
Bayu sudah siap dengan setelan sweater turtle neck hitam dipadu jas warna coklat. Sementara, Prita disuruh memakai kemeja putih dan celana hitam dengan tampilan sebagai Eki yang lebih rapi.
"Apa kamu sudah siap, Eki?"
"Sudah, Tuan Muda."
"Nanti kamu dan Alex akan pergi bersamaku ke acara makan malam. Apapun yang terjadi, tetap diam. Apa kamu bisa mengerti?"
Prita hanya mengangguk.
"Ayo kita keluar sekarang."
Prita membuntuti Bayu di belakang. Saat langkah mereka mendekati tangga penghubung ke lantai bawah, di ruang tengah sudah berkumpul banyak orang yang sepertinya sudah bersiap akan melakukan sesuatu. Tampilan mereka cukup menyeramkan. Mungkin Prita lupa kalau suaminya memang seorang mafia. Baru kali ini dia melihat begitu banyak orang yang bisa patuh hanya dengan kata-kata dari seseorang.
Ben, Alex, dan Fredi menunggu mereka di barisan paling depan. Ben berpakaian sangat rapi, memakai kemeja putih, celana panjang, jas hitam, dan berdasi. Fredi mengenakan pakaian yang sedikit santai dengan celana jeans hitam dan hoody hitam. Sementara, Alex memakai pakaian yang sama dengan Prita.
Begitu pula dengan anak buah yang lain, pakaian yang mereka kenakan tak jauh berbeda dengan Fredi dan Ben. Sepertinya, mereka akan dibuat dua kelompok, ada yang akan mengikuti Ben dan ada yang akan mengikuti Fredi. Prita sendiri tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Bayu hanya mengatakan, akan mengajaknya ke acara makan malam. Tapi, melihat mereka lebih mirip akan melakukan tawuran daripada makan malam.
"Ben, apa kamu yakin bisa melakukan ini?"
"Saya sudah tidak apa-apa, Bos."
Bayu masih mengkhawatirkan kondisi Ben. Meskipun terlihat sudah sehat, tapi lukanya belum sembuh seutuhnya. Seharusnya dia butuh waktu istirahat setidaknya sampai satu minggu. Tapi, dia memaksa untuk melakukan tugasnya.
"Fredi, apa kamu juga sudah siap?"
"Saya dan yang lain sudah siap. Tapi, bagaimana dengan Anda? Jika kami semua pergi, siapa yang akan menjaga Anda?"
Fredi tampaknya khawatir karena Bayu memerintahkan semua anak buahnya untuk melakukan tugas lain, sementara dia akan pergi ke tempat makan malam hanya ditemani oleh Alex dan Eki.
Bayu tersenyum, "Ini hanya acara makan malam biasa, kenapa kamu jadi khawatir? Seharusnya aku yang mengkhawatirkan kalian. Kalian semua harus kembali dengan selamat." Bayu menepuk pundak Fredi.
__ADS_1
"Bos, setidaknya bawalah satu atau dua orang lagi bersama Anda." Ben juga ikut khawatir. Ia tidak tenang membiarkan bosnya pergi tanpa pengawalan yang kuat. Apalagi dia akan bertemu dengan keluarga Saddam.
"Kalian jangan meremehkan Alex dan Eki. Meskipun terlihat tidak meyakinkan, tapi mereka bisa diandalkan. Memiliki mereka berdua di sampingku, itu sudah sangat cukup."
Alex tampak kesal. Seniornya selalu meremehkan dia hanya karena tidak pandai bela diri. Padahal, semua yang akan mereka rencanakan juga tak lepas dari campur tangannya.
"Sekarang, berangkatlah kalian! Beri kabar kalau ada apa-apa."
"Kalian berangkat bersama, usahakan juga pulang bersama-sama. Jangan sampai ada yang terluka."
Sebelum pergi, mereka memasang earpiece di telinga masing-masing untuk saling berkomunikasi. Rombongan yang pertama kali pergi dipimpin oleh Fredi. Mereka kompak memakai hoody hitam dan masker hitam yang menutupi wajah. Jumlah anak buah yang mengikuti Fredi sekitar lima belas orang.
"Saya pergi dulu." pamit Ben.
Bayu memberikan pelukan padanya, "Jaga dirimu, Ben. Jangan sampai terluka."
"Anda juga."
Rumah menjadi sangat sepi ketika mereka semua sudah pergi. Hanya tersisa Bayu, Alex, dan Prita di sana.
Bayu melirik ke arah jam tangannya, "Kita harus datang tepat waktu ke sana. Tapi, sebelum kita pergi, kalian juga harus memakai ini."
Bayu menyerahkan dua buah earpiece, masing-masing untuk Prita dan Alex.
"Kalian akan menjadi pengawalku di sana. Bersikaplah yang sopan, jangan melakukan hal-hal yang bisa memancing kemarahan mereka."
"Baik, Bos."
"Baik, Tuan Muda."
"Ayo, berangkat."
__ADS_1
Bayu memimpin dengan berjalan paling depan. Alex dan Prita berjalan mengikutinya di belakang. Sesampainya di halaman rumah, hanya tersisa Mobil Maserati GrandCarbio, mobil-mobil yang lain sudah dibawa pergi.
"Eki, kenapa kamu duduk di belakang?" tegur Alex saat melihat Eki memasuki mobil dan duduk di sebelah Bayu. Seharusnya Eki duduk di sebelahnya, bukan di sebelah bosnya.
Prita jadi bingung sendiri. Benar yang dikatakan Alex, saat ini dia hanya anak buah Bayu, seharusnya dia duduk bersama Alex. Ia membuka kembali pintu samping mobilnya, hendak berpindah ke bangku depan.
"Tidak perlu pindah, Eki. Duduk saja di sini." perintah Bayu.
"Alex, jalankan mobilnya."
"Baik, Bos."
Prita mengurungkan niatnya berpindah tempat duduk. Dia tetap duduk di belakang dan menyadari kalau Alex terus mencuri pandang ke arahnya lewat kaca spion. Dia pasti sangat mencurigainya.
Alex melajukan mobil sport milik bosnya itu dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia harus memperlambat lajunya saat menemui arus lalu lintas yang agak padat dan tentu saja lampu merah.
"Tidak perlu terlalu buru-buru, Alex. Kita tidak akan terlambat."
Ucapan dari Bayu membuatnya mengurangi kecepatan mobil. Setengah jam kemudian, akhirnya mereka sampai di restoran XXX sesuai alamat yang disebutkan oleh Bayu.
Ketika sampai di depan pintu restoran, sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan mereka.Pelayan tersebut lalu mempersilakan mereka ke area yang lebih privat. Di ruangan yang tampak mewah itu, hanya lima meja dengan letak saling berjauhan yang semuanya telah terisi oleh tamu. Suasana tampak elegan, ditambah dengan adanya live musik yang semakin menambah kehangatan suasana.
Pelayan mempersilakan Bayu bergabung dengan ayahnya dan Tuan Saddam. Sementara, Alex dan Prita turut berdiri di samping pengawal Tuan Samuel dan Tuan Saddam. Pengawal-pengawal yang sudahbdatang sebelumnya menatap aneh ke arah Alex dan Prita. Bisa-bisanya orang seperti mereka dijadikan pengawal. Sungguh mengherankan.
"Abaikan saja." bisik Alex kepada Prita. Dia juga merasa kalau dirinya sedang diremehkan oleh mereka.
Sementara, Prita tampak biasa saja menghadapi situasi seperti itu. Tubuhnya paling rendah dan badannya paling kecil di antara mereka.
"Akhirnya anakku datang juga." sambut Samuel kegirangan. Awalnya dia kira Bayu tidak akan datang. Ternyata ancamannya sangat berguna. Bisa malu kalau sampai Bayu tidak datang.
Bayu memberikan hormat kepada Tuan Saddam, lalu kepada wanita yang sepertinya adalah istrinya, kemudian kepada wanita muda yang ternyata tidak asing baginya. Wanita yang pernah ia selamatkan saat pesta perjamuan makan Tuan Hanung. Bayu tak menyangkan kalau wanita itu adalah putri dari Tuan Saddam. Diakah wanita yang akan dijodohkan dengannya?
__ADS_1