
"Abang tuh nampak kek belum mandiri, apa-apa orang tua. Ini itu, orang tua. Mungkin begini ya aslinya diri Abang?" Ia tersenyum dengan mata berair.
Ia semakin sombong kala jauh dari mertua. Terkesan berani, seolah mampu sendiri.
"Za, melek! Orang yang tak punya, dia usaha setengah mati ingin punya usaha dan sukses dengan kakinya sendiri. Harapan mereka, ingin ada yang bantu secara finansial, maupun rangkulan semangat. Sampai, mereka yang tak punya modal itu rela hutang bank loh. Kita nih beruntung, orang tuaku kaya. Ada yang bantu secara finansial dan ilmunya juga. Terus kau sebut aku belum mandiri? Jadi, seperti apa mandiri menurut versi kau? Kita harus bagaimana? Atau aku jadi buruh bangunan aja? Biar mandiri dan terkesan jari laki-laki pekerja keras?" Aku sudah tidak bisa menggunakan suara pelan.
"Abang harapin warisan."
Apa pikirannya benar seburuk ini?
"Aku butuh keluarga kau, Za. Aku butuh keluarga kau, sementara kita harus jernihkan pikirkan kita sendiri dulu sementara. Kau tak akan pernah bisa sadar dengan mulut aku, aku pun tak mau menyesal karena terus nurutin mau kau. Kau istri aku, kau milik aku, kau hak aku. Tapi diri aku tak sepenuhnya milik kau, Za!" Aku harus menitipkannya ke keluarga pamannya.
"Ayo, ikut." Aku menariknya keluar rumah. Rumah pamannya berada di samping rumahnya ini, halamannya disekat dengan tembok karena rumah pamannya lebih maju tiga meter dari teras rumahnya.
"Mau ke mana?" Izza mencoba melepaskan tanganku, dengan suara tangisnya yang sesenggukan.
"Harus ada peran keluarga kau yang buka pikiran kau. Karena aku takut salah ngomong, kalau harus terus-terusan nasehatin kau yang selalu ngelunjak begini." Aku sudah sampai di teras rumah pamannya Izza yang menjadi wali nikah saat pernikahan kami kemarin.
"Pak Cek…. Assalamu'alaikum…." Beliau adalah adik dari ayahnya Izza.
"Wa'alaikumsalam." Yang menyahut adalah istrinya.
__ADS_1
"Mak Cek." Aku mencoba tersenyum ramah saat pintu dibukakan.
"Chandra, Izza. Hai kenapa, Za?" Mak cek langsung memeluk Izza.
Mereka memiliki seorang putri dan putri mereka ikut suaminya. Keluarga Izza bukanlah keluarga besar, paling banyak di antara mereka adalah dua bersaudara. Tidak ada yang sepertiku, yang memiliki saudara banyak.
"Pak cek ada, Mak Cek? Saya ada perlu sama pak cek." Aku menahan bahu Izza, karena ia malah menangis lepas di pelukan bibi iparnya.
"Ada, ada. Ini kenapa sama Izza?" Mak cek menoleh ke belakang. "Bang, sini dulu. Ada Chandra sama Izza," seru beliau kemudian.
Hanya mereka saudara terdekat. Aku harus menitipkannya pada siapa lagi? Semoga saudara Izza tidak menganggap buruk diriku dan tidak mengambil makna yang salah.
Aku akan menitipkannya, bukan menceraikannya.
"Ya udah, ayo masuk dulu. Kita duduk di dalam, kita ngobrol di dalam." Mak cek merangkul Izza masuk.
Aku mengangguk, aku melangkah ke dalam rumah tersebut. Tidak ada sofa atau kursi di sini, kami duduk langsung di lantai yang dialasi semacam tikar.
"Bentar, keknya paman kau tak denagr." Mak cek melepaskan pelukannya pada Izza.
Aku merangkul Izza, kemudian mengusap-usap lengannya. "Hei, janganlah nangis. Ini biar kau kedepannya bisa lebih baik lagi, biar kita tetap bisa mengerti. Aku capek ngertiin kau. Aku takut ngertiin kau ini jadi sebuah perjuangan. Kalau aku merasanya udah berjuang untuk menyeimbangkan diri dengan diri kau, di situ pasti cinta aku udah berkurang." Karena cinta itu tidak merasa berkorban.
__ADS_1
Hujan-hujan mengapel, rasanya tidak akan keberatan dan berkorban karena ada cinta. Coba tidak ada cinta? Mungkin menjemputku setengah hati beratnya, apalagi jika tidak diiming-imingi dengan ongkos.
"Kenapa, Chandra?" Pak cek muncul dengan wajah tegang.
Mak cek datang dengan dua gelas air putih. Mak cek pun langsung memberikan satu gelas air tersebut pada Izza.
"Gini, Pak Cek. Aku sama Izza ini ada masalah, udah lama sebenarnya. Aku minta tolong sama Pak Cek, untuk nasehati Izza sebaik mungkin. Karena permasalahannya begini, Pak Cek. Dia tak mau tinggal dengan mertua, padahal ibu aku bukan orang yang cerewet. Pak Cek pasti tau gimana ibu aku kan? Pak Cek juga pasti kenal siapa ayah aku. Aku dapat saran dari keluarga, untuk pindah sementara aku lagi dibangunkan rumah di sana, biar tak satu atap dengan orang tua lagi Yang kemarin kebakaran itu, lagi dibangun ulang dan rencananya ayah kasih untuk aku dan Izza. Ayah aku pun kasih modal dan ajarin aku usaha baru, biar kami semua di kampung ini bisa hidup rukun dan kumpul sama keluarga besar. Biar aku tak perlu bawa Izza ini pergi kerja sampai ke luar negeri gitu, Pak Cek." Aku menyempatkan untuk tersenyum dan mengambil napas lebih banyak.
"Iya, betul. Terus?" Pak cek terlihat serius.
"Aku kan baru lulus kuliah, aku ini tak paham betul merintis dari awal. Jadi, tiap hari selama aku tinggal di sini tuh aku main ke orang tua untuk diskusi sama ayah gimana tentang usaha baru aku ini. Aku udah ajak Izza selama seminggu ini, seminggu ini pun Izza nolak untuk main ke sana. Sejak datang ke sini, sampai hari ini, Izza benar-benar tak mau diajak untuk main ke sana. Sebelum kita pindah ke sini, selama di sana pun Izza selalu marah kalau aku tinggal untuk diskusi sama ayah. Aku tak tau kesalahan orang tua aku itu apa, tapi dia sampai demikian ke orang tua aku. Aku disebutnya tak mandiri dan mengharapkan warisan orang tua sama Izza, Pak Cek. Aku ini lagi usaha, untuk menghidupinya. Gaya hidup Izza ini bukan sederhana lagi, Pak Cek. Tapi mewah, meski kami tak punya cicilan dan angsuran apapun." Aku mengatur napasku lagi.
"Oh iya, paham. Mungkin Izza butuh waktu kau, liburan begitu." Pak cek terlihat lebih santai, mungkin karena ia sudah tahu permasalahan kami.
"Udah, Pak Cek. Kami udah liburan berdua, waktu pun selalu aku sempatkan. Aku selalu bantu dia beraktivitas di dapur, sebelum aku berangkat kerja. Kita banyak ngobrol dan bercanda. Pulang kerja pun, aku nikmati waktu bareng dia sampai lepas Isya. Dari lepas Isya aku ngerjain laporan, sambil bahas usaha dengan ayah. Kadang sampai tengah malam, kadang sampai jam sepuluh. Tergantung selesainya aja, karena laporan yang aku dapat itu aku kirim lagi ke ayah." Pihak Izza harus paham detail, agar bisa menasehati Izza dengan benar, bukan malah sebaliknya.
"Maaf, mungkin hubungan ranjang." Pak cek merendahkan suaranya.
"Hubungan ranjang…… ..
...****************...
__ADS_1