Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA165. Speak manhwa


__ADS_3

"Udah, sabar. Yang penting udah tau rasanya perempuan." Aku mencoba menghibur Kaf, yang diam saja padahal di tengah keramaian tempat futsal. 


"Ayah Apin, minta uang." 


Aku memperhatikan Bunga yang menengadahkan tangannya di depan pakcik Gavin. Pakcik Gavin menyeka keringatnya, karena ia baru keluar dari lapangan. 


"Beli jajan apa? Abang kau aja yang keluar, udah malam ini." Pakcik Gavin meraih tas sepatunya. 


"Go Food, udah ada di depan." Bunga menunjuk ke arah parkiran yang hanya tersisa motor dari grup futsal kami saja. 


"Bang, Bang. Ambilin dulu, Bang." Pakcik Gavin memberikan dompetnya padaku. 


"Ya berapa, Pakcik? Masa aku dikasih uang sedompet." Dompet ayahku saja, aku tidak berani membukanya. Apalagi, harus membuka dan mengambil uang dari dalam dompet pakcikku. 


"Berapa, Dek?" Pakcik Gavin akhirnya membuka dompetnya sendiri. 


"Seratus lima puluh, Pakcik." Enak sekali jadi Bunga, jajan tidak pernah mikir nominal. 


Aku kah dulu, apapun dipikir dua kali. Karena aku terbiasa mandiri, terbiasa mengatur uang jatah yang ayah beri. Memang boleh minta lagi, tapi aku tidak mau terlampau boros saja.


"Nih, Bang." Pakcik Gavin memberikan dua ratus ribu padaku. 


Sudah jajanan tahu datang, bayar ya dibayarin. Enak sekali ia diratukan banyak orang, khususnya dari keluarga kami. 


Ehh, ada Jessie kasir tempat futsal. Ia fokus menunduk dengan memainkan ponselnya. 


"Jess, kalau tengah malam jatah kau nunggu ini tempat?" tanyaku dengan berjalan melewatinya. 


Suaraku mengambang, karena tempat futsal ini memiliki bangunan yang tinggi dan tempat parkir yang cukup luas. 


"Eh, Bang. Biasanya kan cuma sampai jam sepuluh, pekerja pun cuma sampai jam sepuluh aja katanya. Sedangkan team Abang bookingnya ada empat jamnya." Jessie mungkin memperhatikanku yang berjalan ke arah pintu futsal yang setengah tertutup. 


"Bentar, Jes." Aku lebih dulu mengambil makanan pesanan Bunga. 


Oh, ternyata ada beberapa pizza mini homemade. Kentang goreng, ada juga kulit chicken. Dengan dua minuman boba, beserta tiga minuman sejenis es dalgona. 


"Wow, banyaknya." Jessie sudah bersedekap di depan meja kasir. 


"Yaitu, nona kecil kalau jajan di luar nalar. Sini gabung, Bunga sendirian dari tadi." Aku sampai sudah berganti pakaian sekali, karena memang basah kuyup dan aku tidak betah. 


Sebenarnya, aku dan pakcik Gavin main futsal paling lama hanya satu jam. Tapi teman-temannya cukup banyak dan memang sengaja diadu antar kawan saja, sedangkan kami hanya menonton. Makanya bisa berjam-jam dan bisa lama. 


"Mana Bunga?" Jessie malah berjalan ke arah pintu masuk. 


"Loh? Kenapa?" Ia menanyakan Bunga, tapi ia malah berjalan ke arah lain. 


"Ngunci pintu dulu, takut motor." Ia berlari kecil ke arahku setelah berhasil mengunci pintu. 


Jadi, model bangunan ini seperti huruf L. Tempat parkir dan kasir, ada di bangunan dengan bentuk lurus seperti ini I. Lalu, ada dua lapangan futsal yang menempati posisi _. Bagian siku yang kosong, itu rumah pak Darmaji. Jadi, lapangan futsal ini terletak di halaman belakang rumah pak Darmaji. Kurang lebihnya seperti itu gambarannya, ada pintu penghubung ke rumah pak Darmaji juga, jadi Jessie pulang ke rumah tinggal membuka pintu saja. 

__ADS_1


"Bang…." Bunga melihatku datang dengan mengangkat ponselnya. 


Ada apa? 


"Hai…." Jessie menyapa Bunga. 


"Hai, Kak. Sini." Bunga menepuk tempat di sebelahnya. 


"Nih, Dek. Abang mau main lagi." Aku memberikan makanan ini padanya. 


"Jadi aku sama Bunga aja nih?" Jessie menunjuk dirinya dan duduk di samping Bunga. 


Aku hanya tersenyum padanya. 


"Iya sini aja, Kak." Bunga sudah fokus unboxing makanannya. 


Aku mulai bermain, sesekali melirik ke arah mereka yang aktif ngobrol sembari makan makanan yang tersedia. Aku jadi penasaran, apa yang mereka obrolkan. 


Sampai akhirnya aku memilih untuk selesai bermain, karena mereka mulai mengeluarkan uang mereka untuk mempertaruhkan team andalan mereka. Aku tidak ahli bermain futsal, aku hanya mencari keringat saja seperti pakcik Gavin. Tentunya, ya menonton pertandingan pastinya. 


"Dek, baju Abang ada lagi tak?" Aku membuka kaosku sembari berjalan ke arah Bunga. 


"Cuma bawa dua, baju kaos biasa ada juga." Bunga menunjukkan kaosku yang berwarna putih. 


"Nanti deh, ngilangin keringat dulu." Aku duduk di hadapan mereka dan bersandar pada jaring. 


Sebenarnya tidak boleh sih, tapi bukan aku saja yang melakukannya. 


"Aku udah biasa tidur di ototnya, aku peluk, aku gigit, aku cium." 


Kenapa Bunga berbicara seolah agar ia terlihat lebih dekat denganku. 


"Adik kakak yang tak normal." Lirikan Jessie maut juga. 


"Hmm, tadi pun kita n*****t dulu." Mulut Bunga kurang ajar. 


Aku hanya terkekeh, ketika Jessie memandangku lain. "Bunga dipercaya." Aku hanya menanggapi ringan. 


Kenapa wajahnya nampak raut tidak suka? Apa ia cemburu? Kan katanya ia hanya menganggapku teman. 


"Abang tak dikasih es kah, Dek?" Aku ingin juga melihat Bunga makan dan menyeruput es dengan nikmatnya. 


"Nih, punya aku aja." Bunga mengulurkan cup es bobanya. 


Aku hanya ingin yang dingin-dingin. 


"Oh, jadi aku bekas sana sini ya?" 


Kenapa Jessie berkomentar begini, saat aku menyeruput es milik Bunga? 

__ADS_1


"Apa?" Bunga menoleh dengan tatapan polosnya. 


Pertanyaan Jessie untukku, aku mengerti. Pertanyaan itu bukan untuk Bunga. 


"Tak kok." Jessie menoleh ke arah Bunga, baru ia tersenyum. 


"Kita janda sama duda, patutlah bekas."


Lebih tepatnya Bunga hanya pura-pura polos. Sekali nyeletuk, bukan jelas lagi tapi begitu gamblang. 


"Minta jajanannya, Dek." Aku mengembalikan es boba milik Bunga. 


"Nih, Bang. Abang suka black pepper kan?" Bunga mengulurkan setepak pizza mini homemade itu. 


Entah warung pizza homemade mana yang masih buka malam begini. 


"Makasih." Aku pura-pura sibuk makan, meski aku tahu bahwa Jessie memperhatikanku terus menerus. 


"Kau serius masih muda begini udah janda? Kau mantan istri Bang Chandra?" Barulah Jessie menepuk paha Bunga setelah beberapa saat. 


"Iya janda, nikah siri dulu. Aku bukan mantan istri Bang Chandra, kalau aku jadi istrinya, tak akan aku biarkan dia lepas. Tak mau aku jadi jandanya, mending tetap jadi istrinya." Bunga berkata seolah ia serius. 


"Terus, mantan istrinya ke mana?" tanya Jessie kemudian. 


Kenapa ia tidak berani bertanya padaku langsung? 


"Baru seratus hari minggu-minggu kemarin, kenapa?" Aku yang menjawabnya. 


Matanya membulat. "Ohh, maaf." Ia menangkupkan tangannya. 


"Tak apa." Aku mengalihkan pandanganku ke arah pertandingan futsal kembali. 


"Mantan suami kau ke mana?" Jessie bertanya pada Bunga. 


"Hidup bahagia, kek aku juga." 


Ternyata ia cukup pandai membawa harga dirinya, aku tadi sempat khawatir ia menjawab suaminya sudah bersama istri sahnya kembali. 


"Kenapa harus pisah, Dek? Rumah tangga baru kan biasanya masih hangat-hangatnya." Jessie cukup kepo ternyata. 


"Karena Abang aku terlalu sayang adiknya, karena tak semua ayah rela anaknya pindah ke pelukan laki-laki lain juga sih."


Aku merasa Bunga pandai dalam memilih jawaban, aku suka gayanya. 


"Bang, speak Manhwa." Bunga menunjukkan foto dalam ponselnya. 


"Siapa itu?" Body gitar spanyol ceileh. 


"Dia…." Bunga sampai menggantungkan kalimatnya, karena melihat Jessie membuka cardigannya. 

__ADS_1


Ooooooooooooouch, bisa dibicarakan baik-baik. Senyumku mekar melihat tubuhnya yang terlapisi inner rajut saja, dengan hijab yang tidak menutupi dadanya. 


...****************...


__ADS_2