Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA235. Mulai menyentuh


__ADS_3

"Nanti juga ngerasain sendiri deh. Intinya pasrah aja, jangan panik, jangan takut, jangan malu, jangan ditahan." Aku takut membentak jika sudah begini. 


"Ingat kesepakatan kita loh, Bang." Nahda mengusap lenganku. 


Lenganku yang diusap Nahda, bekas diusap Jessie tadi. 


"Apa tuh?" Kesepakatan yang mana ya? 


"Jangan sakit-sakit dan jangan dibuat hamil."


Itu bukan kesepakatan juga sih sebenarnya. Ya sudah, yang penting iya saja, yang penting dapat dulu. Biarpun alim-alim begini, aku seperti seekor kucing yang disandingkan daging fillet. Apalagi sudah sah, halal untukku dan diperbolehkan agama juga keluarga.


Kapan lagi malam enak tanpa sembunyi-sembunyi.


Jangan membahas cinta, karena mungkin nanti perlahan ada sendiri. Aku muak dengan cinta-cintaan, karena nantinya aku mendominasi dengan rasa kasihan dan tidak tega. Lebih-lebih, aku merasa bersalah seperti pada Izza. 


"Iya." Hamil tidaknya urusan Yang Kuasa. 


Minimarket dekat rumah, jadi tidak lama untuk sampai di rumah. Aku menurunkan belanjaan, setelah membuka bagasi. Khawatirnya, mobil ini nantinya akan digunakan oleh ayah. 


Setelah mengembalikan kunci mobil, aku menenteng banyak belanjaan ke rumah papa Ghifar. Aku menaruhnya di sudut ruang tamu, biar esok saja membereskan dan membaginya. Nahda sudah naik ke kamarnya, rumah pun sudah begitu sepi. 


"Mau makan tak, Bang?" Nahda sudah di tempat tidur, dengan daster pendeknya dan ponselnya. 


Ponsel tak pernah lepas dari dirinya. 


"Udah kenyang, Adek laper?" Aku melepaskan kaosku. Lalu, menaruhnya di keranjang baju kotor Nahda yang setengah terisi. Baju yang ia pakai tadi pun, berada di dalam keranjang. 


"Kenyang juga, barangkali Abang lapar."


Aku tidak menyahuti, aku ingin cuci tangan dan cuci muka dulu. Setelah mengeringkan wajahku, aku keluar dari kamar mandi dengan meloloskan ikat pinggangku. Sebenarnya ikat pinggang kami para laki-laki itu digunakan untuk pemanis saja, bukan karena celana kami longgar.


"Lagi apa?" Aku mendekati Nahda yang berada di tengah ranjang. 


Aku tidak tidur siang, mataku sudah terasa pedas. 


"Chat, Bang." Ia menunjukkan layar ponselku. 


"Chat sama siapa? Kok sering chat sambil senyum-senyum?" Aku penasaran dengan isi chatnya. 


"Chat grup, ngasih selamat gitu." Nahda menunjukkan isinya. 


Grup mendaki ternyata. 


"Adek punya pacar tak sih?" Aku merebut ponselnya, kemudian menaruhnya di nakas.

__ADS_1


Aku ingin diperhatikan. 


"Abang…." Ia seperti kecewa, saat ponselnya aku rampas. 


"Adek punya pacar tak?" Aku menariknya, agar ia berbantal lenganku. 


"Tak punya, Bang. Aku mana pernah pacaran." Ia sedikit manyun. 


"Cium Abangnya." Aku mendekatkan pipiku padanya. 


Hanya kecupan kecil di pipi kiriku. Namun, aku langsung menyerang lehernya dan mengincar telinganya. Baru begini, baru juga begini. Suaranya aduhai, mana kamar mertuaku dekat lagi. 


"Geli, Abang!" Nahda merengek mendorongku. 


Agak sulit juga. Aku pun tahu itu menggelikan, makanya aku menyerang titik lemahnya. 


"Jangan gitu loh tangannya, Dek." Aku khawatirnya memaksa dan menjerat tangannya ke atas kepalanya, jika ia mendorongku seperti ini. 


"Aku deg-degan, Bang. Jangan buat aku geli, nanti aku berisik." Ia menekan suaranya. Wajahnya nampak sekali memohon, agar aku tidak melakukan demikian. 


Tentu aku tidak akan menurutinya, aku sudah tahu bahwa telinga dan leher adalah titik sensitifnya. Tanpa berdialog lebih banyak, kini aku langsung mengincar bibirnya. 


Awalnya memang baik dan aman saja. Ia pun diam saat tanganku mengusap perutnya dan perlahan naik ke dadanya, kegiatan ini aku melakukannya dari luar pakaian. Tetapi, begitu daging tak bertulang di dalam mulutku menerobos masuk ke mulutnya. Ia langsung mendorongku kembali, kemudian ia langsung memandang wajahku dengan tatapan marah. 


Satu pertanyaan, kenapa harus pakai aturan di film? 


"Tak apa, boleh kok, Dek. Tak masalah, tak dilarang. Coba lah jangan banyak protes, Abang tau aturan yang benarnya." Ingin sekali aku mengatakan, bahwa hal ini bukan yang pertama aku lakukan. 


"Abang marah?" Ia langsung manyun dengan mata yang terlihat hampir menangis. 


Aku akui, jika saat ini aku terbawa emosi. Wajahku mungkin sangat kentara, jika aku tengah marah sekarang. 


"Iya, harusnya gimana biar tak marah? Baru pagi kita nikah loh, Dek." Aku membuang napasku dan mengusap wajahku kasar. 


Aku sudah turn on. 


"Maaf, Bang." Ia langsung menarik tanganku dan mencium tanganku. 


Seperti bocah, meski memang ia bocah. 


"Bang, lihat aku." Ia menarik pelipisku, untuk memandang wajahnya. Karena baru saja, aku memalingkan wajahku ke arah lain. 


"Apa?" Aku memandang wajah sendunya. 


"Ini yang pertama buat aku, aku gugup." Ia langsung memeluk dadaku. 

__ADS_1


Masa iya belum diapa-apakan sudah menangis? 


"Iya, makanya udah pasrah aja. Tak usah ingetin Abang tentang aturan, Abang paham aturan yang baik dan benar. Abang pun bakal kira-kira, paham ini yang pertama untuk Adek." Aku mengusap-usap rambutnya. 


Begini saja aku luluh, memang dasarnya tidak tegaan.


"Iya, Bang. Aku minta maaf ya?" Setelah meminta maaf, ia berani mengajakku beradu bibir lagi. 


Aku mulai bergerak, ketika terlihat dirinya mulai pasrah. Dengan satu tarikan, aku menarik dasternya hingga terlepas dari kepalanya. Aku begitu mendominasinya di awal permainan ini. 


Aku memahami mimik malu di wajahnya, aku tersenyum samar agar ia yakin padaku. Sedikit kaget, saat wadah buah kembar tersebut terbuka. Karena aku melihat ujung tersebut cukup besar, mungkin satu ruas jari telunjuk. Dibandingkan dengan milik Izza, jelas jauh berbeda. 


"Dari dulu udah begini ini, Dek?" Aku mengusapnya pelan. 


Aku khawatir itu gejala penyakit serius. 


"Iya, Bang. Mama waktu nyusuin Hasna pun, ujungnya besar begini." Berarti genetik. 


"Kenapa, Bang?" tanyanya kemudian. 


"Tak apa." Aku langsung membuka mulutku dan menikmatinya. 


Lebih terasa di mulut memang, apalagi saat keadaannya memang tengah keras karena perlakuanku. 


Kejutan yang sama, aku dapatkan di bagian rawannya juga. Harus bagaimana ya aku mengatakannya agar Nanda tidak tersinggung, karena di sini begitu rindang. Memang normalnya wanita dewasa seperti itu, tapi bahkan ia belum dewasa. 


"Ada aturan, empat puluh hari itu diusahakan untuk dirapikan." Aku mengangkat kepalaku, meski aku belum menyentuh bagian itu dengan mulutku. 


"Kan belum empat puluh hari, mungkin baru tiga mingguan." Nahda mengulurkan tangannya untuk menutupinya. 


Ia malu dengan perkataanku. 


Tapi ngomong-ngomong, menurut kitab yang pernah aku pelajari, tanda-tanda lebat seperti ini kan tandanya…. 


Waduh, aku yang kena mental nantinya. 


Bukan itu saja rupanya, karena daging kecil seribu saraf pun nampaknya sama juga dengan ujung dadanya. Benda itu cukup menyembul, tandanya memang ukurannya pun lebih besar dari istriku sebelumnya. 


Belum apa-apa, aku sudah memikirkan bagaimana Nahda jika sudah kecanduan. Aduh, untung perempuan ini belum terjamah laki-laki saat berpacaran. Jika tidak, ia bisa menjadi wanita liar satu dua dengan Bunga. 


Aku yakin dengan ilmu yang aku ketahui secara pengertian saja ini. Tanda-tanda ini semua ada pada Nahda, begitu juga dengan mata sayunya.


Bisa-bisa aku kuras tangki tiap hari jika begini, bisa-bisa aku keluar angin jika lawanku begini. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2