ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Appetizer


__ADS_3

"Mau mandi sendiri atau aku mandikan?"


Prita mendengus kasar. Di saat seperti ini, suaminya masih sempat menggodanya.


Tadi Bayu membawa Prita ke ruangannya. Di sana memang ada satu kamar lengkap dengan kamar mandinya. Ada beberapa pakaian milik Bayu yang tertata rapi di sana. Sepertinya kamar itu memang diperuntukkan bagi Bayu saat harus menginap.


Saat ini Prita sudah melepaskan pakaiannya yang penuh kotoran. Ia hanya mengenakan br*a dan cela*na dal*am. Dia kira itu hal yang biasa, tapi ternyata membuat suaminya tidak mau keluar dari kamar mandi. Matanya terus memperhatikan dirinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Mas, look at me! Badanku sangat kotor, bau, dan kamu masih bernaf*su?"


Bayu mangguk-mangguk dengan polosnya. Fokusnya bukan pada kotoran yang menempel, tapi pada tubuh istrinya yang selalu berhasil membuatnya menegang.


"Aku kan sudah biasa memandikanmu, Sayang. Aku khawatir kalau kamu mandi sendiri nanti kurang bersih. Kalau aku yang memandikan, sampai ke dalam-dalam aku bersihkan."


"Bagaimana kalau aku ikut mandi sekalian? Badanku juga kotor karena tadi memelukmu."


"Ya nanti, gantian. Tunggu orang yang kamu suruh beli baju kembali. Kan malu Mas, kalau dia masuk ternyata tidak ada orang. Pasti ketahuan deh kalau kita lagi mandi bareng di kamar mandi."


"Memangnya kenapa kalau ketahuan?"


"Kita kan sudah menikah. Kenapa mesti takut kayak mau ada razia."


"Katanya mau menghukum mereka?" Prita mengingatkan.


Bayu memang aneh, di saat menghadapi kekacauan yang ada di bawah sana, dia masih sempat-sempatnya mengajak sang istri untuk melayaninya. Mungkin julukan suami naf*suan yang tidak kenal tempat cocok disematkan untuknya.


Tadi saja di bawah dia terlihat sangat galak. Satu sentakan darinya bisa membuat seluruh karyawan terdiam. Bisa dibayangkan betapa takutnya mereka dengan ketegasan yang Bayu berikan. Di depan istrinya, kelakuannya berubah seperti bayi yang memanja dan segala permintaannya harus dipenuhi.


"Sebelum itu mau memberi hadiah dulu yang enak untuk istriku." Bayu memeluk tubuh istrinya.


"Nggak sekarang, nanti malam saja." Prita berusaha melepaskan diri dari jeratan suaminya sendiri.


"Memangnya kenapa?" wajahnya dimanyunkan karena kecewa mendengar penolakan.


"Mas suka lama!" Protes Prita.


"Kali ini bisa cepat, kok.... " Bayu merajuk, membujuk istrinya agar mau menuruti keinginannya.

__ADS_1


"Sepuluh menit cukup?"


Bayu mulai memikirkan waktunya. "Itu buat pemanasan juga masih kurang lama, Sayang.... Nanti kalau nggak pemanasan kamu sendiri yang kesakitan. Nanti nangis.... " cibir Bayu.


Prita sudah tahu kalau suaminya tidak mungkin mau kalau dibatasi waktu. Dia suka semaunya sendiri. Apalagi kalau miliknya masih bangun, bisa diulang beberapa kali sampai semalam suntuk.


"Tiga puluh menit ya, nggak ada tawar-menawar lagi." tegas Prita.


"Oke." Bayu menjawabnya dengan penuh kegirangan.


"Kamu masuk duluan, aku mau ke depan sebentar."


Bayu mengerlingkan sebelah mata sebelum pergi keluar kamar. Ia menemui orang-orangnya yang ada di depan ruangannya.


"Fredi, tolong jaga di luar sini, jangan ada yang masuk ke dalam."


"Kalau Reni datang, taruh saja barangnya di atas meja."


"Pokoknya, kalian jangan ada yang mengganggu!"


"Baik, Tuan."


Segera ia tanggalkan pakaiannya lalu bergabung dengan istrinya di bawah pancuran yang sama. Mereka mandi bersama, membersihkan tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Bayu memeluk istrinya dari belakang. Tangannya tidak bisa diam, ia gerakkan untuk menyusuri tubuh istrinya. Sementara bibirnya sibuk memberikan kecupan-kecupan kecil di area leher. Ia sengaja menekan miliknya pada bagian belakang Prita. Membuat istrinya sesekali menge*rang.


Kedua tangan Prita bertumpu pada dinding ketika tangan suaminya mulai merambah ke bawah sana. Memanjakan miliknya dengan tekanan-tekanan kecil yang memabukkan. Jemari-jemari itu seakan telah terlatih untuk mengetahui setiap titik yang bisa membuatnya melayang. Belum lagi tangan satunya yang tak berhenti bermain di payud*aranya, memberikan pijatan yang semakin membuatnya ingin dipuaskan.


"Uuhh.... Ahhh... Hngg.... "


Prita semakin merancau, tandanya ia segera akan kli*maks. Bayu semakin menambah tempo gerakan pada titik sensitif istrinya. Hingga akhirnya sang istri terkulai lemas setelah mencapai pelepasan. Bayu menahan tububnya agar tidak jatuh. Dipapahnya tubuh kecil sang istri menuju ranjang dalam kondisi badan yang masih basah kuyup.


"Mas masukin ya, Sayang.... "


Prita hanya mengangguk dalam kondisi badan yang masih lemas.


"Hngg.... Euh.... " Prita menahan erangan saat merasakan sesuatu memasuki miliknya.

__ADS_1


Gerakannya pada mulanya pelan-pelan, membuatnya yang baru pelepasan bisa kembali terang*sang. Suaminya memang paling pintar memanjakannya. Lambat laun gerakannya semakin dipercepat dan mampu membuat keduanya terkulai lemas.


Bayu menepati janjinya untuk tidak berlama-lama menikmati kesenangan mereka. Meskipun sebenarnya satu kali belum cukup, setidaknya akan ia anggap sebagai hidangan pembuka. Nanti malam ia akan menagihnya lagi.


Bayu kembali membawa Prita ke kamar mandi. Ia bersihkan kembali tubuh istrinya hingga bagian-bagian terdalam sampai dirasa bersih.


Bayu lebih dulu mengenakan pakaian barunya dengan rapi. Pakaian yang ia ambil dari lemari, memang sudah disediakan untuknya. Kemudian, ia keluar dari kamar, ternyata pakaian yang ia pesan sudah datang.


Segera Bayu bawa pakaian itu kembali ke kamar. Reni membawakan setelan blouse dan celana serta pakaian da*lam. Reni memang karyawan yang bisa diandalkan. Inisiatifnya sangat tinggi. Bayu sendiri sampai tidak kepikiran untuk memberikan pakaian da*lam juga.


Bayu memandangi istrinya berganti pakaian tanpa berkedip. Katakanlah dia suami yang mesum, karena saat ini saja dia sudah mau minta nambah. Tapi, karena sudah janji, dia akan menahan dirinya sampai nanti malam. Hari ini dia akan menyelesaikan urusannya dengan para karyawannya yang kurang ajar.


Istrinya tampak cantik dengan pakaian simpel yang Reni pilihkan. Dia tampak anggun.


"Sudah siap ke bawah?" tanyanya.


Prita mengangguk.


Bayu meraih tangannya, menggandengnya, dan membawanya berjalan keluar dari dalam kamar. Di depan ruangan masih setia menunggu Fredi dan keempat penjaganya.


"Apa semuanya sudah beres?"


"Sudah, Tuan. Sudah saya pisahkan orang-orang yang tidak terlibat."


"Ada berapa orang?"


"Lima belas orang."


Bayu melirik ke arah istrinya, "Sayang, kamu dikeroyok tiga belas orang dan hanya diam? Kamu bisa memukul kan, atau setidaknya menendang?"


"Aku bilang kan ingin menyenangkan mereka, Mas. Karen itu aku diam. Rasanya tidak sakit, kok."


Prita hanya sedikit marah, tapi dia sama sekali tidak merasa sakit hati. Ia sudah pernah merasakan yang lebih parah dari itu yaitu saat SMA oleh Raeka. Yang tadi itu bukan apa-apa baginya.


"Lain kali tidak boleh begitu, ya! Lawan balik kalau mereka mengganggumu."


"Iya.... " jawab Prita agar pembahasan mereka cepat selesai.

__ADS_1


Padahal mood-nya sudah sangat membaik setelah bercinta. Kenapa Bayu masih menyuruhnya untuk marah-marah? Dia sendiri sampai lupa tadi apa yang sudah mereka perbuat kepadanya. Yang dia ingat yang enak-enak tadi yang baru saja suaminya berikan.


__ADS_2