
"Istirahat gih, Abang ke biyung dulu. Mau urus kerjaan, laporan harus udah selesai soalnya." Sebenarnya tidak butuh waktu lama, jika benar-benar fokus.
"Abang tidur di sana kah?"
Aku heran dengan istriku ini.
"Tidur di sini, nanti ke sini. Kan katanya abis Ashar mau cari rawon, kita jalan-jalan keluar beli barang juga katanya?" Jika sore, sepertinya gajian sudah turun ke rekeningku.
"Tuhhhh…." Nahda terlihat gelisah dengan memainkan jemari tangannya sendiri.
"Kenapa tuh? Minta tas belanja atau kantong plastik untuk bawa baju ini." Aku menepuk tumpukan baju Nahda, sepertinya lebih dari tiga setel.
"Takut digituin." Nahda bergerak mencari sesuatu.
Eh, ia malah memberikan tote bag. Mana nampak mahal dan feminim lagi, masa iya aku harus menentengnya?
"Kantong plastik aja lah." Aku malu membawa tas perempuan begini.
"Tak punya aku, Bang. Dikiranya kamar aku dapur, tersedia kantong plastik bekas beli sayur." Nahda memasukkan bajunya ke dalam tas tersebut. "Nanti pakaian Abang pun taruh di sini juga. Katanya mau ambil beberapa baju untuk salin di sini?" Nahda menarik resletingnya dan memberikan padaku.
Hm, ya sudahlah.
"Iya." Aku menyampirkan kemejaku di bahu, karena barangkali ayah mengajakku bekerja di luar.
Sayang bajunya, cuma dipakai untuk pulang pergi perjalanan saja. Nanti Nahda banyak mencuci baju lagi, ia belum siap sepertinya.
"Masuk ke kamar pakai kode ya, Bang? Kodenya 6464, barangkali aku tidur, Abang bisa masuk tanpa ketuk-ketuk." Nahda merebahkan tubuhnya di ranjang.
Aku menenteng tas ini. "Oke." Aku sempat melirik ke gundukan kembar itu.
Perawan ini, benar-benar nampak tinggi dan kencang.
"Mau ke mana?" sapa papa Ghifar yang berada di bawah tangga.
Bungsunya pakcik Gavin ada di sini.
"Ambil baju, sekalian urus laporan dulu." Aku melewati ayah mertuaku dengan sopan.
Agak kaget aku memiliki mertua, karena dengan Izza aku tidak memiliki mertua.
__ADS_1
Kompleks perumahan keluarga ini cukup sepi, sepertinya semua orang tengah beristirahat. Wajar, jam dua siang sekarang.
Namun, aku mendapat kesialan karena melihat hal yang merugikan untuk mataku. Aku yang menikah, orang tuaku yang bercu***.
"Ish!" Aku menutup kembali pintu rumah, setelah baru saja membukanya.
Tak ada otak orang tuaku ini, masa mengincar leher di ruang tamu. Ayah sudah seperti ikan sapu-sapu, ya meski sekilas mirip lintah juga. Memang selalu tak beres, jika sampai biyung membuka hijabnya itu. Pasti ada pelaku tak senonoh terhadap biyung.
Aku memilih mengetuk pintu, agar mereka sadar jika ada yang datang. Pasti mereka tengah asyik sampai lupa daratan, entah menyadari atau tidak jika aku sempat masuk tadi.
"Ya," sahut ayah kemudian.
Padahal, tidak ada yang memanggil.
Pintu terbuka, aku melihat ayah menyatukan alisnya. Kenapa dengannya? Aneh melihatku menenteng tas wanita?
"Baru akad, di rumah orang tua udah nampak kek tamu aja. Tinggal masuk aja tuh."
Berarti benar, ayah tidak menyadari bahwa aku sempat membuka pintu.
"Iya, Yah." Aku melangkah masuk, biyung sudah tidak berada di sofa yang tadi menjadi tempat mereka berc****.
Ayah menutup kembali pintu rumah. "Nanti lagi, Ayah capek."
Capek apanya? Bilang saja bahwa dirinya ingin lanjut untuk berc**** dengan biyung.
"Tanggung ya, Yah?" Sejalan dengan pertanyaanku, ayah menoleh dan menghentikan langkahnya.
Senyum malunya terukir. "Apa kau?" Ia terkekeh geli, menandakan memang dirinya benar dalam keadaan seperti itu.
"Apa?! Apa?! Apa?! Tadi aku lihat." Aku langsung ngegas jadinya.
Ayah menghampiriku, dirinya tertawa lepas dengan menjotos lenganku pelan. "Pengen refreshing juga, ganggu aja kau!" Ayah masih terkekeh geli.
Masa iya refreshing itu bergumul dengan istriistri?
"Refreshing itu jalan-jalan." Aku melirik sinis pada ayah.
"Malah pusing, bawa banyak anak. Enak di kamar, dapat enak, dapat plong, dapat tidur lelap. Eummm, baiknya Ayah ke biyung aja. Nanti aja ngobrol sama kaunya." Ayah malah siap-siap untuk kabur.
__ADS_1
"Tuh, aku tak langsung tancap. Eh malah Ayah yang nyolong start, masa Ayah dulu nanti yang mandi junub?"
Ayah tertawa lepas kembali, dengan menghantamkan bantal sofa padaku. Ia kena mental rupanya.
"Ngobrol apa lah? Biasanya pun laporan kau bisa selesaikan sendiri." Ayah urung kembali untuk pergi.
Terus saja begitu, sampai capek sendiri.
"Ayah tuh kenapa main kawinkan aku aja? Biasanya apa-apa itu nanya pendapat anak dulu, Ayah sekarang malah kolot." Aku sambil memeriksa email.
"Kenapa sih? Masih bahas itu aja? Jangan kufur nikmat!" Ayah membuang napasnya gusar.
"Bukan kufur nikmat, tapi kenapa jadi kolot?" Aku menurunkan nada bicaraku, agar ayah tidak semakin ngegas.
"Ayah tak enak sama papa kau, Bang. Pacarnya, Ayah renggut. Istrinya, dulu Ayah renggut juga. Terus Ayah harus egois, biarin kau terbebas dari tanjung jawab gitu? Keadaan papa kau sampai mendadak lemah begitu loh, Bang. Gimana kalau kesehatannya memburuk karena Ayah tak setuju sama dia? Terus nyawanya melayang karena hal itu. Biarpun dari dulu sering ribut, Ayah tak mau papa kau mendapat kemalangan. Ngerti tak sih tak enak hati itu gimana?!" Ayah sampai memperjelas kalimat akhirnya.
"Ayah kenapa tak tanya aku benar-benar melakukannya tak? Ayah percaya kalau aku berani maksa perempuan?" Aku menaruh ponselku di atas meja, kemudian aku duduk dengan menekuk satu kakiku dan menghadap pada ayah yang duduk di sampingku.
"Bukan maksa, suka sama suka kan? Cuma sialnya ketahuan aja. Wajar juga anaknya Aca haus begitu, dulu papa kau duda, sering juga mereka ngelakuin. Biyung kau mergokin sendiri, masa itu baru pulang belanja bulanan untuk keperluan Ra. Bener-bener baru selesai, baunya aja masih kuat betul. Dari cerita papa kau juga, memang istrinya begitu. Wajar juga Nahda haus, kau kenalin rasanya ya dia kecanduan."
Hah? Kok?
"Nahda perempuan baik-baik, Ayah." Aku yakin dia masih perawan.
"Iya tau, terus kau rusak." Ayah nampak marah padaku.
Benarkah aku merusaknya?
"Aku tak apa-apakan dia, Yah. Kalau memang aku tukang ngerusak, Bunga udah habis dari awal, mungkin pun hamil sekarang." Jelas-jelas Bunga yang aku bawa ke mana-mana.
"Kakek kau, dia tak mau respon perempuan yang bukan perawan. Yaaa, mungkin cucu mahalnya pun begitu." Ayah menaruh sebuah bantal di pinggangnya.
"Aku tak mandang perawan kah janda, memang kejadian di kamar Nahda cuma salah paham aja. Aku tau caranya main rapi kok, aku bisa sewa hotel kalau aku ingin macam-macam." Aku menegakkan daguku, karena merasa aku benar dan aku mampu untuk membayar kamar hotel.
"Ya awalnya kan begitu, di kamar Nahda kan karena kebelet aja. Kau dari Sulawesi, kau tak ketemu dia beberapa hari. Wajar minta jatah, karena udah rutin kan?"
Ayahku sialan memang!
...****************...
__ADS_1