Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA210. Irlandia-Belanda


__ADS_3

"Di kamar, Pah. Baru tidur tadi jam enam, habis sarapan dan minum obat." Sulung tersebut duduk di sebelah om Vendra. 


"Sakit apa?" Wajah om Vendra nampak khawatir. 


"Papah tak ada nanya ke ibu memang? Soalnya ada titipan juga dari ibu." Sulung tersebut nampak celingukan. 


Aku belum tahu nama-nama anak om Vendra. 


"Nanya, nelpon sebentar. Papah juga bilang kalau mau pulang, iya aja jawabnya." Om Vendra melirik tante Nina. 


Takut pasti. 


"Oh, ya udah deh. Bentar aku ambil dulu, tadinya tuh bilang katanya kasih ke Papah kalau datang sebelum tidurnya tuh." Si sulung pergi ke dalam ruangan lain. 


Aku tahu bungkus itu, bungkus yang dibawa oleh si sulung yang kembali tersebut. 


"Heh?" Om Vendra nampak kaget, saat bungkusan tersebut berpindah ke tangannya. 


"Dilihat aja, Pah." Sulung tersebut duduk di samping ayahnya kembali. 


Dengan perlahan, om Vendra mengambil sepotong alat dari dalam bungkus tersebut. Seperti yang sudah aku tebak, alat tersebut sudah digunakan dan menunjukkan hasil dari pengetesannya. 


"Hamil?" Om Vendra terlihat shock sekali. 


"Yaaa, gitu. Padahal, aku rasa capek nganter Esmee TK. Alhamdulillah SD dia bisa berangkat sendiri, eh bentar lagi aku nganter TK lagi." Sulung membuang napasnya perlahan. 


Esmee itu si bungsu kah? 


"Papah mau ganggu ibu aja lah kalau gitu, betul tak ini?" Om Vendra langsung kabur meninggalkan ruang tamu. 


Tante Nina langsung lunglai bersandar di bahuku. Agar tidak oleh, aku merangkul tante Nina yang jelas tidak baik-baik saja ini. 


"Bentar ya, Annek lagi buat teh." Si sulung buka suara. 


"Annek yang remaja perempuan itu?" tanya ayah dengan menunjuk tempat perempuan yang tadi berdiri dan diminta memakai baju oleh om Vendra. 


"Iya, Anneke Catharina namanya. Dia anak kedua, umurnya dua belas tahun." Sulung memberikan informasi lengkap. 


Namanya seperti bule. 


"Masa???" Suara gelak tawa om Vendra nampak bahagia dan lepas sekali. 


Suara kekehan perempuan pun terdengar, sepertinya obrolan mereka tengah seru sekali. 


"Hm, hm, hm…. Bisa begitu ya? Lagian, mau aja dihamili sih?"


Sepertinya letak kamarnya beriringan dengan ruang tamu, sehingga suaranya terdengar jelas. 

__ADS_1


"Ana tak mau, Ente maksa!" seru perempuan diikuti dengan tawa om Vendra yang nampak kegelian. 


Pasti sakit sekali tante Nina mendengar gurauan mereka. 


"Coba duduk, Bu." Permintaan kecil om Vendra nampak lembut, tapi suaranya tetap sampai ke sini. 


"Hoekkkkkk…."


Hmmmm, aku ikut mualnya saja. 


"KB apalagi harusnya? Masa Ana harus vasektomi?" Suara om Vendra mendekat. 


"Sini Papah bantu. Kau tak sekolah kah, Kak?" Om Vendra melintas menuju ke belakang. 


"Sekolahnya siang, Pah. Masuk jam satu, pulangnya jam lima."


Mereka muncul dengan nampan berisikan seteko teh manis dan juga beberapa gelas. 


"Mana istri kau, Ven? Abang mau ngomong," ungkap ayah segera. 


"Kalau duduk mual, kek vertigo. Rebahan sih bisa ngobrol, rasanya kek normal aja katanya. Tapi pas bangun, katanya muter-muter." Om Vendra menunjuk kami dengan dagunya, kemudian mengusap bahu anak perempuannya. 


Annek langsung mengerti isyarat dari ayahnya itu, ia langsung mencium tangan kami satu persatu. Tentu penampilannya lebih sopan, dengan rambut tertutup kupluk dari hoodie berwarna hitam. 


"Abang ke sana aja kah? Dia tau belum kau bawa mereka?" Ayah menoleh ke arah tante Nina yang berada di sampingku. 


Tak cuma anak perempuannya, anak laki-lakinya pun ikut masuk ke dalam rumah. Begitulah sopan-santun beretika, anak-anak tidak boleh nimbrung obrolan orang tua. Kecuali, memang dirinya yang tengah diajak berbicara atau tengah meminta pendapatnya. 


"Terus gimana? Kirain sakit demam atau gimana, tak taunya sakit ngidam." Ayah mengacak-acak rambutnya, menyesal sepertinya sudah salah perkiraan. 


"Ya gitu, Bang. Gimana?" Om Vendra menuangkan teh ke dalam gelas. 


"Sini aja, Pah. Tak apa." Suara perempuan dari dalam kamar berseru. 


"Bang Givan ini loh, Lin." Om Vendra menoleh dan menjawab dengan seruan. 


"Iya, di sini aja ngobrolnya. Aku tak apa-apa, cuma kliyengan aja. Aku siap kok."


Pelakor yang pemberani. 


"Ya udah tuh, Bang." Sendirinya malah duduk di lantai dan menyeruput teh. 


"Dih, ya kau ikut!" Ayah sudah berdiri. 


"Aku yang tak siap." Om Vendra terkekeh kecil. 


Sama rasa pasti rasanya. 

__ADS_1


Aku menolak untuk ikut masuk ke dalam, tapi ayah menarik kerah baju bagian belakangku seperti kucing. Malahan, Dehen dan Balawa yang dicegah ayah untuk masuk. Tante Nina pun, masuk dengan dirangkul oleh om Vendra. 


"Maaf semuanya, keadaannya lagi kurang fit." Perempuan yang rebahan di kasur itu menyambut dengan hangatnya senyuman. 


Ini sih bule. Rambutnya berwarna rose gold, tidak terang seperti Anneke tadi. Ia mirip Rose, dalam film Titanic. Benar-benar mirip, begitupun dengan binar matanya yang seperti kehijauan. 


Ayah duduk di kursi rias, aku dicandak ayah untuk duduk di dekatnya. Tentunya, aku duduk di lantai dengan memeluk lututku. Entah apa fungsinya aku di sini, tapi ayah pasti memiliki tujuan dari keinginannya agar aku ikut. 


Tante Nina duduk di tepian ranjang dekat istri siri om Vendra, begitupun dengan om Vendra yang masih merangkul tante Nina. Pasti sakit sekali menjadi dua perempuan ini, satu batang direbutkan dan menghamili sana sini. 


"Nama kau siapa?" Ayah terus memperhatikan Rose Titanic tersebut. 


"Caitlin Brechtje." Ia menyunggingkan senyum. 


"Kau bukan orang Indonesia?" Ayah dalam mode serius. 


"Bukan, aku penjajah Indonesia. Ha HA HA HA." 


Om Vendra reflek melepaskan rangkulannya pada tante Nina, kemudian ia mencubit tangan Rose Titanic tersebut. Suasana tegang seperti ini, malah jadi terkentut-kentut menahan tawa. 


"Bercanda terus kau! Teungku haji ini loh." Om Vendra tersedak-sedak menahan tawa. 


Ternyata, yang menarik dari perempuan ini adalah sifat humorisnya. Terlihat sejak dialog kecil dan candaannya dengan om Vendra, sepertinya perempuan ini yang berhasil merebut hati om Vendra. 


Karena aku pernah mendengar tentang orang yang humoris lebih menarik, ketimbang mereka yang cantik. 


"Belum haji aku, umroh aja." Ayah malah segera meluruskan hal itu. 


"Aku Irlandia-Belanda, dari benih udah di Sulawesi," jelas Rose Titanic tersebut. 


Hei, siapa nama panggilan tante bule ini? Masa aku menyebut nama panjangnya? 


"Kapan kalian menikah siri?" tanya ayah kemudian. 


Mode serius kembali. 


"Sembilan belas tahun yang lalu, masa aku baru tujuh belas tahun."


Tujuh belas tahun dinikahi suami orang? Ketar-ketir aku memikirkan adik-adikku. 


"Kau tau kalau dia punya istri masa itu? Anak keduanya, bahkan seusia pernikahan kalian." Ayah geleng-geleng kepala. 


Jahat sekali sih laki-laki, aku yang tidak jahat pasti kena klaim bahwa laki-laki itu sama saja. 


"Aku tak tau dia punya istri, baru masa aku punya….


...****************...

__ADS_1


__ADS_2