
"Ya pastikan aja dia basah tak, Bang." Ayah tersenyum kuda.
"Baru masuk juga dia basah, Yah." Aku kurang memahami arti basah sesungguhnya.
"Ya hangat-hangat mijat, licin-licin disertai suaranya dia juga. Biasanya agak heboh juga kan, kalau dia udah ngerasain geli. Pahami diri dia aja lah, Bang." Ayah memijat pelipisnya.
"Baru masuk pun udah begitu, kadang aku malu sendiri takut didengar keluar kamar." Aku malu jika sampai didengar mertua, apalagi sampai ditegur mertua.
"Satu dua sama mamanya, tanya aja papa Ghifar. Udah turunan berarti, udah gennya." Ayah mengedarkan pandanganya, memperhatikan sekeliling rumah.
"Ayah pun tau, ngapain tanya papa?" Aku menutup mulutku segera.
"Weeeee…. Ayah tau sepintas, belum tau dia bisa apa dan bagaimana. Ayah cuma buka segel, liarnya dia bukan sama Ayah. Kau nih, apa-apa Ayah lagi." Mimiknya sinis sekali.
"Mas…. Capek…," rengek biyung dari dalam rumah.
"Tinggalin, Canda!" seru ayah dengan menyandarkan punggungnya ke tiang beton.
Aku menikmati kembali minuman penyegar ini.
"Nanti numpuk, Mas. Mas tak mau turun tangan bantu aku, aku sih mau nangis aja." Memelas sekali biyungku.
"Aku bantuin, Biyung." Aku hendak berdiri.
Ayah memang berat tangan sejak dulu juga. Pekerjaan biyung, ya biyung sendiri yang menyelesaikan. Jika biyung tengah lelah atau malas mengerjakan, ayah tidak keberatan dan tidak mempermasalahkan pekerjaan biyung menumpuk.
Ternyata, biyung tengah membawa tumpukan baju yang sudah dilipat dan disetrika dari ruang laundry menuju ke kamar. Ayah tidak masalah pekerjaan lain dikerjakan asisten rumah tangga, kecuali barang-barang pribadinya dan kebersihan kamar pribadinya, itu harus biyung yang mengurus.
"Biyung lipet sendiri, nyetrika sendiri, bawa masuk sendiri juga. Ayah kau kek ayah kau, Bang." Keluhan biyung begitu terlihat tentang bagaimana lelahnya ia saat ini.
Biyung sudah tahu bagaimana ayah dari dulu, masih saja mengharapkan bantuan ayah. Ayah pun agak gila juga, menasehatiku agar membuat istri betah, tapi dirinya sendiri tidak mau membuat istrinya betah dengan membantu pekerjaan istrinya. Dalam hal memfasilitasi dan mensupport, ya ayah jagonya. Apalagi, dalam kebutuhan ranjang biyung.
Aku tidak bisa berkata-kata, biarkan biyung mengeluarkan kekesalannya pada ayah. Karena hal sederhana itu, bisa membuat biyung lega.
"Papa Ghifar tuh, ringan tangan. Jangankan cuma masukin baju ke lemari, jemur baju dan lain sebagainya pun mau." Biyung menarik nama besannya.
"Kan beda orang juga, Biyung." Aku tidak suka dengan hal sepele seperti ini, karena aku pun tidak suka jika dibandingkan seperti ini.
__ADS_1
"Ya maksudnya tuh…. Ayah kau kek tak kasian sama Biyung." Biyung menghempaskan alas duduknya di tempat tidur.
"Kan memang dari dulu ayah begitu, masih untung tak nyuruh Biyung. Biyung tindak ngerjain ini itu pun, kan atas inisiatif Biyung, bukan perintah dari Ayah." Ayah tidak pernah menyuruh, selain tentang makanan.
Misalnya, meminta tolong untuk memasakan sesuatu atau menyiapkan makanan untuknya.
"Ayah kau kasih wejangan, untuk barang pribadi dibabat sendiri. Kan itu perintah, Bang. Kalau Biyung tak inisiatif tuh, ayah kau bisa salin di tempat laundry karena kehabisan baju. Tak bisa gitu tangannya bawain baju yang udah disetrika rapi ke kamar, malah dianya yang handukan dan salin ke sana. Kalau bajunya belum disetrika, dia nyetrika sendiri baju yang mau dipakainya aja."
Ya bagaimana ya? Ayah kan orang penting juga, jika bajunya kusut ya turun harga dirinya. Jika aku tengah buru-buru pun, aku akan melicin pakaian yang akan aku kenakan. Duh, kadang bingung dengan bangsa perempuan.
"Ya kalau nyetrika semua kan, makan waktu. Ayah buru-buru, makanya nyetrika yang mau dipakainya aja," jelasku lembut.
"Kau sama aja kek ayah kau!" Biyung menggulingkan tubuhnya di tempat tidur, kemudian menarik selimut.
Salah lagi.
Pasti biyung menangis nih, ngambeknya biyung ya menangis memeluk guling. Tidak salah lagi, aku harus segera memanggilkan pawangnya.
Aku keluar kamar, agar tidak lebih disalahkan lagi oleh biyung. Kemudian menghampiri ayah yang tengah memetik kemangi di halaman rumah, sepertinya ayah tengah persiapan ingin makan siang.
Ada saja memang tingkah ayahku. Orang kaya, tapi makan sayur dari halaman rumah.
"Heem." Ayah hanya menoleh sekilas.
Ia melanjutkan kegiatannya, kemudian baru masuk setelah selesai. Aku mengambil kunci mobil, kemudian bergerak ke rumah pupuk, sebelum tiba waktu untuk menjemput adik-adikku. Toh, belum ada kabar dari Nahda tentang makan siang sudah siap.
Ada pakcik Gavin dan bungsunya, ada orang kepercayaanku juga dan si Jessie juga. Kenapa dia harus ada di teras rumah pupuk ini? Apa ia kira aku stay di sini?
"Udah unboxing amplop belum?" tanya pakcik Gavin dengan terkekeh geli.
Ada apa ya? Aku jadi curiga.
"Belum sempat, sore kemarin jalan-jalan sampai malam." Aku duduk di dekat bungsunya pakcik.
"Bril, makan apa?" Aku menunjuk buah di tangannya.
Gabriel namannya.
__ADS_1
"Bingbing, ambil itu." Ia menunjuk pohon di sebelah kanan rumah ini.
"Belimbing, Dek." Pakcik Gavin memperjelas.
"Heem." Gabriel mendongak memandang pohon tersebut, dengan memegangi lutut ayahnya.
"Anaknya berapa, Bang?" tanya Jessie pada pakcik Gavin.
Aku merasa ada hawa lain nih.
"Sembilan, ini yang bungsu." Pakcik Gavin mengusap kepala Gabriel.
"Yah, ayo? Ambil sana." Gabriel menunjuk pohon belimbing itu lagi.
"Ayo sama Pakcik." Orang kepercayaanku mengajak Gabriel.
"Ayah…." Gabriel merengek memegangi ayahnya, saat lengannya dipegang oleh orangku.
"Pakcik itu, tak apa. Kan di sini juga, Ayah lihat." Pakcik Gavin tersenyum pada anaknya.
"Boleh, Dek." Aku. Mencolek pipi anak ini.
Anak itu mau melepaskan ayahnya, ia mengambil galah kecil dan berusaha menggapai buah belimbing terdekat.
"Sehari habis berapa bungkus rokok?" tanya pakcik Gavin pada Jessie.
Aku berpindah tempat, di bangku panjang yang terdapat di depan pakcik Gavin. Aku ingin melihat interaksi mereka secara langsung, agar dapat memahami maksud Jessie mengajak ngobrol pakcik Gavin.
Karena perlu diketahui saja, pakcik Gavin itu ramah dengan semua orang. Tidak perempuan, tidak laki-laki, ia nampak sangar tapi suka menyapa orang yang dikenalnya. Ia punya attitude yang bagus dan keramahan yang patut dicontoh, wajah sangarnya membuatnya terlihat semakin berwibawa.
"Mungkin dua bungkus, lagi ngurangin ini juga." Jessie menatap rokoknya yang menyala di antara jarinya.
Untuk apa ia merokok di tempatku? Untuk apa ia menyembunyikan identitasnya yang merokok itu, tapi ia merokok di luar ruangan dan di depan laki-laki asing begini?
"Ngurangin dari bungkusnya ya?" Pakcik Gavin tertawa kecil.
Pakcik Gavin memandangku, kemudian ia menoleh mengamati anaknya yang tengah menggeprek banyak buah belimbing dengan galah kecil tersebut. Entah doyan atau tidak itu anak, tapi ia terlihat senang melakukan kegiatan tersebut.
__ADS_1
Jessie memperhatikan pakcik Gavin dengan dalam, kala pakcik Gavin tengah melihat anaknya. Kenapa ia menatap laki-laki sedemikian rupa?
...****************...