
"Rumah tangga itu, kata ayah adalah fase kehidupan selanjutnya. Kau tak bisa jadikan rumah tangga adalah pelarian dari kesengsaraan kau, rumah tangga bukan jalan keluar untuk mencari kebahagiaan. Melainkan, kita siap untuk menghadapi segala ujian, suka dukanya kehidupan bersama orang yang kita sayang. Contohnya gini, misalkan kau dari keluarga yang kurang mampu. Kau beranggapan bahwa pernikahan adalah penyelamat ekonomi kau, yang ada kehidupan dan ekonomi kau makin sulit. Kau harus ingat, pernikahan itu bukan jalan keluar." Key menyatukan bekas cangkang kerang ke kantong kresek yang sudah ia siapkan.
Izza manggut-manggut, matanya semakin terbuka lebar dengan fakta kehidupan baru.
"Kalau aku berpikir bahwa suami tak sayang aku, itu gimana?" Izza bertanya dengan hati-hati.
"Hormati suami kau. Suami yang merasa dihargai jerih payahnya, akan memberikan kasih sayangnya karena penghormatan yang istrinya beri. Contohnya, suami datang itu bantu taruh barang bawaan. Kalau kebiasaan aku, suami masuk itu langsung kasih air hangat kalau malam, air putih suhu ruangan kalau siang. Terus bilang, handuk dan baju gantinya udah disiapkan. Udah tuh, biarin dia istirahat sejenak dan bersih-bersih dulu. Nanti dia pasti nyari kita tuh, sapa anak dengan senyuman. Pasti minta kita siapin makan dan siapin air minumnya, kadang aku tak harus diminta sih. Udah gitu, nemenin dia makan kalau kita udah makan. Kalau kita belum makan ya kita makan juga, makan bareng. Pas makan jangan tanya gimana kerjanya, jangan tanya ada masalah apa di kerjaan dan tak usah nanya dulu gimana di perjalanan. Udah, fokus makan dulu. Nanya masakan aku enak tak pun, aku tak pernah. Aku tak haus pujian, karena masih ada ayah yang selalu muji masakan aku setiap aku kirimin. Jadi kalau dipuji dia, ya alhamdulillah. Tak dipuji ya, itu urusan dia dan pahalanya. Jangankan pujian kecil darinya untuk aku, suami mandang istrinya penuh kasih aja itu udah terhitung pahala. Jadi pas makan, jangan tanya apapun sekalipun tentang masakan. Dia lagi lapar, jangan buat dia murka. Aku tau begini-begini tuh dari ayah, biyung cenderung ngajarin ke tentang rukun pernikahan secara agama aja. Biyung pun ikut andil juga, tapi peran ayah untuk kasih pemahaman sudut pandang seorang suami ke kita tuh jelas tuh. Jadi dari penjabaran ayah, kita bisa tau gimana perasaan suami kita dari hal yang ayah pernah alami." Key melanjutkan makan lagi, setelah selesai berbicara.
"Aku udah tak punya orang tua, Kak." Izza langsung murung. Ia merasa tidak dinasehati apapun oleh orang tuanya, jadi ia begitu awam menghadapi pernikahan ini.
__ADS_1
"Aku tak musuhi kau, Za. Aku pun tadi kasih tau kan? Kau tak punya orang tua, bukan berarti kau udah kehilangan peran orang tua. Biyung itu baik loh, Za. Manusiawi, ngedumelnya di belakang. Kalau kau tau mulut nenek, mertuanya biyung. Aku yakin, kau minta pulang ke orang tua. Ayah itu baik, tapi cara penyampaiannya kurang baik. Bang Fa'ad pernah diomong ayah, waktu ada acara keluarga dan aku tak dilibatkan. Bang Fa'ad sampai nangis, Za. Ya aku nasehati bang Fa'ad, maafin ayah, mulut ayah memang udah begitu dari dulu, lagi pun abang salah juga. Bang Fa'ad kasih alasan, dia tak libatkan aku, karena dia tak mau aku makan ati di sana. Tapi kan ayah tak tau kalau aku ini memang tak akur sama ipar, aku tak mau nama baik keluarga bang Fa'ad jelek di mata ayah. Jadi aku sama bang Fa'ad sepakat untuk tutup-tutupi. Itulah namanya suami istri, Za. Biar keluarga aku dan keluarga bang Fa'ad tetap nampak baik-baik aja. Kalau aku ngadu ke ayah, tentang bagaimana ipar aku di sana, otomatis ayah tak terima dan ayah. Khawatirnya, aku sama bang Fa'ad dipisahkan. Khawatirnya, ayah jadi tak menghormati keluarga besannya lagi. Itu hanya hal buruk yang kemungkinannya kecil, tapi karena hati aku dan bang Fa'ad benar-benar tak mau dipisahkan dengan masalah apapun, jadi punya ketakutan itu. Soalnya kalau masalah antar keluarga ini, yang jadi pertaruhannya itu pernikahan." Key menceritakan masalah rumah tangganya, bukan untuk mengumbar aib keluarganya. Tapi, ia ingin Izza mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga.
"Tapi pasti beda kalau orang tua sendiri itu, Kak." Izza mengerti perceraian suatu rumah tangga banyak penyebabnya sekarang.
"Biyung lebih dekat ngadu ke nenek, ketimbang ke ibu. Suka dukanya kek tak ada batasan, ngadu ke semua hal, bahkan hal ranjang. Karena kalau orang tua sendiri, itu sayang anaknya. Jadi pengennya anak kita diratukan dan diberi semua yang terbaik. Ya pihak mertua pun, pasti berpikir kalau anaknya itu tak salah. Sedangkan, nenek itu beda. Nenek itu tak cuma dengar aduan, tapi tanya juga ke anaknya. Terus beliau pahami dari sudut pandangnya sendiri, terus dimusyawarahkan. Kau cuma perlu ngadu ke biyung, kalau memang Chandra punya keburukan dalam bersikap. Nanti biyung ini pasti ngadu ke ayah, terus ayah pikirkan. Ayah itu anak nenek, pemikiran mereka mirip. Jadi tak mungkin ayah langsung berpikir anaknya benar dan menantunya salah. Nanti anaknya pasti dinasehati dulu, kalau anaknya ngelak dan kasih penjelasan, nanti ayah bisa tau kan kalau ada itu ada salah paham atau apa. Nanti barulah dua-duanya dinasehati. Aku dulu baru nikah tuh gitu, ayah juga langsung ngobrol ke bang Fa'ad. Bang Fa'ad jelasin, terus ayah panggil aku. Jadi, kita sama-sama tau nih." Key melongok ke ruang sebelah, untuk melihat keberadaan anaknya.
"Tapi tuh, Kak. Aku ini canggung, aku takut dibilang apa gitu karena dikit-dikit ngadu." Izza memperhatikan pergerakan Key. Ia khawatir tidak didengarkan oleh Key.
"Za…. Dek, Izza…. Kak Key…." Chandra memanggil-manggil istrinya dan kakaknya dari luar pintu.
__ADS_1
"Eh, iya. Key, Keyla." Fa'ad terbangun, ia langsung memanggil istrinya, sekaligus membenahi posisi anaknya yang sudah pulas dengan ponsel menyala.
"Ya, Bang." Key segera bangkit, ia langsung melihat Chandra yang berdiri di ambang pintu.
"Eh, Za. Itu Chandra nyariin." Key menunjuk keberadaan Chandra.
"Oh, iya." Izza langsung menarik satu tisu kering dan ia bangkit dari duduknya.
"Ya, Bang." Ia menghampiri suaminya, ia kira dirinya diminta pulang.
__ADS_1
"Aku mau antar beras dulu ya? Ini disuruh abu untuk antar sembako ke………
...****************...