
"Ayash! Wajahmu kenapa babak belur begini?"
Maya yang pertama kali melihat kedatangan Ayash seketika terkejut, wajah anaknya dipenuhi luka. Ayash menurunkan Daniel dari gendongannya dan membisikinya agar masuk ke dalam kamar. Sebelumnya dia sudah mengatakan kepada Daniel untuk tidak menceritakan apapun tentang yang terjadi hari ini kepada orang rumah.
"Sayang... kamu kenapa?" Prita yang baru keluar dari dapur ikut-ikutan terkejut melihat kondisi suaminya.
"Aku tidak apa-apa, tadi sempat berkelahi dengan pencopet di jalan." kilah Ayash. Ia melepas jasnya dan memberikannya kepada Prita.
"Oh, Ya Tuhan.... untuk apa juga kamu berurusan dengan pencopet? Seharusnya kamu relakan saja apa yang dia copet daripada harus babak belur begini.... Prita, cepat obati Ayash, ya."
"Iya, Ma."
"Sayang, ayo kita ke kamar biar aku obati lukanya."
Prita berjalan beriringan dengan Ayash menuju lantai atas. Ayash tampak bersikap dingin. Entah apa yang terjadi, tapi hari ini sikap Ayash berbeda dengan hari-hari biasanya.
Prita mengambil kotak P3K dari dalam lemari. Ia mulai membersihkan luka di wajah Ayash dengan sangat hati-hati.
"Sebenarnya apa yang terjadi di kantor?"
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Prita memicingkan matanya, Ia tak paham dengan pertanyaan Ayash. Menyembunyikan sesuatu? Apa yang dia sembunyikan?
"Aku rasa tidak ada."
"Hari ini aku bertemu Bayu."
Perkataan Ayash menghentikan tangan Prita yang sedang mengoleskan obat. Mendengar nama Bayu disebut dia sudah memiliki firasat yang tidak baik.
"Wajahku seperti ini karena berkelahi dengannya."
"Kenapa kalian sampai berkelahi? Apa yang dia lakukan? Apa mau menculikmu lagi?"
"Dia mengajak Daniel makan bersamanya."
Prita terdiam. Ternyata Bayu kembali mendekati Daniel.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu mengajaknya ke kantor bersamamu?"
"Irgi mengajak Daniel ke hotelnya. Di sana Daniel bertemu Bayu."
"Kamu tahu apa yang lebih membuatku kaget? Daniel bilang dia sudah sering bertemu dengannya. Apa kamu juga tahu tentang hal ini? Apa selama ini kamu menutupinya dariku?"
Prita mengepalkan tangannya. Ia berusaha untuk menarik napas agar tetap bisa tenang.
"Yash.... "
__ADS_1
"Apa diam-diam kamu sering menemui Bayu tanpa sepengetahuanku? Kamu memberitahunya kalau Daniel adalah anaknya?"
"Yash... dengarkan aku dulu.... "
Prita meraih lengan Ayash. Lelaki itu tampak mulai memiliki prasangka buruk terhadapnya. Raut wajahnya terlihat masam.
"Aku juga tidak tahu kalau Daniel sering bertemu dia. Saat di Singapura, aku pernah terlambat menjemput Daniel. Disitu aku juga kaget, melihat Dean Dan Daniel sedang bersama dia. Kata guru dan satpam, dia memang hampir seminggu rutin mengunjungi Daniel di sekolah mengaku sebagai pamannya. Aku juga baru tahu belakangan. Saat itu dia sedang ada urusan bisnis di Singapura. Dan setelah selesai urusannya, dia tidak pernah menemui Daniel lagi."
"Dan kamu tidak pernah mengatakan hal itu." Ayash terlihat kecewa.
"Aku pikir hal itu tidak penting lagi. Karena dia sudah kembali ke Indonesia."
"Aku juga menyangkal saat dia bertanya apakah Daniel anaknya atau bukan, aku jawab bukan."
"Dia sampai membahas tentang tes DNA. Aku kira kamu sering bertemu dengannya."
"Tidak. Untuk apa aku sengaja menemuinya."
"Hanya kamu yang tahu alasannya. Mungkin karena ada Daniel diantara kalian jadi kamu merasa masih ada kepentingan untuk bertemu dengannya."
"Ayash... Aku tidak seperti itu."
"Jangan-jangan kamu setuju untuk kembali ke Indonesia karena dia? Kamu ingin kembali padanya setelah bertemu dengannya? Kamu jatuh cinta padanya? Apalagi ada Daniel kan, yang bisa menyatukan kalian."
"Bisa-bisanya kamu berpikir begitu.... Aku setuju untuk pulang ke Indonesia karena kamu dan Mama yang menyarankannya. Katanya Mama akan baik pada Daniel kan, kalau kita mau kembali?"
"Kalau kamu berpikir begitu, seharusnya tak ada rahasia apapun yang kamu sembunyikan dariku. Sejak dulu memang banyak hal yang tidak mau kamu katakan dengan jujur."
"Yash.... "
"Aku mau mandi dulu. Coba kamu cek anak-anak."
"Ayash.... "
Ayash mengangkat tangannya, memberi tanda ia sudah tak mau lagi mendengar apapun. Dia langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan Prita yang kebingungan.
"Mama.... "
Prita terkejut ternyata Daniel sudah ada di balik pintu dalam posisi seperti sedang mengintip.
"Sayang, kamu tidak bermain dengan Dean?"
Daniel menggeleng, "Mama Papa bertengkar, ya?" ucapnya polos.
Prita langsung memeluk Daniel dan menggendongnya. Ia dudukkan Daniel di atas ranjang seraya mengusap-usap rambutnya.
"Tidak sayang, mama dan papa hanya berbeda pendapat saja. Kami tidak bertengkar."
__ADS_1
Daniel menunduk, "Orang dewasa itu aneh. Katanya anak kecil tidak boleh bertengkar. Tapi, kenapa mereka malah bertengjar?"
"Mama kan sudah bilang, mama papa tidak bertengkar, Sayang.... "
"Tadi aku lihat Papa pukul-pukulan dengan Uncle Yu."
Daniel sepertinya lupa dengan janjinya pada papanya. Anak kecil itu malam memberitahukan apa yang dilihatnya tadi sore di hotel Irgi.
"Papa pukul Uncle Yu waktu aku makan spagetti. Kenapa ya, Ma. Papa marah kepada Uncle Yu. Dia kan orang baik."
Prita menghela nafas, "Sayang, papa marah karena kamu tidak minta ijin bertemu dengan orang asing."
"Tapi Uncle Yu bukan orang asing. Daniel kenal Uncle Yu."
"Orang yang bukan bagian dari keluarga kita, namanya orang asing, sayang... walaupun Daniel kenal, tetap harus minta ijin mama papa. Contohnya, Daniel ingin ikut Papa Irgi, Daniel juga harus ijin dulu dengan mama atau papa."
"Begitu ya, Ma?"
"Iya, Sayang."
"Jadi kalau Daniel ijin mau main ke rumah Uncle Yu boleh?"
"Ah, itu.... " Prita tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya.
"Daniel... jangan temui orang itu lagi." sahut Ayash yang baru keluar dari kamar mandi.
Meskipun tubuhnya tampak lebih segar setelah mandi, namun raut wajahnya masih muram.
"Kalau Daniel masih menemui orang itu, papa akan marah kepada Daniel."
"Patuhi kata-kata papamu ya, Sayang." bujuk Prita.
Daniel mengagguk.
"Sekarang, kembali ke kamarmu dan main bersama Dean."
Prita menurunkan Daniel, mengantarkannya sampai depan pintu. Ia tutup kembali pintu kamar dan menguncinya agar anak-anak tidak ada yang tiba-tiba masuk.
"I'm sorry." ucapnya seraya memeluk tubuh Ayash dari belakang.
*****
Bayu membasuh wajahnya di kamar mandi apartemen. Sudut bibirnya sobek dan beberapa bagian wajah tampak memar. Ia ingin mengumpat sekeras-kerasnya mengingat perkelahiannya dengan Ayash sore tadi.
Baginya Ayash hanyalah anak kemarin sore, bukan selevel dirinya. Tapi ia akui, kemampuan bela diri Ayash cukup baik meskipun dari wajahnya terlihat seperti orang yang pendiam.
Ia bersumpah tidak akan melupakan kejadian hari ini. Bayu merasa direndahkan oleh Ayash. Dia tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Daniel adalah anaknya, tidak ada yang berhak untuk melarangnya untuk bertemu dengan anaknya sendiri.
__ADS_1