Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA199. Adik-adik perempuan


__ADS_3

"Udah, udah. Paling bener diobrolin sama ayah aja." Dehen menengahi perdebatan keluarga tersebut. 


Jadi, mereka ke ayah untuk menyelesaikan masalah? 


"Mau singgah beli sesuatu dulu tak, Tan?" Aku fokus pada rambu-rambu jalan. 


"Tak usah, Bang. Sesak, malas makan." Tante Nina memperhatikan jendela di samping kirinya saja. 


"Oke," sahutku kemudian. 


Sampai ke rumah juga akhirnya, perjalanan yang begitu mencekam. Hawanya panas, ternyata kedatangan mereka untuk ribut. 


Rumah yang Ra dan Cani tempati sepi dan gelap, biasanya musik dj terdengar dari rumah itu. Apa mereka sudah dijemput ayah untuk tidur di rumah yang sama? Atau diungsikan di tempat lain? 


"Ayah…." Dehen berseru lepas. 


Sudah seperti di hutan saja. 


"Hen, masuk aja." Aku membantu om Vendra mengeluarkan koper. 


Kaget aku turun dari mobil Pajero, aku kira pendek, tapi ternyata tinggi. 


"Ya, Bang." Dehen mendahului membuka pintu. 


Detik itu juga, suara adik perempuanku berteriak lepas dengan suara hebohnya. Suara panik ayah dan teriakan suara adik-adik yang lain pun membuatku panik. 


Aku berlari ke arah dalam rumah, meninggalkan mobil yang masih terbuka lebar pintu-pintunya. Dehen nampak bodoh, dengan buku pelajaran yang terhempas di lantai ruang tamu. 


"Ada apa?" Aku mencari keberadaan adik-adikku. 


"Ada penjahat." Cani memeluk ayah erat sekali. 


Cala dan Cali menangis kamu, mereka sepertinya kaget dan takut dengan teriakan heboh Cani. Kakaknya memang heboh sekali, tak mikir adik-adiknya masih kecil. 


"Sini Abang gendong." Aku mengangkat tubuh kedua adik kecilku. 


"Kok penjahat?" Rupanya Dehen ada di belakangku. 


Kupingku pecah seribu. Ampun, perempuan mulut bebek. Mereka begitu ketakutan, sampai teriakannya histeris sekali. 


Kami ini kampungan memang, karena sejujurnya kami tak pernah melihat orang tatoan di sini. Penduduk asli sini meskipun pernah kedapatan mengantar paket narkotika seberat satu ton, tapi tampilannya halal dan toyiban.


"Bawa masuk ke kamar Ayah, Bang. Ampun, para Semprul!" Ayah melepaskan Cani, agar ia memelukku. 


Sepertinya, Cani panik saat Dehen membuka pintu tanpa salam. Maksudku menyuruh Dehen masuk saja, ya diikuti salam sopan. Bukan nyeruntul saja, kan kaget si Cani. 


"Hei, itu Dehen anaknya om Vendra," ujarku di tengah sulitnya kaki melangkah masuk ke dalam kamar biyung. 


"Takut…." Cala dan Cali sampai sesenggukan. 


"Itu bang Dehen namanya, Dek." Aku menurunkan kembar beda rahim ini ke atas ranjang biyung. 


"Dia manusia apa?" Cala duduk di atas ranjang dan mengusapi air matanya. 


"Abang, takut." Cani yang sudah baligh, tingkahnya sama seperti anak sembilan tahun. 

__ADS_1


"Dibilang itu bang Dehen, anaknya om Vendra." Aku menariknya untuk duduk di ranjang. 


"Om Vendra itu siapa?" Cani mengusap pojokan matanya dan keringat di dahinya. 


Ya ampun, sampai mandi keringat.


"Adiknya ayah, Dek." Kaku hati memiliki adik perempuan semua begini. 


"Masa? Ada kah? Yang mana? Papa Ghifar?" Wajah polosnya nampak bingung. 


"Bukan, adiknya ayah dari kakek Hendra." Ini terlalu rumit, tapi setidaknya mereka harus tahu. 


"Nenek Syura?" Cani membenahi hijabnya. 


"Nah, iya betul." Aku mengusap kepalanya. 


"Buku-buku aku gimana? HP aku, laptop aku di sana semua." Cani merengek kembali, dengan menunjuk ke arah pintu. 


"Dia bukan mau nyolong! Kau tenanglah, Dek! Adik-adik kau ikut takut juga, karena mulut kau heboh betul." Aku merengkuh kedua adik kecilku. 


Mentalnya terguncang memiliki kakak seperti Cani, mulutnya seperti bom panci yang mengagetkan. 


"Keponakan ayah kriminal sekali, takut." Cani memeluk dirinya sendiri, karena aku memeluk Cala dan Cali. 


"Bukan kriminal!" Sakit tenggorokan aku menjelaskannya. 


"Bobo sama Abang, jagain aku." Cali merebahkan tubuhnya di ranjang. 


"Aku juga." Cala menarikku, agar aku tidur di sampingnya. 


Ampun! 


"Iya! Nanti!" Aku menepis tangannya, karena aku mengenakan training jogger.


Bisa melorot nanti. 


"Abang, ambilkan." Cani ikut merebahkan tubuhnya dan memelukku dari belakang. 


Amsyong sekali jadi aku. 


"Ambillah sendiri! Kau punya meja belajar, belajar di ruang tamu. Gimana sih?!" Emosinya aku dengan gadis baligh ini. 


"Abang tolong ambilkan." Kini ia menarik bajuku dari belakang. 


"Haduh!" Rasanya aku ingin mengamuk saja. 


Aku segera bangkit, agar bebek satu ini tidak banyak bicara lagi. 


"Abang, jangan tinggalkan aku." Cala menahan tanganku. 


Ya Allah, aku tidak bermaksud meninggalkannya. Aku hanya ingin mengambilkan tugas adikku yang berisik itu, tapi adik kecilku malah ikutan berdrama lagi. 


"Aku tak akan meninggalkanmu, tunggulah sebentar." Aku menepuk tangan kecil Cala, kemudian mantap wajahnya. 


Ohh, begini ya cara menyikapinya? Dikerasin, tambah stress sendiri. Jadi dibawa santai dan gila saja, karena mereka malah terlihat santai dan tertawa. 

__ADS_1


"Panggil sus, Bang. Bobo sini aja, aku tak mau keluar-keluar," tambah Cali kemudian. 


Sus adalah pengasuhnya. 


"Oke, siap." Aku mencoba mengatur napasku agar lebih rileks. 


"Kau mau dipanggilkan sus tak, Kak Cani?" Aku memperhatikan Cani. 


"Abang…." Cani merengek seperti anak balita, kemudian ia terkekeh kecil. "Minta tolong ambilkan tugas aku aja." Perintahnya kini lebih lembut. 


Jadi begini ya menghadapi perempuan? Oke, akan aku ingat sebagai rumus dunia perempuanan. Pantas saja kemarin ayah malah mengajak biyung bergurau berantem, ternyata agar suasana mencair. 


Aku jadi punya ilmu untuk bekal kedepannya. Entah untuk pasanganku, atau untuk menghadapi drama adik-adikku ini. 


"Abang ambil dulu ya?" Aku tersenyum lebar sebelum meninggalkan ketiga perempuan tukang drama ini. 


Ampun duniaku! 


"Iya, Abang." Lembutnya sahutan itu. 


Baik, aku memanggilkan sus dulu. Barulah, aku mengambil buku dan perlengkapan Cani di meja ruang tamu yang menjadi tempat mengobrol ini. 


"Panik mereka?" tanya tante Nina kemudian. 


"Heem, maklum anak pesantren." Aku tidak enak sendiri menjawabnya, khawatir Dehen dan Balawa tersinggung. 


Karena mereka berdua yang bertato. 


"Biyung kau di kamar juga?" tanya tante Nina, saat aku menumpuk buku-buku yang bertebaran ini. 


"Eh, iya. Panggilkan, Bang. Biyung kau di kak Jasmine, anaknya nangis aja tadinya." Ayah menepuk jidatnya. 


"Iya, Yah. Bentar, aku ngurusin princess drama dulu." Aku membawa pergi buku, laptop, ponsel, bolpoin dan antek-anteknya. 


Di kamar sudah ada dua pengasuh, yang tengah menggantikan baju Cala dan Cali dengan baju tidur. Aku memberikan barang milik Cani, kemudian duduk di depannya. 


"Abang disuruh ayah, kau di sini aja ya?" Aku bertutur lembut. 


Tanpaku, ayah dan biyung pasti kerepotan sekali mengurus mereka. Bukannya aku bermaksud menyombongkan diri. 


"Iya, Abang. Tidur di sini ya, Bang? Jagain aku." Wajahnya memelas sekali. 


"Oke." Aku mengangguk mengiyakan. 


Aku memandang dua adik kecilku. "Sama Sus ya, Dek? Abang disuruh ayah sebentar." Jika tidak pamit, aku khawatir Cala dan Cali mencariku. 


"Ya Abang, ati-ati ya? Bawa tembakan ya?" Pesan berharga keluar dari mulut Cala. 


"Siap." Aku memberi hormat, hingga mereka tertawa kembali. 


Harus meluaskan sabar menghadapi para perempuan. Ini tidak dengan Ra, entah gimana jika ditambah Ra. Karena satu adik perempuan itu main fisik, tidak memukul ya mencubit. 


Sabar-sabar bang Chandra, anak laki-laki ayah harus kuat agar adik-adik perempuannya selamat dan selalu aman. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2