
"Uhhh.... Lucunya.... "
"Coba ambilkan topi yang itu.... Sepertinya akan lebih lucu.... "
"Eh, topi yang pink itu saja, itu lebih lucu!"
Irgi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Raeka yang tengah asyik mendandani bayi empat bulan itu. Semenjak ada bayi di rumahnya, Raeka menjadi orang yang terlihat sangat sibuk. Hari-harinya tak pernah dilewatkan untuk menemani bayi yang mereka beri nama Pricillia Aurora Mahesha atau Cilla.
Dua pengasuh yang Irgi berikan rasanya tidak ada gunanya karena Raeka tetap ingin mengasuhnya sendiri. Kurang tidur, kelelahan, hingga terlewat waktu makan sudah Raeka rasakan. Anak manja itu tiba-tiba menjadi sangat keibuan. Meskipun tidak melahirkan anak itu sendiri, namun kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada Cilla tak berbeda dengan kasih sayang dari seorang ibu kandung.
Raeka sangat posesif kepada anaknya. Ia ingin menguasainya, sampai pengasuh atau bahkan Irgi tak boleh ikut-ikutan menyentuhnya selama dia belum merasakan lelah.
Ada banyak sisi positif dengan kehadiran Cilla di rumah itu. Raeka tampak menjadi lebih bahagia dan tentunya menjadi sangat rajin. Yah, meskipun perhatian untuk Irgi jadi berkurang. Biasanya, Raeka suka bermanja-manja padanya, selalu menginginkan agar Irgi cepat pulang dari kantor karena kangen. Sekarang, bisa tidur bersama istrinya saja sudah merupakan anugerah. Karena terkadang Raeka ikut tidur di kamar Cilla.
Kali ini, Irgi ingin mengajak Raeka dan Cilla main ke rumah Prita. Sudah setengah jam lebih Raeka masih saja sibuk mendandani Cilla. Padahal, bayi itu juga masih kecil dan tidak tahu tentang fashion. Untuk apa Raeka repot-repot mendandaninya. Toh Cilla juga bukan foto model.
"Sayang, apa Cilla sudah cantik?"
Raeka menunjukkan Cilla yang sudah ia dandani. Irgi ikut terkesima melihat keimutan anak itu. Rasa kesalnya jadi hilang setelah melihat Cilla.
"Oh, anak papa cantik sekali. Sini papa gendong."
"Tidak boleh, nanti dandanannya rusak kalau papa yang gendong. Biar mama saja. Iya kan, Sayang....?"
Lagi-lagi Irgi kehilangan kesempatan untuk menggendong Cilla. Akhirnya ia mengalah saja hanya membuntuti Raeka dari belakang yang terlihat kegirangan dengan hasil dandanannya.
Irgi bagaikan bodyguard sekaligus sopir jika jalan dengan Raeka dan Cilla. Raeka akan sibuk dengan Cilla dan mengabaikannya. Sesekali Irgi juga ingin dekat dengan Cilla, tapi biasanya ia akan rebutan dengan Raeka.
"Sayang.... Aku juga mau gendong Cilla." rengek Irgi sembari fokus mengemudikan mobilnya.
"Kamu kan sedang menyetir.... Nanti saja kalau sudah sampai." Raeka sibuk memainkan mainan untuk menghibur Cilla.
"Benar, ya.... Kalau aku tidak boleh bermain mengajak Cilla, nanti aku mau langsung pulang."
"Oh, iya, Sayang. Mainan untuk Daniel, Dean, dan Livy apa sudah kamu masukkan?"
__ADS_1
"Sudah, ada di bagasi."
"Oke. Apa Ayash juga nanti akan datang?"
"Tentu saja. Daniel kan juga anak Ayash, masa Prita membuat acara makan bersama untuk kelulusan TK Daniel tapi Ayash tidak diundang, kan lucu."
"Bukan begitu, tapi aku kasihan dengan dia."
"Kenapa kasihan?"
"Ya, kan kita ini berpasangan, Prita dan Bayu juga. Apa tidak menyakitkan untuk Ayash menyaksikan keharmonisan keluarga Prita?"
"Tidak apa-apa, sakit itu sih pasti. Tapi Ayash orang yang kuat. Dia sudah biasa untuk hal seperti itu."
"Dia betah banget sendiri. Masa tidak mau kenalan dengan wanita lain."
"Ya, kalau sendiri membuat dia nyaman dan bahagia, untuk apa juga menikah? Dia juga pernah menikah dengan Andin, tapi akhirnya bercerai juga, kan?"
"Itu kan cerita beda.... "
"Sudahlah, Ayash itu sangat bahagia dengan hidupnya. Dia juga tidak merasa kesepian. Apalagi Daniel dan Dean lebih sering tinggal bersamanya daripada dengan Prita."
"Tapi.... Tetap saja.... "
*****
"Papa Irgi.... Mama Raeka.... "
Daniel dan Dean langsung berlari menghampiri mobil Irgi. Dia sangat kegirangan dengan kedatangan mereka berdua. Apalagi, di tangan Irgi ada tiga kantong yang berisi mainan. Tentu saja kedua anak itu akan sangat bersemangat menyambutnya.
Di area taman, tampak Bayu dan Prita sedang berkutat dengan tungku barbeque. Sepertinya mereka sudah mulai memasak makanan yang akan mereka santap sore ini. Beberapa pelayan rumah juga ikut sibuk mempersiapkan makanan dan minuman pendamping. Padahal, acara makan-makan yang mereka lakukan hanya untuk lima orang dewasa. Ayash sudah ada di sana sedang menggendong Livy sembari memainkan balon.
Daniel dan Dean kembali berlari ke arah taman setelah mendapatkan mainan masing-masing. Mereka langsung membuka dengan antusias mainan yang didapatkan.
"Livy, ini mainan untukmu." Irgi memberikan paper bag berisi mainan untuk Livy.
__ADS_1
Ayash membantu Livy menerima mainan yang agak berat itu, "Bilang apa kalau diberi sesuatu?"
"Teyima kacih Papa Iygi.... " ucap Livy.
Irgi tertawa mendengar perkataan anak dua tahun yang belum terlalu jelas itu.
"Livy, itu ada adik Cilla."
"Dik Ciya.... "
"Halo, Kak Livy.... " Raeka menggerak-gerakkan tangan Cilla. "Livy, ayo turun dan main bareng Cilla."
Raeka mengajak Livy duduk bersamanya pada tikar yang sudah dihamparkan di atas rumput taman. Daniel dan Dean juga ada di sana asyik memainkan mainan yang baru mereka dapatkan.
"Aku dan Ayash membantu mereka dulu, ya.... " ujar Irgi.
Raeka mengangguk. Irgi dan Ayash berjalan menghampiri Prita dan Bayu yang masih sibuk membuat barbeque. Sore ini mereka akan pesta barbeque.
Perut Prita sudah terlihat membesar. Kandungannya saat ini telah berusia tujuh bulan. Namun, seperti kehamilan-kehamilannya sebelumnya, bagian tubuhnya yang membesar hanya bagian perut saja, sementara bagian tubuh yang lain tidak terlalu ada perubahan. Kata Prita, bayi yang saat ini dikandungnya adalah seorang bayi laki-laki. Jadi, nantinya dia akan memiliki tiga jagoan dan satu princess. Pasti Livy akan menjadi anak yang paling manja karena anak perempuan sendiri. Persis seperti Raeka.
"Bumil, kamu duduk dulu sana. Biar di sini laki-laki saja yang mengurusi." ucap Irgi.
"Hais, aku tidak percaya dengan tanganmu. Kamu kan orang yang paling tidak bisa memasak. Nanti malah gosong semua." celoteh Prita.
"Sudah, Ta. Kesana saja, sekalian menemani Livy. Takutnya dia memukul Cilla. Dia kalau gemas kan suka tidak kira-kira." ujar Ayash.
"Ya sudahlah. Mas, aku ke sana dulu, ya."
Prita melepas apronnya seraya meminta ijin kepada Bayu.
"Iya, Sayang. Kesana saja."
"Jangan bertengkar!" tegas Prita sebelum pergi.
Kalau untuk Bayu dan Ayash, Prita yakin akan damai. Tapi, tidak dengan Irgi. Dia yang paling harus dikhawatirkan karena ucapannya itu tidak bisa disaring. Bayu juga sering kesal karena ulahnya.
__ADS_1
"Halo, Cilla.... Cantiknya.... " Puji Prita.
Cilla tertawa seperti tahu apa yang Prita ucapkan. Meskipun sudah memiliki tiga anak, tapi Prita tetap merasa gemas setiap melihat bayi. Ia jadi tidak sabar menantikan kelahiran anak keempatnya.