ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Perkara Anak Haram


__ADS_3

"Siapa yang anak haram?"


Terdengar sahutan suara dari arah pintu masuk. Bayu sudah berdiri di sana dengan wajah yang penuh amarah. Berani-beraninya ada orang yang menyebut anaknya dengan sebutan anak haram?


Dengan langkah tegas, Bayu berjalan menghampiri mereka.


"Siapa kamu? Lancang sekali ikut campur dengan urusan keluarga orang." bentak Maya.


"Daddy.... " seru Daniel.


Daniel yang awalnya berwajah masam langsung ceria saat melihat kedatangan Bayu. Mereka lalu berpelukan, membuat orang-orang yang ada di sana tercengang, terutama Maya.


"Halo, Sayang. Apa kamu merasa lebih baik?"


Daniel mengangguk.


"Uncle Yu.... " Dean ikut-ikutan menyapa Bayu.


"Hai, Dean. Kenapa lenganmu?" tanya Bayu melihat lengan Dean yang dibalut perban.


"Aku jatuh dari tangga waktu main di kantor Papa."


"Oh, itu pasti sakit, ya?"


"Tidak, aku kan kuat." kilah Dean.


"Hahaha.... baiklah, untuk anak yang kuat uncle bawakan mainan untuk Dean." Bayu memberikan satu kotak mainan untuk Dean.


"Yeay!"


"Yang ini untuk Daniel." Bayu juga memberikan kotak maian untuk Daniel.


"Thank you, Daddy." Daniel mengecup pipi Bayu. Hal itu membuat Bayu merasa bahagia.


Maya sampai tidak bisa berkata-kata melihat kehadiran orang asing itu di sana. Maya baru sekali ini berteku dengan Bayu. Tidak dia sangka ternyata kedua anak kecil itu sudah begitu dengan dengan sosok lelaki itu.


"Jadi kamu ayah kandung Daniel?"


"Ya."


Maya terkekeh, "Ayash, lihat! Kamu diam saja melihat selingkuhan istrimu ada di sini? Kamu ini suami macam apa yang masih membiarkan wanita seperti dia tetap berada di sisimu?"


"Saya bukan selingkuhannya, Nyonya. Saya hanya kebetulan orang yang menjadi ayah kandung Daniel."


"Hah! Bagaimana seorang wanita yang sudah bersuami bisa memiliki anak dengan lelaki lain kalau bukan selingkuh namanya."


"Hubungan kami dimulai sebelum Prita menikah dengan putra Anda, Nyonya. Maaf kalau fakta ini membuat Anda tidak nyaman. Saya juga tidak dalam posisi ingin merebut istri orang. Saya hanya ingin berperan sebagai ayah Daniel saja."


"Untuk apa aku mempertahankan menantu seperti dia? Kalau kamu mau, bawa sekalian dia pergi bersama anakmu."


"Anda akan menyesal jika kehilangan wanita sebaik dia."


"Wanita baik tidak akan main hati dengan lelaki lain."

__ADS_1


"Ayo pergi, Ma!"


Ayash menarik paksa tangan mamanya. Tangan sebelahnya menggandeng erat tangan Prita. Ayash membawa kedua wanita itu keluar. Mamanya sudah terlalu banyak bicara di depan orang asing yang bahkan bukan keluarga.


"Lepaskan, Ayash! Kenapa kamu jadi tarik-tarik mama?"


Maya mencoba berkelit dari genggaman tangan Ayash. Namun, tenaga Ayash sangat kuat sehingga ia hanya bisa mengikuti ketika Ayash membawanya memasuki lift. Prita hanya terdiam, menuruti kemanapun Ayash akan membawanya.


Setibanya di area lobi, Ayash menyuruh kedua wanita itu untuk duduk.


"Mama tidak habis pikir, kalian pasangan suami istri seperti apa. Kelihatannya hubungan kalian benar-benar tidak sehat." Maya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kami pasangan suami istri yang sangat bahagia jika Mama tidak ikut campur dalam rumah tangga kami."


"Ayash, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Apa kamu tidak sakit hati melihat kedatangan selingkuhan istrimu?"


"Dia bukan selingkuhan Prita. Dan dia datang karena aku yang mengijinkannya."


"Oh, Ya Tuhan. Anakku benar-benar sudah tidak waras. Pintar sekali kamu Prita, mempengaruhi Ayash."


"Jangan menyalahkan Prita terus karena ini sudah keputusanku, Ma. Aku bahagia menerima Prita beserta masa lalunya. Tolong jangan diungkit-ungkit lagi."


"Apa yang harus aku lakukan agar Mama tidak bersikap seperti ini terus?"


"Kamu.... berani-beraninya masih bertanya? Bercerailah dengan Ayash kalau kamu masih punya rasa malu!"


"Aku tidak mau bercerai dengan Prita, Ma!"


Maya segera bangkit dan pergi meninggalkan mereka berdua. Rasanya tiada hari tanpa rasa kesal jika harus berhadapan dengan Ayash dan Prita. Maya sudah sangat lelah. Memiliki memantu seperti Prita benar-benar di luar ekspektasinya. Bisa-bisanya Prita membawa lelaki lain mengunjungi anaknya? Dia benar-benar wanita tidak tahu diri.


Sementara, di ruang perawatan, Bayu tak henti-hentinya membuat Daniel dan Dean merasa terhibur. Sebagai seorang mafia atau hampir menjadi mantan mafia, tidak akan ada yang menyangka jika lelaki dingin itu bisa dekat dengan anak kecil. Meskipun belum pernah berpengalaman berumah tangga, dia sudah sangat cocok sebagai seorang ayah.


"Daddy.... anak haram itu apa?"


Bayu terdiam mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil Daniel.


"Hah, anak haram? Apa itu sama dengan anak nakal?" Dean ikut-ikutan membahasnya.


Terkadang tanpa orang dewasa sadari, anak kecil ternyata ikut menyimak pembicaraan orang tua. Bisa jadi mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bayu menghela nafas. Seharusnya tadi dia ingat tempat untuk mengajak orang berdebat. Dia jadi kebingungan sendiri untuk menjawab pertanyaan dari kedua anak kecil yang masih polos itu.


"Ah, anak haram, ya.... apa ya.... "


"Tadi Oma sepertinya marah-marah dan menyebut anak haram. Apa maksudnya itu Daniel? Karena Daniel tidak Oma peluk. Yang dipeluk hanya Dean."


"Aku tidak suka dipeluk Oma. Oma kalau memeluk aku jadi sesak."


Bayu baru tahu kalau Prita tidak disukai ibu mertuanya. Begitu juga dengan anaknya. Ia jadi merasa bersalah membuat hidup kedua orang itu tidak bahagia. Padahal ia kira kehidupan Prita sangat bahagia. Berat ia untuk mengakui kalau Ayash memang lelaki yang sangat baik. Anaknya saja diberi fasilitas perawatan terbaik tanpa meminta ganti sepeserpun padanya. Ternyata di balik kesempurnaan Ayash sebagai seorang suami, ada ibu mertua yang tidak bisa menerima keberadaan Prita dan Daniel dengan ikhlas.


"Daddy.... apa?"


"Hah? Apa Daniel?"


"Anak haram itu apa?"

__ADS_1


"Oh, itu.... bukan anak haram, tapi sepertinya tadi nenek itu mengatakan anak ayam."


"Anak ayam?" Daniel mengerutkan dahinya.


"Iya, nenek tadi mungkin kesal karena ingin memelihara anak ayam."


"Dean, apa Oma suka anak ayam?"


"Tidak tahu. Kalau aku suka makan ayam." Dean memberikan jawaban yang tidak nyambung karena masih asyik bermain robot-robotan.


"Tapi kenapa Oma juga marah kepada Mama Papa?"


"Jelas dia marah. Kan mama papa Daniel tidak mau memberi nenek itu anak ayam."


"Masa Oma suka anak ayam? Apa Daniel belikan anak ayam ya, biar Oma tidak marah-marah lagi."


"Ide yang bagus. Daniel mau memberikan anak ayam warna apa untuk nenek?"


"Warna pink sepertinya cocok."


"Nanti daddy bantu belikan anak ayamnya untuk nenek."


Bayu mengusap kepala Daniel. Ia bersyukur anak itu sudah tidak bertanya lagi. Ternyata menghadapi pertanyaan anak kecil itu menakutkan.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka. Ayash dan Prita sudah kembali.


"Papa mama kalian sudah datang. Daddy pergi dulu, ya."


Bayu mencium kening Daniel dan Dean. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar. Sekilas matanya menangkap ekspresi murung pada wajah Prita.


"Aku ingin bicara denganmu sebentar." ucap Ayah.


Bayu mengangguk. Keduanya keluar ruangan agar percakapan mereka tidak terdengar oleh anak-anak.


"Apa kamu sudah melakukan tes kecocokan sumsum tulang belakang?"


"Belum."


"Tolong segera lakukan siapa tahu milikmu cocok dengan Daniel."


"Ya, aku akan cari waktu senggang."


"Terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang."


"Ngomong-ngomong, kenapa ibumu bisa bersikap seperti itu pada Prita?"


"Kamu tidak perlu tahu. Itu bukan urusanmu."


"Ah, baiklah. Aku pergi dulu."


Bayu langsung melangkah pergi. Itu memang bukan urusannya. Sekalipun ia ingin tahu, itu memang bukan urusannya. Hidup Prita adalah pilihannya sendiri dan dia tidak berhak ikut campur.

__ADS_1


__ADS_2