
Aku memilih mengajak Izza kelonan saja, daripada mendengarkan lontaran tajam ayah yang terarah pada Bunga. Aku takutnya, aku yang malah iba pada Bunga. Aku cepat sekali iba, apalagi jika melihat adik perempuanku sudah menunduk dan hampir menangis.
"Bang, aku sering mikir kenapa aku bisa sakit begini." Pandangannya kosong dalam pelukanku.
"Tak usah dipikirkan, ikhlaskan. Yang penting kita udah ikhtiar untuk kesembuhan kau." Aku mengusap-usap pipinya dengan tersenyum menenangkan.
Kebiasaan Bunga sering datang, aktivitas yang begini-begini saja. Kesibukan bekerja dan mengatur laporan, membawa Izza cepat selesai di masa menstruasinya dengan tidak kurasa.
"Semangat, Dek." Ayah dan biyung mengantar kami sampai teras rumah.
"Makasih, Yah, Biyung." Izza tersenyum lebar.
Wajahnya tersenyum, matanya sendu. Izza menolak untuk kembali ke rumah sakit, dengan alasan ia takut.
Seperti biasa, dimulai dari mengambil antrian dan menunggu lama. Mau umum atau BPJS, sama juga mengantri. Tidak ada dalam pelayanan, hanya dibedakan di kamar inap saja karena aku selalu mengambil kamar nyaman yang seperti hotel.
__ADS_1
"Deg-degan, Bang."
Aku merasakan jemarinya dingin.
"Aku temani, tak apa." Ia adalah bagian dari hidupku. Tidak mungkin aku mengabaikannya di masa-masa tersulitnya ini.
Setelah menunggu antrian dan masuk ke ruang dokter, nyatanya kami dijadwalkan kembali setelah selesai jam makan siang. Pemeriksaannya dilakukan di ruangan lain, kami pun tengah diberikan arahan terlebih dahulu oleh dokternya.
"Kunci utama dalam pemeriksaan MRI adalah ketenangan. Pasien harus tenang sebelum, saat, hingga sesudah MRI agar proses berjalan lancar dan hasilnya dapat dimanfaatkan. Bila merasa gugup, pasien harus memberi tahu dokter. Kadang diperlukan obat penenang agar pasien merasa rileks. Jadi, Ibu Izza sampaikan ke tenaga medis satu jam sebelum pemeriksaan itu dilakukan. Agar bisa diberikan obat terlebih dahulu, jika memang merasa sulit untuk tenang. Pemeriksaan MRI memanfaatkan medan magnet yang kuat. Maka pasien harus melepaskan semua aksesori yang terbuat dari logam. Adapun pasien yang memiliki implan logam, misalnya alat pacu jantung, tidak diperkenankan menjalani MRI kecuali atas arahan dari dokter. Ibu Izza boleh ceritakan dulu riwayat penyakit Ibu. Kemudian pentul kerudung harus diamankan, bros atau semacamnya juga. Nanti, dokter yang di sana pun akan menjelaskan dan mengarahkan secara langsung selama pemeriksaan ini berjalan. Guna, pasien mengerti dengan tindakan yang dilaksanakan." Dokter kandungan tersebut berbicara dengan cepat dan ramah.
"Saya tidak memiliki riwayat penyakit apapun, selain asam lambung," terang Izza kemudian.
"Terima kasih, Dok." Aku tersenyum ramah.
"Sama-sama."
__ADS_1
Kemudian, kami dipersilahkan untuk keluar dari ruangan lagi. Sekarang masih sembilan pagi, aku berinisiatif membawa Izza ke tambak dulu. Sekalian, refreshing sedikit agar ia tidak tegang.
Tindakan pemberian obat penenang diberikan, Izza pun terlihat lemas dan layu. Apa itu sejenis obat bius? Aku pun tidak mengerti.
"Sebelum proses MRI, kami akan menyuntikkan zat kontras ke pembuluh darah di lengan. Zat kontras atau pewarna ini akan membantu dokter melihat struktur di dalam tubuh Anda dengan lebih jelas. Zat yang sering digunakan dalam pemeriksaan MRI disebut gadolinium. Gambaran prosesnya begini…. Pasien yang berbaring di meja periksa akan dimasukkan ke mesin MRI. Tubuh pasien mungkin sepenuhnya berada di dalam mesin, tapi bisa juga tidak. Tergantung tujuan pemeriksaan MRI yang dilakukan. Ketika tubuh di dalam tabung, medan magnet dan suara akan muncul dan menghasilkan sinyal yang kemudian ditangkap oleh komputer guna membuat serangkaian gambar. Pemeriksaan MRI biasanya berlangsung selama dua puluh sampai sembilan puluh menit. Seusai proses, pasien bisa pulang langsung. Sebaiknya pasien pulang dengan ditemani pendamping, terutama bagi yang harus mendapat obat penenang untuk menjalani MRI." Perawat wanita tersebut menjelaskan dengan ramah.
"Mesin MRI dilengkapi dengan kekuatan magnet yang sangat kuat. Oleh sebab itu, benda logam bisa mengganggu cara kerja mesin dan mempengaruhi hasil MRI. Beri tahu dokter jika Anda memiliki implan logam atau elektronik di dalam tubuh, seperti katup jantung buatan, alat pacu jantung, implantable cardioverter-defibrillator atau ICD, bagian tubuh buatan atau prostesis seperti pada lutut atau sendi lainnya, alat bantu dengar yang dipasang di dalam telinga atau implan koklea, tambalan atau implan gigi, KB spiral atau KB implan, tato juga karena beberapa jenis tinta mengandung logam, tindikan di tubuh. Sebelum menjalani pemeriksaan MRI, pasien juga perlu melakukan beberapa hal seperti, beri tahu dokter jika memiliki riwayat atau sedang menderita penyakit ginjal atau hati, beri tahu dokter jika menderita alergi terhadap zat kontras, beri tahu dokter jika sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil, beri tahu dokter jika menderita kondisi tertentu, seperti claustrophobia atau obesitas. Claustrophobic adalah kondisi saat seseorang mengalami rasa takut dan cemas berlebih saat harus berada di dalam ruangan gelap atau s****t, bisa disebut dengan phobia gelap dan s****t."
Ia menjelaskan seperti seorang guru. Padahal, ia sembari memeriksa tensi darah Izza. Mungkin ia sudah hafal teksnya, jadi merasa itu adalah hal yang mudah saja.
"Perlu Anda tau juga, jika Anda nantinya akan merasakan kebisingan, ada suara bising hingga mencapai seratus dua puluh desibel dalam mesin pemeriksaan MRI tertentu. Pasien mungkin akan diberi alat penyumbat telinga sebelum masuk ke mesin. Ada stimulasi saraf, seperti sensasi berkedut yang muncul dari proses di dalam mesin MRI. Masalah zat kontras, bagi pasien gagal ginjal berat yang memerlukan dialisis mungkin akan bermasalah dengan penggunaan zat kontras gadolinium. Masalah kehamilan, disarankan ibu hamil tidak menjalani pemeriksaan MRI pada trimester pertama kehamilan dalam kaitan dengan penggunaan zat kontras yang mungkin mempengaruhi janin. Claustrofobia, mesin MRI umumnya tertutup di sekelilingnya dan s****t sehingga tidak nyaman bagi pengidap claustrophobia. Tapi kini sudah ada mesin MRI terbaru yang lebih terbuka sehingga lebih ramah bagi pasien yang punya fobia terhadap tempat yang s****t dan tertutup, tapi rumah sakit kita belum menyediakannya." Ia tengah menyuntikkan sesuatu pada Izza.
Aku yang malah deg-degan, dengan pemeriksaan yang berisiko ini. Yang terakhir disebutkan itu, ya memang itu resikonya. Jangankan besi, emas pun Izza lepas karena takut.
Pemeriksaan saja sudah seperti ini, bagaimana nanti jika tindakannya? Apa lebih menyeramkan dari ini? Ini menyeramkan, untuk aku yang besar kasihan. Aku malah ingin menggantikan Izza saja, karena ia terlihat pasrah dan tak berdaya seperti itu.
__ADS_1
Semoga hasilnya tidak banyak tumor jinak di rahim itu, agar tindakannya bisa diatasi dengan tindakan yang mudah saja. Aku tidak mau, jika sampai Izza melakukan operasi yang berisiko, apalagi mengancam nyawanya.
...****************...