
"Ada apa? Kenapa kok pandang-pandangan gitu?" Aku memandang tajam pada Kaf.
"Bang, aku pengen nikah aja. Tapi tak berani bilang ke orang tua masing-masing," akunya dengan tertunduk.
Lah? Terus?
"Masa iya Gue yang ngelamarin perempuan kau? Masa iya Gue yang maju ke papa Ghifar?" Stress aku ini, karena bukan mengurus adik-adikku saja. Malah mengurus urusan adik sepupu juga.
"Kenapa tak? Kan Abang katanya anak papa Ghifar juga." Ia tersenyum lebar.
"Katanya kau sama Gwen." Aku tersenyum jahil.
"Mana ada! Aku udah bilang ada bisnis PO sama dia." Tepisannya membuatku geli.
Ia sepertinya takut perempuannya salah paham dan marah.
"Kalau yang satunya lagi siapa? Kan bawa dua perempuan waktu donor darah." Karena Kaf pun akrab sekali, sampai merangkul pundak perempuan tersenyum.
"Oh, itu adik Saya. Dia baru masuk kuliah, beda satu tahun sama Saya." Ia tersenyum manis.
Sama-sama manis seperti Kaf, perempuan itu tidak cantik seperti Izza. Beda ya perempuan cantik dan perempuan manis itu.
"Ohh…." Aku mengangguk berulang.
"Bang, minta ditengahi." Kaf setengah merengek.
"Ditengahi gimana sih? Aku duduk di tengah-tengah kalian?" Aku menyalakan rokokku.
Rumah pupuk ini enak dipakai untuk merokok bebas dan mencari inspirasi usaha. Karena di rumah biyung, aku tidak bisa merokok di dalam ruangan. Ayah tidak mengizinkan, apalagi ada Cala dan Cali di dalam rumah.
"Bukan, Bang. Bantu ngobrol ke papa, temenin datang ke rumah Dayana." Kaf terlihat begitu berharap.
"Kakak kau belum kawin, Kaf. Kenapa buru-buru sih?" Aku menata rambutku dan menghembuskan asap rokok ke udara.
"Tak sengaja jebol, takut dia hamil."
Aku sampai lupa caranya bernapas. Kenapa cucu-cucu Riyana jadi begini? Padahal aku memuji, bahwa cucu-cucu Riyana tidak seperti neneknya tadi. Aku jadi malu dengan ucapan batinku sendiri, karena melenceng jauh.
"Kau kan calon dokter, Kaf." Harusnya ia punya solusi sendiri.
__ADS_1
Kenapa begituan dibilang tak sengaja? Hal itu kan sengaja dan sadar. Laki-laki terlampau alim, nyatanya bahaya juga karena mainannya tak sengaja terus mengakunya.
Kecuali menjatuhkan barang, mungkin itu bisa dibilang tak sengaja. Tapi jika menelan***** perempuan, itu tidak mungkin tak sengaja.
"Ya kan baru calon, aku baru mau semester tiga. Baru mau, aku sekarang masih semester dua." Ada saja alasan mulutnya.
"Mau ditembuin ke papa kah?" tanyaku kemudian.
"Ya jangan terus terang, Bang. Duh, kek mana nanti marahnya papa." Tangannya langsung gemetaran.
Ia benar-benar takut rupanya, ia benar-benar panik.
"Terus gimana maunya? Mau jebol tak mikir untuk nikah dulu, udah jebol bilang tak sengaja. Aneh betul kau ini, Kaf." Aku geleng-geleng kepala.
"Ya sebelumnya, biasa petting. Karena memang benar tak sengaja, Bang." Si perempuan berani buka suara juga.
Eh, apa tadi?
"Apa tuh 'penting'?" Aku baru mendengar kata-kata itu.
Apa itu berbau negatif?
"Berhubungan, tapi tak sampai masuk. Jadi cuma sebatas tidak berpakaian, saling menyentuh dan saling mencium." Yang menjelaskan pun perempuannya.
"Bapak kau owner pabrik kopi, jadi kau berani macam-macam ya?" Aku memandang adik sepupuku ini.
"Tak lah, Bang." Bibirnya sampai bergetar juga.
"Heran, kok berani? Pesantren kan kau?" Aku bersandar dan menikmati rokokku.
"Kan aku cuma setahun, aku sakit-sakitan terus. Lagian kenapa sih dengan pesantren? Lulusan pesantren pun banyak yang ambil pilihan hidup negatif." Ia memicingkan matanya.
"Ya bukan begitu juga, tapi kan maksudnya kau pasti punya pedoman agama yang kuat." Harusnya ia berpikir ulang, sebelum mengambil keputusan untuk melakukan hal itu.
"Bukan itu lagi yang dipermasalahkan di sini, Bang. Kaf tak berani ngomong ke orang tua aku, jadi Abang bisa temani dia tak?" Perempuannya cenderung tenang.
Aku malah berpikir perempuannya yang memaksa Kaf untuk melakukan hal tersebut. Apalagi ia tahu, jika Kaf anak orang kaya. Perempuan ini itu sering dibawa ke rumah, tapi tidak pernah diajak ke rumahnya. Maksudnya, seperti perempuan tersebut hanya duduk di teras rumahnya atau menunggu di depan Riyana studio. Kaf tidak pernah mengenalkan pada keluarga kami tentang perempuan tersebut.
"Ngomong apa aku ini? Apa harus cerita kalian udah melakukan juga?" Aku bingung ditugaskan untuk apa.
__ADS_1
"Temani aku untuk ngomong ke orang tua Dayana, bahwa aku punya keinginan untuk nikahin Dayana secepatnya," ungkap Kaf kemudian.
"Kaf, kalau ada niat ngomong ke orang tua itu. Ya minimal, orang tua kau harus tau dulu. Kalau diizinkan, baru kau acc ke keluarga Dayana." Aku memandang perempuan tersebut, kala menyebut nama Dayana.
Sepertinya, benar namanya Dayana.
"Ya Abang pun bantu aku ngomong ke papa, tentang langkahin kak Kal juga." Kaf menyeka keringat di wajahnya.
Hmm, dilibatkan lagi.
"Intinya, papa harus tau tak kalau kau udah jebol anak gadis orang?" Aku mengetuk rokokku di atas asbak.
"Ya jangan, Bang." Suaranya sudah bergetar.
Bau khas keringat Kaf sudah menguar. Bukan bau badan ya? Tapi bau khas tubuh seseorang.
"Terus gimana biar papa setuju? Kebenaran itu tuh bisa dipakai untuk mendesak papa. Setelah papa oke, barulah datang ke orang tua Dayana. Orang tua Dayana oke, baru kita minta papa dan mama datang ke rumah Dayana." Ini urutan yang benar menurutku.
"Jangan sampai orang tua datang beberapa bulan kemudian, bawa kabar tentang kehamilan aku. Nanti bisa-bisa orang tua kau bisa kena serangan jantung." Perempuan Kaf menepuk bahu Kaf.
Duh, aku takut Kaf salah pilih perempuan. Terlihatnya, perempuan ini cukup berani.
"Ya jangan sampai." Kaf mengusap wajahnya.
"Jadi gimana? Abang bantu gimana dulu sok?" Aku menghembuskan asap rokok, dengan memperhatikannya dengan seksama.
"Bantu ngomong ke papa dulu." Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri mangga orang lain.
"Papa pasti heran, kalau tak ada alasan. Lebih-lebih, papa kau pengen kau sama kakak kau jadi dokter dulu. Itu loh, rumah sakit pakwa udah nunggu untuk kau ambil alih."
"Jadi maksud Abang, baiknya keadaan aku ini dibiarkan aja begitu? Atau, Abang nyuruh Kaf untuk lepas tanggung jawab dan kabur?" Dayana malah nyolot.
Ish, karakternya menyebalkan. Menangis kek, kan ada pantasnya. Kok dia begitu? Seperti mengharapkan sesuatu dari Kaf.
"Kan aku tak bilang begitu. Dia harapan orang banyak loh, tapi kelakuan kalian bikin orang yang mengharapkan Kaf shock. Kalau memang punya rencana dengan Kaf, caranya jangan kek gitu. Kalau memang panik, ya udah aja terus terang bagaimana keadaan kau sekarang. Pilihan itu banyak selain pernikahan, ada baiknya tunangan dulu. Bisa juga kau minta tanggung jawab untuk minta biaya lakukan operasi perawan lagi. Untuk memastikan kehamilan, kan bisa datang ke dokter kandungan dulu. Pernikahan yang buru-buru itu tak bagus loh, aku pernah dan aku pengalaman." Banyak solusinya, tapi yang dituntut perempuan ini hanya pernikahan. Kan ia belum tentu hamil juga.
"Kau nanti bakal ngerasain khawatirnya bawa rahim, paniknya, khawatirnya, takutnya saat punya anak perempuan atau adik perempuan yang terlanjur ternodai kek aku." Dayana berbicara lantang dengan suara tangisnya yang tertahan. Bahkan, suaranya sampai bergetar tidak stabil.
Ia menyamarkan perasaan takutnya ternyata. Karena ia sana kalapnya seperti Kaf.
__ADS_1
Mendengarnya berbicara seperti ini, aku sudah parno dengan masa depan adik-adik perempuanku.
...****************...