ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Dia Masih Bisa Tersenyum


__ADS_3

Jangan lupa Vote ya. 😁


------------------------------------------------------------------------------


Jihan, resepsionis itu tidak tega melihat Prita mendapat perlakuan seperti itu. Dia berlari ke arah resepsionis dan menelepon ke ruangan Bayu dengan buru-buru.


"Halo.... "


"Maaf, Pak. Mengganggu."


"Ada apa?"


"Nona Prita ada di bawah, dia sedang diganggu karyawan-karyawan yang lain, Pak."


Bayu yang baru saja mendapat telepon dari resepsionis bawah menjadi panik. Dia perkirakan itu ada hubungannya dengan Shuwan. Lagipula, untuk apa juga istrinya datang ke kantor, padahal dia sudah bilang masih punya banyak kerjaan.


"Ini semua pasti gara-gara kamu, kan!?" Bayu menatap nyalang ke arah Shuwan.


Shuwan sendiri tidak tahu apa yang Bayu dengar di telepon. Tapi, dia kelihatan sangat marah.


"Kalian berdua ikut aku ke bawah!"


Bayu berjalan buru-buru menuju ke lift. Dia masuk ke dalam sana diikuti oleh Fredi dan Alex. Ternyata, Shuwan juga mau ikut turun melihat apa yang terjadi.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Prita, aku anggap kamu ikut terlibat!"


Bayu sudah tidak sabar melihat apa yang sedang terjadi di bawah. Ketika pintu lift terbuka, ia kembali berjalan dengan langkah cepat.


Terlihat kerumunan karyawan yang sedang tertawa-tawa seperti sangat kegirangan melihat sesuatu.


Bayu semakin mendekat, menerobos kerumunan yang menghalangi pemandangannya pada objek yang sedang mereka tertawakan. Saat kerumunan terbuka, matanya terbelalak melihat Prita berlumuran kotoran seluruh badan. Apalagi saat dia datang, ada seseorang yang sedang menumpahkan sampah ke kepala Prita.


Otaknya serasa mendidih, uratnya tertarik maksimal sampai seakan hampir putus.


"Bang*sat!" teriaknya.


Satu teriakan dari Bayu langsung membuat suasana hening. Berani-beraninya mereka mempermainkan istri tercintanya di kantornya sendiri.


"Jangan ada yang bergerak dari tempat kalian!" perintahnya. Satupun tak ada yang berani membantah.


"Fredi, kemari!"


Fredi berjalan mendekat ke arah bosnya. Bayu mendekatkan mulut ke telinganya lalu membisikkan sesuatu. Setelah memahami perintah bosnya, Fredi segera pergi untuk melaksanakan perintahnya.


Bayu memandang ke arah Prita. Istrinya menampakkan ekspresi biasa-biasa saja meskipun diperlakukan seperti itu. Tubuhnya sangat kotor tapi dia malah menyunggingkan senyuman ke arahnya seraya mengangkat kedua bahu dan tangannya.

__ADS_1


Dia kira istrinya akan menangis tersedu-sedu dan akan mengadu manja memintanya membalaskan perbuatan mereka padanya. Prita terlalu santai menghadapi masalah ini. Ah, dia hampir lupa. Istri kesayangannya itu memang orang yang sangat pemaaf.


Mungkin dia hanya bisa bermanja di depannya. Padahal dia gampang sekali dibuat menangis. Tapi di hadapan masalah separah ini dia masih bersikap santai dan tersenyum. Seakan tak memiliki sisi lemah.


Shuwan yang melihat tak jauh dari sana tersenyum penuh kepuasan melihat kondisi Prita. Ternyata hasutannya terhadap para karyawan membuahkan hasil. Dia berhasil mempermalukan wanita yang telah mengganggu hubungannya dengan Bayu. Seandainya Prita tidak ada, Bayu pasti akan selalu mau membantunya.


Ia berbalik badan berjalan meninggalkan kerumunan.


"Anda mau kemana, Nona Shu?" Alex menghadang Shuwan ketika ia hendak mengarah pada pintu keluar.


"Aku mau pulang, Alex. Kalau lebih lama di sini, aku bisa mual karena bayiku. Disini sangat bau."


"Sebenarnya Anda tidak hamil, kan?"


Shuwan tersenyum mendengar pertanyaan Alex, "Aku sedang hamil, Alex. Dan ini anak bosmu."


"Kalau Nona Shu tidak berhenti sekarang, Bos Bayu tidak akan memaafkanmu."


"Aku memang tidak mengharapkan maafnya karena aku tidak punya salah apa-apa. Aku hanya mau dia mengakui anak ini."


"Anda akan menyesal."


Shuwan menyeringai, "Akan aku buat masalah lebih parah dari ini kalau Bayu tidak mau menurutiku."


Setelah mengatakan hal itu, dia melenggang pergi tanpa rasa berdosa setelah membuat sebuah kekacauan yang besar.


Beberapa saat kemudian, security dan anak buah Bayu mulai berdatangan di sana dan mengepung kerumunan yang tadi membuat kekacauan kepada Prita. Orang-orang yang di luar itu, disuruh menjauh dan tidak diperkenankan ikut berkerumun kalau tidak mau ikut kena marah. Mungkin ada sekitar dua puluh orang yang akan mendapat hukumannya dari Bayu.


Bayu mengulurkan tangannya, menarik tangan Prita dan memeluknya dengan penuh kehangatan. Meskipun pakaiannya jadi ikut kotor dan mencium bau yang kurang sedap dari tubuh istrinya, dia tidak peduli. Bahkan saat kini mereka ada di antara banyak orang, ia tidak peduli menunjukkan perasaannya kepada istrinya. Dia sangat mencintai istrinya.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Aku rasa mereka hanya bertingkah kekanak-kanakkan."


"Tubuhmu sangat kotor dan bau kenapa masih sesantai ini?"


"Bicarapun tidak ada gunanya. Biarkan mereka puas melakukan apa yang ingin mereka lakukan."


"Sebenarnya sudah sejak lama mereka kelihatannya punya dendam padaku. Baru kali ini akhirnya mereka melampiaskannya."


"Tapi ini bukan salahmu, Sayang. Maafkan aku, kamu jadi seperti ini."


Bayu mengusap kepala hingga punggung istrinya. Suasana hatinya jadi cukup tenang dan amarahnya terkendali. Dalam otaknya yang sebenarnya ingin menembak satu persatu dari mereka. Sudah lama dia tidak membunuh orang. Kalau Prita bukan wanita yang selembut itu dia pasti sudah menghabisi mereka semua. Untunglah ***** membunuh sudah ia tanggalkan. Dia juga ingin membangun rumah tangga yang normal jauh dari dunianya dulu.


"Tuan, semua yang Anda minta sudah kami siapkan."

__ADS_1


Ucapan Fredi membuat Bayu melepaskan pelukannya. Ia menarik Prita menjauhi para pendosa yang kelihatannya sedang mencemaskan nasib mereka. Setelah tadi tertawa terbahak-bahak, kini mereka hanya bisa diam seribu bahasa, saling pandang satu sama lain dengan perasaan khawatir.


Mereka tidak menyangka perbuatan mereka akan memancing kemarahan Bayu. Dia kira Bayu akan berbelas kasihan ketika mendengar tentang kehamilan Nona Shuwan. Mereka mulai merasa sudah membela orang yang salah.


Shuwan sering datang ke kantor dan diusir oleh security. Dia akan menangis di lobi karena tidak diijinkan masuk ke ruangan Bayu. Saat itu, dia akan menangis di depan para karyawan yang bersimpati padanya. Dia berhasil membuat banyak orang membelanya karena ceritanya.


"Mas, kamu mau apakan mereka? Kenapa banyak bodyguard di sini?" Prita melihat ke srkeliling banyak pengawal yang biasa menemani Bayu sudah berkumpul di sana. Belum lagi security yang sepertinya sengaja dikumpulkan di sana.


"Tentu saja aku akan menghukum mereka."


"Menghukum apa?" Prita sangat ingin tahu. Jangan sampai hukuman yang diberikan aneh-aneh.


"Nanti juga kamu akan tahu, Sayang."


"Tapi, tidak semua dari mereka merundungku, loh. Ada juga yang membelaku."


"Iya, aku tahu. Aku sudah menyuruh Fredi untuk melihat rekaman CCTV juga."


"Sudah seperti ini kamu masih mengkhawatirkan mereka?"


"Orang yang salah memang harus mendapat konsekuensinya, tapi yang tidak salah jangan sampai kena hukuman juga."


"Aku pastikan hukumanku tidak akan salah sasaran."


"Jangan beri hukuman berat atau hukuman fisik."


Bayu ingin tertawa, kenapa Prita malah jadi mengkhawatirkan mereka?


"Reni.... "


Bayu memanggil Reni yang kebetulan lewat. Dengan sedikit rasa takut dan deg-degan, Reni menghadap bosnya. Ia takut dipanggil karena punya kesalahan seperti karyawan yang sedang dikumpulkan di sana.


"Tolong carikan pakaian yang paling bagus dan cocok untuk istriku."


Reni membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Pak Bayu. Wanita yang selama ini digosipkan sebagai pelakor ternyata istri Pak Bayu? Tapi, Reni tak berani bertanya apapun. Dia takut akan ikut dihukum jika banyak bertanya.


"Kamu bisa kan mencarikan pakaian untuknya di butik depan? Katakan saja Pak Bayu yang menyuruhmu."


"Bisa, Pak."


"Lakukan dengan cepat dan bawakan ke ruanganku."


"Baik, Pak."


Reni langsung berlari ke arah pintu keluar. Dia bukannya bersemangat menjalankan perintah dari bosnya, tapi dia sangat takut kalau sampai kelamaan melaksanakan tugas yang diberikan.

__ADS_1


"Fredi, aku akan mengantar istriku membersihkan diri dulu. Kamu persiapkan semuanya."


"Baik, Tuan."


__ADS_2