Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA289-290. Kesibukan lapangan


__ADS_3

"Sekiranya ditanggapi, Pak. Soalnya sikap Nahda seperti itu." Dosen pengurus, menegurku tentang semuanya. 


"Mungkin dia ada cerita ke papanya, tapi memang ke Saya tak ada bilang apapun. Maaf sebelumnya, kalau memang dia sudah dapat surat panggilan beberapa kali tapi tidak diteruskan." Pusing mendadak aku dengan istriku ini. 


Coba bayangkan, tugas tidak pernah dikerjakan, catatan kosong, sampai dengan absensi yang buruk. Ujian kemarin pun, nilainya hancur sekali. Mana papa Ghifar lagi yang mengurus masalah ujian dipercepat itu. Aku berpikir papa Ghifar tahu sesuatu tentang anaknya, tapi ia tidak mau melanjutkan masalah ini. Buktinya saja, mama Aca menyuruhku untuk maju, bukan menyuruh suaminya saja. Pasti mama Aca memiliki kecurigaan masalah ini. 


"Tak apa, Pak. Dengan suaminya datang ke sini, Saya jadi bisa menceritakan keadaan yang sebenarnya. Apa Nahda terlalu kelelahan di rumah, sampai dia begitu tidak pedulinya dengan kewajiban mahasiswa di sini?"


Loh, kan? Aku jadi yang tidak enak jika begini. 


"Tidak juga, Pak." Masa iya aku harus menjawab kami kecanduan melakukan hubungan suami istri tiap hari, lalu libur ketika haid saja. Ya malu lah. 


"Jadi saran Saya, silahkan diobrolin dulu. Semuanya masih bisa diperbaiki dan dikejar kok, Pak. Saya yakin Nahda mampu, sebelumnya memang dia mahasiswa yang cerdas dan tanggap."


Apa karena dirinya merasa cerdas, membuatnya malas mengemban pendidikan lagi? 


"Atau mungkin, Nahda mendapatkan kendala dalam fakultasnya? Itu pun bisa dibicarakan, masih belum telat untuk semuanya." 


Aku pun tidak tahu apa masalah yang Nahda hadapi. Semoga saja, malam nanti aku bisa mengajaknya berbicara dari hati ke hati. 


"Nanti Saya tanyakan ke Nahdanya langsung, Pak." Aku tersenyum ramah, padahal pusing sekali ini otak. 


Kemudian, aku berbasa-basi sebentar dan pamit karena topik pembicaraan telah selesai. sebelum pulang, aku meladeni Ra yang ingin jajan ini dan itu. Tak apa, bukan masalah. Aku dan istriku pun doyan jajan. Aku sekalian membelikan jajanan untuk cemilan di rumah. 


"Bang, apa kakak ipar capek jadi ibu rumah tangga? Jadi dia ngantuk di kampus." Ra tiba-tiba menanyakan pertanyaan random menurutku. 


"Dia terlalu menikmati." Aku tidak pernah mendapati Nahda berkeluh kesah tentang ini itu. 


Bahkan, perihal uang belanja saja katanya sampai lebih. Padahal sebelumnya aku dan Izza selalu kurang. 


Ra manggut-manggut. Ia menikmati cemilan, dengan memperhatikan jalanan. Mulutnya anteng sekali ketika mengunyah, tidak berisik membahas ini dan itu. 


Adikku yang cantik, aku tidak tahu siapa jodoh kau. Tapi aku berharap, ia lebih baik dan lebih bertanggung jawab dariku. Aku sering memikirkan hal ini, ketika memperhatikannya yang tengah diam seperti ini. 


Sesampainya di rumah, Ra langsung masuk ke dalam rumah. Istriku yang malas kuliah itu, ia ada di teras membimbing tiga anak SMA itu melakukan dan merekam eksperimen mereka dengan menggunakan tisu dan pompa tersebut. 


Aku memberikan cemilan yang aku bawa. Aku duduk sebentar untuk mencicipi cemilan tersebut, kemudian aku izin pergi mengecek pekerjaanku satu persatu mulai dari tambak. 


Aku memiliki rencana untuk mengobrolkan tentang kampus dengan Nahda, saat kami sudah di ranjang malam nanti. Untuk sekarang, biarkan Nahda memantau adikku yang paling mirip biyung tersebut. 


Keinginan Nahda agar aku bisa berlaku adil pada adik-adiknya juga belum terealisasikan, karena memang aku belum memiliki waktu untuk itu. Tapi pasti akan aku lakukan hal itu perlahan, agar Nahda merasa bahwa aku tidak pilih kasih. 


"Iya mau dijual, Bang. Yang satunya katanya minta dua puluh juta, keadaan udah tinggal dilanjutkan." Orang kepercayaan ayah tengah menunjukkan beberapa tambak milik orang yang ingin dijual. 


"Gimana kalau Saya ngobrol sama ayah dulu?" Aku takut salah langkah, meski ini usaha milikku sendiri. 


"Tak usah ngobrol, cukup bilang selesai deal. Bukan waktunya untuk Abang untuk apa-apa izin, usaha Abang udah berjalan, tinggal distabilkan dan dikembangkan lebih maju. Kalau memang ragu dengan pengamatan sendiri, ayo Saya antar ke pemilik tambak yang mau dijual itu. Biar Abang bisa ngobrol langsung sama dia, apa kendala di tambak tersebut atau masalahnya. Tapi Saya udah ngobrol sama orang-orang yang kerjanya, katanya aman aja, alasanya memang karena kesehatan pemiliknya. Pemiliknya itu kena stroke ringan, merasa tak mampu lagi untuk ngurus, karena anak-anaknya itu pada kerja di Malaysia semua, tak ada yang cocok sama usaha ayahnya katanya. Jadi tambaknya ini mau dijual, terus ayahnya itu mau ditarik anaknya ke Malaysia."


Kok aku merasa janggal ya? Jika memang ayahnya tidak ada yang mengurus, kan ada pekerja yang mampu mengurus tambak tersebut. Ya contohnya seperti ayahku yang kerepotan mengurus usahanya, makanya menggunakan orang-orang kepercayaan semua. 


"Boleh nanti Saya ngobrol sama pemilik tambak tersebut, orang mana dia?" Aku menghembuskan kembali asap rokokku. 


"Orang sini, Bang. Tambaknya pun tak banyak cuma dua itu lah. Dia tak pakai orang, pakai buruh aja kalau memang masanya panen."

__ADS_1


Ohh, skala kecil. 


"Ya boleh Saya ngobrol, apa bisa diantar sekarang ke tempat pemiliknya itu? Ayo, biar cepat beres." Aku ingin gerak cepat, karena harus melihat lahan porang juga. 


Belum menyelesaikan laporan perusahaan di Singapore, mana waktunya gajian lagi. 


"Boleh, Bang. Mari, Bang." Orang kepercayaan ayah ini langsung mengajakku berjalan kaki ke arah perkampungan warga. 


Benar seperti apa yang diceritakan oleh orang ayah ini, pemilik tambak keadaannya sudah sangat sepuh. Ia hidup sendiri di sini, karena istrinya sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu. 


Saat orang ayah bercerita tadi, memang seperti ada yang cacat dalam penyampaiannya. Tapi saat pak tua ini menceritakan bagaimana kondisinya dan kesibukan anaknya di Malaysia, aku baru yakin dan percaya bahwa cerita ini benar. 


Sepakat. 


Aku langsung melempar kepengurusan ini pada orang ayah tersebut. Karena terang saja, rasa kasihanku muncul pada pak tua tersebut. Aku teringat kakekku yang pernah cedera tulang rusuk, lalu dirinya dirawat oleh mama Kin sampai keadaannya pulih. 


Berbeda dengan kakek Adi yang jalannya masa itu sedikit bungkuk, karena adanya cedera. Pak tua ini berjalan bungkuk, karena memang dirinya sudah sepuh sekali. Aku jadi membayangkan bagaimana kesehariannya mengurus tua tambak tersebut, untung tidak nyemplung ke danaunya. 


"Berapa hari jadi?" tanyaku pada orang kepercayaan ayah ini. 


"Seminggu paling lama, Bang. Dokumen nanti Saya antar, tapi tolonglah Abang sempatkan cek meski seminggu sekali. Bukan apa-apa, Bang. Saya takut Saya berbuat kekeliruan, kemudian Abang telat menegur Saya."


Maklum, masih baru. Aku terlampau fokus pada usaha baru, sehingga usaha yang lama terlupakan. 


"Oke, nanti Saya evaluasi pekerjaan kau." Aku menepuk pundak laki-laki seusiaku ini. 


Entah apa yang membuat laki-laki ini rela kontrak mati dengan ayah. Pasti gerak langkahnya terbatas sekali, karena fokus pada pekerjaan melulu. 


Benar juga apa yang ia katakan. Seperti aku yang tidak tahu jika salahku cara, jika Nahda tidak mengatakan dengan jelas bagaimana penilaiannya tentangku dan adik-adik kami. 


"Saya tinggal dulu ya? Keuangan kan kau yang atur, nanti tinggal buat laporannya aja." Aku bersiap meninggalkan area tambak. 


"Siap, Bang. Saya pasti jujur buat laporannya, kalau memang bisa ditawar nanti Saya sampaikan langsung ke Abang, nanti Saya ke rumah." Ia mengikuti langkahku. 


"Ohh, kalau itu masalah kau, notaris dan pengadilan nanti." Aku memamerkan gigiku. 


"Saya tau konsekuensinya, Bang. Saya yakin tanggung jawab sebesar ini, kalau Saya jujur pasti bawa Saya dalam keberkahan dan keamanan."


Yang sudah tahu sistem kerja pada ayah, ya mereka yang jujur akan betah. THR dari ayah bukan tentang tunjangan satu bulan gaji lagi, tapi sembako dan shodaqoh ayah dan biyung yang ditebar ke pekerjanya, berupa uang ataupun pakaian jadi. 


Dulunya memang tidak seperti ini, tapi karena kebanyakan uang jadinya seperti itu. Pesantren yang tidak minta donatur saja, ayah kasih cuma-cuma dengan catatan tanpa disebutkan namanya saat pidato setiap acara dalam pesantren. 


Pengaruh biyung juga intinya. Karena kami masing-masing dari anaknya pun, shodaqoh Subuh sudah terasa seperti kebiasaan. Diajarkan dari mulai uang pecahan lima ratus rupiah, sampai di titik nilai setengahnya isi dompet pun pernah. 


Jadi shodaqoh Subuh itu, saat waktu subuh kita menyisihkan uang di toples khusus untuk shodaqoh tersebut. Lalu uang yang di toples tersebut diberikan pada orang yang membutuhkan atau lembaga amal, jika nilainya sudah dirasa banyak. Jadi tidak harus masa Subuh kita pergi keluar rumah dan mencari kotak amal, atau menanyakan apa tetangga kelaparan di waktu itu. 


"Sip, manusia yang dipegang itu ucapan ya selain tanda tangan di atas materai." Aku terkekeh kecil. 


Aku tidak bermaksud menakut-nakutinya, hanya saja memang jaman sekarang ya begitu. Bahkan Hema dan Bunga saja nih, mereka melakukan perjanjian pranikah. Komitmen dengan ikatan suci saja jaman sekarang tak cukup, harus disertai tanda tangan di atas materai. Saat aku menikah pun, aku menandatangani perjanjian pernikahan yang jumlah materainya tidak hanya satu. 


Meskipun mengurus perceraian lebih rumit dari pernikahan, tapi banyak juga yang menikah setahun dua kali. Aku jadi membayangkan, bagaimana repotnya mereka yang melakukan perjanjian banyak sepertiku, kemudian harus bercerai. Pasti bolak-baliknya tidak hanya satu kali, pasti repot dan biayanya bisa jadi berpuluh kali. 


"Betul, Bang. Kemarin nikah pun, ada begitu-begitunya juga. Denda sih tak seberapa ya memang, Bang. Tapi nampaknya harga dari kami laki-laki ini tercoreng betul kalau buat kesalahan dalam komitmen besar." Ia melangkah beriringan denganku. 

__ADS_1


Ohh, ia pengantin baru. 


"Saya tak tau loh, kalau kau nikah." Aku menoleh sekilas padanya, kemudian menyebrang mendahului di jembatan kayu ini. 


"Pas Abang di Jepara itu, Bang. Saya dikasih bebas tugas lima hari, terus pekerjaan yang pegang pakcik Ghavi." Ia menggunakan jembatan kayu tersebut setelah aku. 


"Iya kah? Tak dengar kabarnya. Selamat menempuh hidup baru dan maaf ya tak datang di hari bahagia kalian." Aku seperti manusia yang tidak berperikemanusiaan terhadap karyawannya sendiri. 


"Makasih, Bang. Tak apa, Bang. Biyung udah datang sama keluarga besar yang lain. Saya senang betul mereka semua mau datang di acara sederhana Saya." Senyumnya mekar terjaga. 


Aku sudah sampai di depan mobilku yang terparkir. 


"Yakin sederhana? Delapan belas juta sebulan kan?" Aku membuka mataku lebar dan menahan tawa. 


Ia tertawa malu, tertunduk dan menggelengkan kepalanya samar. "Jauh sederhana, ketimbang acara keluarga Abang." Ia mencoba merendah rupanya. 


"Acara keluarga yang mana? Kau bahkan tak pernah diundang di dua kali nikahan Saya kan?" Di acara pesta syukuran kami, tidak pernah mengundang orang luar meskipun karyawan ayah yang tanda tangan di atas materai itu. 


Ia tertawa renyah. "Abang bisa aja, acara Saya kemarin pun cuma syukuran keluarga sederhana aja, Bang. Soalnya Saya ada nyicil rumah ke ayah, Bang. Jadi gaji Saya dipotong untuk rumah itu."


Ohh, ayah mau serepot itu mengurus hal-hal pribadi pekerjanya. 


"Perumahan biasa kan? Tak sampai lima juta kan cicilannya?" Bayanganku adalah rumah di perumahan subsidi. 


"Bukan, Bang. Rumah bangun sendiri, pakai jasa pakcik Zuhdi. Diborongin gitu, ongkos sama biaya segalanya ayah yang cover, Saya tau nyicil sekian tahun aja. Kalau tanah sih, tanah Saya hasil kerja di Jepang, masa Saya lulus SMK, Bang."


Ohh, pantas ia terpilih oleh ayah. Kalian tahu tidak, pengalaman kerja itu penentu perjanjian kerja seumur hidup itu? Ayah tidak akan memandang pendidikan, tapi pengalaman dan wawasan dia dalam bidang usaha tertentu. 


"Oh, baguslah. Semangat ya? Bangga tuh bisa beli tanah sendiri dan bangun rumah sendiri." Karena biaya pembuatan rumah itu berkali-kali lipat mahalnya dari biaya tanahnya. 


"Siap, Bang. Saya masih bukan apa-apa, Bang. Ada cicilan mobil, ditambah istri minta ambil motor jok mekar kemarin. Jadi banyak kreditan."


Di akhir perbincangan kami, kami banyak tertawa dengan lelucon kecil begini. Raja Fir'aun saja kalah dengan bujuk rayu istrinya, apalagi kami para laki-laki biasa. Bujuk rayu Asiyah untuk mengasuh Nabi Musa AS, dikabulkan Fir'aun karena dirinya begitu menyayangi istrinya. Padahal di zaman tersebut, ada peraturan yang ia buat sendiri, untuk membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan. Apalagi hanya untuk kredit motor jok mekar, ya sudah pasti kami para tulang punggung rela mengambil cicilan. 


Masih pukul tiga sore. Aku bergegas ke ladang porang, sebelum singgah kembali ke rumah produksi jahe. Aku ingin menyelesaikan cek lapangan hari ini, kira-kira sampai pukul tujuh. Agar malamnya aku mampu mengecek laporan perusahaan di Singapore, lalu malamnya bisa mengobrol dengan Nahda. 


Aku hanya berencana, semoga Yang Kuasa melancarkan aktivitasku hari ini. 


Pukul setengah sepuluh malam, Nahda tengah menggosok area betisku dengan cream perontok bulu. Katanya ingin percobaan, sebelum nanti ia menggunakannya untuk di ketiaknya. Bulu-bulunya cepat tumbuh, dua minggu saja sudah rimbun. Maka dari itu, ia banyak mencoba cream perontok seperti ini, karena ia mengatakan malu untuk mengurus bulu-bulunya di salon. 


"Dek, Abang tadi ke kampus Adek." Aku menutup laptopku, setelah menyelesaikan pekerjaanku. 


Matanya langsung mencilak. 


"Jadi, Abang beneran ke sana?" Wajahnya hanya berekspresi kaget, bukan takut atau panik. 


"Iya, sama Ra setelah jemput Ra tadi siang." Aku memperhatikan wajahnya. 


"Ini tak apa betisnya jadi botak licin kan?" Nahda seperti mengalihkan perhatianku. 


Apa benar ia tidak suka dengan dunia pendidikan itu? Atau, ada yang mengolok-oloknya di kampus? Atau mungkin, ia minder karena dirinya menikah begitu muda? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2