Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA108. Mengambil hasil


__ADS_3

Kami makan dengan candaan tipis, ia tidak makan banyak. Ia hanya memakan beberapa suap, kemudian meminta obat yang diminum setelah makan. Keringatnya langsung keluar semua, aku khawatir Izza tiba-tiba muntah di tempat makan padang ini. 


Sayang sekali melihat nasi padang di piringnya yang masih menggunung. Aku hanya memindahkan dagingnya saja ke piringku, karena aku tak mampu untuk memakan isi piringnya itu. 


Aku tidak mengerti, kenapa satu porsi nasi padang begitu banyak. Aku tidak pernah membeli nasi padang, dengan nasi yang sedikit. Pasti saja nasinya menggunung, dengan kuah lauk yang berlimpah. Tapi memang itulah ciri khas nasi padang. 


"Tahan-tahan ya? Makan tak banyak, jangan dimuntahkan lagi." Aku mengusap-usap pahanya. 


Ia mengangguk, kemudian ia memperhatikan beberapa orang yang datang di tempat makan ini. Ia hanya diam, dengan mulut yang tertutup rapat. Mungkin ia tengah menahan mualnya.


Setelah aku selesai makan, aku menanyakan lagi keadaan perutnya.


Katanya, "udah lebih baik, Bang." Ia mengulas senyum menenangkan. 


Aku ragu untuk itu, aku khawatir ia hanya berpura-pura. 


Tadi aku sudah menaruh nomor kontakku pada formulir tes darah, jadi kala ada informasi masuk, aku langsung mendapatkan notifikasinya. 


"Udah keluar hasil tesnya, Za. Ayo masuk lagi, ambil hasil. Udah mendingan belum kalau dibawa jalan?" Aku memperhatikannya dari samping. 


Ia tersenyum. "Udah, Bang." 


Aku menganggukkan kepala, kemudian membayar makanan ini. Setelahnya, kami baru pergi masuk ke ruangan laboratorium lagi. 


Petugas laboratorium pun mengarahkanku, agar aku kembali ke dokter kandungan kembali. Mereka pun memberitahu, bahwa dokter kandungan hari ini sampai jam dua belas siang. Katanya, tentu jadwalnya berubah jika ada operasi darurat.

__ADS_1


Sesuai yang dokter kandungan arahkan tadi, aku kembali ke ruangannya dan mengambil nomor antrian lagi. Sepuluh antrian dari nomor antrianku saat ini, tapi kan memang sebentar jika hanya untuk USG biasa saja. 


"Bang, aku takut kena yang ganggu kesuburan otu." Raut wajahnya terlihat khawatir berlebihan. 


"Bismillah aja, semoga apapun hasilnya bisa tetap sembuh." Aku mencoba menenangkan hatinya. 


"Katanya tumor jinak, tapi mendadak ganas itu gimana?" 


Inilah yang aku takutkan. Aku takut istriku merasakan hal yang serupa seperti ibuku, biyung berjuang setengah mati di rumah sakit besar. Untungnya, beliau diberi umur panjang. Cala pun diberi kekuatan, sampai ia lahir ke dunia ini dan tumbuh dengan sehat. 


"Jangan berpikiran buruk. Kalau pikiran kita baik, inshaAllah hasilnya pun baik." Aku tetap mencoba menenangkan Izza. 


"Kalau hasilnya tak baik? Gimana, Bang? Apa Abang cari istri lain, yang bisa kasih Abang keturunan?" Matanya sudah berkaca-kaca kembali. 


"Jangan ngomong jelek, Sayang." Aku mengusap pipinya. 


"Biyung tak pernah dituntut hamil, tapi memang diberi kepercayaan untuk punya banyak anak dan asuh banyak anak. Keluargaku tak pernah menuntut, mereka hanya berbagi kebahagiaan setiap kali ada keluarga baru yang lahir." Aku tidak mau Izza berpikir buruk tentang keluargaku. 


Abi Ghava hanya memiliki dua anak, tidak pernah dipermasalahkan dan dipertanyakan. Ayah yang paling banyak memiliki anak, tidak pernah diributkan, apalagi diperdebatkan. Keluarga besarku tidak pernah iri hati masalah keturunan, yang ada memang mereka sering mengejek biyung yang mau dihamili ayah berkali-kali. Ya itu pun, hanya mengejek bergurau karena adik-adik iparnya begitu akrab dengan biyung. 


"Kalau ngambil anak di panti asuhan aja gimana, Bang?" Izza melirik ke arah monitor mesin antri. Baru tiga angka, yang keluar masuk dari ruang dokter tersebut. 


"Ya oke aja, gimana aja baiknya." Aku tak berminat membahas yang nanti-nanti. Karena nanti, Izza malah lebih berpikiran buruk tentang penyakitnya. 


"Kalau ngasih anak sepupu Abang pun tak apa, kalau diizinkan sih." Ia tersenyum kembali. 

__ADS_1


"Iya, Sayang. Terserah mau kau, yang penting kau sehat dulu." Aku ingin fokus pada kesembuhannya dulu. 


"Janji ya jangan nikah lagi kalau aku masih hidup dan masih jadi istri Abang." Ia mengangkat jari kelingkingnya, kemudian diarahkan padaku. 


Kematian? 


Tolong jangan pernah bahas itu. Aku terlampau cengeng membahas hal itu, karena selalu ingat kematian dato, ibu, nenek dan kakek di tahun yang sama. Aku setahun itu sampai masuk rumah sakit sebanyak dua belas kali, karena kesehatanku drop setelah ditinggalkan mereka secara bergantian. 


Dato selalu mengajakku jalan-jalan setiap sore, sampai aku remaja dan aku malu untuk berjalan-jalan lagi. Ibu selalu ada menemaniku kala aku sakit dan tak ridho setiap melihat seragam sekolahku lecek karena belum disetrika, ibu selalu bergerak cepat u untuk menyetrikakan seragam sekolahku. Biyung banyak anak, kadang ia tak sempat dan aku belum bisa menyetrika sendiri. 


Nenek dan kakek, jangan ditanyakan peran mereka di kehidupanku. Kakek adalah guru pertamaku dalam dunia pertanian, aku adalah partner ladangnya sejak kecil. Nenek adalah pelatih mentalku sejak kecil, aku ingat sekali bahwa nenek lah yang meninggalkanku di TK di seminggu setelah aku rutin bersekolah TK. Ayah pun melakukan hal yang sama, karena ia ingin aku menjadi anak yang berani. Hanya ketika berangkat, aku diantar, kemudian pulang dijemput. Selebihnya, aku diadu dengan anak-anak TK. Aku hanya bisa melapor pada guruku, kala aku mendapatkan hal buruk dari teman-temanku. Tapi itu hanya satu dua bulan saja, seterusnya malah aku yang menakali mereka. 


Biyung sibuk, peran ibu pengganti adalah ibu dan nenek. Biyung sakit, peran ibu asuh adalah nenek dan ibu. Biyung keluyuran, aku berubah menjadi anak ibu dan nenek. Begitu besar peran mereka dalam kehidupanku, hingga aku begitu terpuruk ketika mereka meninggalkanku untuk selamanya. 


Aku tahu kematian adalah ketetapan, tapi aku tidak ingin orang-orang terdekatku meninggalkanku untuk selamanya. Aku mungkin lebih rela, jika aku yang meninggalkan mereka lebih dulu untuk selamanya. 


Dato adalah kakek kandung Ceysa, dato adalah ayah dari mangge Lendra. Mangge Lendra adalah ayah sambungku, ayah kandung Ceysa. Ia pun sudah tiada, aku hanya bisa menangis saat memahami bahwa malam itu yang meninggal adalah mangge Lendra. 


Ialah yang mengurusku dan Ceysa, ketika biyung lumpuh mendadak. Ialah yang mengurusku, ketika aku sakit dan harus dirawat di puskesmas kala biyung lumpuh. Kejadian itu, kala aku baru akan masuk ke taman kanak-kanak. Aku tidak ingat jelas, tapi aku samar ingat akan ayah sambung yang bertato itu. 


Ia tidak galak sama sekali, ia sayang padaku dan memanjakanku. Jika ayah mendidikku dengan kedisiplinan dan kemandirian, jika dirinya mendidikku dengan memanjakan dan kelembutan. Tato itu bukan kriminal, tato hanya seni yang kadang dipandang buruk oleh masyarakat awam. 


"Nomor antrian seratus lima puluh lima." Mesin nomor antrian menyebutkan karcis antrian yang berada di tanganku. 


"Ayo, Dek." Aku segera bangkit dan menggandeng tangan Izza. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2