
"Aku tak akan ada cerita mohon-mohon untuk kau pertahankan. Tapi aku tanya sekali aja, Dek. Kau benarkah mau kita udahan? Kau yakin sia-siakan perjuangan kita selama ini? Kau yakin mau buang semua harapan kita dan harapan orang terdekat kita? Kau yakin mau nanggung malu karena pendapat orang tentang kita?" Chandra menarik dagu Izza, agar memandang matanya yang juga sama lelahnya dengan hubungan ini.
Izza menggeleng, air matanya tak tertahankan dan ia langsung memeluk tubuh Chandra. Ia sesenggukan di kemeja navy Chandra, yang begitu rapi untuk menghadiri acara pernikahan adiknya.
"Kalau kau tak siap ke sana di keramaian, karena kau tak pede mata kau sembab. Aku bisa jemput malam nanti, masa acara selesai. Nanti besok aku ajukan izin kerja kau, malam ini kita nginep di sana." Chandra menunduk untuk melihat wajah kekasihnya.
"Aku tak mau ke sana." Izza menggeleng berulang.
"Kau harus hormati Ceysa, Dek. Bagi sedikit kebahagiaan untuk dia. Kau tak tau kisah mereka, kau harus datang untuk hormati perjuangannya." Chandra menyatukan dahinya dan dahi kekasihnya yang bersandar di dahinya.
Izza mendongakkan kepalanya sedikit, matanya bertemu dengan mata kekasihnya. "Aku iri. Harusnya aku yang nikah sebelum ma tak ada, bukan ngeduluin kita."
Chandra langsung melepaskan pelukannya, ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Aku kira, di hati kau tak ada iri hati ke adik-adik kau, Dek. Baru satu adik, gimana dengan adik-adik aku yang lainnya?" Kilat tidak suka terlihat dari raut wajahnya.
"Aku manusia biasa, coba Abang pikirkan jadi aku. Aku capek ngalah dari pendapat Abang terus. Aku tetap tak mau datang, Abang jangan paksa aku." Izza bersedekap tangan dengan memandang lurus ke depan.
"Terserah kau." Chandra bangkit dan meninggalkan ruang tamu rumah Izza.
Ia tidak mau mendapat pertengkaran yang lebih hebat, jika harus bertahan lima menit lagi menunggu Izza berubah pikiran untuk ikut dengannya. Ia khawatir bukan Izza yang akan ikut dengannya, tapi ia khawatir hubungannya benar-benar berakhir karena nyala emosi yang baru saja dikobarkan.
Lelah-lelah ia mengusahakan sengaja menjemput Izza, padahal dirinya ada di tempat hajat. Semata-mata, agar Izza tidak merasakan sendirian dan berbaur dengan kebahagiaan yang ada. Sayangnya, maksud baiknya sia-sia saja.
"Loh? Udah ganti baju aja?" Chandra terheran-heran, karena suasana masih ramai, tapi Hadi sudah memakai kemeja biasa.
"Adek minta cosplay jadi tamu undangan." Hadi menunjuk istrinya yang mengenakan dress berwarna sama dengan keluarganya, warna yang sama seperti kemeja yang Chandra kenakan.
"Berapa jam lagi sih?" Chandra semakin bingung, karena ternyata isi pesta tersebut hanya anggota keluarganya saja.
Namanya juga keluarga besar, meski hanya keluarganya tapi begitu ramai. Chandra pun baru menyadari, ternyata semua orang mengenakan baju dengan warna yang sama. Yang artinya, mereka yang ada di situ hanya keluarga inti saja.
"Satu jam lagi. Tamu undangan kan rombongan semua, menurut abu sama ayah sih udah habis tamu undangan." Hadi kembali menikmati rokoknya di depan tenda pernikahannya.
Dekorasi berwarna navy, putih dan silver dengan kilau memberi kesan sederhana nan mewah. Dua anak muda tersebut menurut saja, apa yang kedua orang tua mereka berikan. Apalagi Hadi, karena ia sadar belum memiliki penghasilan.
"Itu keluarga dari abu kau?" Chandra menunjuk teras rumah.
__ADS_1
Hadi mengangguk. "Datang satu jam yang lalu." Ia memperhatikan kerumunan itu dari jauh.
"Ada mantan pacar tuh." Chandra sedikit khawatir dengan keadaan.
"He'em, ayah sampai turun tangan sendiri. Ditemani aku sama ayah, karena semalam aja tuh dia masih teror aku dengan kalimat menuduh." Hadi menoleh sekilas pada Chandra, kemudian ia memperhatikan istrinya yang berjalan ke arahnya.
"Kapan tuh?" Chandra seringnya tidak tahu, karena ia beberapa kali tidur di rumah orang tuanya setelah selesai tahlil dari tempat Izza.
"Semalam, Bang." Hadi menarik dress istrinya, yang akan melewatinya begitu saja.
"Ish, katanya nyusuin, Dek." Hadi menahan Ceysa yang akan keluar dari area tenda tersebut.
Chandra memicingkan matanya, ia sedikit heran mendengar panggilan tersebut. Karena tidak biasanya, Hadi memanggil Ceysa dengan sebutan tersebut.
"Ya udah selesai dong." Berakhir Ceysa duduk di sebelah Hadi.
"Dek, dek. Macam kek yang iya?" Chandra terkekeh kecil.
"Disuruh abu, lebih-lebih Ceysa tak boleh panggil aku nama. Aku boleh panggil aku dek atau namanya, tapi dia tak boleh," jelas Hadi dengan menghela napasnya.
"Ayah labrak Sekarnya gimana?" Chandra mengipas-ngipasi asap rokok di depan wajahnya, ia selalu direpotkan jika dekat-dekat dengan orang merokok.
Alasannya tak merokok adalah, karena ia dekat dengan perokok saja merasakan tidak nyaman sekali. Parfum mahalnya tertutup bau rokok, ditambah ia merasa tenggorokannya saja kering jika menghirup asap rokok. Apalagi, jika ia menjadi perokoknya.
"Tak tau, ngomongnya empat mata. Tapi tuh jadinya diam dia." Hadi menunjuk teras rumah tersebut.
Chandra manggut-manggut. "Abang ke dalam dulu." Chandra tidak bisa bertahan lebih lama lagi menikmati asap rokok Hadi.
"Mau ke mana, Adek?" tanya Hadi yang sempat didengar oleh Chandra.
Chandra mengabaikan interaksi keduanya, karena bagaimana pun merasa sudah menjadi mahramnya. Chandra tidak pantas, turut ikut campur dalam interaksi mereka.
"Bujang, waduh dilangkahi ya?" sapa adik dari keluarga Zuhdi.
"Iya." Chandra menjawab dengan tersenyum manis. Ia tidak ada rasa tersinggung sama sekali, karena nyatanya memang ia menginginkan sejak awal agar adik-adiknya menikah lebih dulu.
__ADS_1
"Sini, Bang." Ardi menepuk tempat di sebelahnya.
"Mau ke biyung dulu." Chandra menunjuk area dalam rumah.
"Oh, iya-iya." Ardi manggut-manggut.
Chandra menyadari, jika keluarga tersebut sejak tadi memperhatikannya. Ditambah lagi, ia merasa tidak nyaman karena Sekar terus memandangnya dengan intens.
"Biyung…." Chandra mencari keberadaan ibunya.
Ibu hajat tersebut tengah terlelap bersama besannya dan cucunya. Wajah penuh make up Canda, mengotori sarung bantal pengantin tersebut.
Chandra mengurungkan niatnya untuk berbicara pada ibunya, ia beralih mencari ayahnya untuk diajak mengobrol. "Yah…." Ia mengganggu ayahnya yang tengah bersenda gurau dengan saudara sekandungnya.
"Hmm?" Givan menoleh ke arah anaknya.
Chandra terus berjalan, hingga duduk di pangkuan ayahnya yang tengah bersantai di sofa ruang keluarga. Para ayah dari sepupunya, berkumpul bersama di ruang ini juga dengan beberapa gelas kopi.
"Ya ampun." Givan menatap kaget anaknya yang tiba-tiba duduk di pangkuannya.
Adik-adik Givan mulai mentertawakan tingkah kekanak-kanakan Chandra, padahal Chandra hanya mencoba menirukan adik-adiknya yang merengek pada ayahnya.
"Linu paha Ayah, apa kau ini?!" Givan mendorong anaknya untuk tidak duduk di sana.
Chandra terkekeh geli, kemudian duduk di samping ayahnya. "Capek, Yah." Chandra ingin sekali mengadukan semua keluh kesahnya.
"Kau besar, Chandra! Nyempil aja kau kek upil." Ghava berpindah tempat dengan menepuk pangkuan keponakannya itu. Ia tidak habis pikir, kenapa keponakannya malah duduk di space yang tidak ada sekali.
"Mau sama Ayah." Chandra bertingkah seperti anak-anak, dengan memeluk lengan ayahnya.
"Udah tak pantas jadi anaknya, kau udah tua betul, Chandra," celetuk Ghavi dengan tertawa geli.
"He'em, paling bener udah diusilin anaknya. Ini, masih ngusilin ayahnya aja. Ada apa kau?" Givan melirik anaknya yang menggosokan dahinya ke lengan kemejanya.
"Ayah…," rengek Chandra seperti balita.
__ADS_1
...****************...