Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA154. Tan Malaka


__ADS_3

Senang sekali melihat Bunga dan Farras berlarian bermain bola di lapangan futsal sebelah yang belum terbooking, mereka begitu bahagia dan bebas meski waktu sudah semakin malam. Bayangkan saja, setengah dua belas malam mereka masih cekikikan saja. 


"Bawa pulang dulu, Bang. Barangkali pada ngantuk." Pakcik Gavin tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pertandingan sesama teman itu. 


Mereka termasuk sedang berjudi, bukan seperti aku dan pakcik Gavin yang hanya menonton saja. Sebenarnya salah juga keberadaan kami di sini, jika ada yang tahu, kami pun kena hukum juga. Tapi bagaimana, ini hiburan kami. 


"Farras, ngantuk belum?" Lucu juga aku memiliki sepupu yang masih kecil begini, pantasnya kan keponakan. 


"Ke Alfa, Bang." Ia berlari ke arahku. 


Anak ini kuat mengemil, entah sudah habis berapa bungkus ciki-cikian. Mungkin ini yang membuat badannya tetap berisi, meski suka begadang. 


Ada suara orang menguap cukup mengganggu. Aku memperhatikan Bunga yang memungut bola dan menaruhnya di dekat pintu jaring lapangan futsal, ia tidak sedang menguap. Matanya dan wajahnya masih sugar. 


"Bang, beli makan lagi dong." Ia tersenyum lebar padaku. 


"Boleh, cium dulu dong." Aku menunjuk pipi kiriku. 


"Bang, gendong." Farras mengangkat kedua tangannya ke arahku. 


"Aduh, manjanya." Aku mengalihkan perhatianku dari Bunga dan berjongkok untuk mengangkat tubuh Farras. 


Namun, si bocah n*****t ini malah memberikan bibir basahnya di pipi kiriku. 


"Si Any**g!" Aku mengusap pipiku yang baru disosor olehnya. 


Aku hilang fokus, saat mengangkat tubuh Farras. Karena sibuk ingin memaki Bunga bangkai itu. 


"Dasar, cabo! Kakak sendiri dicabuli!" Aku menendang part belakangnya dengan lututku. 


Ia terdorong sedikit, kemudian mengusap-usap part belakangnya dan tertawa menoleh padaku. Ia monyong-monyong dari tempatnya, seolah ingin menciumku lagi. 


"Cium sayang, ya ampun. Bukan cium cabul." Ia berjalan ke arahku dengan merentangkan kedua tangannya seolah ingin memelukku dan Farras. 


"Tak! Tak! Tak! Gilai kau ini!" Aku mundur dan bergidikan. 


Tawanya lebih puas, ia langsung memelukku dan Farras dengan begitu erat. Bahkan, Ia sampai loncat-loncat kegirangan. 


Dilihat dari wajahnya, tidak ada tanda-tanda b****i di sana. Mungkin ia hanya iseng saja, atau memang benar jika ia memberikan senyum sayang. 


"Nasi kucing, Bang. Sate usus, sate telur puyuh sama kepala ayam. Nasinya dua, makan di teras atau di kedainya tak apa. Minumnya wedang susu jahe, sama air mineral. Jangan lupa gorengan sama sambalnya." Bunga menghirup aroma ketiakku dan melepaskan pelukanku. 


Nyimeng ketiak dia rupanya. 


"Tadi kan udah, masa itu lagi? Bakso malang enak deh." Aku mulai berjalan ke arah parkiran dan Bunga mendahuluiku. 


"Allah Akbar." Bunga tersentak kaget. 


"Ada apa, Dek?" Aku bergegas menghampirinya dengan beban dua puluh lima kiloan di lenganku ini. 


"Ehh, maaf." Bunga menangkupkan tangannya di depan dadanya. 

__ADS_1


"Kaget ya, Kak? Maaf ya?" Ada perempuan berbaju putih yang baru bangun dari duduknya. 


Logatnya lain, bukan logat orang sini. 


"Nungguin siapa, Kak?" Aku bukan soul gentle ingin mengantarnya, tapi di sini tidak umum perempuan di luar rumah malam-malam tanpa mahromnya. Aku bertanya wajar saja, bukan sok akrab.


Bunga disebut adikku dan mahromku, masyarakat tahunya seperti itu. Makanya ia agak bebas, bisa keluyuran sampai malam. 


"Nunggu pada keluar." Ia memamerkan giginya 


"Ohh, nungguin kita? Aku sampaikan ke anak-anak ya, Kak?" Aku tidak enak hati sendiri. 


"Ehh, tak usah. Udah booking sampai jam satu kok. Yang jaga anaknya lagi sakit, jadi Saya gantikan sampai tutup aja." Ia tersenyum lebar dan menyentuh lenganku sekilas. 


Manusia physical touch, bahaya.


"Memang Kakak siapa?" Bunga menunjuk perempuan tersebut dengan ibu jarinya. 


"Aku Mala." Ia malah mengajakku dan Bunga untuk berkenalan. 


"Khairina Bunga Malati semerbak mewangi." Bunga berpose seperti girl band. 


"Jijik Abang tengok kau sok imut." Aku melirik adik cabulku itu. 


Girl band memang imut tanpa diimut-imutkan. Nah dia? Amit-amit. 


Bunga terkekeh dan menepuk lenganku. 


Mataku membulat dan geleng-geleng kepala. 


"Malaka itu bukannya nama kabupaten di NTT?" Aku meragu dengan namanya. 


"Bukan, Bang. Nama hotel di Bandung, di Malabar kecamatan Lengkong Bandung." Bunga menggandeng tanganku. 


"Ish! Dasar anak OYO." Aku hanya bisa istighfar pada Bunga. 


"Bukan, aku dari Pariaman. Tan Malaka itu artinya, Tan yaitu sesuatu yang baru, manusia kekasih kesayangan dan gadis suci. Malaka artinya wanita." 


Minang tak ada obat.


"Katanya laki-laki Pariaman itu mahal ya?" Bunga sok akrab, dengan langsung merangkul pundak wanita itu. 


"Ya, memang ada adat begitu sih." Mala bersedekap tangan dan melirik Bunga. "Pacar kau orang sana ya?" lanjutnya kemudian. 


"Iya, Kak. Di Sungaigeringging, Ujung Tanah kak."


Aku langsung memandang Bunga cepat.


Bukannya ia dulu tinggal di Cirebon? Kok pacarnya orang Pariaman? 


"Aku sering ikut berburu di daerah sana. Siapa nama laki-laki kau?" Mala membenahi hijabnya. 

__ADS_1


"Jefri Nichol."


Aku langsung mengapitnya di ketiak. Jika tidak sedang menggendong Farras, aku akan menjotosi kepalanya. 


"Apalagi kalau artis." Mala geleng-geleng kepala. 


Apa ia menganggapnya serius? 


"Gurau dia, Kak. Orang mendekam di Cirebon aja, bisanya dapat orang Pariaman sih gimana? Apalagi sekelas artis lagi, owner kedai kopi pun mikir dua kali kalau mau sama kau." Aku langsung menarik hidungnya. 


Ia tertawa lepas. "Ya nanti aku nyari yang mirip ajalah, tak dapat Jefri Nichol ya Gepri Bangkol tak apa."


Sialan, malah kami tertawa bersama. 


"Oh, jadi kalian orang Cirebon? Ini anak kalian?" Mala mencolek pipi Farras. 


Farras the next laki-laki mahal. Ia langsung mengusap bekas colekan Mala. 


"Bukan, bukan. Ini adik sepupu aku, ini adik aku." Aku menunjuk Farras baru kemudian Bunga. 


"Wow, tak mirip." Logatnya asyik sekali. 


"Beda ayah beda ibu, Kak. Memang begitu lah kalau laki-laki jaman sekarang hindari hubungan tuh, pasti ngomongnya kami kakak adikkan aja. Adik kakak n*****t!" Bunga melirikku seolah ia marah padaku. 


Ia tertawa lepas. "Tapi asyik loh hubungan kek gitu, bersih gitu. Dari pada jajan sembarang di luar."


Hah? Shock aku. 


Siapa dia? Pemikirannya bisa seperti itu. 


"Jangan percaya! Dia adik asuh aku, orang tua aku ngasuh dia dari kecil." Aku meraup wajah Bunga dengan kesal. 


"Ah, begitu pun tak apa lah. Oh iya, Abang namanya siapa?" Ia memandangku tersenyum lebar. 


"Aku Chandra." Aku membalas senyumnya. 


"Dia anak juragan loh, duda kembang dia." Bunga menepuk pundak Mala. 


Apa mereka sebelumnya pernah mengenal? Hebat keakraban mereka ini. 


"Oh ya? Wah, bolehlah kapan-kapan aku main kalau udah duda sih. Rumahnya di mana, Bang?" Mala menepuk lenganku. 


Aku paling tidak bisa psychical touch dengan perempuan begini. 


"Di ujung gang penginapan sana, dekat masjid kubah perak." Bunga menunjuk ke arah Barat. 


Malah diberitahu. 


Namun, siapa sangka jika akhirnya Mala…… 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2