Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA63. Nikmati prosesnya


__ADS_3

Izza memperhatikan jejeran orang-orang yang sudah tertidur. Ia mencari suaminya, ia melihat suaminya ada di antara saudara sepupu suaminya yang tertidur. 


Kecewa menghampirinya kembali, karena sejak tadi ia tidak bisa terpejam karena mengharapkan suaminya datang padanya. Kekesalannya terpendam seorang diri, dengan langkah longlainya yang membawanya untuk duduk seorang diri di ruang tamu. 


Dengkuran bersahutan, tidak membuatnya iri untuk beristirahat juga. Tetapi, matanya tetap terpejam membendung air matanya agar tidak terjun bebas dari matanya. 


"Jangan rewel, Nak." Givan masuk dari luar ke dalam ruang tamu dengan mengayun Kaleel. 


"Eh, belum tidur kau?" Chandra kaget melihat menantunya murung seorang diri dengan dipenuhi air mata.


Izza pun sama terkejutnya melihat ayah mertuanya yang tiba-tiba masuk. Ia buru-buru mengusap air matanya, kemudian memasang senyum ramahnya. 


"Kebangun, Yah." Padahal, Izza belum tidur sama sekali sampai pukul tiga pagi ini. 


"Cucu, cucu….," rengek Kaleel dari ayunan yang memberatkan bahu kakeknya itu. 


"Nanti Kaleel bobo tak? Ibu kecapean loh, Dek." Givan pergi untuk masuk ke kamar seribu kenangan orang tuanya. 


Key tidur di sana bersama dengan Kal, sedangkan Izza menempati kamar kenangan Givan dan Canda. Canda pun tidur di sana, menemani Izza. Sedangkan para laki-laki terlelap bersama di atas karpet ruang keluarga. 


Givan tidak tega membangunkan anak sulungnya yang baru lelap dua puluh menitan itu. "Susu dot aja ya?" Givan menawari cucunya opsi lain. 


Rengekan Kaleel begitu manja, Fa'ad merasa hafal dengan rengekan itu. Ia membuka matanya dan melihat anaknya merepotkan ayah mertuanya, ia jelas langsung mengambil alih putra pertamanya karena tak enak hati. 


"Kau buatin susunya dulu, nanti dikelonin." Fa'ad langsung mematuhi perintah ayah mertuanya. 


Ide susu formula pun datang dari dirinya pribadi, karena tidak tega Key begadang setiap malam untuk terus menyusui Kaleel. Anak itu aktif menyusu di malam hari, jika siang malah anak itu sibuk dengan aktivitasnya bermain. 

__ADS_1


Kaleel diambil alih Fa'ad, kemudian Givan mencarikan kasur lipat untuk cucunya itu. Ia khawatir cucunya tidur kurang nyaman, jika ikut tidur dengan menantunya di atas karpet. 


Givan menyiapkan alas tidur dengan kasur lipat tipis untuk cucunya dengan penuh kasih. "Nanti tidurin di sini, Ad. Kasian Key jangan dibangunkan." Givan menunjuk kasur karpet tipis.


"Iya, Yah. Makasih, Yah." Fa'ad merasa beruntung memiliki keluarga besar seperti ayah mertuanya. Kasih sayang mereka tersampaikan juga pada dirinya, bukan hanya untuk istri dan anaknya. 


"Kau yang di ujung, biar dia tak ngeguling ke sana." Givan melangkah untuk melihat keberadaan Istrinya. 


Pemandangan Canda tertidur pulas dengan mulut terbuka, membuat candu tersendiri untuknya. Givan terkekeh kecil, kemudian melangkah keluar kembali dari dalam kamar yang dulunya ditempati olehnya dan istrinya itu. 


Givan merasa kantuknya datang. Ia ingin memastikan keadaan menantunya, tapi ia merasa sedikit sungkan karena Izza adalah seorang wanita. Ia berpikir, istrinya yang lebih pantas untuk hal itu. 


Givan mengambil tempat paling ujung dekat tembok, di sebelah Cali yang tertidur di ketiak Chandra. Setengah dari badannya tidak terbalaskan karpet, tapi tetap tak menghalangi rasa kantuknya yang datang. 


Sampai pagi harinya, Izza jatuh sakit karena tidak tertidur semalaman. Izza kurang bisa memaklumi, bahwa suaminya merasa tidak enak jika ia harus berkamar bersama di tengah keramaian keluarga. 


"Kalau memang tak kuat begadang, kan tidur duluan juga boleh kek Gwen sama Asya." Canda datang di kamar tamu rumahnya yang ditempati anak dan menantunya,  dengan membawa paracetamol kaplet. 


Mereka semua bahu membahu membersihkan rumah pusaka tersebut. Sedangkan Izza dan Chandra diminta pulang karena keadaan Izza yang tidak memungkinkan. 


"Iya, Dek. Kau tak dipaksa kerja, karena yang lain tau maag kau sempat kambuh. Kata kak Key, dia pun udah nyuruh kau tidur." Chandra kembali mengganti handuk hangat yang berada di dahi Izza. 


"Nih obatnya nih. Udah, lain kali tak usah ikut ramai-ramai. Izza rawan betul badannya." Canda bingung sendiri dengan menantunya. 


Ia paham akan kecanggungan Izza, tapi rasa canggung Izza sampai seperti itu. Menurutnya, itu lebih-lebih darinya dulu. 


Izza berpikir buruk kembali, ia merasa keluarga tersebut ingin merayakan kesenangan tanpa kehadiran dirinya. Padahal Canda mengatakan hal itu, agar kejadian Izza sakit tidak terulang seperti ini lagi. 

__ADS_1


"Dulu gini tak sih kalau dia ikut bakar-bakaran?" Chandra menoleh ke arah ibunya. Ia tidak tahu bagaimana kekasihnya jika berbaur bersama keluarganya, ia hanya tahu dari Izza jika ia baru merayakan keramaian bersama. 


"Izza paling jam sepuluh pulang. Ayah tak izinkan dia pulang lebih malam, nginep pun dia tak mau," jawab Canda kemudian. 


"Aku jadi serba bingung, Dek. Kau kenapa sih begini? Sakit lagi, sakit lagi. Ayah tersinggung tuh, dikira kau tak bahagia dengan pernikahan ini." Chandra kembali mengulang untuk mencelup handuk ke air hangat. 


"Biyung…. Suruh ambilkan uang ayah," teriak Cala begitu lepas. 


"Iya, Dek." Canda buru-buru keluar dari kamar. 


"Kita tinggal di rumah sana aja, Bang. Itu rumah, udah rumah masa kini. Aku bukan lagi rehab, tapi bangun ulang. Masa iya Abang sungkan tinggal di sana?" Izza memandang suaminya dari bawah. 


Pandangan mata mereka bertemu, lalu Chandra meluruskan pandangannya lagi pada jendela yang diteralis bermotif kotak-kotak tersebut. "Aku tak pengen keluar dari sini, aku malah pengen rehab rumah kita. Aku mau bangun lantai duanya, Za. Kita kan udah bahas ini, kenapa ditarik lagi?" Chandra kini berpikir, apakah istrinya tidak betah di sini. 


"Aku pengen kita punya waktu," aku Izza sedikit takut. 


"Za, memang ini apa? Lagi pun, kau lupa kah kalau aku ini anak laki-laki tertua? Kau lupa adik aku banyak? Aku tau kau anak tunggal, yang tak akan paham rasanya. Tapi setidaknya, kau harus tau jika nanti di masa depan ayah udah tak ada, aku yang akan ngemban tanggung jawabnya. Termasuk, penuhi kebutuhan biyung juga. Ini kasarnya aja, aku tau ayah pasti akan meninggalkan kecukupan untuk istrinya. Tapi kalau akhirnya ending usia mereka kek nenek sama kakek yang harus tak ada sama-sama, itu pasti lebih berat lagi beban aku untuk adik-adik aku." Chandra tertunduk kembali menatap mata istrinya. 


"Maaf." Izza menahan nafasnya. Ia tidak mau menangis kembali, apalagi terang-terangan di depan suaminya. 


"Sabar, kita baru memulai. Ingin ini ingin itu, sabar dulu. Kita perlu proses, kita perlu waktu. Aku ingat punya janji belanjakan ini dan itu, tapi keadaan kau lagi kek gini. Yang kaya ayah aku, Za. Aku tetap perlu berusaha, untuk dapatkan materi juga. Lagipula aku malu, aku malu kalau harus minta orang tua terus. Kita nikmati aja prosesnya, aku pun mikirin tentang kau dan tentang kita kok. Sesibuk-sibuknya aku, aku pasti ingat kau. Tapi kau harus bisa jaga diri kau, kesehatan kau untuk kau. Kau tak makan bisa sakit, jadi kau harus makan tepat waktu. Kau kenapa-napa, aku bisa panik. Maka dari itu, jagalah diri kau saat aku tak bisa jaga kau." Chandra membelai rambut istrinya. 


Pemandangan jakun Chandra yang bergerak naik turun, terpampang jelas di mata Izza. 


"Jangan buru-buru ingin ini ingin itu, ingin begini ingin begitu. Semua itu perlu proses, Za." Chandra menundukkan kepalanya kembali. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2