
"Begini nih, Bang. Nafkah istri itu yang lima juta itu loh, malah suami itu ya yang urus semua keperluan rumah begini. Kalau dia tak menghambur-hamburkan uang, Pakwa tak mau serepot ini. Boros karena rumah baru contohnya, itu cuma di bulan awal aja, bukan sampai berturut-turut. Makanya kenapa, Pakwa sampai mau repot sendiri. Anak Pakwa kecil-kecil, masa depan belum nampak kek gimana. Bisa-bisa, di masa depan anak terlantar kalau ibunya terlalu menghambur-hamburkan uang. Pakwa pun sampai atur transferan otomatis dari Bank ke istri Pakwa, di masa mendatang pun rencananya begitu juga kalau Pakwa udah wafat. Nanti Ahya yang pegang surat kuasanya, biar apa-apa istri Pakwa tak buat semau dia aja. Kalau Bunga udah nampak gimana kedepannya, ya Bunga dijadikan ahli waris yang bisa urus surat kuasa juga. Dia yang tertua dan udah ngerti segalanya soalnya, minus speak j****g aja."
Aku sampai menoleh dengan tatapan bodoh. "Anak Pakwa sendiri loh itu." Aku ngelus dada sendiri.
"Pakwa tak mau dia menurunkan sifat bajingan Pakwa, karena dia perempuan dan dia bakal merugi sendiri. Kalau dia laki-laki, mungkin Pakwa tak ambil pusing juga. Ini perempuan, lirikan mata aja laki-laki bisa ngekorin sendiri. Tipu daya paling dahsyat itu ya tipu daya perempuan, mana perempuannya seindah Bunga, laki-laki mana yang tak tergoda? Tinggi semampai, body pear, alis tebal, tirus dagu panjang, hidung ramping, bulu mata lentik tebal begitu. Orang-orang pasti ngira, pakai susuk ini itu. Masalahnya, bundanya aja tuh cantik betul. Jadi, wajar dia sampai kek gitu rupa indahnya. Cuma tak Pakwa sangka, dia tumbuh dengan body seribu satu perempuan yang punya. Bunga pakai pakaian yang potongan lurus aja, itu tetap nampak haram dilihat orang lain. Karena pas bagian p*****l, pakaiannya ikut ngembang sesuai bentuk tubuhnya. Jadi orang-orang bisa nebak, kek mana tubuhnya ini. Mau dipulangkan lagi ke Cirebon, tambah b***l dia nanti. Karena di sini mendingnya kan ada syariat Islam, tak ada bioskop atau club malam. Tapi dibiarkan di sini, mau siapa yang ngawinin dia coba? Ngerokok jalan, minuman keras ada stock. Kadang heran juga sama tokonya, kenapa dia sampai jual online dan mau-maunya suruh kirim ke alamat ini? Pas buka kulkas kamarnya, Pakwa yang shock tengok Captain Morgan, Jose Cuervo, Vodca Smirnoff, sampai Johnnie Walker pun ada dia punya. Pantaslah, COD barang panjang kok mahal. Eh, tak tau isinya begitu tuh." Pakwa geleng-geleng kepala.
"Memang ada izin resminya itu, Pakwa? Temen dari Indonesia pernah main ke Singapore, balik ke Indonesia minuman keras yang dia beli ditahan di bandara. Kan tandanya itu tak ada izinnya kan?" Aku kurang mengerti, karena nama-namanya pun aku tidak tahu.
"Ada yang Bunga punya itu, biasa ada di club malam. Johnnie Walker itu sampai satu juta harganya, Bang. Ingat cerita abinya Pakwa tentang nenek kau. Jadi kadang mikir, ada tak the next Adi Riyana selanjutnya yang bakal mabuk jandanya Bunga ini?" Pakwa menatap serius ke depan.
Aku tertawa renyah. "Ada, author udah punya ceritanya tapi ditolak platform."
__ADS_1
"Yah, takdir Bunga ada di tangan author lagi." Pakwa geleng-geleng kepala. "Handal Bunga ini pembukuan di klinik kemarin, cuma tak mau kerja karena enak nganggur katanya. Kuliah, masih mikir. Pasti sulit mikirnya, dicekokin minuman keras terus tiap malam. Udah kek pemandu lagu, padahal dia tak mandu apa-apa. Kek yang berat sekali ujian hidupnya, padahal dia tak punya masalah."
Aku melirik pakwa, aku teringat interaksi Bunga dengan ibu sambungnya. Mungkin itu penyebab utama Bunga memilih untuk melarikan diri dengan minuman kerasnya di kamar.
"Kenapa, Bang?" Pakwa menyadari jika aku meliriknya.
"Pakwa kenapa sih nikah sama perempuan yang tak sayang sama anak Pakwa?" Aku langsung menutup mulut lancangku.
"Sayang, dia sayang betul sama Hana."
"Lah, memang anak Pakwa cuma Hana? Coba tengok gimana interaksinya sama Bunga?" Aku ingin mengatakan sejelasnya, tapi tidak enak hati juga. Takut ia tersinggung tentang pilihannya.
__ADS_1
"Bunga kan tak tau alasannya, taunya ibunya meninggal dan ayahnya nikah secepatnya. Yaitu juga mungkin yang buat dia mau ikut keluarga bundanya, padahal dia dibebaskan di sana, bukan dididik dengan sebenarnya. Dia tuh minta tinggal sama biyung kau, cuma ayah kau bilang kau turn on terus. Ya tak enak sendiri Pakwa jadinya, makanya Pakwa jemput. Padahal Pakwa tenang dia di sana, biyung kau pasti kasih perhatian dan segala yang Bunga harapkan dari ibu sambungnya. Masalah di sini yang buat ribut terus awalnya Bunga dulu sebenarnya, dia ini kek gimana ke adiknya yang spesial ini. Interaksinya tak bagus juga ke adik barunya dari ibu sambungnya, malah bagus interaksinya dengan anak yang dibawa istri Pakwa. Tak paham lah, dia kek maunya jadi anak perempuan satu-satunya. Malah terus terang, aku tuh iri sama Hana sama Hua, gitu bilangnya. Entah salah Pakwa juga, yang condong ke Hana karena dia ekstra butuh perhatian Pakwa. Entah salah Pakwa juga, karena sering ajak yang kecil. Karena kan gimana ya? Yang kecil ini ada penyakit bawaan, jadi tak bisa dia kalau harus dibiarkan nangis. Makanya kek Pakwa ini cepat-cepat gitu kalau Hua nangis. Ke Kirei dia akur, ngemong juga. Mungkin belum sadar kali ya, kalau Hana sama Hua ini tak normal? Kau tak tau sih ya, kalau Hua punya sianotik PJB. Bayi lahir biru, kalau nangis atau kelelahan bisa jadi kek Krisna warna kulitnya, bibir dan kukunya juga. Kolaps bisa-bisa, kalau dibiarkan nangis. Makanya harus telaten betul ini gedekan dua anak perempuan, perempuan yang gedenya malah tak paham."
Oh begitu ceritanya, ternyata Bunga kekurangan kasih sayang ayahnya. Ia iri hati pada kedua adiknya, yang mendapatkan perhatian lebih dari ayahnya. Sebenarnya, bukan tanpa alasan juga. Karena memang kondisi mereka, yang membuat pakwa condong pada Hana dan Hua.
"Pernah ngobrol empat mata tak sih, Pakwa?" tanyaku kemudian.
"Pernah, ya ngomongnya gitu. Aku tuh iri, ini itulah. Pakwa juga cerita, begini loh keadaan adik-adik kau. Ya entahlah, mungkin dia masih belum bisa menerimanya juga. Ke Kirei akur, malah bilang ke Kirei nasib kita itu sama tak disayang ayah. Bibi kau cerita gitu, masa Pakwa kasih uang untuk Kirei. Pakwa jadi ngerasanya gimana gitu, padahal sebisa mungkin udah coba adil." Giliran pakwa yang curhat di sini.
Anak besar, ada saja masalahnya ya? Rumah tangga baru, ada juga masalahnya. Sebenarnya, kapan bahagia itu datang? Masa setiap masa dikejar masalah terus?
...****************...
__ADS_1