
"Sayang.... " seru Raeka dengan nada manja.
Raeka langsung berlari menghampiri Irgi yang baru keluar dari pintu lift. Tangannya dilingkarkan pada leher Irgi sementara kakinya melingkar pada pinggangnya. Reflek Irgi menahan bagian punggung dan pantat Raeka dengan kedua tangannya agar wanitanya tidak jatuh.
Raeka mirip seekor koala yang sedang menggelayut di pohon. Bibirnya mengecupi leher Irgi dengan nakal. Membuat Irgi ingin buru-buru membawanya ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, ia rebahkan Raeka dengan hati-hati. Bibirnya sudah tidak sanggup menahan untuk mengecup bibir nakal Raeka. Istrinya menjadi wanita yang sangat manja setelah menikah.
"Kenapa pulangnya sampai malam? Aku jadi kesepian di rumah sendirian." rengek Raeka.
"Tadi aku mampir sebentar ke rumah sakit menjenguk Daniel dan memberikan oleh-oleh yang kamu belikan untuk mereka."
"Oh, bagaimana kondisinya? Apa sudah membaik?"
"Ya, begitulah. Masih harus terus rutin kemoterapi."
"Kamu sudah makan di luar?"
"Belum. Aku masih sangat lapar. Terutama ingin memakanmu."
Irgi mengecup dan menggigit leher Raeka hingga ******* lolos dari mulutnya.
"Ih! Makan dulu yang ini nanti!"
Raeka mendorong Irgi ke samping. Ia bangkit dari ranjang berniat ingin menyiapkan makan malam bersama. Para pelayan sudah pulang sehingga ia sendiri yang harus menyiapkan makanan untuk suaminya.
Irgi mengekori istrinya menuju dapur. Ia duduk tenang di meja makan sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengambil makanan dari lemari. Ia menyunggingkan senyum. Setelah menikah Raeka jadi lebih suka melayaninya. Biasanya dia tidak pernah melakukan apalun karena mengandalkan pelayan. Sekarang, ia yang menjadi pelayan untuk suaminya sendiri.
"Ra.... "
"Ya, kenapa?" Raeka masih sibuk mengambil makanan yang akan dihidangkan di meja makan.
"Kapan-kapan aku pengin lihat kamu masak di dapur pakai apron itu." yang Irgi maksud apron berwarna putih dengan renda pink dan hiasan bentuk hati yang tergantung di sisi samping kompor.
"Oh, apron ini? Aku pakai sekarang juga bisa." Raeka meraih apron dan hendak mengalungkan ke lehernya seperti permintaan Irgi.
"Maksudku pakai apron aja.... nggak usah pakai baju."
Raeka membatalkan niatnya. Ia letakkan lagi apron itu pada tempatnya. Ia kembali menyiapkan makanan yang hendak dihidangkan. Permintaan Irgi membuatnya geleng-geleng kepala. Ia malu sendiri mendengarnya. Irgi memang selalu begitu setiap mengatakan sesuatu meskipun vulgar tetap ia ucapkan secara terang-terangan.
__ADS_1
"Kenapa nggak jadi, aku kan sudah sering lihat kamu telanj*ng." agaknya Irgi kecewa imajinasinya tidak terwujud. Padahal akan menyenangkan melihat Raeka mengenakan apron lucu itu di tubuhnya.
"Jangan meminta yang aneh-aneh. Apa kamu tidak malu?"
Raeka meletakkan beberapa lauk di atas meja. Ia kemudian kembali mengambil piring dan nasi yang tertinggal.
"Untuk apa malu? Kita kan suami istri. Lagipula apanya yang aneh? Aku kan meminta pada istriku sendiri. Kecuali kalau aku meminta wanita lain untuk melakukannya itu baru aneh."
"Lebih baik kita makan dulu." Raeka meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Irgi. Tak lupa ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Untung saja para pelayan sudah pergi. Obrolan seperti ini tidak pantas jika sampai didengar oleh orang lain.
"Pakai dong, biar aku lebih semangat makan." Irgi berbicara dengan nada yang imut. Bukannya membuat Raeka suka malah membuatnya ingin muntah.
"Ya Tuhan.... Punya suami tampan tapi otaknya kurang beres." gumam Raeka.
"Sayang, kita selesaikan makan malam kita dulu. Baru setelah itu, kita lakukan yang kamu mau di dalam kamar."
"Kamu nggak kepikiran untuk melakukannya di dapur? Di atas meja makan.... kita belum pernah kan, sepertinya harus dicoba."
"Atau kalau kurang nyaman, bagaimana kalau di sofa ruang tamu? Tempatnya sempit jadi kita akan berhimpit."
Irgi terkekeh. Ia sangat puas menggoda Raeka. Wajah istrinya sampai merah karena malu.
Raeka tipe wanita yang terlihat sombong dan angkuh di mata orang lain. Ia tidak mudah ramah kepada orang. Raut mukanya menyiratkan jika dia termasuk orang yang kurang peduli dengan urusan orang lain. Tapi, kepada orang terdekatnya, seperti keluarga dan suami, dia bisa sangat manja. Kesukaannya memeluk dan dipeluk. Setelah menikah ia jadi suka digendong Irgi.
Raeka bukan tipe orang yang pemalu. Ia sangat pemberani dan penuh percaya diri. Dia tidak pernah takut melakukan apapun yang ia sukai. Jika ada yang berani menentangnya, ia bisa melawannya balik. Tidak mungkin dia mau kalah.
Tapi, setelah hidup bersama Irgi, sifat pemalunya selalu muncul. Memiliki suami seperti Irgi yang tidak segan mengatakan apapun yang ada di otaknya membuatnya malu. Seumur hidup ia tidak pernah mendengar kata-kata kotor yang menjurus hal mesum. Gara-gara Irgi dia jadi punya pikiran yang aneh-aneh tentang ****.
"Ra, apa kamu nonton berita di televisi tadi sore?"
"Hm, berita tentang Shuwan?"
"Iya. Sebenarnya kamu dekat dengan dia apa tidak?"
"Tidak. Untuk apa aku dekat dengan dia." jawab Raeka enteng. Ia tetap menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Tapi waktu menikah dia datang. Kamu kan yang mengundangnya?"
__ADS_1
"Tidak, yang aku undang Coach Moreno, bukan Shuwan. Mungkin Coach yang mengajak wanita itu datang."
"Kalau menurutmu, apa benar Shuwan ada hubungan dengan Moreno?"
"Hah, untuk apa juga aku tahu. Itu kan urusan Shuwan. Yang penting dia tidak mengganggu suamiku aku tidak peduli."
"Kamu kan tahu, Bayu itu ayah kandung Daniel. Dia pacaran dengan wanita seperti itu. Kalau sampai mereka menikah, ah, nggak bisa dibayangkan Daniel punya ibu tiri macam Shuwan."
"Untuk apa juga Daniel ikut Pak Bayu? Baik Pak Bayu atau Shuwan sama-sama orang brengsek, tidak pantas menjadi orang tua."
"Katanya dulu Pak Bayu yang memperkosa Prita kan sampai hamil Daniel? Hubungan awalnya saja sudah dimulai dengan cara yang buruk seperti itu. Belum lagi Shuwan. Dia jelas-jelas menyukai Coach Moreno. Aku pernah di-bully juga karena dia kira mau merebut Coach Moreno darinya. Tapi selain menghabiskan waktu dengan Coach, bisa-bisanya dia pacaran juga dengan Bayu? Sungguh wanita yang luar biasa bangs*t."
"Uh! Istriku sudah mulai bisa berkata kasar."
"Aku rasa Daniel memang lebih baik tetap dirawat Ayash dan Prita. Walaupun aku benci Ayash, tapi aku akui dia ayah yang baik untuk Daniel."
"Tapi mereka berdua sudah bercerai."
"Apa!?" Raeka tidak percaya dengan ucapan Irgi. "Kok bisa mereka cerai? Setiap kita ketemu mereka selalu mesra begitu. Aneh kamu bilang cerai."
"Aku sungguh-sungguh.... mereka sudah bercerai. Makanya aku agak lama di rumah sakit karena ingin mendengar penjelasan langsung dari Prita."
Raeka tidak menyangka, pasangan yang selalu tampak harmonis dan sudah dikaruniai tiga anak itu bisa bercerai. Padahal menurutnya keduanya memiliki fasa cinta yang besar satu sama lain. Bagaimana bisa ornag yang saling mencintai memutuskan untuk bercerai?
"Jadi, sekarang Prita sudah janda, ya?"
Pertanyaan Raeka membuat kening Irgi mengkerut. "Memangnya kenapa kalau dia janda? Kamu bakalan cemburu ya kalau aku tetap dekat dengan Prita yang sudah janda?"
Raeka melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri. Dia tidak tahu apa yang mau ia katakan. Tapi, memang ada rasa khawatir mengetahui Prita sudah tidak terikat pernikahan lagi dengan Ayash.
"Bagiku Prita sama saja. Baik sebelum menikah, setelah menikah, maupun setelah bercerai, Prita tetap Prita. Aku tahu batasanku. Kamu jangan khawatir. Yang paling aku cintai tetap istriku."
"Tapi kamu bakalan lebih sibuk ikut mengurusi Daniel karena Ayash sudah bercerai dengannya."
"Sebelum menikah denganmu juga aku sudah sering menemani Daniel di rumah sakit, kan? Kamu tidak mempermasalahkan waktu itu."
"Sudahlah, jangan diulangi lagi prasangkamu seperti dulu. Prita bakalan merinding kalau mendengar ini. Jandanya Ayash juga tidak perlu aku santuni. Uang tinggalannya sudah banyak. Aku hanya menbantu sedikit sebagai teman. Kalau kamu tidak menyukai hal itu, jadilah teman Prita biar aku tahu Prita tidak sendiri."
--------------------------------------------‐-‐------‐----‐-------------------
__ADS_1
Waduh, Raeka cemburu pada janda 😲