ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kecurigaan


__ADS_3

Pikiran Prita tidak tenang setelah mengantarkan Daniel kepada papanya. Sudah seharusnya dia berkata yang sejujurnya kepada Bayu kalau dia baru saja pergi ke kantor Ayash tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu.


Anak buah Bayu banyak, bisa jadi salah satu di antaranya melihat dia membawa Daniel memasuki kantor Ayash. Lalu, dia akan melaporkan kepada Bayu. Dia tidak ingin suaminya mendengar hal itu dari orang lain. Entah nanti responnya akan marah atau memberinya hukuman, ia akan tetap berkata jujur.


Prita memasuki lobi perusahaan Bayu atau bekas perusahaan ayahnya, Minata Food. Seperti biasa, kehadirannya mencuri perhatian para karyawan yang lewat. Hal yang dia lakukan saat ada yang memperhatikannya adalah memberikan senyuman. Meskipun respon mereka seperti kurang suka dengan kehadirannya, ia berusaha menepis pikiran buruknya. Dia sendiri tidak tahu, kenapa karyawan di sana seolah membencinya. Apa mungkin hanya perasaannya saja atau dia pernah membuat kesalahan di sana, ia juga tidak tahu.


"Selamat siang, Anda Nona Prita, ya?" sapa resepsionis yang diketahui bernama Yeyen dari papan mana di bajunya. Prita mengangguk kecil.


"Kalau mau menemui Pak Bayu, silakan langsung masuk ke ruangannya saja."


Prita mengerutkan dahi. Sebelumnya, dia dilarang masuk begitu saja menemui Bayu. Tapi, hari ini, tanpa banyak pertanyaan resepsionis itu langsung mempersilakannya masuk?


"Benar, Mba, saya boleh langsung naik ke atas?" tanya Prita memastikan.


"Benar sekali, Pak Bayu sendiri yang memberi pesan agar jika Anda datang, boleh langsung masuk ke ruangannya."


"Oh, begitu. Terima kasih, ya."


"Sama-sama."


Prita senyum-senyum sendiri. Bahkan Bayu setelah menjadi suaminya bisa memikirkan hal sepele seperti itu tanpa dia minta.


Prita memasuki pintu lift. Saat berpapasan dengan karyawan, mereka masih menampilkan wajah masam padanya. Ada yang seperti memandangnya dengan jijik atau bahkan membuang muka. Ia mencoba introspeksi diri, mungkin cara berpakaiannya yang dalah atau terlalu seksi, atau ada kotoran yang menempel di bajunya. Tapi, sepertinya semua normal-normal saja. Dia memakai dress motif bunga sepanjang lutut dengan lengan panjang. Bukankah itu sudah termasuk sopan? Tapi, kenapa respon karyawan seperti itu?


Masuk ke kantor itu juga baru dua kali, tidak ada karyawan yang ia kenal selain Pak Giyanto. Mana mungkin dia punya masalah dengan salah satu karyawan di sana.


Ia menggeleng-gelengkan kepala, kembali menepis pikiran yang tidak-tidak. Tujuannya bukan untuk mencari tahu mengapa para karyawan memperlakukannya seperti itu, tapi dia ingin menemui Bayu. Langsung saja ia berjalan lurus menuju ruangan Bayu.


Sesampainya di depan pintu, ia mengurungkan niat untuk langsung masuk. Dari celah pintu yang terbuka, ia melihat ada Ben di sana. Kalau sudah ada orang itu, bawaannya jadi tidak enak. Pasti pembahasan mencurigakan seperti malam itu.


"Kali ini Bos benar-benar harus ikut. Saya tidak bisa membujuk Tuan lagi."


"Kenapa dengan lelaki tua itu? Sepertinya dia sangat ambisi sekali mengirim anaknya melakukan sesuatu yang berbahaya. Apa dia ingin anaknya cepat mati?"


"Bos tidak boleh berkata seperti itu, Tuan sangat menyayangi Anda meskipun kelihatannya seperti itu."


"Hah! Omong kosong!"


"Kalau dia benar-benar peduli denganku, bisakah dia meninggalkan semua bisnis laknatnya? Aku muak mengurusinya. Dia punya tangan sendiri, krnapa terus-terusan memanfaatkanku?"

__ADS_1


"Tuan tidak bisa semudah itu meninggalkan pekerjaan lamanya. Ada banyak perjanjian di masa lalu yang harus Tuan tepati jika tidak mau bisnisnya yang sekarang hancur dalam sekejap."


"Kamu sok tahu, Ben!"


"Saya lebih tahu dari Anda, Bos."


"Sombong!"


"Memang kenyataannya seperti itu. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di sisi Tuan Samuel, jadi saya tahu semua."


"Terserahlah!"


"Lalu kapan?"


"Dalam minggu ini."


"Aku tidak mau dikabari mendadak."


"Saya akan memberitahu secepatnya. Saya juga belum bisa memastikan kapan. Mereka masih dalam tahap mengemasi ganja."


Deg!


"Berapa jumlahnya?"


"Satu ton."


"Apa selama ini ada transaksi yang pernah gagal?"


"Selama lima tahun terakhir setelah Anda tidak ada, beberapa kali pengiriman ganja digagalkan polisi. Jalur dari Kota A ke Kota J sekarang sangat ketat baik jalur darat maupun laut."


"Aku juga sudah lama tidak melakukan ini, Ben. Aku tidak yakin masih bisa atau tidak."


"Saya percaya kepada Anda. Saya akan menemani Anda, Bos."


"Terima kasih, Ben. Kalau begitu, pergilah."


"Sampaikan pada ayahku kalau aku akan melakukannya kali ini."


"Baik, Bos. Permisi."

__ADS_1


Prita buru-buru menyingkir dari depan pintu. Dia mencari spot yang aman untuk bersembunyi dan tidak terlihat oleh Ben. Setelah Ben pergi, barulah ia krluar dari tempat persembunyiannya.


Bayu tidak pernah bercerita apapun kepadanya. Kalau ditanya, dia tidak akan mungkin menjawab. Dia tahu Bayu seorang yang tak akan segan untuk membunuh orang. Tapi, baru kali ini dia mendengar Bayu berhubungan dengan senjaga api ilegal dan narkoba? Apakah di balik segala perhatian yang ia tunjukkan kepadanya dia memiliki sisi kehidupan lain yang belum ia ketahui? Apakah kata-kata Irgi itu benar kalau Bayu bukan orang baik?


Tok tok tok


"Masuk."


Prita memasuki ruangan Bayu dengan ekspresi datar. Lelaki itu langsung menyambutnya dengan pelukan dan senyuman manis. Di depannya lelaki itu begitu manis bersikap. Bayu membuatnya serasa dimanja bak ratu. Jangan sampai ia benar-benar berhubungan dengan hal-hal terlarang itu. Dia akan sangat kecewa jika hal itu benar.


"Kenapa tidak mengabariku kalau mau kesini, Hm?"


"Dimana anak-anak? Apa mereka sudah pulang sekolah?"


"Iya, sudah. Dean sudah pulang ke rumah."


"Kalau Daniel.... Aku tadi mengantarnya ke kantor Ayash karena dia merengek ingin menginap di rumah papanya."


Senyuman di bibir Bayu seketika hilang berganti ekspresi datar.


"Kamu jangan salah paham, aku hanya mengantarnya saja."


Bayu semakin menatapnya dengan tatapan tidak suka. Prita tahu, sebentar lagi emosi lelaki itu akan meledak.


"Makanya aku ke sini untuk memberitahumu. Maaf, tadi aku lupa bertanya. Aku langsung pergi saja tanpa meminta pendapatmu." Prita menunjukkan ekspresi pasrah sekaligus memelas.


"Aku tidak suka kamu menemui mantan suamimu."


"Tidak, aku tidak menemuinya. Aku hanya mengantarkan Daniel."


Bayu mencubit keras pipi Prita, "Itu sama saja, kan.... Di sana pasti kamu bertemu dengannya."


"I'm sorry.... "


Bayu mengangkat Prita dan mendudukannya di sofa. Ia belai-belai wajah istrinya yang tidak pernah membuatnya bosan.


"Apa kamu tahu, kamu telah membuatku cemburu. Jangan sering-sering bertemu dengan mantan suamimu sendiri. Aku tidak suka."


"Prita mengangguk."

__ADS_1


Bayu memang selalu ketakutan istrinya akan kembali pada lelaki itu. Dia tak ingin Prita meninggalkannya lagi. Hidup tanpa Prita membuatnya serasa mati. Dan sekarang, dia baru merasakan hidup kembali.


__ADS_2