Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA33. Ingin dimengerti


__ADS_3

"Tapi, Yah. Aku khawatir Izza banyak nahan aku untuk urus adik-adik aku. Aku takut kalau aku punya istri, dia nguasain aku dan uangku." Chandra menunjuk dirinya sendiri.


"Kau tak akan tau dia gimana, kalau kau tak nikahin dia. Toh, Ayah rasa dia tak akan kek gitu. Dia dari awal udah tau, kalau kau banyak adik-adiknya. Ayah pun pernah bilang ke dia untuk sering datang, biar adik-adik kau itu kenal sama dia. Dia iyakan, dia nurut juga. Yang artinya, dia memang paham keadaan kau. Ayah malu juga, Bang. Izza sering main, tapi tak kunjung kau nikahin. Kesannya, kek Ayah yang ngelarang karena dia dari kalangan biasa. Orang-orang pasti berpikir status sosial, kalau Izza tak kunjung kau nikahin. Terlepas dari khawatir akan fitnah warga, Ayah juga takut Izza bosan nunggu. Kau mampu, jadi untuk apa ditunda lagi? Kasian loh jadi Izza ini. Kau tak kau kan, nasib Izza ini dialami ke adik kau? Jaga adik bukan cuma tau cara mengejarnya yang lari menjauh, tapi jaga perbuatan kita, biar karma tak jatuh ke adik kita." Givan ingin sekali menggelar pernikahan untuk mereka.


Tapi jelas ia tidak bisa melakukannya, karena putranya sendiri yang seolah tidak ingin pernikahan itu terjadi. Ia masih merasa, bahwa ada hal besar yang membuat Chandra takut untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.


"Sekarang aja Izza tak mau kumpul." Wajah Chandra murung dengan pandangan yang kosong.


"Dia down, Bang. Biar nanti kalau besok-besok ketemu di tempat kerja, Ayah ajak ngobrol dia. Kau tak pernah beres nyelesaiin masalah kau sendiri, tapi seolah paling mampu nanggung masalah adik-adik kau!" ketus Givan, kemudian beranjak pergi.


Givan semakin terhanyut dengan pikirannya. Memutuskan untuk menikah, begitu sulit untuknya. Tapi ia pun tak mau berpisah dengan Izza, ia tidak ingin Izza meninggalkannya.


Seumur hidupnya, ia baru sekali menaruh cintanya ke perempuan asing. Hanya Izza, wanita selain ibu kandung yang melahirkan Chandra. Alasannya hanya sederhana, ia banyak terlampau kasihan dan tidak tega pada gadis berprestasi yang kurang beruntung dalam hal keuangan tersebut.


Belum lagi kemalangannya yang menjadi anak yatim, membuat Chandra selalu ingin menjadi malaikat penyelamat untuk diri Izza. Ia tidak segan meminta pertolongan ayahnya, untuk membantu Izza agar bisa menyelesaikan pendidikannya dengan kekurangan biaya.


Itu hal yang mudah untuk Givan. Hanya saja, sering Givan bertanya siapa Izza untuk anaknya. Ia awalnya selalu dibuat bingung oleh anaknya, karena sejak awal anaknya hanya mengatakan Izza hanyalah teman satu kelasnya di kelas satu SMP.


Hingga kedekatan spesial itu terkuak, kala Chandra akan diberangkatkan ke Singapore. Permohonan kerja yang dibutuhkan Izza untuk menyambung biaya kuliahnya pun, diterima Givan detik itu juga, guna menilai seorang Izza untuk anaknya itu.


"Bang, anterin rombongan pulang itu. Ayo sama aku, satuan nih mobilnya. Sama papa juga, papa udah nunggu di depan sana." Zio membuyarkan lamunan Chandra.


"Ya, bentar." Chandra menyempatkan diri untuk mencicipi kopinya yang sudah dingin itu.


Chandra mengerutkan alisnya, karena di sampingnya duduk mantan kekasih Hadi. Satu hal yang membuatnya benci, yaitu Sekar membuat adiknya terjebak dalam permainannya.

__ADS_1


"Kalau bukan Hadi pelakunya, berarti kau." Sekar berkata dengan membenahi sabuk pengamannya.


Chandra menoleh ke samping kirinya. Sekar mengganggunya, mengganggu seorang pemuda yang sedang banyak beban pikiran.


"Kenapa tak berpikir kalau kau sekotor itu?!" Chandra menatap tajam Sekar.


Rengekan anak kecil, membuat Chandra tersadar bahwa bangku belakang sudah terisi dengan penumpang. Ia kembali meluruskan pandangannya, menyiapkan kendaraan tersebut untuk bergerak.


Ia menginjak pedal gasnya perlahan, setelah melihat kendaraan milik pamannya dan adiknya mulai bergerak. Ia fokus mengemudi, dengan amarah tersulit dengan ucapan Sekar tadi.


"Kau lihat nanti!"


Brughhhh….


Chandra memperhatikan seorang yang baru turun dari mobilnya. Sudah sampai tujuan, rombongan mulai turun satu persatu dari kendaraannya.


Ia masih memikirkan Izza, hanya saja ia khawatir Izza mengancamnya dengan perpisahan lagi. Ia tidak mau mendengar hal itu dari mulut Izza lagi.


Ia terlelap sejenak, dalam keramaian suasana adik-adiknya dan keponakannya yang berlarian ke sana ke mari. Ia begitu pulas di atas karpet ruang tamu, dengan ponsel yang menyala beberapa kali karena panggilan masuk.


Givan mendekat ke arah ponsel tersebut, panggilan telepon dari calon menantunya langsung ia terima. Ia mencari suasana sepi, untuk menerima panggilan telepon yang mulai tersambung.


Ia masuk ke dalam kamar pengantin, ia duduk di tepian ranjang di samping istrinya yang tengah mengurus cucunya. Givan paham Ceysa tengah sibuk, bahkan sejak tadi pun bayi itu terus bersama istrinya atau anak-anaknya yang telah dewasa.


"Bang, aku minta maaf. Abang masih marah?" Izza kira itu adalah kekasihnya.

__ADS_1


"Hallo, Za. Ini Ayah, lelaki kau tidur. Minta maaf langsung aja, mau dijemput kah? Atau mau ke sini sendiri? Nanti Ayah share lokasi." Givan memperhatikan istrinya yang begitu telaten menggantikan baju cucunya.


"Maaf, Yah. Aku kira tadi bang Chandra." Izza merasa tidak enak karena ia tadi sempat memohon manja.


"Tak apa. Zio jemput ya? Bawalah beberapa baju, nginep aja di sini. Besok tak apa izin dulu aja kerjanya." Givan tahu esok adalah hari pertama anak buahnya berangkat kerja.


"Eummmm…." Izza merasa sangat tidak enak membiarkan rumahnya kosong yang baru ditinggal ibunya untuk selamanya.


"Lain waktu aja, Yah." Izza ingin keadaannya dimengerti.


"Kenapa? Kau sakit?" Givan merasa ada yang canggung untuk dikatakan.


"Rumah kosong, Yah. Tetangga pikir aku senang ditinggal ibu, karena bisa bebas keluyuran," terang Izza kemudian.


"Jangan keluyuran, nginep aja di sini."


Jawaban Givan tidak berkenan di hati Izza. Ia terlalu sensitif untuk mendapat omongan apapun.


"Tak, Yah." Penolakan Izza itu, adalah penolakan pertama yang Givan dengar.


"Ayah tak maksa, terserah kau. Terserah kau kalau mau berlarut-larut dalam kesedihan, Za. Ayah ngajak kau nginep di sini, karena kau biar merasa tak sendirian. Di sini ramai, tak cuma ada Chandra di sini. Kau tak perlu khawatir kau diapa-apakan Chandra, banyak orang tua di sini." Givan memiliki maksud baik, sayangnya ia kurang bisa menyampaikan dengan baik pada Izza.


"Aku bukan takut diapa-apakan bang Chandra. Aku cuma tak mau diomong jelek sama tetangga, karena kemarin kan ma baru selesai tujuh harian. Tapi kedelapan harinya, aku malah tak ada di rumah." Izza memperjelas dengan perlahan, agar calon ayah mertuanya mau mengerti.


Ia ingin dimengerti kondisinya, keadaannya dan juga posisinya. Ia pun ingin rumahnya ingin diramaikan mereka dengan suasana yang sama di sana, bukan hanya diramaikan karena suasana duka yang menyelimuti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2