
"Ini, Bang." Bunga menghidangkan sepiring makanan dan segelas air putih juga.
"Ehh, belum makan kah?" tanya pakcik Gibran.
"Belum, Pakcik." Aku menerima makanan yang Bunga bawakan.
Perhatian juga ini bocah.
"Ya udah, makanlah." Pakcik Gibran mengalihkan perhatiannya ke ponselnya.
"Kak…. Ayo." Farras menarik Bunga kembali.
Sepertinya, mereka sudah saling kenal. Interaksinya begitu akrab dan ramah, seperti seorang saudara yang begitu dekat.
"Kata Mariam, sering dia main ke sini." Pakcik Gibran sepertinya memahami arah pandangku.
Aku mengangguk. "Makan nih, Pakcik." Aku mulai menyuapkan makanan ini.
Uhh, rasanya nendang sekali.
"Apa ini, Pakcik? Mantap kali." Lezatnya bukan main.
"Katanya sih nasi kapau, mungkin nasi padang." Pakcik Gibran mengedikan bahunya dan memandangku.
"Wow, masakan makcik Mariam ini?" Bakal betah aku menumpang makan.
Gila sih rasanya.
"Heem, orangnya suka coba-coba resep baru. Enak, Bang?" Pakcik Gibran menyalakan exhaust dan mulai merokok.
"Enak betul, Pakcik." Aku tersenyum lebar dengan menahan makanan agar tidak keluar dari mulutku.
"Makanlah, habiskan. Ambil lagi pun tak apa, masih banyak keknya." Pakcik Gibran mengusap bahuku.
"Ya, Pakcik." Aku heran juga, masakan istrinya enak tapi ia tidak anteng di rumah.
"Pakcik lagi sibuk apa?" tanyaku kemudian.
"Garap desain interior kantor pemerintahan. Kau sibuk apa?" Hanya pakcik Gibran yang warna kulitnya seterang ayah, tapi wajahnya ya mirip kakek juga. Perpaduan lah, tapi dominan wajah kakek.
"Berladang aja, Pakcik. Garap porang aku, beda dari yang lain." Aku terkekeh kecil.
"Baguslah, biar nanti kita bisa sama-sama belajar. Kau ada dekat sama Bunga?" Pakcik Gibran merendahkan suaranya.
__ADS_1
Bunga lagi??? Ya ampun.
"Tak, dia minta ikut aku main." Aku tidak berbohong.
"Ohh, fokuslah dulu tanpa perempuan. Pakcik pun punya alasan di balik nikahin perempuan, masih ada rasa-rasa kagetnya sampai sekarang. Nunggu waktu yang tepat aja kau, Bang. Jangan buru-buru kek di awal lagi." Pakcik menunduk memperhatikan punting rokoknya.
Dia ada masalah dengan istrinya?
"Apa alasan Pakcik nikah? Kalau aku kan, terdesak gitu." Aku mengambil gelas minimum.
"Kecanduan film dewasa."
Hah? Bukannya memang ada beberapa laki-laki yang melewati masa-masa itu ya?
"Terus kenapa bisa shock? Anak udah banyak nih, Pakcik." Aku melihatnya seolah rumit dan tidak bahagia.
"Kau tau, kalau tidak semua ayah itu suka anak perempuannya pindah ke pelukan laki-laki lain? Apalagi, sekarang masanya kembali ke masa anak-anak."
Oh, aku mengerti. Maksudnya ini ayahnya makcik Mariam ya?
"Terus Pakcik gimana?" Aku jadi susah menelan kalau yang sedih begini.
"Tak tau, nenek kau udah tak ada. Ikutin alur aja, karena Pakcik tak punya rumah pulang. Rumah pulang Pakcik udah ada di surga, nenek kau udah tenang di sana."
"Pakcik tak ada yang menengahi ya? Apa udah bilang ke ayah?" Sebab ayahku adalah saudara tertua.
"Udah, ayah kau nyaranin Pakcik tetap di rumah. Mungkin ayah kau ada negur ke bibi kau, tapi Pakcik tak tau." Pakcik Gibran menghela napas panjangnya.
"Terus ayah ada bilang apalagi?" Kadang saran ayah begitu singkat, tapi bermakna dalam.
"Ayah mertua kau udah sakit tua, sabar aja." Pakcik Gibran melirik dengan menahan tawa.
Kok aku mengerti secuil kalimat itu. Aku sudah tertawa, melihat pakcik masih menahan tawa.
"Setan memang, makanya ayah kau tak pernah kerasukan. Diruqyah pun bersih loh, Bang. Setan pun sungkan bersemayam di dalam tubuhnya."
Aku sampai terbahak-bahak, padahal tadi sedang cerita tentang hal yang rumit.
"Ayah pernah punya indra keenam loh, Pakcik." Ini sih konin katanya saja.
"Iya, tapi setan yang dilihatnya itu setan yang lagi sial aja."
Pamanku lawak juga, aku tertawa terus sejak tadi.
__ADS_1
"Pakcik aman ya ikut saran ayah?" Aku khawatir rumah tangganya tiba-tiba cerai.
"Aman aja, karena Pakcik cuma tak nyaman di rumah mertua, bukan tak nyaman dengan istri Pakcik."
Lagian, memang ada kah yang tak nyaman dengan istri sendiri? Kadang-kadang ngaco juga laki-laki. Izza kemarin seperti obat tidur, aku selalu mengantuk jika berbaring di sebelahnya.
"Pernah selingkuh tak?" Aku menyenggol lengannya dengan sikut.
Aku hanya memberi pertanyaan iseng saja. Masih muda, anaknya sudah banyak sekali.
"Tak kalau selingkuh. Chatting sama perempuan begitu, isengin perempuan, buang-buang waktu aja menurut Pakcik. Tapi memang, tak memungkiri kalau Pakcik suka cuci mata. Jalan-jalan sendiri di pantai bebas bikini, pakai kacamata hitam, lirik sana sini kan tak ketahuan."
A**** juga rupanya.
"Udah lihat-lihat, apa ada yang dibungkus bawa ke hotel?" Pertanyaan logika, karena laki-laki pasti gemes jika melihat barang bagus.
"Tak, c*** sesekali paling. Bukan karena istri Pakcik tak cantik dan tak indah, tapi mungkin karena nakalnya di situ. Udah ketauan juga pas punya anak kedua, dia marah dan berburuk sangka. Tapi ya memang cuma begitu loh, tak melakukan hal lebih. Kau pun pasti punya kenakalan sendiri kan?" Pakcik memicingkan matanya dan menonjok pelan lenganku.
"Mataku jelalatan, tadi pun dimaki-maki ayah. Katanya aku anak biyung, jadi jangan nakal. Padahal kan, dianya juga setan. Kadang kesalnya di situ, Pakcik." Aku jadi anak salah terus.
"Kau harus paham juga sih, kalau orang tua masukin kita ke pesantren pun karena semata-mata ingin kita jadi laki-laki baik. Itu juga alasan orang tua Pakcik, sampai Pakcik didorong nikah cepat. Karena mereka tak mau Pakcik terjebak keindahan perempuan secara haram, itu malah jadi beban akhirat kita dan mereka. Pasti pun mereka dikasih pertanyaan, kenapa anak kau sampai begini. Gitu kan kurang lebihnya?"
Benar juga sih.
"Tapi aku belum pengen nikah tuh, Pakcik. Padahal sih, Bunga itu seeing nunjukin foto teman-temannya. Tapi ya aku alasan aja, karena pengen fokus ke ladang dulu." Keluargaku memang the best untuk menuntun.
"Jangan buru-buru, kau tau sendiri rasanya perempuan kek mana." Pakcik tersenyum sekilas.
"Oke, Pakcik. Aku mau pergi sekarang aja deh Pakcik, pengen jalan-jalan dulu cari jajanan. Farras sekalian aku bawa, tak ke jalan besar kok, di kedai sekitar sini aja." Sebenarnya aku kurang disediakan makan porsi bukit kecil itu. Masa ingin meminta tambah, khawatirnya tuan rumah belum ada yang makan.
"Oke, Farras ada gangguan tidur. Pakcik titipkan ke ayah kau, katanya sama kau aja yang biasa begadang malam minggu. Udah bolak-balik psikolog sih, tapi baru ngobrol dan nyari titik masalahnya aja, jadi belum dapat obat."
Hah? Aku baru tahu.
"Biasa tidur jam berapa dia?" Aku sering ngebo jika habis futsal, gawat juga nih.
"Jam dua jam tigaan, dia tetap bisa bangun pagi dan tidur siang normal satu jam. Kasian kan, masih kecil kuat melek, istirahat kurang."
Aku baru tahu jika sepupuku ada yang begini.
"Oke deh, aku bawa keluar dulu ya?" Aku bangkit dan langsung mencari keberadan Farras dan Bunga.
...****************...
__ADS_1