Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA66. Tahun duka


__ADS_3

"Kenapa?" Key memusatkan perhatiannya ke Izza. 


"Aku tak bisa masak." Izza tersenyum canggung. 


"Nanti pun bisa lah, biyung aja baru mandiri sekarang. Dulu masih ada nenek, apa-apa tuh nenek. Dulu masih ada ibu, ya apa-apa tuh ibu. Kalau tak enak badan sedikit, ibu panggil untuk bantu urus anak-anak, biyung istirahat full. Kalau ke nenek, entah siapapun yang main ke sana ya tak dijemput-jemput. Masak pun, sering minta ke sana. Minta itu bukan satu kali makan, tapi satu piring penuh karena untuk kita juga. Ayah tuh sering betul marah, kata biyungnya, nenek udah ambil satu porsi makan untuk nenek dan kakeknya. Jadi kalau minta itu, nenek dan kakek yang malah dapat sisanya. Tapi berulang begitu, sampai siangnya nenek sama kakek tak ada, paginya biyung masih minta lauk aja. Waktu ibu tak jatuh sakit dan akhirnya tak ada tuh, kemarinnya habis nginep di sini karena biyung sakit. Waktu mangge tak ada juga, kan mangge Yusuf yang di awal tahun itu tuh, ya sebelum sakit parahnya abis silaturahmi ke kita semua. Tumben gitu kan? Tak ada juga kami curiga ke arah itu." Suasana hati Key mendadak sedih, ia paling tidak bisa mengingat tahun-tahun penuh duka itu. 


"Tapi anak-anaknya kuat ya, Kak? Aku tau sendiri, mereka urus betul sampai ke penguburan juga." Izza mengingat kejadian duka tersebut. 


"Kuat, karena pikir ayah dan saudara-saudaranya, siapa lagi kalau bukan mereka karena mereka yang wajibnya. Benar-benar tahun duka, karena setelah selesai penguburan itu, anak-anaknya jatuh sakit semua. Sebagian besar dari kami masuk rumah sakit bergantian. Aku anak tertua, repotnya aku bolak-balik ke sana ke mari dengan urus adik-adik yang kecil. Belum lagi keadaan rumah yang amat berantakan, dengan orang-orang yang masih ramai karena tahlil. Ya begitu lah, cari makannya dari ladang, sampai tiadanya pun di ladang istilahnya. Trauma-trauma betul, sampai ladang yang kena dampak itu tak digarap lagi. Meski di ujung sana udah ditembok beton tinggi, biar tak longsor lagi, tapi pergerakan tanah itu cepat dan kuat. Makanya ladang yang posisinya miring, dihijaukan lagi sama ayah. Tak apa mengurangi penghasilan, tapi warga dan anak cucu aman dari bencana itu lagi. Kadang berpikir juga, apa keluarga kita terlalu murka, tapi kita kan beli, bukan gundulin hutan." Key ingin tidak menerima takdir tersebut, tapi ia sadar itu adalah takdir dan suatu keharusan. 

__ADS_1


"Banyak korbannya berarti?" Izza urung memakan makanan tersebut, karena mendengarkan cerita tersebut. 


"Banyak, seratus dua puluh pekerja. Kakek sama nenek tuh awalnya masih tertolong, tapi di rumah sakit malah tak tertolong. Kadang berpikir buruk tuh, kok kenapa dibawa ke rumah sakit malah begitu? Di badan keduanya pun tak ada luka apapun, mereka juga tak kena dari longsoran itu. Tapi mereka panik, mereka kaget, kata pak wa mungkin penyebabnya itu, bisa dibilang serangan jantung, karena kami nolak untuk tindakan otopsi. Baju tuh bersih, saung yang mereka jadikan tempat makan pun masih utuh. Jadi mereka ini ada di atas saunganya, terus saunganya bergeser lima puluh meteran dari tempat awal karena tanah longsor itu. Mau tolong-tolong ke siapa, orang di sekitar pun udah ketindihan tanah semua. Padahal kakek tuh sering aktivitas fisik, kek jalan kaki dan segala macam. Nenek aja yang memang tak pernah olahraga, jadi wajar kena seragan jantung. Tapi kau tau kan, suaminya BCL itu? Dia kena serangan jantung, masa lagi olahraga. Jadi serangan jantung itu, kek tak ada gejala penyakitnya tuh." Key menggerakkan tangannya yang jemarinya dipenuhi bumbu. 


"Iya, suaminya BCL itu kecapean, jet lag, terus olahraga, Kak. Serangan jantung itu tak kenal muda atau tua, semua punya resikonya." Izza pun ingat betul dengan berita tersebut. 


"He'em, luka terdalam. Sering betul dengar ceramah ustad begitu, katanya wafatnya kita itu, waktu kita melakukan kebiasaan kita. Kakek terbiasa di ladang, nenek terbiasa antar makan siang ke ladang, ditambah mereka makannya dari hasil ladang, ya jadi menerima aja. Mereka juga kek udah yang ada rasa tuh, masa nyicil perlengkapan meninggal, kek kain kafan dan lainnya. Terus bilang ke anak-anaknya, emas taruhnya di sini, uang taruhnya di sini, kain kafan ada di kotak ini, kunci cadangan di sini, kode pintu ini-ini. Benar-benar kita dikasih tau semuanya, meski awalnya kita marah, tapi tau akhirnya untuk mempermudah mereka juga. Papa Ghifar yang begitu payah sih, dia pingsan berkali-kali, tapi kekeh untuk gantian angkat keranda dan segala macam. Setelah selesainya kan, dibawa ambulance dari pemakaman, karena pingsan setelah urug tanah, terus tak sadar-sadar. Kata pak wa juga, denyut nadinya melemah, kondisinya drop, jadi papa Ghifar tuh sampai dua belas hari di rumah sakit. Kita semua tak ada yang benar-benar ikhlas di awal, tapi kita menerima kenyataan. Herannya pas kejadian itu, ayah jadi punya hipertensi, ibu Icut, papa Ghifar juga, abi Ghava, bapa Ghavi, semuanya punya darah tinggi. Jadi kek warisan darah tingginya langsung diturunkan dari kakek. Kalau ma Giska, pak cek Gavin dan pak cek Gibran dapatnya kurang darah, kek nenek. Masa mereka di rumah sakit tuh karena sakit bergantian, ya mereka jalani perawatan dengan tensi mereka yang tak normal. Aneh ya? Tapi nyata," ungkap Key beruntun. 


"Berarti belum nikah ya waktu itu, Kak?" Izza pun ingat, kejadian itu terjadi saat dirinya baru berada di perguruan tinggi. 

__ADS_1


"Belum, belum ada yang nikah. Aku tuh nikah dua tahun setengah yang lalu, dari nikah ke hamil itu kosong enam bulanan keknya. Kalau Jasmine kan, begitu nikah, bulan besoknya langsung hamil. Adib juga gitu, baru nikah, bulan besoknya istrinya hamil. Aku tuh nikahnya beda satu bulan sama Aksa, Aksa dulu terus aku." Key begitu lancar berdialog, ia pun bisa membawa obrolannya ke mana saja. Hal itu yang membuat Fa'ad jatuh hati pada Key. Di saat semua laki-laki berpikir bahwa Key adalah wanita cerewet, Fa'ad berpikir bahwa Key adalah wanita yang tidak membosankan. 


"Berarti aku tuh manggil mereka apa sih, Kak?" Izza kembali membuka kerang dara tersebut. 


"Kita semua sepupu, kalau ke pak wa Gavin dan pak wa Gibran ya manggilnya pak wa, karena meskipun mereka hampir seusia kita, tapi mereka anaknya kakek dan nenek. Mereka paman kita, adik-adiknya ayah. Ke Aksa ke Adib sih, ya sebut nama atau bang aja kalau memang mereka lebih tua dari usia kau. Tapi Aksa sama aku, ya tua aku. Aku itu cucu tertua di sini, terus Hamera, tapi tak tinggal di sini. Kalau Adib itu seusia Hadi, Kal sama Zio keknya deh, soalnya Ceysa kan satu tahun lebih muda dari mereka. Pokoknya jarak kelahiran yang lain itu tak jauh, Za. Ini nikah, ini hamil, ini melahirkan, itu anaknya udah baru bisa duduk. Kata ayah tuh begitu, makanya kita kek seumuran semua sekarang tuh. Chandra itu seumuran Ghofar Ghafur, seumuran Kal juga. Kita tak ada yang berjarak lama, Za. Jadi entah siapa yang tua dan siapa yang muda, manggil tuh udah terbiasanya nama aja. Tapi memang aku dipanggil kak dari dulu, soalnya aku ada sebelum mereka ada." Key mudah akrab dengan siapapun, bahkan dengan keluarga suaminya karena pembawaannya yang memang suka mengobrol. 


Izza manggut-manggut, ia banyak yang tidak tahu dengan rupa nama yang disebut Key. Seperti Hamera dan Aksa, yang memang tidak tinggal di sini. 


"Terus, kalau kak Jasmine?" Izza merasa ada nama saudara tua yang tidak diterangkan Key. 

__ADS_1


"Eummm…." Key memutar bola matanya. 


...****************...


__ADS_2