Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA30. Kedukaan


__ADS_3

"Iya udah, gitu aja. Kelamaan mikir, tapi pengen dinikahin." Canda yang menjawab hal itu.


"Tapi, Biyung. Hadi mampu tak?" Ceysa bertanya lirih, tapi sampai terdengar di telinga Canda.


"Ada Abu, Dek." Zuhdi yang menjawabnya.


"Tapi aku pengennya dari Hadi." Ceysa melirik ayahnya anaknya, yang masih duduk di lantai dengan memperhatikan anaknya dari jauh.


"Dari Hadi setelah nikah aja ya? Hadi masih sembilan belas tahun, belum bisa mikir untuk usaha apa." Zuhdi merasa otak anaknya dari kalangan biasa, yang sulit berkembang. Tidak seperti pemikiran keponakannya yang lain, atau mungkin juga karena anaknya tidak merasakan didikan bisnis seperti keponakannya.


"Ya udah deh, Bu." Ceysa mengangguk samar.


"Minggu depan ya, Dek? Ayah nanti urus surat-suratnya dulu, nikah di daerah ladang sawit ya? Adek kalau mau di sana sekarang, tak apa. Nanti kita berbenah, Biyung ikut Adek ke sana dulu. Biar kalau ada dekor atau apa datang untuk survey tempat kan, ada orang di sana. Nanti Ayah bolak-balik ke sana, siang di sini, malam di sana." Givan tidak bermaksud untuk menyembunyikan Dayyan. Namun, Ceysa sudah berpikir demikian.


"Aku pengen kumpul sama yang lain, Yah." Ceysa kembali tersinggung.


"Ya tak apa, kumpulan di sana aja sekalian berbenah tempat. Toh masih libur lebaran juga, itung-itung liburan kan?" Givan hanya mencari jalan tengah.


"Aku ada janji sama Izza, Yah. Aku janjikan dia liburan di pantai." Chandra teringat kekasihnya yang sedang menunggu jemputannya untuk berlibur ke pantai.


"Mau sekalian nikah kah? Ayah tak tenang kau liburan berdua sama Izza." Karena biasanya mereka berlibur bersama keluarga.


"Nanti aja, Yah. Satu persatu, biar tenang dulu." Chandra belum tenang, karena pernikahan Ceysa masih rencana.


Ia khawatir, Sekar mengganggu dan mengusik rencana tersebut.


"Secepatnya ya?" Givan sedikit takut, karena Chandra dilangkahi Ceysa dan akan dilangkahi oleh Zio juga.


"Iya, Yah." Chandra hanya mengiyakan saja agar cepat menurutnya.


"Ya udah, Yah. Terserah Ayah aja." Ceysa pun setuju untuk pindah tinggal.


"Oke, siang nanti kita berbenah." Givan tersenyum lebar pada anaknya.


Chandra membawa salah satu mobil orang tuanya, untuk menemui kekasihnya. Ia sengaja datang tidak memberi kabar, untuk melihat keadaan Izza yang belum berdandan sama sekali.

__ADS_1


Sayangnya, ia mendapatkan kejutan sendiri. Bendera kuning terikat di pagar rumah Izza, pikirannya memburuk karena rumah begitu ramai dengan orang berdatangan.


Ia langsung panik dan tergesa-gesa untuk turun dari mobil. Suara tangisan kekasihnya terdengar kencang, sedikit tenang karena ia tahu kekasihnya masih hidup. Sayangnya, duka tetap berasal dari rumah itu.


"Assalamualaikum…," ucapnya dengan melepaskan sepatunya dan mengamankannya agar tidak terinjak.


"Wa'alaikum salam." Beberapa orang yang mendengar, menjawab salam Izza.


"Dek…," panggil Chandra lirih, kala memasuki rumah Izza yang sudah terlihat kokoh berkat kerja kerasnya sendiri.


Izza menoleh ke arah pintu, ia mendapati kekasihnya mengunjunginya. Ia tidak tahu Chandra tahu dari siapa jika ia tengah berduka, karena sejak tadi ia belum menghubungi siapapun dengan ponselnya.


"Ma, Bang," adu Izza begitu pilu.


Chandra mendekat, ia langsung ditarik Izza untuk menjadi sandarannya. Ia langsung tidak enak hati, karena orang-orang mengetahui mereka belum menikah.


"Ma kenapa?" Chandra tahu ibu kekasihnya wafat, hanya saja ia tidak tahu penyebabnya.


"Jatuh di kamar mandi subuh tadi. Keknya darahnya lagi tinggi, Bang." Keterangan Izza cukup menerangkan segalanya.


"Sabar ya?" Chandra kini tahu, bahwa kekasihnya benar-benar sebatang kara.


Para warga mempersilahkan keluarga Chandra yang datang rombongan, rasa hormat mereka tunjukkan pada keluarga yang memberikan banyak perubahan di kampungnya tersebut. Ia tidak menyangka, jika mereka begitu dermawan memberikan lapangan pekerjaan untuk anak muda di daerah tersebut. Padahal, warga tersebut tidak satu kampung dengan juragan tersebut.


"Udah diurus belum pemakannya, Za?" Calon ayah mertuanya Izza, bertanya langsung setelah mengurus keperluan pencatatan di desa setempat.


"Udah, Yah." Izza tidak benar-benar sendiri, ada paman dan bibinya yang datang untuk membantunya mengurus pemakaman ibunya.


Givan teringat akan pesan ibunda Izza saat datang lebaran kemarin. Salah satunya, agar tak membuat harapan Izza selama ini sia-sia.


Kebingungan Chandra terjadi, kala Izza jatuh tak sadarkan diri kala tengah dilakukan pemakaman ibunya. Chandra langsung sigap mengangkat kekasihnya, kemudian membawanya ke mobil agar Izza aman dan tidak terbentur batu nisan kuburan orang lain.


Ia merasa kasihan dengan kekasihnya. Izza sudah lama ditinggal ayahnya, kini ia benar-benar menjadi yatim piatu karena ditinggalkan ibunya. Berulang kali ibunya Izza mengatakan ingin menyaksikan pernikahan mereka, sayangnya sampai saat ini belum terwujud juga.


Saat di rumah Ceysa yang berada di dekat ladang usahanya, sudah sibuk pemasangan tenda dan dekorasi pernikahan. Di rumah Izza, malah diadakan tahlilan rutin. Chandra selalu hadir, agar Izza tidak merasakan benar-benar sendirian.

__ADS_1


Kabar pernikahan adiknya Chandra, hanya membuat hati Izza kacau. Karena ia merasa keluarga Chandra seolah tidak memiliki rasa peduli padanya, malah menggelar pesta pernikahan di hari ketujuh sepeninggalan ibunya.


Fitnah tidak dapat dihindari. Warga-warga yang tahu tentang kabar pernikahan putri juragan tersebut, langsung menambahkan kabar buruk membakar hati. Ada beberapa mulut jahat yang tidak bertanggung jawab mengatakan, bahwa ibunda Izza meninggal dijadikan tumbal oleh calon besannya. Sialnya, kabar buruk tersebut semakin membakar hati Izza.


Ia sudah iri hati, karena dilangkahi oleh adik kekasihnya tanpa basa-basi. Lalu, disusul kabar burung yang semakin membuat pikirannya memburuk.


Alhasil, ia mengabaikan jemputan Chandra yang mengajaknya untuk datang ke pernikahan adiknya. Izza berubah mendadak.


Ia tidak tahu cerita di balik pernikahan tersebut, tapi ia sudah memiliki asumsi buruk sendiri. Ia menyangka, bahwa keluarga kekasihnya tidak memiliki iba sedikitpun dan malah bersenang-senang di atas kedukaannya.


"Ayo, Za." Chandra masih mencoba membujuk Izza.


Izza menggeleng. Perasaannya tengah kacau, wajahnya begitu lesu, hatinya begitu rapuh dan mentalnya tengah begitu down.


"Aku tak mau pergi." Izza memandang kosong daun pintunya yang terbuka lebar.


"Jangan berlarut-larut, Za. Udah tujuh hari, biar ma tenang." Chandra mengusap-usap punggung Izza yang kembali meneteskan air matanya.


Izza menggerakkan punggungnya, mencoba melepaskan tangan kekasihnya dari sana. Ia begitu sensitif dan berpikiran buruk.


"Tak." Izza menyeka air matanya yang kembali keluar.


Ia merasa tidak dihargai di keluarga kekasihnya. Kepedulian Chandra dan Givan yang datang di setiap tahlil itu sampai selesai, tidak mampu menerangkan bagaimana kepedulian mereka terhadap Izza.


"Sini peluk kah?" Chandra sedikit mengerti bahwa keadaan kekasihnya tidak stabil untuk saat ini.


Izza menggeleng, ia menghapus kembali air matanya dan memandang ke arah lain. "Aku udah capek, Bang." Buruk sekali pikirannya. Ia berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Chandra, yang tak kunjung memberikan kemuliaan untuknya itu.


"Capek gimana maksudnya?" Chandra khawatir kekasihnya berpikiran salah tentang nyawanya sendiri.


"Aku capek jalani hubungan ini." Izza langsung menelan ludahnya setelah mengatakan hal itu.


Dengan kemarahan, iri hati dan kesedihannya, Izza kalut dan lelah dengan penantian dan respon keluarga kekasihnya selama ini. Ia merasa, ia tidak diperjuangkan sama sekali di sini.


"Maksudnya?" Chandra menautkan alisnya memperhatikan Izza.

__ADS_1


"Kita udahan aja," putus Izza kemudian.


...****************...


__ADS_2