ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Menuju Bagaskara Corp


__ADS_3

It's just a fiction ya, teman-teman. Apa yang diceritakan di sini murni hasil imajinasi penulis. Kalau mau berkomentar, berkomentarlah tentang tokoh/karakter/jalannya cerita, bukan menyudutkan penulis. Kalau tidak suka, jangan dibaca. Novel ini tidak akan memberikan akhir yang bahagia untuk Ayash, karena karakter utamanya itu Bayu.


Ditunggu votenya 😘


 


"Nona, Anda yakin ingin meninggalkan Bos sendiri?"


"Ya, Alex. Aku masih kesal dengannya."


"Saya minta maaf ya, sudah berbicara tidak sopan terhadap Anda." Tiba-tiba Alex merasa malu mengingat apa yang diucapkannya beberapa saat lalu.


"Apa kata-katamu yang tidak sopan, ya?"


"Apa.... yang kamu bilang.... mau denganku kalau bosmu mencampakanku?"


Wajah Alex langsung memerah.


"Saya hanya asal bicara saja karena kesal." Alex mencoba berkilah.


Prita tertawa kecil, "Santai, Alex. Aku tidak marah, kok."


"Rasanya baru kemarin aku melihatmu memakai seragam SMP. Tidak terasa usiamu sudah 20 tahun, ya."


"Tapi di mataku kamu tetap seperti anak kecil."


"Nona Prita juga masih terlihat sama seperti enam tahun yang lalu, tidak menua sama sekali. Sepertinya sekarang kita sudah seumuran."


"Hahaha.... kalau aku masih muda, berarti kamu masih bayi, Alex."


Zztt.... Zztt....


Alat komunikasi yang terpasang di telinga Alex tiba-tiba berbunyi.


"Maaf Nona Prita, ada panggilan dari Pak Ben."


Alex dan Prita menghentikan obrolannya.


"Alex.... "


"Iya, Pak Ben?" Alex menjawab panggilan itu sembari menyetir mobil.


"Katakan kepada Bos Bayu, aku dalam perjalanan ke Bagaskara Corp. Dokumen itu tidak ada di mansion."


Alex melambatkan mobilnya, "Em.... Pak Ben, tapi saya tidak sedang bersama Bos Bayu." Alex melirik ke arah Prita.


"Anda hubungi Bos Bayu sendiri, ya."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah komunikasinya dengan Ben berakhir, Alex menepikan mobil.


"Nona Prita, katanya Ben mau ke perusahaan milik Tuan Samuel. Tapi kita meninggalkan Bos Bayu sendiri. Apa kita harus kembali lagi?"


"Untuk apa? Dia sudah dewasa, bisa pergi sendiri. Kamu jalankan saja lagi mobilnya." Prita yang masih memiliki rasa marah kepada Bayu berusaha untuk mengabaikannya.


"Kemana?"


Prita berpikir sejenak, apakah dia akan kembali ke rumah atau sekalian pulang ke Kota S.


"Kita ikuti Ben saja, Alex." ucap Prita.


"Anda yakin?"


"Iya. Aku ingin tahu Ben mau apa di sana."


*****

__ADS_1


Bayu masih berada di depan Restoran dan Hotel XXX. Dia kebingungan karena sudah ditinggalkan oleh Prita dan Alex. Sepertinya terpaksa ia harus naik taksi untuk pulang daripada menunggu anak buahnya menjemput. Akhirnya, Bayu kembali berjalan dari arah parkiran menuju depan lobi hotel.


"Bayu!"


Langkahnya terhenti saat mendengar suara orang yang memanggilnya.


"Bara?" gumamnya.


Bayu sedikit mengerutkan dahi, melihat Bara bersama dengan Valerie.


"Kalian saling mengenal?" tanya Valerie.


"Ya, Bayu temanku."


"Aku.... "


Perkataan Bayu terhenti saat mendengar teleponnya berbunyi. Ben menghubunginya.


"Sebentar, aku angkat dulu teleponnya."


"Halo, Ben. Kenapa? Apa ada masalah?"


"Saya tidak menemukan dokumen itu di manapun. Jadi saya akan mencarinya di kantor."


Bayu membulatkan matanya, Ben akan pergi ke kantor ayahnya?


"Kamu ke sana dengan siapa?"


"Saya pergi sendiri."


"Ben! Jangan nekad! Tunggu aku."


"Sebentar lagi saya sampai di sana."


"Ben! Ben!"


"Kenapa, Bay?" tanya Bara kepada Bayu yang seperti orang kebingungan.


"Apa kamu membawa mobil?"


"Ya, kenapa?"


"Antar aku sekarang!"


Bayu menyeret paksa Bara untuk mengantarkannya ke perusahaan milik ayahnya.


"Valerie, aku pergi dulu. Kamu juga langsung pulang!" seru Bara sambil setengah berlari mengikuti Bayu.


"Kemarikan kunci mobilnya, biar aku yang menyetir!"


Bara melemparkan kunci mobilnya kepada Bayu. Bergegas mereka menaiki mobil. Bayu segera melajukan mobil itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Heh! Jangan ngebut! Di sampingmu ini polisi, loh!" Bara sampai harus mengencangkan sabuk pengamannya karena Bayu mengebut.


"Aku buru-buru, tolong anggap kali ini kamu tidak melihatku." Bayu tetap fokus pada kemudinya tanpa menurunkan kecepatannya.


"Kalau seperti ini polisi lalu lintas yang akan mengejarmu."


"Aduh! Kenapa lampu merah kamu terobos!"


Bara mengomel sepanjang jalan karena Bayu membawa mobilnya secara ugal-ugalan. Bayu tak mendengarkan ocehan Bara. Ia tetap mengemudi dengan gayanya. Fokusnya saat ini agar segera sampai di tempat tujuan.


"Tuh kan.... Kita dikejar polisi itu di belakang!"


Bara semakin panik melihat mobil polisi yang mengejar mereka. Orang di sampingnya itu memang benar-benar gila.


"Hentikan mobilnya, cepat!"

__ADS_1


"Kenapa panik begitu sih? Bukankah kamu juga polisi, kenapa takut dikejar polisi. Biasa saja mukanya.... "


"Ini mobilku, ya! Kalau ditilang aku yang kena! Kamu benar-benar mau mencoreng citra baikku sebagai seorang polisi."


"Hahaha.... Maaf, maaf.... Nanti bilang saja mobilmu dibajak orang gila."


Bayu semakin menambah kecepatan mobil, tak mau disaingi oleh polisi yang mengejarnya. Setiap mobil yang ada mobil di depannya, ia lewati dengan gesit. Bara tidak melepaskan pegangannya.


"Ah, sh*it! Pasti ayahku akan menyita mobil ini."


Bara masih memikirkan apa saja yang akan terjadi nanti. Ayahnya pasti marah mengira ia yang ugal-ugalan di jalan. Lalu, polisi akan menilangnya karena melanggar rambu lalu lintas, marka jalan, dan ambang batas kecepatan berkendara. Kalau terjadi kecelakaan, mereka akan dituduh telah melakukan pembunuhan berencana.


"Lebih baik aku kembali ke pedalaman....!" Pekik Bara memikirkan masalah yang akan dihadapinya.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai di depan gedung Bagaskara Corp yang sudah mulai sepi. Bayu mengarahkan mobilnya ke arah basement untuk parkir. Di sana, ia melihat mobil jeep yang digunakan Ben sudah ada di sana. Berarti sepertinya dia sudah masuk ke dalam.


"Kenapa kita kesini?" tanya Bara penasaran.


"Kamu sudah boleh pulang sekarang. Selanjutnya itu urusanku."


Bayu buru-buru turun dari mobil, menyerahkan kembali kunci mobil kepada Bara.


"Enak saja! Setelah membuat kekacauan di jalan, kamu menyuruhku kembali membawa mobilku? Tanggung jawab kamu, sialan!"


Di arah seberang, matanya menangkap mobil ayahnya juga terparkir di sana. Situasi semakin gawat. Ben bisa peetemu dengan ayahnya. Samuel pasti sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Samuel tidak akan membiarkan mereka membongkar semua kejahatannya.


Bayu semakin mempercepat langkahnya. Bayu berjalan menyusuri basement menuju arah lift. Bara masih membuntutinya di belakang.


"Pulang, Bara. Ini bukan urusanmu."


"Tidak mau. Kamu sendiri yang membawaku kemari. Jika polisi-polisi itu mengejar kita sampai di sini, kamu harus mengaku kalau kamu yang sudah membawa mobilku!"


Setibanya di depan pintu lift, langkahnya terhenti sejenak. Ia menengokkan kepalanya ke samping kiri, ada Maserati GrandCarbio miliknya terparkir di sana. Seketika jantungnya hampir terhenti, itu artinya istrinya ada di sana.


Bayu langsung berlari ke arah lift sekuat tenaga. Bara ikut-ikutan berlari. Pintu lift ditekan berkali-kali seperti orang emosi. Bayu sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam sana.


"Kenapa, ada apa? Apa kamu kesurupan?" Bara kembali keheranan melihat kegugupan Bayu, sementara pintu lift belum mau terbuka juga.


"Istriku ada di sini." ucapnya sambil terus berusaha membuka pintu lift itu.


"Memangnya kenapa kalau istrimu ada di sini?"


"Sumlah, ya! Jangan banyak bertanya lagi!" bentak Bayu.


Akhirnya, pintu lift terbuka. Bayu dan Bara segera masuk ke dalamnya. Bayu menekan lantai teratas, dimana letak ruang kerja ayahnya.


"Maaf aku membentakmu. Kondisinya genting."


Bayu mengambil pinstol dari dalam kantongnya, mengecek peluru yang ada di dalamnya. Masih ada tiga peluru.


"Aku sudah bilang, warga sipil dilarang membawa senjata api."


Bara berusaha menahan tangan Bayu, namun Bayu segera menepisnya dan memasukkan kembali pistol ke dalam saku jasnya.


"Aku juga sudah bilang, aku tidak akan menggunakan ini jika polisi bisa melindungi warga sipil sepertiku."


"Ayahku ada di sini, kemungkinan nyawa istriku terancam."


"Kenapa bisa begitu?"


"Dia sama dengan Tuan Saddam. Dia tidak akan membiarkan kejahatannya kami bongkar."


"Kamu yakin, ayahmu berbuat seperti itu?"


"Ya."


"Dan dia tidak akan menyerah begitu saja. Lakukan tugasmu sebagai seorang polisi dengan benar jika tidak mau aku melanggar hukum."

__ADS_1


Bara masih belum paham apa yang sedang terjadi. Tapi, ia juga ikut memeriksa pistol miliknya untuk berjaga-jaga. Peluru yang ada di dalamnya masih lengkap.


__ADS_2