
Izza begitu girang saat mendengarkan kabar dariku. Seperti napi yang akan keluar dari penjara, ia seperti akan mendapatkan kebebasannya lagi. Ya seperti itu kelihatannya.
Aku masih banyak diam dan duduk santai saat sampai di rumahnya, karena kakiku belum bisa diajak beraktivitas terlalu banyak. Aku membiarkan beraktivitas semuanya, aku hanya menonton aktivitasnya.
Aku melihat diri Izza yang ceria dan tidak murung lagi di sini, aku seperti melihatnya saat dimabuk cinta olehku. Kopi sudah ia sediakan dan cemilan juga, ia selalu memasang senyumnya kala melewatiku.
Siapa yang bersalah di sini? Apa aku dzolim? Apa Izza merasa masih canggung di sana? Tapi bebas berekspresi di rumahnya sendiri? Namun, aku yang tidak betah karena tidak ada keponakan yang bisa aku ganggu dan tidak ada orang lain yang diajak mengobrol. Aku yang tidak nyaman di sini, meski senang melihatnya bahagia seperti ini.
"Bang, aku masak telur balado. Pakai bumbu instan sih, karena pagi tadi tak sibuk berbenah. Jadi, tak sempat belanja." Ia menyajikan makanan di depanku.
"Makasih ya? Tetap aku makan kok." Aku memberinya senyum.
Adem melihatnya seperti ini. Tapi aku yang stress, karena tidak bisa berbicara dengan siapapun selain dirinya.
Tetangga?
Tentu ada, tapi hanya mengobrol sebatas saja. Aku tidak bisa bergurau, atau bersikap iseng pada tetangga.
Kami sedang ada di ruang keluarga tanpa sofa dan meja. Tapi begitu nyaman duduk di lantai yang dilapisi permadani ini. Kami makan malam bersama, dengan televisi yang menjadi hiburan kami.
"Bang, selamanya di sini kan?"
Aku langsung tersedak. Izza cepat-cepat memberikan segelas air putih padaku, kemudian aku langsung menerima dan meminumnya.
"Kenapa sih, Bang? Kok sampai tersedak gitu?" Izza memperhatikan wajahku dari samping.
"Tak apa." Aku melanjutkan untuk makan.
Pembahasan itu, biar menjadi obrolan santai di ranjang saja. Karena sedikit sensitif, dengan pembicaraan yang pastinya akan merambat ke mana-mana.
Beberapa menit kemudian. Makan sudah, sholat sudah, Izza pun sudah bersantai dengan ponselnya.
"Dek, ke kamar yuk?" Aku mengajaknya dengan menyentuh tangannya.
__ADS_1
"Yuk? Abang kangen sama aku?"
Apa yang di pikirannya, aku mengajak untuk berhubungan suami istri? Memang sudah lama, dari dua hari sebelum aku terluka dan sampai hari ini.
"Rebahan aja." Aku tersenyum samar.
N****, oh n**** di manakah dirimu?
"Yuk?" Izza mematikan televisi, kemudian menarikku ke kamar.
Sungguh? Ia berani menyentuhku lebih dari hal yang wajar. Ia menciumiku, seolah benar ingin diriku. Tangannya merajalela, seolah ia hafal kesukaanku.
"Pengen kah?" tanyaku dengan menarik tangannya dari dalam celanaku.
"Udah lama, Abang tak kangen?" Ia malah melemparkan pertanyaan kembali padaku.
"Jahitan belum dilepas, kaki masih susah untuk ganti-ganti posisi." Aku menunjukkan perban di tanganku.
"Hmmm, gimana kalau aku yang gerak untuk Abang?" Ia memutar bola matanya seolah tengah berpikir keras.
"Boleh, sok coba." Aku ingin tahu kemampuannya.
O*** pun aku belum merasakannya. Aku hanya melakukannya padanya, dengan aku yang tidak mendapat hal setimpal karena ia tidak pernah ada inisiatif. Aku pun tidak pernah memintanya atau memaksanya untuk melakukan.
"Doa, Bang." Izza menarik pakaiannya dengan satu tarikan.
Aku membacakan doa dalam hati, kemudian aku menarik pinggangnya untuk mendekat padaku. Minatku bisa terbangkitkan, jika ia inisiatif seperti ini. Tapi kenapa kemarin ia tidak ada inisiatif sama sekali begini? Benarkah tempatnya berpengaruh?
Ketika kami mulai bermain pun, suaranya begitu lepas terdengar. Tentu aku bersemangat, jika ia merespon dengan suara yang membuatku semakin terbakar begini. Kemana suaranya saat kemarin? Karena tidak ada suara, aku berpikir bahwa aku ini tidak enak dan tidak bisa membuatnya demikian.
Ketika permainan telah selesai, aku masih bersemangat untuk memperdayanya. Aku mengulangi kembali, sampai suara orang mengaji di masjid telah berhenti. Di sini biasanya ada yang mengaji sampai datang tengah malam. Artinya, kami benar-benar baru selesai kala tengah datang tengah malam.
Esok paginya ia melayani sarapanku seperti biasa, tanpa memintaku untuk membantunya. Namun, ada satu ucapannya ketika aku berangkat yang cukup membuatku tersinggung.
__ADS_1
"Abang pulang kerja langsung pulang ya? Jangan ke biyung dulu." Ia berdada dengan senyum, menungguku yang akan pergi dengan mobil.
"Maksudnya?" Mungkin wajahku langsung terlihat masam sekarang.
"Ya kalau mau ke biyung, Abang pulang dulu. Bersih-bersih dulu, sholat dan makan dulu gitu." Aku sedikit mereda, kala ia memperjelas kalimatnya.
Aku mengangguk. "Oke." Aku membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Aku tidak benar-benar bekerja, aku hanya mengecek dan menunggu hasil pekerjaan hari ini. Hingga sore tiba, aku benar-benar langsung pulang ke Izza. Namun, aku punya segudang laporan yang harus aku tanyakan ke ayah.
"Za, mungkin aku sampai malam. Kau mau ikut?" Aku mengemas dokumen tersebut dengan tas tenteng transparan yang biasa dijual di tempat fotocopy.
Entah namanya tas apa.
"Jam berapa? Jangan malam-malam. Aku di sini aja."
Kenapa aku merasa ia menghindar untuk ke sana? Kejadian ia menghindar atau terang-terangan menolak saat aku mengajaknya ke sana pun, diulangnya sampai datang satu minggu kemudian.
Mencurigakan.
"Abang lama betul kalau main di sana, ini hari minggu dari pagi sampai malam begini." Ia menyambutku dengan cemberut.
"Kan aku udah bilang, aku lihat Zio sama Kaf main futsal. Aku WA dan ajak kau, tapi kau tak mau." Aku merasa tidak salah karena sudah mengajaknya, tapi ia yang tidak mau sendiri.
"Ya Abang tuh masih suka keluyuran. Aku tuh kek bukan kehidupan Abang. Mentang-mentang aku izinkan, Abang tiap hari ke rumah biyung. Bahkan, rela berangkat kerja lebih dulu karena pengen ke rumah biyung. Ada apa sih di sana? Pengen ke sana terus tuh kenapa? Pengen bebas dari aku?"
Kok mulutnya semakin berani?
"Kehidupan aku isinya itu bukan tentang kau aja, Za. Dari dulu aku sering bilang begini! Kau istri aku, tapi hidup aku ya aku yang jalani sendiri. Kau cuma tau aku ke biyung, kau tak paham kalau aku di sana bahas pekerjaan. Kau harus melek, kalau modal usaha aku pun dari ayah. Ayah itu guru aku, mentor aku. Kalau aku tak nanya ke ayah, aku harus nanya ke siapa lagi? Paman kau? Bibi kau? Apa ada yang ngerti? Tak kan? Mereka tak akan paham. Aku pun pergi ke orang tua, bukan keluyuran. Aku ajak kau tiap kali pergi, bukan pergi gitu aja. Jadi, aku tetap salah kah begini?" Hubungan ranjang kami membaik, tapi aku merasa ia semakin membatasi aku dan keluargaku.
Dibaik-baiki, dituruti, ia malah melunjak tidak tahu diri.
"Dulu waktu pacaran, Abang selalu usaha untuk datangi aku. Udah nikah, Abang selalu menghindar dari aku." Izza menunjuk dadaku dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Aku datangi kau sesekali, Za. Hubungan kita sepuluh tahun pun, kita break tiga tahun masa aku di pesantren. Sebenarnya mau kau gimana? Kau minta pindah, aku turuti. Orang tua aku kurang baik apa coba, Za? Rumah dibangunkan ulang tanpa diminta biaya, usaha dimodali, disupport, diajari. Apa salahnya keluarga aku? Sampai kau jaga jarak begini dan pengen aku jauh sama keluarga? Aku pengen tau alasannya." Emosiku memuncak di ruang tamunya ini.
...****************...