ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Penangkapan Bayu 2


__ADS_3

"Aku sebenarnya bingung seharusnya menangkapmu Tau memberimu penghargaan."


"Kenapa?"


"Kamu yang sudah melakukan kejahatan, tapi kamu juga yang membongkarnya. Menurutku hanya orang gila yang bisa melakukan hal itu."


Bayu tersenyum sembari mengaduk kopi yang Bara pesankan untuknya. Bara datang untuk membawanya ke kantor polisi. Sebelum itu, Bara mengajaknya ngobrol santai di kafe. Sebuah proses penangkapan yang sangat melenceng dari SOP.


"Mungkin aku memang sudah gila."


Lebih tepatnya gila karena cinta. Siapa lagi yang bisa membuat seorang Bayu bisa seperti itu kalau bukan istrinya sendiri. Prita pernah berkata jika ia menginginkan Bayu memiliki kehidupan yang normal, tidak berhubungan lagi dengan hal-hal yang berbahaya. Dia tidak suka setiap kali melihat ada luka baru di tubuh Bayu.


"Aku tidak bisa membantumu lari dari tuntutan hukum. Tapi, aku bisa membuatmu menjalani masa hukuman yang tidak terlalu lama, asalkan kamu mau bekerjasama."


"Apa kamu yakin berkata seperti ini kepadaku? Bukankah kamu seorang polisi yang memiliki dedikasi tinggi? Sepertinya aku beberapa kali mendengarkan kata-kata itu."


Bara tertawa kecil, "Kalau aku tidak memiliki dedikasi terhadap pekerjaanku, mungkin aku sudah melepaskanmu begitu saja. Tapi, aku ingin tetap membuatmu mempertanggungjawabkan perbuatan yang pernah dilakukan."


"Memenjarakan orang yang sudah bertaubat sepertimu hanya akan membuat penjara semakin penuh saja. Lebih baik memenjarakan para koruptor yang selalu bersembunyi di balik kekuasaannya."


"Kalau kamu ingin memenjarakan mereka, pakai saja data-data yang sudah aku berikan padamu. Apa kamu belum mempelajarinya?"


"Sudah, aku sudah membaca-baca dengan ayahku. Dan kami sangat kaget. Ayahmu terlalu banyak terlibat dengan orang-orang kalangan atas. Nama-nama yang selama ini terlihat baik di mata masyarakat ternyata menyimpan banyak kebusukan di belakangnya."


"Ayahku bilang kamu gila, bisa memberikan informasi serahasia itu kepadaku."


"Itulah sebabnya ayahku membunuh Ben. Dan dia juga ingin menyingkirkan aku, anaknya sendiri."


"Sebenarnya aku hanya ingin dia menyerah dan mengakhiri kejahatannya. Tapi, sampai akhir dia lebih memilih untuk menghabisiku daripada menyerah."


"Di kepolisian nanti, jawab saja pertanyaan seputar penyelundupan ganja itu. Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan tentang hal lain. Termasuk tentang kematian ayahmu. Bilang saja kalau kamu berusaha melarikan diri karena ayahmu berusaha membunuhmu, lalu polisi datang menyelamatkan kamu dan istrimu."


"Lakukan seperti itu jika kamu ingin kembali berkumpul dengan istrimu."


"Aku juga akan ikut memberi kesaksian yang meringankanmu tentang kasus penyelundupan itu. Katakan kepada mereka kalau kamu melakukannya di bawah ancaman. Mengerti?"

__ADS_1


Bayu hanya mengangguk. Ia merasa pertemuannya dengan Bara merupakan sebuah takdir yang memang sudah diatur oleh Tuhan. Jika Tuhan tidak memberikan pengampunan terhadap dosanya, tidak mungkin dia dipertemukan dengan orang seperti Bara yang bisa memahami kondisinya.


"Sebelum kamu membawaku ke kantor polisi, bisa antar aku dulu ke suatu tempat?"


"Kemana?"


Sesuai permintaan Bayu, Bara mengantarkannya ke sebuah tempat pemakaman termahal di Kota J. Taman Surga, tempat pemakaman elit yang jauh dari kesan angker dan serah seperti makam pada umumnya, tempat peristirahatan terakhir bagi kalangan atas yang punya banyak uang dan ingin mengenang orang yang pernah mereka sayang semasa hidup.


Di tempat itu, terdapat dua makam yang bersebelahan, makam Samuel dan Ben. Bayu meletakkan buket bunga yang dibawanya di antara kedua makam itu.


Saat hari pemakaman kedua orang yang pernah menemani perjalanan hidupnya itu, Bayu tidak bisa ikut menyaksikan. Ia harus menemani Prita yang baru saja selesai di operasi.


Sebelum menjalani kehidupan baru di balik jeruji besi, setidaknya ia ingin mengunjungi makam mereka terlebih dahulu.


Saat mengingat kembali tentang Ben, air matanya luruh begitu saja. Dia masih belum bisa menerima kematian Ben. Seharusnya Ben masih hidup dan bisa menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya.


"Ben adalah anak dari sopir ayahku. Umurnya terpaut dua tahun lebih tua dariku."


"Aku tidak pernah merasakan kehidupan sekolah formal seperti anak-anak yang lain. Sejak SD hingga SMA, aku ikut home schooling. Jadi, aku tidak memiliki teman, temanku hanya Ben."


"Saat SMP, ayahnya meninggal. Dia hidup sebatangkara. Ayahku berbaik hati menyekolahkannya hingga lulus perguruan tinggi."


"Aku yakin dia tidak akan menyesal dengan kematiannya, karena kamu sudah memperlakukannya dengan baik semasa hidupnya." Bara menepuk pundak Bayu.


"Kalau dipikir-pikir, aku sangat tidak sopan sejak pertama bertemu denganmu. Umur kita beda jauh, dan aku hanya memanggilmu dengan sebutan nama."


"Hahaha.... Itu terserah kamu saja. Aku juga seperti itu kepada Ben, aku hanya memanggil namanya meskipun dia lebih tua dariku."


Bayu bangkit dari duduknya, "Baiklah, sekarang kamu bisa membawaku ke kantor polisi."


Bayu menyerahkan kedua tangannya. Bara mengambil borgol dari dalam saku jaketnya, lalu memasangkannya pada kedua pergelangan tangan Bayu.


"Ini pertama kalinya aku bersikap lemah lembut kepada seorang penjahat."


"Hahaha.... Dan kamu bahkan berteman dengan orang yang kamu sebut penjahat ini."

__ADS_1


Bara kembali membawa Bayu dengan mobilnya. Kali ini, tujuannya membawa Bayu ke kantor polisi.


Sesampainya di sana, petugas interogasi sudah menunggu untuk meminta beberapa keterangan dari Bayu terkait kasus yang sedang ditangani oleh kepolisian. Bara tidak termasuk ke dalam tim interogasi, ia bertugas membawanya saja.


Bayu harus menghadapi pertanyaan demi pertanyaan yang ditujukan padanya. Sikapnya begitu tenang dan jawabannya sangat santai seperti mengalir apa adanya. Saran yang diberikan oleh Bara untuk menjawab seperlunya ia lakukan. Jika Bayu salah bicara, Bara juga akan terseret juga karena ulahnya.


Status Bayu yang awalnya hanya sebatas sebagai saksi, sudah naik menjadi tersangka. Untuk sementara, ia harus tinggal di dalam ruang penjara sementara sambil menunggu proses penyelidikan selanjutnya.


Di dalam tempat baru itu, Bayu tidak sendiri. Ada banyak orang yang ditahan sementara di sana karena menunghu proses hukum yang masih berlangsung. Orang-orang yang ada di dalam sana, tak terbatas usia, mulai dari yang sudah tua, sampai yang berusia belasan tahun akhir. Mereka masuk ke dalam sana dengan alasan yang berbeda-beda, mulai dari tindak pidana ringan hingga tindak pidana berat seperti dirinya.


Bayu juga bertemu dengan Tuan Saddam yang tampak depresi duduk sendirian di pojokan. Penampilannya acak-acakan, mungkin dia sangat stres dan syok menghadapi kenyataan jika dirinya kini harus berurusan dengan hukum.


Bayu berusaha duduk di sebelahnya.


"Akhirnya kamu tertangkap juga. Senang ada teman yang aku kenali. Hahaha.... "


"Aku dengar ayahmu dan anak buahnya yang bernama Ben itu sudah mati tertembak polisi."


"Iya, Anda benar." Jawab Bayu singkat. Dia tidak ingin Saddam tahu jika ayahnya mati karena dirinya.


"Menurutmu, mana yang lebih baik? Mati atau tergangkap polisi?"


Rupanya Saddam masih bisa normal juga jika diajak berbicara. Mungkin sejak tadi dia terlihat depresi karena tidak ada teman bicara.


"Aku memilih tertangkap polisi, artinya dipenjara lebih baik daripada aku harus mati di tangan mereka."


"Hukumanmu akan lebih ringan dariku, karena posisimu hanya sebahai kurir. Sementara, aku dijerat dengan tuduhan kepemilikan barang ilegal, pengedar, dan bandar. Hukumanku minimal 20 tahun penjara atau hukuman mati."


"Seumur hidup di dalam penjara bagiku sama artinya dengan mati."


"Setidaknya orang yang masih hidup di dalam penjara memiliki kesempatan untuk berbuat baik dan bertaubat. Siapa tahu bisa menebus kesalahan-kesalahan di masa lalu."


"Hahaha.... Kedengarannya kamu seperti seorang penceramah di sini."


"Kenapa kamu tidak kabur saja ke luar negeri?"

__ADS_1


"Lari dari masalah hanya akan menambah masalah yang lain." ucap Bayu dengan santai.


Saddam hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari pemuda di sampingnya itu. Dia terlalu tenang menghadapi masalah seperti ini, seakan dia sudah tidak tertarik lagi membahas tentang kebebasan.


__ADS_2