
"Ehh, ngapain? Kirain tak ada orang di kamar Biyung." Biyung membuka pintu kamarnya.
"Shttttttttt…." Aku menempatkan satu jari di depan mulutku.
Adik-adikku sudah molor, aku tengah mengecek ponsel Cani. Banyak nomor tak dikenal, yang tak direspon oleh Cani. Chat terhenti sampai Cani menanyakan nomornya didapatkan dari mana, lalu orang yang mengechat menjawab bahwa nomornya didapatkan dari grup sekolah. Setelah itu, banyak pertanyaan dari orang yang mengechat tapi Cani tak membalasnya.
Jadi, adikku incaran di sekolahnya ya? Ya memang sih cantik, jika yang tidak tahu dramanya. Aku sebagai laki-laki, berpikir ulang jika wanitaku heboh dan tukang drama seperti Cani. Bukan apa-apa, kadang memang sulit untuk memahaminya.
"Masuk, masuk…." Biyung melebarkan pintu kamar, kemudian mengajak tante Nina untuk masuk ke dalam kamar.
"Ambil kasur di lemari Biyung, Bang." Biyung mengambil alih mie instan yang dibawa oleh tante Nina.
"Kasur angin?" Aku bangkit dari tempat tidur.
"Iya, Bang." Biyung mengajak tante Nina duduk di sofa.
Untungnya, pengasuh Cala dan Cali sudah keluar kamar. Jadi kamar ini tidak terlalu penuh dengan orang.
"Jauh-jauh datang, dikasihnya mie instan aja ya, Tan?" Aku berjalan ke arah walk in closet.
"Tapi ini yang dibutuhkan, Bang. Kalau makan masakan yang kuat bumbu, dari perjalanan jauh begini malah mual jadinya." Tante Nina menyeruput kuah mienya.
Iya sih.
Aku mendapatkan kasur angin, berikut dengan pompa listriknya juga. Kasur ini bisa dijadikan sampan, pernah saat kejadian banjir kiriman. Karena kasurnya itu seperti semacam matras, dengan bahan karet seperti trampolin. Banjir sampai setinggi leher orang dewasa, untung ayah sigap mengembangkan kasur angin dengan pompa sebelum listrik dipadamkan otomatis dari pusatnya.
Aku menghampiri biyung, kemudian duduk di belakangnya karena ia berhadapan dengan tante Nina di satu sofa yang sama. Aku memeluk biyung dari belakang, kemudian mencium pipinya.
"Biyung aku awet muda tau, Tan." Aku mengganggu obrolan mereka tentang emas.
Mas Givan.
"Iya, kek gendik kau."
Aku melongo saja, sebelum akhirnya tertawa lepas.
"Aku peliharaannya mas Givan lah." Biyung menyendokkan segulung mie ke mulutnya.
"Peliharaan kah dipelihara? Beda loh, Kakak Ipar." Tante Nina menahan tawa.
Ibuku polos.
"Sama ajalah." Biyung nampak santai tak memikirkan hal itu.
"Iya deh sama aja." Tante Nina mengalah dan malah tertawa geli.
Biyung itu unik.
"Ya, kau usulin ke bang Givan biar dia bilang ke Vendra untuk ceraikan aku aja?"
Aku melepaskan pelukanku pada biyung, setelah mendengar ucapan tante Nina. Di luar nalar, minta cerai cara gaya elit. Ya dengan begitu, gengsinya tetap terjaga.
"Tak ah, mana boleh kakak ikut campur begitu. Ada batasannya, Nin. Nanti suami aku berdosa, kalau nyuruh untuk cerai." Biyung membenahi tempat duduknya, kemudian menoleh ke arahku.
"Anak laki-laki ayah, ambilkan air putih dingin dong," pintanya lembut.
Tanpa dipuji juga, aku pasti akan menurut jika disuruh. "Oke, Biyung." Aku berjalan keluar dari kamar.
Ponsel Cani, tak lupa aku sakui. Aku belum beres, untuk mencari informasi tentang gadis incaran buaya baru netes.
"Gitu lah, Bang. Aku tak nyalahin bapak mertua aku juga, tapi aku pengen begituan rutin loh. Ditentang, katanya aku dibilang berat ke profesi aku. Lah, gimana pemikiran beliau ini? Kalau aku bukan komandan, anak gadisnya tak mungkin dia lepaskan juga untuk aku. Beliau aja mandang profesi aku, gayanya ributin profesi aku." Curhatan om Vendra yang tengah berada di dapur, terekam telingaku.
Aku tidak sengaja menguping, aku tengah mengambil sebotol air berisi air dingin berikut dengan dua gelas juga. Kami sama-sama berada di satu tempat yang sama.
"Kau punya anak lagi sama yang di sana? Abang kirain, Nina tuh tau." Ayah berpangku dagu memandang wajah adiknya dengan serius.
"Punya, dua juga. Akte kelahiran pun ada, meski dengan catatan dia lahir dari seorang ibu dan tanpa ayah. Tapi mereka punya dokumen gitu kan, nasabnya pun jelas, mereka bukan anak di luar pernikahan. Nina tak tau, tau pas aku pulang kemarin dan anak aku telpon kalau ibunya sakit." Mendengar penjelasan om Vendra, aku segera keluar dari area dapur karena sudah mendapatkan tujuanku di dapur.
Jadi ini yang dimaksud ayah, bahwa aku tahu om Vendra hanya pangkatnya saja? Ternyata, kelakuannya pun satu dua seperti dirinya.
Aku keturunan ayah, aku takut hidupku rumit seperti ayah. Aku sudah menjaga diri, agar tidak melakukan hal yang salah. Tapi jika akhirnya aku gagal membawa diriku bagaimana?
"Ini, Biyung." Aku masuk ke dalam kamar kembali.
"Aduh, Om Duda pandai sekali. Makasih, Sayang?"
Tante Nina membuatku malu. Aku tidak suka dipuji berlebihan, masalahnya aku baperan. Aku mudah bersemu merah, seperti ABG baru mengerti cinta.
"Sana beli nasgor aja, Biyung males ngoprek di dapurnya. Ada tak uangnya?" Biyung menerima gelas yang aku berikan.
Dikiranya aku anak SMP yang tak berpenghasilan. "Ada lah, Biyung. Nanti gampang aku mau keluar." Aku belum merasa lapar juga.
"Aku tuh malu, Kakak Ipar. Malu punya suami yang doyan nikah, harga diri aku hilang. Aku kek tak ada fungsinya gitu loh. Kalau memang mau jadi bangsat, ya bangsat yang lakik gitu lah. Maksudnya, bereskan dulu yang pertama. Barulah dia nikah lagi, ya nikah lagi. Jangan bangsat yang banci, belum lepasin yang pertama, tapi nikahin yang kedua." Tante Nina tengah curhat juga.
Ah sudahlah. Tidak paham aku masalah mereka, yang penting bukan tentang adikku saja. Dengan ponsel Cani yang masih di saku, aku keluar dari rumah bermaksud mencari keberadaan Ra. Harap-harap cemas, karena dari tadi aku belum melihat wajah masamnya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Balawa, yang berada di teras bersama kakaknya.
Mereka tengah merokok.
"Nyari Ra, adik perempuan aku juga." Aku menoleh ke arah mereka dengan mengeluarkan ponselku.
Baiknya, aku menelpon Ra saja.
"Ra yang mana? Berapa adik kau, Bang?" tanya Dehen kemudian.
"Gagah, tinggi." Aku duduk di lantai tempat kakiku berpijak.
Aku memilih untuk menelpon Ra. "Hallo." Syukurlah langsung diangkat oleh Ra.
"Apa?" Nada bicaranya tidak ada lembutnya.
"Kau di mana, Bodoh? Emosi Abang, ngomong tak ada lembutnya kau!" Aku mudah terpancing, jika adikku ngegas saja.
Sok paling kuat, padahal apapun masih minta orang tua.
"Di Mama, Bang. Sini makan di Mama," jawab seseorang dengan lembut.
Nah, beginilah cara berbicara yang lembut itu.
"Mama Aca?" Aku memastikan di mana Ra berada.
"Iya, Bang. Ayah kau tau kok, kalau Ra ke Mama. Kau sini aja, makan di sini sama Ra, ayah kau bilang biyung kau sore tak masak."
Ayah memang berterus-terang, jika ingin anaknya diberi makan saudara. Maksudnya, tidak gengsi atau bagaimana. Apalagi, jika dirinya keteteran mengurus karena ada yang sakit.
Bawa dulu anak aku, sana kau urus makannya dan lainnya.
Seperti itu biasanya perintah ayah. Makanya kenapa kami bisa dekat ke saudara yang lain, tapi jika adik-adik perempuan memang hanya Ra yang dekat dengan keluarga papa Ghifar. Yang lain jika tidak pada ibu atau nenek, ya pada pengasuh saja. Aku baru sadar, jika maksud ayah tengah memberi jarak anak-anak perempuannya dengan para sepupu laki-laki.
"Iya, Ma." Yang penting aku iyakan saja dulu.
"Oke, ditunggu. Datang ya? Mama sisain nih lauknya dari Ra, biar tak dihabiskan."
Jika begini, ya mau tak mau harus datang.
"Oke, Ma," sahutku kemudian.
"Oke." Mama Aca langsung mematikan panggilan telepon.
"Kenapa, Bang? Aku tersinggung dipandang begitu." Dehen baru menoleh ke arahku, tapi ia seolah tahu jika aku memperhatikan.
"Takut aku." Mulutku memang boncos, untungnya suasana mencair karena gelak tawa mereka.
"Di suku kami, laki-laki diharuskan bertato sih. Ya kata kakek kami itu juga, zaman sekarang sih bebas juga," terang Balawa kemudian.
Oh, ada ya begitu?
"Banyaknya model tato, aku sih kalau suruh nyobain mending c*****n aja," akuku yang membuat mereka tertawa lepas.
Ditato itu pasti sakit, man. Tanam tintanya menggunakan jarum, diimunisasi di SD saja lenganku bengkak. Apalagi merasakan tanam tinta di bawah kulit menggunakan jarum, mending cara aman saja dengan cara pasrah pada perempuan.
Ah, sudahlah. Kan error otak duda ini.
"Benih ayah memang satu dua kek keluarga ayah."
Kok Dehen berbicara seperti itu? Aku tersinggung lah, karena ayahku itu ya ayahku.
"Tak juga sih, bagaimana diri kita menjaga diri sendiri." Meski aku tidak yakin bisa jaga diri juga.
"Ya memang, otak laki-laki ya isinya s**s. Tapi kalau laki-laki paham setia, uang ada, ya setiap selesai kasus tuh pulang. Selesai kasus tuh ada cuti, Bang. Tapi papah tak mau pulang, alasan capek, pengen rehat karena kurang tidur, sayang ongkos. Padahal, kan besar pendapatan dia." Balawa tertunduk memperhatikan kakinya sendiri.
"Ya mungkin ingin yang praktis." Aku tidak tahu juga pikiran om Vendra, meski kami sesama laki-laki.
"Tak nyalahin papah juga, tapi kasihan mamah gitu." Dehen menghela napasnya.
"Betul, kasihan." Aku pun pasti marah, jika ibuku dipermainkan oleh ayahku.
"Ada anak laki-laki satu, dua perempuan di sana. Mau aku benci mereka, aku sadar kita saudara sedarah," tambah Balawa kemudian.
Gila, anak dari istri sirinya lebih banyak.
"Kau tau dari mana?" tanyaku kemudian.
"Aku tanya langsung papah, papah jawab juga," jawab Balawa kemudian.
"Tapi pengecut tak sih? Bukannya diselesaikan, malah dibawa liburan." Aku geleng-geleng kepala.
"Karena takut didengar keluarga dari mamah, Bang." Dehen melemparkan puntung rokoknya.
"Rumah kita sama rumah mereka itu sampingan, kalau berantem tuh denger. Ditambah, mereka bukan orang sembarangan," tukas Balawa.
__ADS_1
"Tak paham lagi deh." Aku mengedikkan bahuku.
Aku tidak suka ilmu mistis, aku takut masalahnya.
"Abang akur ya sama anak lain ibu dari ayah?" ujar Balawa kembali.
"Akur, karena dari kecil main bareng. Malah udah kek keluarga biasa aja, kek adik kakak satu ibu satu ayah. Karena kan kasusnya beda, ayah aku tak selingkuh." Aku percaya jika komitmen ayahku kuat pada biyungku.
Memang perjalanannya saja yang agak terjal.
"Jujur aja, Bang. Itu bukan sesuatu yang membanggakan, tak beda dengan pengkhianatan lainnya." Dehen tertawa sumbang.
"Memang, setidaknya bukan karena sengaja ingin merusak komitmennya dengan biyung." Aku tahu bagaimana kuatnya pendirian ayah.
"Aku laki-laki, tapi aku benci hal kek gitu." Pandangan Balawa berubah penuh amarah.
"Tak ikut-ikut aku." Aku memilih untuk melarikan diri.
"Bang Chandra, Bang Chandra." Kekehan dari suara Dehen terdengar menggelikan.
Perbedaan pendapat begini yang sering terjadi baku hantam, apalagi jika orangnya seperti mereka yang tidak welcome dengan pendapat orang lain. Biarpun polos-polos begini, aku paham ilmu sosial dan beretika.
"Sepi sih? Mana yang besar?" Aku memasuki rumah yang belum dikunci itu.
"Kaf jagain Kal, lagi di luar kota." Papa Ghifar memalingkan pandangannya dari ponselnya.
Papa Ghifar paling anteng di rumah. Tak diajak keluar untuk ngopi, ia bisa jadi tidak akan keluar rumah.
"Iya tuh, Ma. Males betul aku sih, buang-buang waktu dan buat emosi aja."
Aku tertarik mendengar curhatan Ra yang terekam telinga.
Aku meninggalkan papa Ghifar yang berkutat dengan game online itu di dekat tangga, dengan aku menghampiri meja makan yang tengah dikuasai oleh Ra dan mama Aca.
"Cepu! Sana lah, Bang!" Ra mendelik tajam padaku.
"Mau makan, Dek." Aku menarik satu piring kosong dan membawanya ke meja makan.
"Masak apa, Ma?" Aku memperhatikan lauk yang terhidang.
"Udang petai, Bang." Mama Aca mendekatkan masakannya ke arahku.
"Mantap dong?" Aku ngiler juga melihatnya.
"Terus, kata biyung kau apa?" Mama Aca fokus memperhatikan Ra lagi.
"Jangan ngejer-ngejer laki-laki, biyung pernah nyesel katanya. Aku kan tak ngejer, aku dikejar dan aku risih. Orang baru dekat aja, nyuruh ini itu. Aku ngebayangin rumah tangga sama modelan begitu, pasti baju aku kuyup keringat karena jadi pesuruhnya."
Ohh, Ra tengah membahas laki-laki.
"Ayah kau tau?" tanya mama Aca kemudian.
"Belum, sepele aja masa sampai ke tangan ayah?" jawab Ra dengan menarik udang besar dari piring lauk di dekatku.
Adik-adik perempuanku sudah mulai dilirik laki-laki, aku harus waspada.
"Dia kek neror kau tak?" Mama Aca sampai berpangku dagu.
"Ma, keluar ya? Main di Riyana Studio." Papa Ghifar bangkit dan mengenakan kaos yang tersampir di bahunya.
"Heem, di studio loh ya? Awas aja kalau di cari adanya di warkop."
Tidak banyak drama seperti biyung, seperti minta dikeloni dulu baru boleh keluar rumah.
"Nanti izin ulang kalau di Riyana Studio tak ada orang deh, penat kepala pengen ngobrol sesama laki-laki." Papa Ghifar menyakui ponselnya.
"Iya, telpon aja."
Mudah saja, tidak membatasi yang seperti mengekang. Enak nih istri begini, tidak terlalu mempersulit kehidupan laki-laki.
"Iya, Ma." Papa Ghifar sudah melangkah pergi.
"Ma, request satu yang kek Mama." Aku menaik turunkan alisku.
"Apanya? Istri?" Mama Aca memandangku.
"Heem." Aku tersenyum malu.
"Nahda tuh, sana nikahin. Itu pun tak tentu kek Mama juga meski anak Mama, tapi kan didikan Mama." Giliran mama Aca yang menaik turunkan alisnya.
"Nanti Abang dicabuli Nahda." Ra menunjuk wajahku dengan tertawa geli.
Aku kaget mendengar lontaran dari mulut Ra.
...****************...
__ADS_1