Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA51. Surat perjanjian


__ADS_3

Entah muncul ide dari mana, tapi Ceysa berpikir untuk membuat perjanjian tertulis yang ditandatangani di atas materai. Surat yang menggunakan tulisan tangan tersebut, sudah ditempel materai. 


"Mohon ditandatangani." Chandra memberikan surat tersebut pada pihak mereka. 


Rohan menoleh pada istrinya, sedangkan Sekar memperhatikan ayahnya. Samia mengangguk, pertanda setuju dengan keputusan itu. 


"Dek Sekar, kalau dibawa ke hukum daerah aja kau kena sanksi karena buat fitnah," ucap Samia lirih pada anaknya. 


Sekar menarik nafasnya, lalu ia menganggukkan kepalanya samar. 


"Terus terang aja, Bu. Dari awal Saya udah kepengen betul bawa kasus ini ke pihak berwajib, tapi istri Saya selalu melarang. Dia bilang, kita udah tua, kita butuh ketenangan. Saya selalu ingat ucapan istri Saya itu, apalagi Saya pernah merasakan sendiri proses hukum entah daerah atau negara, itu sama-sama menguras waktu, emosi dan pikiran kita. Makanya, Saya mohon dengan sangat hargai keputusan Saya. Ini demi ketenangan kita bersama, demi keutuhan silaturahmi kita." Givan ingin mereka tahu bagaimana otaknya bermain, berharap setelah ini mereka segan padanya. 


"Makasih, Pak. Tolong sampaikan ucapan terima kasih Saya ke bu Canda," mohon Samia dengan menundukkan kepala. 


"Sekar, sekali lagi kami dengar hal-hal buruk dari pengakuan kau. Aku tak akan pernah konfirmasi apapun, aku bakal langsung proses," ancam Chandra kemudian. 


Sekar mengangguk. Ia benar-benar merasa kalah, apalagi ia tidak ada yang memihak. Setelah ini, ia berpikir untuk merantau jauh ikut dengan saudara jauhnya. Karena ia malu, untuk tetap berada di kampung ini dan sering berpapasan dengan mereka semua. 


Surat perjanjian tersebut sudah ditandatangani kedua belah pihak, keluarga Sekar sejak tadi hanya bisa tertunduk malu karena merasa amat bersalah. 


"Pak, minta tolong anaknya dijaga baik-baik." Hadi menyentuh lengan Rohan. 


Rohan melirik ke arah tangan Hadi. "Iya, Di." Ia mengangguk pelan. 

__ADS_1


"Ya udah, surat ini ada dua. Kami simpan satu, kalian pun simpan satu. Kalau keluarga kami buka mulut tentang keadaan Sekar, kalian bisa proses kami sesuai perjanjian tertulis. Sebaliknya, jika kalian mengusik kehidupan kami, ketenangan kami, bahkan menuduh dan memfitnah kami, kami yang akan langsung proses." Givan memberikan selembar kertas dengan materai yang menempel tersebut. 


"Iya, Pak." Rohan menerima surat tersebut. 


Akhir yang damai, mereka keluar dari rumah Rohan dengan sedikit canda tawa ringan. Para tetangga pun, urung menaruh curiga berlebihan. Bahkan mereka berpikir, keluarga Riyana datang untuk meminta maaf pada keluarga Sekar. Karena keluarga Riyana mengambil Hadi, yang sudah geger akan menikah dengan Sekar. 


Perencanaan bulan madu sudah terlintas di benak Chandra, hanya saja pikirannya berubah saat istrinya menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan rincian harga kompor gas beserta gambarnya. Ia baru ingat, ia menjanjikan istrinya untuk banyak berbelanja sore hari ini. 


Pikiran Ceysa bercabang, ia sedikit sungkan untuk mengemukakan karena ia khawatir menurunkan drajat suaminya. Namun, jika ia hanya diam saja. Tentu suaminya tidak bisa melakukan apapun, karena Hadi benar-benar belum siap untuk bekerja. 


Mereka berpencar, saat turun dari mobil. Hadi yang mencari keberadaan anaknya, Ceysa yang terlihat ragu untuk ikut dengan Chandra karena paham mereka masih pengantin baru. Sedangkan Givan sibuk membuka kap mobilnya, karena merasa ada gangguan pada kendaraannya. 


Akhirnya, Ceysa berlari kecil untuk ikut masuk ke rumah kakaknya. Chandra tentu kaget, ia berpikir Ceysa ikut masuk ke rumah orang tuanya. Rupanya tidak, Chandra memahami akan sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh Ceysa. 


Izza mulai bertanya-tanya, ia berpikir bahwa suaminya ingin menyembunyikan sesuatu dengannya. Ia berpikiran buruk, karena ia baru masuk ke keluarga ini. Ia belum tahu apapun, meski ia sudah lama akrab dengan keluarga ini. 


"Apa, Dek?" Chandra duduk di dekat pintu, dengan membuka kemejanya. 


Ia merasa begitu gerah, ditambah dengan keadaan kamar ini yang tidak memiliki pendinginan ruangan juga. Ia berpikir, untuk banyak merubah tentang bentuk rumah ini. Bahkan, ia memikirkan untuk Merenovasi rumah ini sebelum mengajak istrinya berbelanja peralatan rumah tangga. Kemudian ia berpikir, untuk ikut sementara dengan orang tuanya selama rumahnya tengah direnovasi. Apalagi, ia berencana untuk membangun lantai dua agar rumahnya memiliki lebih banyak ruangan. 


"Bang, uang hasil resepsi kemarin itu kan tak seberapa. Orang cuma ngundang keluarga aja, mana kebanyakan dari mereka kasihnya itu barang. Persediaan uang aku udah menipis, sedangkan kan sawit ini baru pindah tangan ke aku. Jadi, aku ini bener-bener belum punya penghasilan. Aku bingung, Hadi malah mau minta ke orang tuanya. Maksud aku, mending kan minta untuk modal atau gimana. Tapi, Hadi bilang minta untuk pegangan. Kalau buat pegangan, otomatis akhirnya habis juga. Kalau untuk modal, kan pasti berputar itu." Ceysa butuh saran, tapi ia khawatir dikasihani jika meminta pendapat dengan orang tuanya atau mertuanya. 


"Sama, Abang pun harus pulang ke Singapore untuk kerja biar dapat uang. Sedangkan, Abang pengen tetap di sini tuh." Chandra pun menyadari nilai tabungannya tinggal setengah dari nilai awal. 

__ADS_1


"Bantu aku usaha sih, Bang." Ceysa langsung memeluk erat lengan kakaknya. 


"Apa? Hadi suruh ada geraknya, Dek." Chandra mengusap-usap tangan kakaknya. 


"Apa, Bang? Aku bingung." Ceysa benar-benar merasa pusing karena ia langsung dihadapkan dengan ujian materi. 


"Jualan sarung deh, coba. Dia kuliah swasta Islami, orang kita pun pada suka pakai sarung. Coba aja dulu tuh, di samping harus minta ke orang tua. Abang pun pasti nyusahin ayah, tapi setidaknya kita harus bisa sedikit berusaha gitu." Chandra memahami kondisi mereka saat ini. 


"Hadi ada bilang apa sih?" Chandra khawatir Hadi memberatkan perekonomian mereka pada adiknya. 


"Minta maaf, sama bilang dia mau minta ke abu dulu. Gimana ya? Dia ini masih sembilan belas tahun, pikirannya tuh kek belum jauh kek aku. Kemarin datang ke nikahan Abang aja kan, dia minta tiga ratus ke ma soalnya diapers Dayyan habis. Jadi tuh, sedikit-sedikit ke orang tua lagi. Aku bilang, uang tuh masih ada, tapi aku atur karena biar sampai ke minggu depan. Dia tak mau begitu, Bang. Habis uang, pakai lagi. Gimana ya? Kek tak bisa prihatin." Ceysa merasakan suaminya kurang dewasa, bahkan menurutnya dirinya lebih dewasa darinya. 


"Susah, Dek. Dia ini belum punya pengalaman apa-apa, main pun dia sama siapa coba? Jadi, ya jelas dia kaget lah." Chandra merasa ia tidak bisa membuat pemikiran Hadi dewasa dengan obrolan saja. 


"Dek Ceysa, ayo ke ma," seru Hadi dari teras rumah Chandra. 


"Tuh kan, Bang? Minta duit dia pasti." Ceysa geleng-geleng kepala, dengan perlahan bangkit dari duduknya. 


"Nanti sini ya, Di? Kita ngopi-ngopi nih." Chandra muncul lebih dulu dari dalam rumah. 


Dayyan berada di gendongan Hadi, bayi tersebut memejamkan matanya karena silau. Padahal, Dayyan tengah tidak tertidur. 


"Ya, Bang." Hadi tersenyum ramah, ia mencoba menghormati kakak iparnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2