Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA268. Mengulik informasi dari toko sebelah


__ADS_3

"Nyari apa, Mas?" tanya mereka ramah. 


"Mau lihat-lihat yang tak ada." Logatku tidak bisa hilang. 


Mereka tertawa renyah. "Bisa disesuaikan sesuai keinginan, Mas."


Aku dipanggil 'mas' jadi merasa seperti ayah. 


"Saya pun mau milih bahannya, bisa?" Entah licikku ini muncul dari mana. 


"Boleh, boleh. Mari ikut Saya, Mas. Untuk bawaan nikah ya, Mas?"


Tidak semua orang tahu, bahwa aku sudah menikah dua kali. 


"Iya." Yang penting iya saja dulu. 


Tuh, beda bahannya dengan yang di sana. 


"Ini jati muda, ini jati tua." Pekerja yang tadi, masih melayaniku. 


"Boleh difoto tak, Pak?" Sulitnya menyamarkan logat. 


Aku takut dimahalin, kala logatku kentara. 


"Boleh, silahkan. Saya gak mau nipu-nipu, Mas. Ini jati tua, Saya bilang tua. Ini jati muda, Saya bilang muda. Komisi dari bos sama aja, yang berat nanti akhirat Saya." Ia tertawa ringan, saat aku tengah mengambil foto. 


Di rumah ayah tidak ada apa ya? Ranjang sepertinya butuh, karena di rumah ayah yang di sini langsung menggunakan springbed. 


Aku pun sudah memiliki foto bahan baku yang di rumah usaha ayah. Jelas sangat beda, dengan bahan yang di sini. 


"Sampai jadinya pun, tetap barang yang Saya pilih kan yang dibuat, Pak?" Aku menyakui ponselku lagi. 


"Iya pasti, Mas. Kalau gak percaya, bisa ditungguin kok, Mas." Logatnya pun tidak bisa hilang sepertiku. 


Kami tertawa bersama. Aku melihat-lihat kembali dan membaginya rokok milikku.


"Kenapa tak ambil di sana, Mas?" tanyanya kemudian, saat aku tengah memilah beberapa tumpukan kayu yang warnanya begitu pekat. 

__ADS_1


"Di mana?" Aku menoleh ke arahnya. 


"Itu, maksudnya di tempat sebelah." Ia tertawa kecil. 


"Ohh, kecewa Saya, Mas." Aku merasa ini waktu yang tepat untuk mengorek informasi. 


Tanpa pikir panjang, aku merogoh ponselku lagi dan segera mengaktifkan fitur perekam suara. 


"Kenapa, Mas? Jadi bener ya kata langganan mereka?" Ia nampak menarik untuk membahas hal ini. 


Manusiawi, ghibah tidak memandang jenis gender. 


"Bahannya beda dari yang salah pilih." Aku meliriknya. "Kalau di sini sama juga, mungkin Saya pun pindah lagi ke sebelahnya lagi." Aku mencampuri dengan candaan. 


"Ohh…." Ia tertawa kembali. "Saya udah tua, Mas. Saya mikirin anak cucu Saya, kalau Saya tak bisa langgeng bekerja. Soalnya para bos besar itu, kalau pecat pekerjanya gak ada istilah kasihan. Sebutannya bukan lagi buat kesalahan, tapi udah dicap pengkhianat segala." 


Memang usianya cukup sepuh, ubannya sudah banyak. Tapi tenaganya masih beringas, meski tubuhnya sudah sedikit membungkuk. Mungkin sekitar lima puluh lima tahunan, entah lebih atau kurang, tapi tenaganya sepertinya tidak diragukan. 


"Ohh, cucunya diurus Bapak ya?" Aku mencoba sedikit bersantai, agar tidak kentara jika aku tengah mengorek informasi. 


"Iya, Mas. Anak Saya udah meninggal, jadi mbahnya yang urus. Ibunya dia ke luar negeri, gak tau jadi apa di sana." Pekerja tersebut mengedikkan bahunya. 


"Semangat ya, Bapak?" Aku berpikir untuk memberikannya uang rokok nantinya. 


"Saya kasian, Mas. Kalau bukan mbahnya, siapa lagi?" Ia tersenyum kecut. 


Jika orang tuanya banyak hartanya seperti kakekku, mungkin tidak semenyedihkan ini mengurus cucu. Aku yang orang tuanya lengkap saja, ditarik terus oleh kakek dan nenek agar diurus mereka. 


"Betul, Pak. Sangu akhirat." Ganjarannya pasti bukan main. 


"Orang mana Mas ini? Jadinya mau yang mana? Ada banyak macam kayu, kalau kayu jati gak cocok." Pekerja tersebut berjalan ke sisi lain. 


"Orang Sumatera." Aku tersenyum dan mendekati tumpukan kayu jati tua kembali. Aku tak mau mengatakan bahwa aku orang Aceh, lalu ia berpikir bahwa aku kerabat dari bos sebelah. 


"Saya lihat-lihat di sebelah, kek agak lain kayu di sana." Maafkan aku, aku menjelekkan usahamu yah. 


"Ya Saya dengar juga begitu, Mas. Pernah ada pembeli cerita, katanya beli jati tua gak dipoles, sengaja katanya. Pas diteliti, katanya ini bukan pilihan dia. Sepertinya sih, ditukar dengan jati muda atau kayu lain. Ada juga yang cerita, bilangnya jati ternyata bukan. Ada juga yang bilang kayu di gudangnya gak sebagus di toko lain. Kalau bosnya itu gak pasarin ke luar daerah dan luar pulau, udah mati tuh usahanya. Tukang-tukang di sana pun kadang ngobrol sama kita-kita di warung kopi, mereka cuma kerja, jadi ya ngerjain yang ada." 

__ADS_1


Sip, dapat. 


"Dulunya tak begitu ya? Jadi, sejak kapan tuh kualitasnya buruk?" Aku sambil memilih, agar ia tidak dimarahin bosnya karena kita malah asyik mengobrol. 


"Dulunya paling bagus kualitasnya tuh, setelah ganti pemimpin toko jadinya pembeli langganan mereka pada ke sini dan mencar ke toko lain. Di sana itu inovatif, di toko lain belum ada, di sana udah ada. Modelnya paling modern, sayang sekarang bahan bakunya sepertinya kurang tuh. Tukangnya bukan dari sini aja, dari luar daerah ada. Jadi gak melulu buat yang khas motif sini aja, gaya lain pun bisa."


Ya iya, tukang kayu yang dari Aceh pun ada yang ditempatkan di sini. Di rolling pekerja ayah, jika memang dirinya mau. 


"Iya ayah Saya aja nyaranin di sana, tapi pas Saya jajal sendiri kok kurang." Sepertinya cukup mengulik tentang usaha ayah. 


"Memang dulunya paling mahal dan bagus itu, Mas. Sekarang mahalnya aja katanya, kualitasnya turun." Ia terkekeh kecil. 


Aku manggut-manggut. "Ya udah, Pak. Saya pesan ini aja, tolong dibuatkan ranjang yang ada lacinya. Bisa?" Aku menunjuk bahan baku kayu jati tua. 


Sebenarnya sih banyak bahan baku, tapi aku curiganya tentang kayu jati karena di sini best sellernya bahan kayu jati tua ini. 


"Bisa, Mas. Dikasih ukiran khas gak, Mas? Atau, butuh listr lain?" Pekerja tersebut mengambil sebuah pena dan secarik kertas. 


Gila, sketsa yang dibuat dari tangannya lumayan bagus juga. 


"Ukuran berapa, Mas? Mau dibuat berapa laci?" Ia terlihat semangat sekali. 


Aku menjelaskan bentukan yang aku inginkan, barulah kemudian aku deal harganya. Aku melakukan pembayaran di awal, agar tidak repot mengurus barang yang datang. Tidak lupa, aku memberi uang rokok pada bapak-bapak pekerja yang sudah membuka informasi itu. 


Aku menunggu bukti pembayaran dan kartu debitku kembali dengan duduk di area tengah toko ini, karena aku meminta struknya juga. Aku mengedarkan pandangan, melihat beberapa furniture yang telah jadi. Aku memperhatikan orang-orang yang tengah sibuk sendiri, karena suntuk sekali menunggu nota pembayaran itu jadi. Katanya sih, bosnya tengah menelpon, jadi harus menunggu ia selesai lebih dulu. 


Dari sini terlihat, jika pesananku tengah dibuat. Bapak yang tadi pun ikut mengerjakan, proyek tersebut dirompok banyak tukang kayu. 


"Mana Mas-Mas ganteng tadi?" Seorang wanita bermata sipit, berkulit putih gading dan berpakaian mini menoleh ke kiri dan kanan. 


Aku hanya diam, karena meskipun memang keturunan tampan pun, aku tidak sepercaya diri itu, bahwa yang ia maksudkan adalah aku. 


"Itu, itu…." Pekerja yang di outdoor, sampai masuk dan menunjukku. 


"Ohh, hai." Cici yang masih muda itu berjalan ke arahku. 


Kenapa ya, mesti saja ada perempuan yang mengunci pandangan mataku? Apakah mataku harus dikeranjangkan, agar tidak menjadi mata keranjang? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2