
"Kau s**s terus apa, Bang? Penampilan kau acak-acakan betul." Om Vendra menatapku dengan tersenyum kecut.
"Tak lah." Aku masih bersantai di sofa rumah dengan celana pendek milik ayah yang tertinggal lama.
"Mana pak Sutantonya?" Om Vendra menaruh tas ranselnya.
"Lagi rehat." Aku menunjuk sebuah pintu kamar yang terlihat dari sini.
"Assalamu'alaikum…." Di teras rumah ada yang berseru.
"Waalaikumsalam." Aku menurunkan kakiku.
"Tante kau ajak istirahat tuh, Bang." Om Vendra menghempaskan tubuhnya di sofa yang aku duduki tadi.
"Masuk, Tan. Nanda di kamar, abis sholat tadi sih." Aku mengajak tante Nina ke kamar yang kami tempati.
"Nikahnya tak ngundang tak apa ya, Bang?" Tante Nina menggandengku seperti biasa.
"Iya, Tan. Biasa, resepsi keluarga aja." Aku membuka pintu kamar kami.
Terlihat Nahda tengah berhias.
"Aduh, rambutnya basah terus." Tante Nina menurunkan slingbagnya, kemudian ia memeluk Nahda.
"Iya, Tan. Lagi kenceng-kencengnya nih." Nahda bercipika-cipiki dengan tante Nina.
Mulut istriku tidak bisa difilter.
"Betul nih, harus ikut terus sama suami. Tante lagi banyak belajar." Tante Nina dan Nahda duduk di tepian tempat tidur.
Aku berbalik badan, keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar. Biarkan mereka banyak bercerita, aku tidak mau mengganggu mereka.
"Bang, ambilin air minum dong." Om Vendra mengusap tenggorokannya.
"Ya, Om." Aku berbalik kembali ke arah dapur.
Mungkin, pak Sutanto merasa terganggu dengan suara bass om Vendra. Tak lama ia muncul dan menimbrungi obrolan kami. Ponsel Nahda yang berada di tanganku, menjadi alat bukti ini semua.
Aku rasa, istriku benar-benar seorang pemain. Di dalam rekaman video tersebut, Nahda membolak-balikan ucapan bang Dana hingga bang Dana mengeluarkan semua jejaknya melakukan kecurangan di tempat usaha ayah.
"Bodoh sekali ini laki-laki." Komentar pak Susanto, setelah mendengarkan ulang rekaman video tersebut.
__ADS_1
"Nahda doyan ngomong kali, inget nenek kau, Bang." Om Vendra bertopang dagu dan masih memperhatikan gambar di layar ponsel Nahda.
"Heem, nyerocos aja ya?" Nahda beda sekali ketika ada di depanku.
Ia tidak terlalu demikian. Atau mungkin, aku yang memang malas meladeni mulutnya.
"Kerjanya bagus. Ya udah, nanti Saya sama Om Abang yang urus." Pak Susanto tersenyum lebar dan membereskan berkas.
"Nahda pasti aman, jadi dia tak perlu datang untuk jadi saksi. Kalau dia ikut hadir, keamanannya pasti tak terjamin. Khawatirnya, Dana pakai orang karena merasa tertipu sama Nahda," tambah om Vendra kemudian.
"Jadi, aku udah selesai di sini kah?" tanyaku kemudian.
"Tunggu rampung aja, biar aman." jawab pak Susanto kemudian.
"Tapi selama Nahda dan Saya di sini aman kan? Maksudnya, tak ada pihak suruhan bang Dana yang ganggu atau nyelakain kami." Aku ketar-ketir takutnya mereka beramai-ramai datang.
"Nanti setelah ini dirangkum, Dana pasti langsung dijemput. Khawatirnya ada, tapi kalau dipikir secara biaya pasti dia kurang deh. Masalahnya, ini Nahda ajukan untuk bisa istrinya Dana gugat juga. Jadi tadi bilang tuh, bukti perselingkuhannya jangan dibuang. Kalau istrinya mau, suruh gugat Dana sekalian nanti kami yang urus," ungkap pak Susanto kemudian.
Waduh, berat juga.
"Ya udah gimana baiknya aja, Pak." Aku menghela napas.
"Oke, nanti minta beberapa tanda tangan ya, Bang? Biar dokumennya bisa sekalian dibawa pulang."
Nahda klop jahatnya dengan ayah. Padahal, baiknya tak usah diceraikan agar bang Dana tetap bertanggung jawab pada keluarganya. Tapi Nahda berpendapat, laki-laki ringan tangan seperti itu tidak bisa diajak hidup damai.
"Dibawa nih, Bang." Om Vendra kembali dari luar rumah dan memberikan beberapa dokumen.
"Pengen pulang, Abang." Nahda berseru dari belakang rumah.
"Iya, Dek. Nih Om Vendra baru datang." Aku asal menyahuti Nahda dulu.
Ia sudah uring-uringan di kamar, karena ia haid jadi kami terbatas untuk bermesraan. Kami belum sempat lagi ke dokter kandungan untuk mengecek rahim Nahda, tapi informasi yang aku dapat adalah dirinya ternyata pernah telat haid juga jika terlalu kelelahan. Jadwal haidnya pernah kacau selama beberapa bulan, saat awal merasakan mendaki gunung.
"Apa ini, Om?" Aku memperhatikan dokumen yang om Vendra taruh di atas meja.
"Coba tengok." Om Vendra melepaskan kemejanya.
Di antara saudara satu ayahnya ayah, cuma om Vendra yang memiliki tampilan wajah yang lumayan juga. Selebihnya, mereka semua seperti wajahnya kakek Hendra.
Aku mengambil dokumen tersebut, aku tertegun melihat nama yang tertulis atas kepemilikan rumah yang kami tinggali ini.
__ADS_1
Nahdatillah Raudhah.
Rumah ini pindah nama atas nama istriku. Aku mengambil dokumen yang kedua, nama yang tertulis tak kalah membuatku melongo bodoh.
Teuku Chandra Andiyana.
Rumah mebel di sini pindah nama atas nama diriku. Hei, yah. Aku tak melakukan apapun, di awal aku hanya mencari informasi tentang keadaan usahamu.
"Pulang ya pulang, Bang. Bentar lagi rampung urusan Om di sini." Om Vendra mengendorkan ikat pinggangnya.
"Serius, Om?" Aku masih belum mencerna semuanya.
"Iya, kau masih banyak urusan sama ayah kau." Om Vendra memijat pelipisnya.
"Nin…. Dek Nina…. Sini ke Abang," seru om Vendra kemudian.
Mereka makin romantis. Percaya atau tidak, akhirnya tante Nina menerima keadaan bahwa memang om Vendra memiliki istri lain. Karena kondisi tante Titanic itu yang tengah mengandung, membuat om Vendra mengulur perpisahan mereka.
Ya meski tante Nina membuat perjanjian, agar om Vendra selalu bersamanya. Dalam tanda kutip juga, om Vendra tidak boleh untuk tidur bersama istri lainnya.
Sekelas anak suku, dia mau tidak mau dimadu karena rasa cintanya pada suaminya. Entah mulut om Vendra yang manis, atau ego tante Nina yang begitu tinggi ingin memiliki suaminya seutuhnya. Tapi pengorbanannya hebat sudah berada di titik sejauh ini.
Bukan membandingkan, tapi biyung memilih meninggalkan ayah daripada membagi suaminya. Jika tante Nina bisa menerima hal itu, aku salut luar biasa pada dirinya.
"Apa, Bang?" Tante Nina muncul dengan setoples cemilan.
Ia tidak kalah terawatnya seperti biyung.
"Mandi air hangat dong." Lembut sekali tutur kata om Vendra ketika memerintahkan istrinya.
Tante Nina duduk di samping suaminya, kemudian mengusap dada suaminya. Nampak sekali rasa cintanya dalam usapan tersebut.
"Boleh, Bang. Mau buat teh manis kah kopi?" Tante Nina duduk tegak kemudian menaruh toples makanan di atas meja.
"Kopi aja, Chandra teh manis aja ya, Bang?" Om Vendra menoleh ke arahku.
Aku mengangguk samar. Aku pura-pura sibuk membaca dokumen tersebut, karena terang saja aku malu melihat mereka bermesraan.
"Abang…. Ayo pulang…. Bosen, Abang….," Nabdatillah merengek kembali.
Hmmmm….
__ADS_1
...****************...