
"Ati-ati, Pa," ucap Nahda, saat kami mengantar papa Ghifar sampai ke taksi online yang sampai di depan rumah.
"Ya, Dek. Ikut dan bantuin suami kau terus." Papa Ghifar tersenyum manis, sebelum masuk ke dalam mobil tersebut.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan pagar rumah. Aku menggandeng Nahda, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Nahda menguap, ia duduk di kursi tamu saat aku tengah mengunci pintu rumah.
"Bang, rencana besok mau apa dulu?" Nahda bersedekap tangan, memperhatikanku dengan seksama.
"Belum tau, menurut Adek?" Aku menghampirinya.
"Kita sewa mobil, terus ikuti aktivitas orang yang Abang curigai itu. Kalau pakai mobil ayah itu, nanti dia tau kalau kita ikuti dia." Sepintas, Nahda terlihat seperti mama Aca jika dalam mode serius begini.
"Oke, ada rencana lain setelah itu?" Aku menggenggam tangannya.
"Keknya kita cek ulakan, Bang. Abang tau tak jadwal orang ayah yang bermasalah itu ambil ulakan? Nah, kita ke sana setelah dia ke sana atau ikuti dia ke sana. Kalau memang orang yang punya tempat ulakannya ada CCTV di tempat itu, kita lobi dia untuk minta CCTV-nya, jadi kita tak begitu repot harus ambil buktinya."
Dari strateginya, aku merasa Nahda mengetahui sesuatu dari ini semua. Ditambah juga, saat aku berdiskusi dengan papa Ghifar, ia tengah terlelap. Pasti di rumah, ia mengetahui rencana awal atau semacamnya.
"Adek tau sesuatu? Tentang permasalahan usaha ini? Atau rencana ayah?" Aku memainkan jemari tangannya.
Jemarinya panjang dan lentik, kukunya sedikit panjang dan terpelihara. Setiap haid, ia selalu menggunakan kutek kesukaannya.
"Tau, tapi baiknya ayah yang sampaikan. Aku bantuin Abang berjuang, biar tak terasa berat." Ia memeluk lenganku dan mencium lenganku.
Ia menghargai perjuanganku.
"Makasih ya?" Aku mengusap pipinya dan mencium dahinya.
Dinikahkan karena kesalahpahaman, bukan berarti aku tidak menikmati rumah tangga dengan seseorang yang patut disayang. Nahda lebih dari cukup untukku, ia pun selalu mendukung dan mencoba mengerti tentangku.
"Eh, Abang pengen tau harapan Adek dari Abang?" Aku tidak bisa memperlakukannya dengan spesial, karena memang aku tidak tahu apa yang bisa membuatnya senang.
"Jangan rewel makan, Bang. Aku capek masaknya." Sendu sekali nada bicaranya.
Aku jadi tertawa geli. Harapan yang begitu sederhana, tapi aku tidak mau makan yang begitu sederhana. Maksudnya, janganlah telur dadar. Orek tempe lebih baik daripada telur dadar, karena aku tidak selera jika telur dadarnya hanya pakai garam saja. Ya minimal dengan irisan daun bawang, tambahan mie, atau boleh dengan irisan sayuran lain.
__ADS_1
"Kata Abang sih, Dek. Makan enak atau tak enak itu, pengeluaran tetap sama deh. Orek tempe, sepuluh ribu keluar. Beli ayam, sepuluh ribu dapat seperempat." Aku membuka hijabnya dan merapikan rambutnya.
"Ya kan ngolahnya pakai tenaga, effort aku untuk masak tak dihitung apa?" Ia mendongak memandangku sesaat.
"Jatah bulanannya jangan lima juta kah? Kurang kah untuk skincare sama bajunya?" Ucapannya seperti itu, seolah terkesan seperti usahanya tidak setimpal dengan apa yang aku beri.
"Sisa, Bang. Sisa uang belanja yang sepuluh juta aja, kan aku tilep selama dua bulan lebih ini. Jatah bulanan aku yang lima juta, bahkan dua sampai tiga jutanya aku masukin untuk invest ke saham. Bisa tak sih, alat ukur segalanya itu bukan tentang uang? Dikiranya aku orang yang tak mampu aja!" Alis tebalnya menyatu, ia melirikku kembali.
Aku tersenyum lebar. Merangkulnya dan mengusap-usap punggungnya. Jika bukan tentang uang, lalu apa yang ia inginkan?
"Maaf, Sayang. Terus apa harapan Adek ke Abang? Sifat Abang yang mana, yang buat sesak Adek?" Aku terus mengusap-usap kepalanya penuh kasih.
"Ajak jajan adik-adik aku juga, jangan Cala sama Cali aja. Aku tak masalah Abang ajakin adik-adiknya jajan dan jalan-jalan tiap hari, tapi dekati dan ajak adik-adik aku juga. Jangan cuma disapa aja gitu, Bang. Abang harus adil, karena aku ngerasa iri." Ia mengusap-usap dadaku.
"Aku ngerasa tak enak hati sendiri, masa Hifzah sama Husna lihat Cala Cali turun dari mobil Abang yang parkir depan rumah mama. Dia kek mau nanya dari mana, tapi takut diledek Cala Cali 'ih tak diajak, kasian', gitu tuh." Ia melirik dan langsung menunduk kembali.
"Maaf ya? Nanti Abang perbaiki." Aku pernah mengajak, tapi Hifzah dan Husna menolak.
"Iya, harusnya begitu. Mereka itu kek asing ke Abang, padahal Abang sebelumnya pun kan memang udah kenal mereka."
"Terus apalagi, Dek?" Aku menggerai rambutnya.
"Kita cobain di ruang tamu lagi." Aku langsung memberinya rangsangan lain.
"Jadi, ronde kedua ini?" Nahda tersenyum lebar dan terlihat pasrah.
"Boleh." Aku terkekeh lepas.
Malam ini aku tertidur pulas, karena rasa plong dan nyaman dikeloni ini. Tidurku puas, sampai alarm berisik mengundang.
"Abang ambil mobil di rental terdekat ya?" Aku berniat akan datang kembali untuk menjemput Nahda, setelah selesai sarapan pagi ini.
Mie telur, mantap.
"Jangan gitu. Pesan taksi online aja, jangan ojek online. Nanti kita bareng ke tempat rental, dari tempat rental kita langsung ke tujuan kita. Biar Abang tak bolak-balik ngurus aku aja, aku tak merepotkan kok."
__ADS_1
Benar juga.
"Ya udah, oke." Aku membuka aplikasi taksi online.
Dapat, kami segera diantar ke tujuan. Yaitu, tempat penyewaan mobil terdekat. Aku mendapatkan informasi ini dari Google, karena memang aku tidak tau tentang letak jelasnya.
Aku memberikan pada Nahda tiga map keramat itu. Tujuan awal kami datang ke rumah bang Dana, karena jam segini biasanya pekerja masih di rumah. Tepatnya sekarang jam setengah tujuh pagi, aku yakin ia masih menikmati kopi.
Namun, nyatanya pertengkaran hebat yang kami dapatkan. Nahda sudah seperti kameramen, yang mengarahkan kamera ponsel mahalnya ke area teras rumah itu. Terlihat para tetangga berbisik dan ingin mendatangi, tapi aku yakin mereka takut mecampuri urusan rumah tangga mereka.
"Kasian, Dek. Tak tega Abang lihatnya." Aku memejamkan mataku.
Hatiku langsung kalau melihat seorang perempuan yang menggendong bayi, tersungkur karena didorong suaminya itu. Istri bang Dana yang menangis meraung, aku yang langsung sesenggukan.
"Dia pergi, dia pergi. Siap-siap Pak sopir, kita ikuti motor karbu itu jalan perlahan." Nahda menepuk-nepuk lenganku, menyadarkan aku dari kekacauan ini.
Gaya rambut ala preman, hati tidak ada tega-teganya melihat adegan begini.
"Boleh tak aku maki pelan aja, Bang? Gatal mulut aku ini." Nahda memegangi bibirnya sendiri.
"Maki apa?" Aku menginjak gas secara perlahan, mulai fokus memperhatikan lajunya motor tersebut ke jalanan.
"Tak good looking, tak good morning, tak good evening juga. Dasarnya memang ***ing!!!"
Ingin aku emosi, tapi malah terkekeh geli.
"Masa suamiku begitu, tak kuurusin makanannya. Aku masak kangkung, tak aku cuci kangkung untuk dia makan itu. Aku masak ayam, bulu ayamnya pun aku campurkan. Aku masak ampela, kotorannya pun aku bawakan juga."
Tutorial membuatku mual begitu mudah Nahda lakukan.
"Makiannya yang kasar aja, jangan jorok begitu." Aku meliriknya sinis.
Motor yang dikendarai bang Dana masuk ke kawasan perumahan subsidi.
"Bisa kok! Udah jelek! Miskin! Kikir! Tak tau diri! Licik! Banyak tingkah! Nanti aku suruh itu istrinya pulang ke orang tuanya aja, kasar betul caranya memperlakukan istri."
__ADS_1
Sih, kok kasar sekali?
...****************...