
"Ngopi yuk, Yah? Sana, di tenda." Chandra memiliki tujuan untuk mengobrol empat mata dengan alasan kopi tersebut.
"Buatlah, tunggu Ayah di sana." Givan mengangguk samar, dengan pandangan memperhatikan saudara-saudaranya yang tengah mengobrol sekitar usaha masing-masing.
"Jangan lama ya, Yah?" Chandra segera bangkit.
"Iya." Givan masih fokus menyimak obrolan saudaranya.
Chandra segera berkutat di dapur, kemudian membawa dua kopi tersebut dengan sebuah nampan kaca. Adik-adiknya yang tengah berfoto bersama di pelaminan tanpa pengantin, menjadi pemandangan Chandra yang duduk sembari menunggu ayahnya.
Adik-adiknya sudah beranjak gadis, ia pun berpikir dirinya akan menjadi orang tua pengganti untuk adiknya yang masih memeluk boneka tersebut. Calandra Sheeva Luna, adik perempuannya yang masih duduk di kelas tiga SD tersebut, Chandra sudah pusing memikirkan masa dewasanya tanpa orang tuanya. Namun, di balik kekhawatirannya. Ia tetap berdoa untuk keselamatan dan kesehatan kedua orang tuanya.
Belum lagi anak susuan ibunya, yang merupakan sepupunya sendiri. Calinda Chakra, anak seusia Cala yang lahir satu minggu setelah Cala. Disarankan untuk membaca cerita novel Retak Mimpi, agar memahami cerita tentang Cala dan Cali.
Chandra memikirkan Cali, karena anak perempuan tersebut cenderung dekat pada keluarga mereka, ketimbang dengan ayah kandungnya dan ibu sambungnya sendiri. Padahal, ibu sambungnya pun bukan orang lain untuk mereka.
Bagaimana nanti tentang Cala dan Cali, semakin menambah kerumitan pikiran Chandra. Ia ingin menghandle semuanya sendiri, tapi ia merasa bahwa dirinya pun harus bisa memiliki tujuan untuk hidupnya sendiri.
"Ngelamun aja." Chandra mendapat tepukan di bahunya dari ayahnya.
__ADS_1
Ia menoleh dan tersenyum pada ayahnya yang baru duduk di sampingnya. "Ini kopinya, Yah." Chandra mengambil segelas kopi yang ia taruh di kursi depannya tersebut.
Givan mengambil dan menyeruputnya sedikit. Lalu, ia memberikan lagi pada anaknya untuk ditaruh di tempatnya kembali.
"Mana Izza? Datang atau pamit, biasanya dia salam ke Ayah." Givan celingukan memperhatikan sekeliling. Dugaannya benar, dengan keluarganya saja acara hajat tersebut terasa amat ramai. Belum lagi di teras rumah, ada rombongan keluarga Zuhdi yang baru datang satu jam yang lalu.
"Dia tak mau ikut." Chandra menelan kegetirannya sendiri.
"Kenapa?" Givan menoleh dan memperhatikan wajah anaknya yang kembali murung.
Chandra menggosok wajahnya, kemudian ia kembali menatap pelaminan yang ramai dengan adik-adik perempuannya itu. Mereka seolah lupa, jika pengantin malah menjadi pengobeng yang menjaga meja daftar tamu.
"Dia iri." Chandra sulit mencerna kenapa kekasihnya bisa iri pada adiknya sendiri. Lalu bagaimana, jika mereka sudah berumah tangga dan adiknya lebih ia kasihi karena keadaan?
"Iri karena dia tak dinikahi segera, malah Ceysa langkahi dia. Dia tak tau kisah Ceysa, tapi dia iri karena keadaan runyam Ceysa," jelas Chandra dengan menunduk memperhatikan kedua telapak tangannya yang terasa kering.
"Bukan iri karena keadaan Ceysa, dia iri karena kebahagiaan Ceysa, kemuliaan Ceysa. Izza pengen cepat dihalalkan. Lagian, enak loh nikah itu. Kau bisa sama-sama terus sama dia, kau bisa tiap hari lihat dia. Pernikahan itu memang bukan jalan keluar untuk menggapai kebahagiaan, pernikahan itu fase kehidupan yang selanjutnya. Tapi, kan terasa indah jika dijalani bersama-sama dengan orang terkasih. Sejauh ini ia jadi pemegang rumah furniture, banyak pegawai kantor yang dia pegang ini dekati dia. Ayah diam, bukan berarti tak perhatikan. Cuma kan Ayah mau tau responnya, nyatanya kan Izza ini jutek ke yang lain. Sama kau aja loh dia mepet terus, dekat-dekat terus. Ya Ayah biarkan aja, toh Izza bisa jaga diri dan hatinya dari laki-laki lain. Lah kau yang jadi laki-lakinya, malah mundur-mundurin terus pernikahannya sampai ibunya meninggal duluan. Kasian loh jadi dia ini, Bang. Tiap Minggu dia datang, main, biar akrab sama keluarga besar kita, sama adik-adik kau, sama sepupu kau. Wajar, dia iri. Manusiawi, kau tak perlu marah. Toh, kau pun tak kunjung untuk kasih dia kebahagiaan. Harusnya kau marah pada diri kau sendiri, karena tak bisa menuhin keinginan Izza yang satu itu." Givan menjeda ucapannya sejenak. "Alasannya apa sih kalau Ayah boleh tau? Kau tak cinta sama dia? Kau bosan? Atau kau punya wanita idaman lain di sana?" lanjutnya dengan memperhatikan anaknya yang masih tertunduk.
"Ayah selalu bilang aku ada wanita idaman lain di sana." Chandra melirik sekilas ayahnya, kemudian ia tertunduk kembali.
__ADS_1
"Loh? Memang kan?" Givan menahan tawanya dalam menyudutkan anaknya.
"Tak, Ayah!" Chandra merengek menolak tuduhan ayahnya.
"Memang kegiatan kau apa di sana?" Givan senantiasa memperhatikan anaknya yang masih tertunduk saja itu.
"Pulang kuliah ya kerja, Yah. Pulang ke rumah, ya tidur. Ngabarin Izza sebentar, terus udah lelap." Chandra menceritakan sedikit aktivitasnya yang membosankan itu.
"Ohh…. Terus apa alasan kau?" Givan menoleh ke belakang untuk melihat pengantin yang tengah menikmati waktu bersama mereka itu.
Terlihat kebahagiaan Ceysa dan Hadi dari raut wajahnya. Interaksi keduanya sungguh mesra dan gembira.
"Aku kepikiran bagaimana nanti." Cukup ambigu jawaban dari Chandra.
Givan kembali dibuat menoleh ke arah Chandra. "Kepikiran apa nih maksudnya? Rumah tangga kalian setelah menikah?"
Chandra menggeleng. "Gimana adik-adik aku setelah aku nikah nanti. Ceysa udah nikah, belum berarti aku tenang. Belum nanti si Ra, Cani, adik yang lainnya." Chandra mengacak-ngacak tatanan rambutnya sendiri, ia terlihat begitu frustasi.
Givan menautkan alisnya, ia merasa bingung dengan pemikiran anaknya. "Otak kau gimana? Kau berpikir nunggu adik-adik kau dewasa dan pada nikah? Kau kira umur kau tak bertambah? Umur kau juga bertambah, Chandra! Kau keburu tua, kau keburu tak menawan lagi! Kalau kau nikah lebih lama, anak-anak kau masih pada kecil-kecil sedangkan kau udah tua. Kau tak berpikir, kek mana nanti anak-anak kau? Sedangkan, kau pun tak punya sulung yang sedikit dewasa untuk urus anak-anak yang kecil. Ayah pernah titipkan adik-adik kau, karena biar kita bisa bareng-bareng menjaganya. Bukan berarti, kau jadi pengganti Ayah nanti. Kau walinya, memang kau walinya. Tapi kau punya kehidupan sendiri, kau pun punya masa depan sendiri. Yang ngerti tentang konsep kehidupan ini, Chandra! Kehidupan ini bukan tentang tanggung kau aja, tapi tentang tujuan hidup kau juga. Kau jangan bodoh! Pikirkan diri kau juga, selain memikirkan adik-adik kau. Tak perlu ada yang kau utamakan, tapi harus seimbang. Seimbang antara diri sendiri, pasangan kau dan adik-adik kau. Setelah Ayah benar-benar lepasin usaha-usaha Ayah untuk kau, tanggung jawab kau pun bertambah. Di mana, kau juga harus pikirkan gimana tentang kemajuan usaha-usaha Ayah yang pindah tangan ke kau. Semuanya itu harus seimbang, kau tak bisa hanya berat memikirkan adik-adik kau aja. Asmara kau bisa hancur, masa depan kau hancur, usaha Ayah untuk kau ya hancur, kalau kau hanya condong untuk adik-adik kau aja. Permasalahan-permasalahan pun bisa lebih kompleks, kalau kau tak punya materi. Tak bisa adik kau lapar, terus kau cuma kasih pelukan nyaman. Setidaknya, kau harus punya uang sepuluh ribu, untuk penuhin satu perut adik kau di satu waktu aja. Sedangkan, adik kau berapa? Sepuluh ribu dikali berapa sehari, dikali jumlah adik-adik kau. Jual ginjal kau untuk kasih makan adik-adik kau, itu bakal lebih buat masalah lagi. Karena biaya rumah sakit saat kau hidup dengan satu ginjal, tak bisa digratiskan. Kau pun bakal terbatas untuk ngejar-ngejar adik kau ke sana ke mari, saat hidup kau tak seimbang dengan satu ginjal itu. Materi kau harus nyukupin, untuk segala sesuatu yang mau kau ulurkan. Berpikir cerdas coba, Bang. Jangan cuma pandai aja, hidup itu perlu cara cerdas." Givan menepuk-nepuk bahu anaknya berulang.
__ADS_1
Chandra mendengarkan seluruh nasehat ayahnya lewat telinga kanannya. Ia menoleh ke arah ayahnya, ketika ayahnya selesai berbicara.
...****************...