
Arga membawa Andin masuk ke satu ruang rawat pasien dengan kondisi khusus. Di sana, ada seorang wanita yang terbaring di ranjang perawatan. Disekelilingnya banyak terdapat alat medis yang tampak menakutkan. Ada monitor pendeteksi denyut jantung dan kadar oksigen yang terus berbunyi dan menampilkan grafik.
Wanita itu sepertinya koma. Tidak ada pergerakan apapun yang ditunjukkan. Ventilator terpasang pada hidungnya untuk membantu pernapasan. Sementara pada tangannya terpasang infus untuk memberikan suplai cairan serta sari-sari makanan.
"Namanya Meisya, dia mantan sekertarisku." Arga mulai membuka pembicaraan.
Andin masih terdiam. Ia belum mau berbicara dengan Arga. Setelah selesai menangis di lantai bawah, Arga memintanya untuk ikut dengannya karena ada sesuatu yang harus ia jelaskan. Dan, disinilah mereka sekarang, bersama seorang wanita dalam kondisi koma.
"Kami tidak pernah punya hubungan asmara apapun, Andin. Hubungan kami sebatas rekan kerja antara atasan dan bawahan. Tapi, sebelum kita dekat dan menjalin hubungan, aku pernah melakukan satu kesalahan besar padanya."
Arga mulai bercerita. Ia merasa, Andin berhak tau semuanya. Dia tidak akan lagi menghindar. Entah nanti respon apa yang Andin berikan, sudah saatnya dia untuk jujur.
"Saat itu, aku dalam kondisi mabuk di sebuah kamar hotel setelah berpesta dengan beberapa teman bisnisku. Aku menyuruh Glen memanggilkan seorang wanita untuk menemaniku malam itu. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke kamarku tak lama setelah itu. Aku yang saat itu sedang mabuk, mengira bahwa dia adalah wanita yang Glen bawakan untukku. Tanpa pikir panjang, aku menggaulinya sesuka hatiku."
Ada raut kesedihan yang terpancar dari wajah Andin ketika mendengar cerita Arga. Ini pertama kalinya dia tau bahwa Arga pernah tidur dengan wanita lain. Dia selalu menganggap Arga sebagai lelaki yang baik dan sopan. Selama lima tahun mereka menjalin hubungan, tidak pernah sekalipun dia melakukan hal-hal yang lewat batas. Yang ia lakukan paling hanya ciuman atau sesekali dia pernah menyentuh pay*daranya saat berciuman. Tidak pernah selama lima tahun itu mereka membawa hubungan itu pada hubungan badan. Dia kira Arga seperti itu, lelaki yang bisa menjaga kesucian pasangannya.
"Baru setelah pagi menjelang, kesadaranku pulih. Ada seorang wanita yang menangis tersedu-sedu di sampingku. Ternyata, malam itu wanita yang aku tiduri sekertarisku sendiri."
"Aku bilang aku akan bertanggung jawab. Kuberikan selembar cek padanya yang sudah aku tanda tangani dan dia bebas mengisi nominal yang diinginkannya berapapun yang dia mau."
"Tapi, setelah hari itu, dia tidak pernah datang ke kantor untuk bekerja. Dia juga tidak pernah mencairkan cek yang pernah aku berikan. Dia menghilang begitu saja tanpa kabar dan tanpa meminta pertanggungjawaban atas perbuatanku."
__ADS_1
"Sebenarnya dulu aku sempat mencarinya untuk meminta maaf. Tapi, aku tak pernah menemukannya."
"Aku kira masalah telah selesai hingga aku bertemu denganmu. Aku benar-benar mencintaimu, Andin. Aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu."
"Sejak saat itu aku sudah bertaubat untuk bermain-main dengan wanita. Dan aku sangat menjagamu, menghormatimu, karena aku rasa itu perlakuan yang wajib aku lakukan untuk seorang wanita yang aku cintai."
"Aku serius mencintaimu."
"Sebulan sebelum hari pernikahan, dia datang menemuiku dengan membawa anak perempuannya yang telah berusia delapan tahun. Dia bilang, itu adalah anakku."
"Saat itu aku sangat marah. Aku menuduhnya ingin menggunakan anak itu untuk memerasku. Jadi, aku tawarkan banyak uang untuknya asalkan dia mau pergi dan tak mengganggu hidupku. Karena aku tak mau kehidupan pernikahan kita nantinya akan terganggu dengan masa laluku. Aku menggunakan cara licik seperti itu untuk membereskan masalahku."
"Tapi, dia menolak uang yang akan aku berikan. Katanya, dia tidak butuh uangku. Yang dia inginkan hanya agar aku mengakui anak itu sebagai anakku."
"Dia memilih pergi dan tak mengambil sepeserpun uangku."
"Aku menyuruh orang untuk mengawasinya agar suatu saat tidak mengganggu kehidupan rumah tangga kita setelah pernikahan.Aku benar-benar takut kamu mengetahui semua ini dan jadi membenciku."
"Saat hari H pernikahan, Glen mengabariku kalau Meisya masuk rumah sakit. Kondisinya buruk. Aku baru tau kalau dia mengidap tumor otak."
"Dalam kondisi yang masih sadar kala itu, dia memohon padaku agar aku merawat anaknya. Katanya, selama ini mereka hanya hidup berdua. Dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi untuk menitipkan anak itu. Dia merasa akan segera mati, makanya dia mendesakku agar berjanji menjaga anak itu dengan baik."
__ADS_1
"Saat itu pikiranku sangat kacau. Satu sisi aku ingin tetap menikah denganmu. Di sisi lain, aku sangat merasa bersalah padanya. Tanpa aku tahu, bertahun-tahun aku telah membuat hidup orang lain menjadi sangat berat karena perbuatanku di masa lalu."
"Kamu pasti tidak menyangka kan, bertahun-tahun menjalin hubungan dengan lelaki bejat sepertiku?"
Air mata Andin kembali meleleh. Seumur-umur, baru kali ini dia banyak menangis. Dan semua karena Arga. Karena lelaki itu, dia mendapatkan pengalan hidup yang sangat menyakitkan, lebih dari saat ia ditinggal pergi ibunya untuk selamanya.
Dia menangisi dirinya sendiri. Dia juga menangisi nasib wanita itu. Dia tidak bisa menyalahkannya atas kegagalan pernikahan itu. Hidup wanita itu selama ini juga pasti berat, membesarkan seorang anak sendiri tanpa sanak keluarga. Lebih berat darinya yang hanya ditinggal pergi tepat di hari pernikahan.
"Kamu bisa menghukumku sekarang, Andin. Kamu boleh memukulku sepuasmu asalkan kamu mau memaafkanku."
Andin mengepalkan tangannya, dadanya sesak. Marahpun rasanya tidak cukup. Ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan untuk memuaskan rasa marahnya.
"Kamu memang hebat. Satu orang sepertimu bisa menghancurkan hidup begitu banyak orang. Kamu kira hanya dengan meminta maaf bisa mengobati rasa sakit dan mengubah keadaan ini?"
"Kamu sudah menghancurkan hidup wanita itu dan membuat anaknya hidup menderita. Kamu juga telah menyakitiku dengan cara meninggalkanku begitu saja di hari pernikahan. Kehidupan Ayash ikut berantakan hanya untuk menanggung konsekuensi dari perbuatanmu."
"Adikmu itu sudah banyak berkorban untuk menutupi kesalahanmu. Bahkan setelah semua ini terjadi, dia tidak pernah menyalahkanmu di depan orang-orang. Katanya, kamu pasti punya alasan untuk melakukan hal itu. Dia dengan tenangnya berdiri di posisimu menikahiku hanya untuk menjaga hubungan baik keluarga kita dan menghindarkanku dari rasa malu jika sampai pernikahan itu gagal. Dia tidak memikirkan perasaannya sendiri. Kehidupannya juga berantakan, harapan untuk bisa kembali bersama Prita semakin kecil karena sekarang ada aku di antara mereka."
"Seharusnya kamu meminta maaf padanya, bukan padaku saja."
"Aku menyesal bisa mencintai orang sepertimu. Dasar lelaki sampah!"
__ADS_1
Akhirnya kata-kata umpatan keluar dari mulut Andin. Dengan berderai air mata, dia tinggalkan ruangan itu. Ia tak mau lagi melihat wajah lelaki menjijikan yang setiap saat rasanya ingin ia bunuh dalam mimpi-mimpinya. Lelaki yang sudah membuat hidupnya dan orang-orang di sekitarnya menjadi berantakan.