Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA163. Mainan Bunga


__ADS_3

"Hallo, Cantik." Aku mengganggu Bunga yang berada di dapur. 


"Woy, tak bilang-bilang." Bunga menutupi dadanya sendiri. 


"Kenapa memang?" Aku menilik makanan yang ia masak. 


Hanya mie instan. 


"Aku tak pakai wadah PD." Bunga mendekati kompor dengan tangan yang masih menutupi dadanya. 


"Tak apa lagi, kan kecil." Aku tersenyum lebar pada Bunga. 


"Ah, Abang. Aku malu." Ia mendorongku, karena ia ingin mematikan kompor.


"Ya udah sana pakai, biar Abang yang nuangin ke mangkuk. Kau tak punya makanan kah? Sampai makan mie instan begini?" Aku mengambil alih gagang panci mie. 


"Aku pakai wadah PD dulu ya, Bang? Lagi pengen makan mie aja sih, kak Ria sore nganterin semur telur tapi aku makan tanpa nasi." Ia keluar dari area dapur. 


Memang bentuk PD bagaimana jika tanpa wadahnya? Apa menggelayut? Atau lancip? Apa ujungnya menonjol? Aku tidak tahu pasti sih, aku pun tidak melihat ke arah dada Bunga. Karena mataku isengnya ke p*****l Bunga, bukan ke dadanya. 


Mie instan dengan telur dan sayur sawi hijau. Enak juga nampaknya, tapi aku sudah makan. Aku tidak boleh rakus, nyicip sih tak apa mungkin. 


"Ada bang Kaf di depan ya, Bang?" Bunga sudah muncul kembali, dengan kerudung pashmina juga. 


"He'em, keluar yuk? Kita bertiga." Aku mengaduk mie tersebut. 


"Gang***g? Gila betul sih, Bang. Aku janda, tapi bukan salome juga kali." Bunga mengambil air putih. 


"Abang nyicip mienya ya, Dek?" Aku siap membuka mulut. 


"Iya, boleh. Abang ngeri betul sih, bertiga begitu." Bunga duduk di kursi dekat mie ini. 


"Udah nih, Dek. Tak, Dek. Lagian, kau punya satu kolam renang satu aja. mau digang***g gimana? Kaf katanya ikut main futsal, tapi sebelumnya ke rumah pacarnya dulu. Kasih cabai enak loh, Dek. Pulang futsal nanti ngemie ya? Abang jadi pengen kasih cabai." Aku doyan makan jika Chandra kecil sudah dikeluarkan. 


Mungkin ada laki-laki yang sama juga. 


"Satunya l****g telinga aku, pas ditarik otaknya kecabut." Tawanya renyah sekali. "Ya nanti aku buatkan mienya. Aku makan dulu, Bang. Suruh masuk aja bang Kafnya." Bunga tidak jijik makan dengan sendok bekas aku. 


"Iya. Rumah ada yang bocor tak kalau hujan besar, Dek?" Aku melihat langit-langit rumah. 


"Itu kan beton, tak ada. Adanya di ruangan atas lah, Bang." Bunga sampai berkeringat. 


"Abang mau cek dulu ya?" Aku mulai melangkah keluar dari dapur dan menuju tangga. 


Rumah ini terang benderang, jadi tidak ada kesan seram. Semua lampu menyala, termasuk dengan lampu hias di beberapa jendela samping. Tidak pernah ada cerita seram di rumah ini, hawanya positif terus selain karena memang terpelihara. 

__ADS_1


Apa itu? 


Aku salfok dengan benda di atas ranjang Bunga. Ping, apa itu? Bendanya seperti kecebong dengan ekor panjang. 


Karena kurangnya pengetahuan, aku menggunakan Google Lens untuk mengetahui benda itu. Bodohnya aku yang penasaran, kini malah shock. 


Itu adalah s**s toys, dia bisa bergetar dan menggunakan wireless. Adikku gatal? Dia memainkan benda seperti ini? Apa yang ia rasakan? 


Aku cepat-cepat keluar dari kamar, agar Bunga tidak tahu bahwa aku sempat masuk ke kamarnya. Aku melihat-lihat langit-langit ruangan, kemudian aku mengambil foto ketika menemukan ada rembesan di sana. 


Pasti Bunga pun habis rembes juga. Aku jadi ingin meledeknya, tapi aku yakin ia pasti malu. Ternyata kita para anak muda, tak laki-laki atau perempuan memang memendam b***** juga. 


"Bang, aku pakai parfum dulu ya?"


Aku berpapasan dengannya di tangga. 


"Ya, Dek. Pakai jaket tebal, bakal sampai malam." Aku berjalan menuju keluar. 


"Ya, Bang," sahutnya lamat-lamat. 


Dengan Bunga, aku benar-benar tidak ingin menjalin komitmen apapun. Dia adikku, aku bahkan sebisa mungkin menjaganya. Tapi kenapa ayah menjadikan Bunga pilihan, jika aku memaksa untuk tetap bersama Jessie. 


"Ayo, Kaf." Aku mengenakan jaket tebalku.


"Bunga tak apa dibawa pergi sampai malam?" Kaf berjalan ke arah motornya. 


Ia nampak gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak seperti biasanya. 


"Ada apa?" Aku membantunya naik ke atas jok motor. 


"Abang sempat cek kamar aku?" tanyanya, setelah ia sudah duduk manis di jok motorku. 


"Kenapa memang?" Pasti ia kepikiran karena lupa menyimpan 'alat mainnya'. 


"Jawab aja deh, Bang." Bunga berpegangan pada jaketku, ketika motorku mulai melaju mengikuti motor Kaf. 


"Abang udah tau, kenapa?" Aku mencoba santai dan tidak meledeknya. 


"Hah? Yang bener, Bang?" Wajahnya sampai ada di bahu kiriku. 


"Heem, kenapa? Biasa ajalah." Aku pun sadar diri bagaimana caranya aku meraih pelepasan. 


"Jangan bilang orang tua, aku malu. Abang pun jangan bilang siapa-siapa." Suaranya hampir menangis. 


Ketika aku melirik ke spion, aku mendapatinya mengucek matanya. 

__ADS_1


"Iya, Dek. Daripada kau sama laki-laki asal, Abang yang nanti kepikiran sendiri." Aku tidak mau ia mengulangi kebodohannya. 


"Bang, tapi ada laki-laki yang dekati aku. Seminggu belakangan sih, dia asli Bekasi." 


Aku meliriknya dari spion kembali. "Terus?" Aku mulai khawatir, karena ada orang kota lagi. 


"Hitam manis, kurus, kempot betul wajahnya. Padahal tuh, kalau dia gemuk sedikit tuh gagah. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh aja, Bang. Hari rabu kemarin aku ajakin dia gym, karena aku ilfeel sendiri lihat dia sekurus itu." 


Aku bisa membayangkan bentukan laki-laki itu. "Dia anak baru atau gimana? Kenal di mana?" Aku terus mengikuti motor Kaf. 


"Iya, dia ikut kakak dan kakak iparnya ke sini. Karena orang tuanya udah tua dan udah meninggal semua, Bang. Dia tak bilang ada rasa ke aku sih, tapi aku bisa baca ekspresi tertarik dia." 


Siapa yang tidak tertarik pada rupa Bunga?


"Bisa dibilang, dia jelek dong? Abang seratus tujuh puluh empat aja, cuma segini tingginya." Kadang aku merasa pendek. 


"Manis kalau keurus. Nanti deh kalau Abang ada jalan ke kota, aku ikut nebeng ke kampus dan aku tunjukin laki-laki itu." 


"Dia bukan orang punya kah?" Karena Bunga mengatakan jika keurus. 


"Orang punya, Bang. Dia ngampus tuh pakai Fortuner loh, Bang. Cuma keknya dia ini, kek…." Bunga seperti ragu-ragu mengatakannya. 


"Kek apa?" tanyaku kemudian. 


"Kek ngupil, mungkin." 


"Hah? NGUPIL?" Aku budek karena sudah di jalan raya. 


"Ngobat gitu loh, Bang. Ngepil, BUKAN ngupil!" 


Aku terbahak-bahak sambil berkendara. 


"Kenapa kau berpikir dia begitu? Mungkin aja dia sakit TBC atau paru-paru basah yang udah parah, makanya sampai kurus kempot." Aku mencoba berpikir positif. 


Bunga tertawa lepas. "Soalnya dia kek kena sinus, suka gosok hidung. Kantong matanya dalam, sama warna matanya tak cerah. Aku tak paham soal ciri-ciri pemakai soalnya, pergaulan aku kan s**s melulu kemarin."


Mengakui juga. 


"Boleh deh besok pagi Abang antar." Aku penasaran juga dengan laki-laki yang Bunga maksud. 


Kaf berbelok ke rumah berpagar putih bergaya Eropa, Dayana orang punya rupanya. 


"Ayo, Bang…." Kaf seperti takut. 


Aku lagi yang harus ditarik maju, hufttttt. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2