. 


Ehh, sepertinya ada yang keliru. 


"Kau nikah udah lebih dari sebulan, tamu bulanan itu pasti datang dalam waktu sebulan itu. Sana periksa, ada dokter kandungan jam segini. Di tempat prakteknya tuh, ada USGnya juga," pinta ayah kemudian. 


Ehh, kok? 


Aku dan Nahda saling memandang, bola mata kami sama-sama bulat sempurna. Aku paham ke arah mana pikiran orang tuaku, aku paham reaksi mata mekar Nahda itu. 


Kita satu pemikiran, tujuan pembahasan kita searah, yaitu tentang….


Tapi, tapi, tapi, apa benar arahnya tentang buat cinta kami? Tapi aku memvariasikan hubungan kami, aku tidak melulu mengeluarkan benihku di dalam rahimnya. 


Saat masa subur setelah haid itu pun, aku sengaja mengeluarkannya di luar. Agar benihku dan telur istriku tidak bertemu. 


"Ayo periksa sekarang, Bang?" Nahda bangkit dengan terburu-buru. 


Kami panik. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2