Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA239. Mobil datang


__ADS_3

"Abang, lagi yuk?" Nahda membelai pelipisku. 


Aku tidak biasa josss terus, aku belum terlatih mengatur b****. Setelah start, rasanya langsung memuncak. Aku tidak bisa mengendalikan diri, aku cepat selesai. Sedangkan karena cepatya aku selesai, Nahda merasa kurang. Ia kira batangku ada on-off kali, baru juga mengatur napas, aku diminta bekerja kembali. 


"Rehat dulu, Sayang." Mataku sudah payah dan nyaman. 


Ini bukan tentang aku lemah karena cepat keluar, aku yakin diriku hanya belum bisa mengendalikan diri. Mau bagaimana juga, aku ingin memberikan yang terbaik untuk istriku. 


"Jangan tidur tuh, Bang. Masih pagi, masih  jam sembilan." Nahda menepuk pipiku pelan. 


Ya ampun. 


"Bentar aja, Dek. Abang udah nyaman betul." Ini adalah reaksi alami seorang laki-laki. 


Laki-laki terlelap setelah selesai bermain di ranjang, karena ia melepaskan hormon dopamin, hormon oksitosin, dan hormon endorfin. Atau biasa disebut dengan hormon kebahagiaan. Kurang paham jelas, aku hanya pahami sekilas. 


"Eummm." Nahda mengeratkan pelukannya padaku. 


Saat aku terbangun, nyatanya ia ikut tidur juga. Ia masih mendengkur halus, ketika aku mengusap pipinya. Bahkan dirinya belum berpakaian kembali, ia masih tanpa busana. 


Aku tidak menjanjikan dirinya tidak hamil, karena aku selalu melepaskannya di dalam. Niatnya mau mengeluarkan di sarung, ketika hampir sampai. Namun, aku menemukan kalender menstruasi Nahda di ponselnya yang menunjukkan bahwa dirinya sudah melewati masa suburnya. Mungkin Nahda menggunakan kalender itu, untuk bisa menebak tanggal menstruasinya.


Jam setengah sebelas siang, pagi-pagi begini kami sudah molor. Aku melepaskan pelukan Nahda perlahan, kemudian bangkit dan menurunkan kakiku. 


Uhh, linunya dengkul ini. Sejak semalam sampai siang ini, aku sudah tumpah tiga kali. Sebelumnya, aku tidak pernah seperti ini. 


Aku langsung mandi, kemudian mengambil baju lainnya. Bahkan Nahda belum sempat mencuci, tapi pakaian kotor sudah bertambah lagi saja. 


"Kirain, Abang udah keluar kamar." Nahda bersandar di kepala ranjang dan bermain ponsel. 


"Belum, ini mau keluar kamar. Abang mau cek kerjaan ya, Dek? Sekalian langsung jemput Ra dan Cani, nanti pulang ke sini setelah jemput. Nanti tolong siapin makan siang ya? Kalau bisa ya masak sendiri, pakai belanjaan yang kita beli di supermarket. Nanti sorenya ke biyung, kita anter sembako untuk biyung." Aku mengambil baju stok terakhir ini, mungkin aku harus mengambil lebih banyak. 


"Katanya mau itu dulu." Ia manyun, dengan menurunkan kakinya ke lantai. 


Woah, bisanya berjalan menghampiri tanpa busana? Apa ia ingin lanjut lagi? 


"Nanti lecet, Dek. Kan Abang kasihan juga, kalau Adek kesakitan. Istirahat dulu ya?" Padahal aku ingin mencari tips, agar aku tidak cepat selesai. 


"Ya kan sakit enak." 


Jawaban macam apa itu? 

__ADS_1


"Kalau misalkan lecet, bisa harus libur seminggu loh. Adek masih baru soalnya." Aku teringat pengalamanku dengan Izza. 


"Hmm…." Ia berjalan ke kamar mandi. 


Ngambekan sekali gara-gara n******.


Aku sudah siap. Aku berjalan ke pintu kamar mandi, sembari memakai jam tanganku. 


"Dek, Abang berangkat dulu ya?" Aku harus izin, agar ia tidak mencariku. 


"Ya, Bang. Ati-ati, nanti aku WA kalau makan siang udah siap." Ngambek juga, ia masih mau berbicara dan menjawab. 


"Oke, Sayang." Aku berjalan keluar kamar. 


Apa ya obatnya agar kaki tidak terasa lemas begini? Aku tidak mengerti bagaimana ayah yang haus akan biyung dan orang tua lainnya, bagaimana cara mereka mengatur diri mereka. 


"Wah, kebetulan muncul. Tanda tangan di sini, Bang. Nih, mobilnya datang." Ayah melambaikan tangannya, ketika aku muncul dari pintu samping. 


Ada car carrier, mobil yang mengangkut mobil baru. Gerbang terbuka lebar, karena tengah proses menurunkan mobil. Aku menghampiri ayah, mengikuti perintah untuk membubuhkan tanda tanganku. 


Sepahamku, cukup sulit mengurus pembelian kendaraan cash. Tapi ayah punya kenalan, yang biasa mengurus hal seperti ini. 


"Loyo betul kau, Bang?" Ayah mengamatiku dan menepuk punggungku. 


"Foto dulu, Bang," seru Zio padaku. 


Aku mengangguk, kemudian menghampirinya. Ayah pun ikut berfoto, kami mengobrol santai sampai akhirnya pihak dealer pulang dengan car carrier kembali. 


"Bawa bengkel, Yo. Atur aja, yang sekiranya jadi enak dipakai. Mobil baru, kaya Ayah sih kurang nyaman." Ayah memberikan kartu ATMku ke Zio.


"Abang ikut tak? Apa nanti aku video call aja?" Zio menerimanya dan menyimpannya di dompetnya. 


Aku menggeleng. "Atur aja, Abang mau jemput Ra sama Cani. Udah ada WA masuk dari mereka, setengah satu katanya sampai sana." 


Ra meminta dijemput setengah satu, sedangkan Cani jam dua belas siang. Tak apa menunggu di depan kampus Ra beberapa menit, aku dan Cani pastinya tidak keberatan jika ada pedagang makanan. 


Kami sekeluarga doyan ngemil. 


"Oh, ya udah. Nanti aku kabarin aja kali ya?" Zio berjalan ke arah mobil baru. 


"Ya, ati-ati." Aku mencari tempat yang teduh di teras, kemudian duduk dan bersandar. 

__ADS_1


Aku seperti tak memiliki tenaga. 


"Bentar, Ayah mau buat es dulu." Ayah masuk ke dalam rumah. 


Aku seperti orang yang tengah melamun. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena badan terasa lelah. Kerja di lapangan, sepertinya kalah rasanya. 


"Kenapa, Bang?" Ayah menempelkan gelas berisi es di pipiku. 


"Kaget, Yah." Aku mengusap bekas embun es tersebut. 


"Nih, penyegar dingin. Ayah lagi pengen yang asem-asem." Gelas ayah berwarna oranye, sedangkan yang ayah bawakan untukku adalah minuman kaleng dingin. 


"Kenapa? Bukan tandingan? Perawan kan pasti satu dua kek pengalaman kau sama Izza dulu." Ayah menyeruput esnya enak sekali, membuatku jadi ingin membuka minuman kalengku. 


Aku membasahi tenggorokanku dengan minuman penyegar ini. "Perawan memang, tapi dia udah ketagihan. Lutut aku lemes betul, Yah. Pengen cek ke ladang juga, malas betul aku gerak. Kalau bukan karena jemput Ra sama Cani, aku pengen tidur aja." 


Ayah terkekeh kecil. "Jangan kerahkan seluruh tenaga kau, minta dia gantian. Jangan yang kek gemas, biasa aja santai gitu."


Benarkah? 


"Gantian kok, Nahda bisa gerak aku ajarkan." Dia bukan perempuan yang monoton atau maluan seperti Izza. 


Izza berani bergerak, ketika aku membawanya menginap di rumahnya saja. 


"Kalau memang udah, tinggal kaunya harus santai. Hawanya pengen cepet gerak, istri kau ngerengek minta cepat gerak, jangan dikasih. Cabut lagi, ganti gaya atau kasih sentuhan lagi. Memang kemarin kau selalu buru-buru terus? Tak pernah kah menikmati perlahan?"


"Kemarin kapan? Kan baru satu hari aku menikah." Aku memperhatikan Kaleel yang lepas dari kandang. 


Cucu laki-laki pertama itu langsung berlari ke arah ayah. 


"Ayah tuh paling males, kalau kau pura-pura polos." 


Kak Key langsung muncul dan menangkap Kaleel. 


"Bobo dulu!" Suara tegas kak Key keluar. 


Ayah tidak berpihak pada Kaleel, ayah membiarkan cucunya itu dimasukkan ke kandang kembali. Pasti ayah tahu, jika sekarang adalah jam tidur siang cucunya. 


"Anak Key ya kek Keynya, hiperaktif." Ayah geleng-geleng kepala. 


"Ayah! Aku nih tak mau dituduh lagi, aku baru cicipi Nahda ya kemarin malam pertama itu." Dengan sigap, ayah langsung menoleh cepat mendengarkan penyataanku. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2