Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA150. Harapan orang tua


__ADS_3

"Tak janji juga, cuma kan baiknya terus terang. Papa langsung kepikiran loh kalau kau begini, penasaran dan khawatir." Kegelisahannya nampak sekali. 


"Aku sering petting dan aku tak sengaja jebol keperawanan perempuan aku." Karena yang ada di otakku itu tak mau membuat Kaf dimarahin juga. 


"Kau? Yang betul?" Papa Ghifar sampai memicingkan matanya. 


Anehnya jika aku nakal? 


"Iya, betul lah." Aku mengetuk rokok di asbak yang ada di atas meja. 


"Memang sejak kapan Bunga perawan?"


Kok Bunga? Kok jadi aku yang pusing di sini. 


"Kok Bunga sih, Pa?" Aku mengerutkan alisku. 


"Memang siapa lagi? Perempuan yang sering kau bawa kan dia. Kalau itu, Papa tak punya saran lain selain nikah. Mantan pendosa bukan berarti tak bisa hidup bahagia kan? Tergantung bagaimana suaminya, itu menurut Papa." Papa terlihat lebih rileks. 


"Kok gitu, Pa?" Seperti pendapat ayah saja. 


"Karena Papa dapat perempuannya yang begitu dan hidup sama perempuan yang begitu. Bedanya, memang tak hamil duluan aja." Papa Ghifar menaikan bahunya sekali, kemudian bersandar nyaman di sofanya. 


"Mama Aca kek Bunga?" Aku yang shock mendengar ini. 


"Ya tipis-tipis. Kalau memang kau tergoda Bunga, ya mungkin kau kek di posisi Papa dulu." Papa Ghifar mengisyaratkan tangannya seolah mengatakan setengah. 


Pantas saja merokok. 


Aku pernah mengatakan, rokok itu bukan kriminal dan kejahatan meski untuk perempuan. Tapi, nyatanya rokok itu identik dengan perempuan yang memiliki pergaulan bebas. 


"Papa gimana?" Aku malah gagal fokus dan membicarakan ke mana-mana. 


"Ya begitulah, perempuan. Sama mama Kin tak sampai begitu, Papa bisa menahan diri. Tapi sama mama Aca, Papa yang bejat. Makanya berani ambil udahlah nikah siri aja, karena tak mau keseringan berbuat dosa. Datang ke rumah, niatnya mau meluruskan permasalahan, malah jadinya begituan."


Ternyata begini keturunan nenek dan kakek? Aku berpikir mereka pendosa, tapi tidak sampai di anak cucunya. Ternyata, dosa pezina itu mengalir ke bawah. Ah, aku jangan sampai berzina. Kasihan nanti keturunanku di masa mendatang. Pantas saja Kaf bisa berzina, papa Ghifar rupanya pernah melakukan hal itu juga. 


"Kenapa? Mikirin apa? Kok shock gitu?" Papa Ghifar memperhatikanku dengan dahi mengkerut. 


"Tak, Pa." Aku mengalihkan pandanganku lagi. 

__ADS_1


"Kau yakin Bunga perawan? Atau, bohong kau kurang lembut?" Papa Ghifar tersenyum manis seperti Kaf. 


"Memang aku ada bilang ya, kalau Bunga perawan?" Perasaan, aku tidak berbicara seperti itu. 


"Kau bilang, kau sering petting dan tak sengaja jebol keperawanan perempuan kau. Memang perempuan kau siapa gitu? Kan sering perginya sama Bunga, ya kan?" jelas papa Ghifar perlahan. 


Ehh….


"Papa jangan kaget, aku butuh solusi dan jalan keluar terbaik." Aku mulai serius kembali. 


"Oke, gimana?" Papa Ghifar terlihat rileks. 


Aku menekan puntung rokokku ke asbak. "Kaf lagi punya masalah itu." 


Aku memperhatikan ekspresi diamnya. Kemudian, ia menghela napasnya. Papa Ghifar memijat pelipisnya, kemudian bertopang dagu kembali. 


"Papa nih waktu dia masih SMA pernah dipanggil ke sekolah, karena dia ciuman di kelas pas istirahat dan beberapa teman sekelasnya ada di kelas. Papa kira dia udah berhenti, karena tanda tangan di atas materai."


Hah? Adik sepupuku sesesat itu? 


"Siapa nama perempuannya masa itu?" tanyaku kemudian. 


"Dayana yang sekarang, Pa. Tak sengaja kejebolan, karena licin katanya. Dia sekarang panik dan takut, karena dia tak bisa buang di luar. Takutnya hamil duluan katanya." Aku bukan bermaksud mengadu, tapi nyatanya memang sulit menyampaikan tanpa mengatakan yang sejujurnya. 


"Ampun, anak laki-laki ini." Papa Ghifar geleng-geleng kepala dan pergi dari kamar ini. 


Aku yang kalap, aku langsung mengejar langkah lebar beliau sebelum beliau sampai di kamar Kaf. 


"KAF!" Papa Ghifar berteriak di depan kamar Kaf. 


"Ya."


Pintu kamar tergantung ke tembok, memperlihatkan Kaf yang tengah video call dengan seseorang. Ia langsung kalap, wajah paniknya langsung terlihat. 


"Papa bilang apa, Kaf?! Kau fokus untuk dokter, Papa tak mau urus biaya hidup kau!"


Hah? Mataku membulat. Kok papa Ghifar bisa seperti itu? 


"Papa kok gitu? Seolah menekan aku jadi dokter, aku nurut pun nyatanya tetap kena ancam." 

__ADS_1


Kaf kok berani sekali? 


"Jadilah dokter yang profesional, masih calon dokter kau udah cabul begini. Gimana nanti masa depan kau, Kaf?! Bisa tak sedikit buat senang hati orang tua kau yang udah tiada? Mama kandung kau pengen betul anak laki-lakinya jadi dokter, sebagai penerus dia. Karena dia berpikir anak perempuannya pun bakal kek dia juga, karena perempuan itu atas kuasa suaminya. Sekalipun kakak kau mampu sekolah dokter dan jadi dokter, belum tentu suaminya nanti mengizinkan. Mama kandung kau ngasih harapan besar ke kau, tapi kau malah sebodoh ini. Apa yang ada di pikiran kau? Perempuan, perempuan, perempuan terus! Udah dibilangin, perempuan modelan gitu tuh ya dijauhin. Malah sering dibawa-bawa, kau pikir dia apa?" Papa Ghifar meledak-ledak di sini. 


Sungguh, aku tidak tahu jika beliau sampai semarah ini. 


"Ada apa sih?!" Mama Aca muncul dan sampai menyenggol bahuku. 


"Tanya anak kau!" Papa Ghifar balik badan dan berlalu turun ke lantai satu. 


Kebetulan, rumah ini dua lantai. Kamar Kaf letaknya dekat dengan tangga lantai atas. 


"Ada apa?" Mama Aca memperhatikanku dan Kaf bergantian. 


Kaf bungkam, ia berdiri kaku di tempatnya. Pandangannya kosong, dengan keringat yang langsung membasahi tubuhnya. 


"Papa kenapa, Ma?" Nahda yang putih dan mirip nenek juga itu muncul dan memperhatikan keadaan kamar ini. 


Nahda adalah anak bawaan mama Aca, mama Aca cerai mati dan menikah kembali dengan papa Ghifar yang cerai mati juga. Mama Aca membawa anak satu, sedangkan papa Ghifar membawa anak dua. 


"Temani papa di bawah, Dek. Papa tuh kalau udah menyendiri, main kunci pintu aja." Mama Aca mengusap bahu Nahda. 


"Ya, Ma." Nahda langsung berlalu pergi. 


"Ada apa? Masalah sensitif tuh jangan langsung ke papa, orangnya sensitif betul juga." Mama Aca mendekati Kaf. 


"Mana yang sakit? Papa ada mukul?" Mama Aca mengusap pipi Kaf. 


Ohh, ternyata Kaf menangis. Duh, aku jadi merasa bersalah sendiri. Aku tidak tahu papa Ghifar sekolot ini tentang anak-anak mereka. 


Kaf menggeleng, kemudian langsung memeluk ini sambungnya. "Ma, aku minta maaf. Bilang papa, aku tetap bisa jadi dokter meski dengan kesalahan aku. Aku bakal tanggung jawab sama kesalahan aku sendiri, tapi aku pun bisa raih impian kalian, terkhusus untuk mama Kin. Aku tak tau, kalau sebesar itu harapan mama Kin ke aku." Suara Kaf sedikit meraung. 


"Mama bantu ngomong. Ada apa? Kau bolos kuliah? Nilainya paling rendah dari teman-teman kau? Atau, kau ada masalah di sana? Kenapa bawa-bawa impian dan cita-cita begini? Mama tak pernah maksa anak-anak harus jadi apa, yang penting kalian hidup dan ada di depan mata Mama aja."


Yang penting hidup??? Harapannya di luar dugaanku. 


"Ma, sebenarnya aku ini….. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2