ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bertemu Shuwan dan Bayu 2


__ADS_3

"Kamu tadi bilang kenal Nona Raeka ini di klub memanah, ya?" tanya Bayu.


"Ah, iya. Kami biasa berlatih bersama. Raeka sudah bergabung lebih dulu dengan klub. Dia sangat mahir memanah, aku selalu kagum padanya." ucap Shuwan.


Rasanya Raeka ingin muntah mendengar kata-kata Shuwan. Ucapannya sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Padahal selama dia bergabung di klub Raeka hampir tak pernah dekat dengannya kecuali dua kali pertengkaran itu. Itu juga wanita itu yang mencari masalah lebih dulu.


"Berarti kalian cukup akrab, ya?"


"Em, bisa dibilang begitu. Iya kan, Raeka?"


Raeka hanya tersenyum.


"Lalu pertengkaran kalian yang waktu itu kenapa?" sahut Irgi.


"Ah, itu hanya salah paham antara aku dan Raeka. Ya, terkadang memang sesekali kami tidak cocok karena salah paham. Tapi semu sudah clear."


"Benar begitu?" Irgi bertanya pada Raeka.


Raeka hanya bisa mengangguk.


"Raeka, maafkan aku ya atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu dan tidak sengaja juga menginjak quiver milikmu."


"Iya, aku sudah melupakan kejadian waktu itu. Aku juga minta maaf karena telah merusak alat memanahmu."


"Apa Pak Irgi juga suka memanah?"


"Tidak. Aku lebih memilih tidur kalau ada waktu luang daripada harus bermain panahan. Kalau Pak Bayu sendiri hobinya apa?"


"Aku biasa latihan menembak setiap akhir pekan."


"Oh, kamu suka menembak?" tanya Shuwan.


Bayu mengangguk.


"Padahal bisnis Anda sangat banyak ya, tapi tetap masih punya waktu untuk menggiati hobi."


"Aku bukan orang yang terlalu sibuk. Usahaku ada orang-orang kepercayaan yang menangani. Jadi aku punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang aku sukai."


"Biasanya pengusaha memiliki hobi membaca, main golf, memancing, atau fitnes. Tapi hobi Anda ekstrim juga ya, latihan menembak. Seperti hobi mafia saja."


"Hahaha... persaingan bisnis itu kan keras. Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, kemampuan bela diri dan menggunakan senjata api bisa berguna juga."


"Setahuku di negara ini warga sipil dilarang menggunakan senjata api. Yang diperbolehkan memakai hanya aparat keamanan, kan?"

__ADS_1


"Dilarang bagi yang tidak bisa memakai dan tidak memiliki uang untuk mengurus ijin kepemilikan senjata."


"Hah.... benar juga. Jaman sekarang uang memang berkuasa."


"Anda tidak berminat memiliki senjata? Lumayan juga kan bisa punya senjata api? Bisa digunakan untuk menakut-nakuti orang."


"Ah, tidak. Saya lebih memilih menghindari hal-hal yang dekat dengan tindakan kriminal." ucap Irgi. Sebenarnya kata-katanya merupakan sindiran keras untuk Bayu.


Bayu juga menyadari kalau Irgi tidak menyukainya. "Bagaimana menurutmu tentang bisnis hiburan malam? Apa itu termasuk bisnis yang masuk ranah kriminal?"


"Ya, tentu saja... kalau dibarengi dengan penjualan narkoba atau prostitusi terselubung. Tapi siapa yang tahu, kan? Bisa jadi hal seperti itu dilakukan secara diam-diam."


"Itu juga hal yang tidak di klub malam milikku. Makanya selama lima tahun masih bisa bertahan, tidak ada yang bermasalah dengan pihak kepolisian karena pelanggaran ijin usaha. Itu pula alasan Greenland Paradise memutuskan untuk bekerjasama dengan kami. Bukankah begitu?"


Irgi hanya menyunggingkan senyum, "Ah, sepertinya kami sudah harus pulang. Ada seseorang yang harus aku temui."


"Ya, tentu saja. Senang bisa bertemu kalian di sini."


"Terima kasih atas traktirannya."


"Sama-sama."


Irgi dan Bayu saling melemparkan senyum. Irgi menggandeng tangan Raeka meninggalkan Bayu dan Shuwan.


"Iya."


Raeka memang sedikit lemot. Kejadian itu juga sudah cukup lama berlalu. Raeka bahkan sudah hampir melupakannya. Tapi yang masih ia ingat karena orang itu pernah membuat Irgi babak belur.


"Apa benar dulu dia pernah menculik Prita? Lalu tujuannya untuk apa?"


Irgi harus memutar otak. Kalau Raeka sudah bertanya mau tak mau harus ia jawab.


"Biasalah, masalah bisnis."


"Dia ada masalah dengan Ayash?"


"Iya."


"Aku masih dendam padanya karena pernah membuatmu babak belur. Seharusnya memang kamu batalkan saja kerjasama dengan klab malam miliknya."


"Kamu bilang klabnya bagus, tidak ada ruginya kalau bekerjasama dengan mereka?"


"Ya... aku kan tidak tahu kalau pemilik klab itu adalah orang itu."

__ADS_1


"Kalau kita batalkan hanya karena alasan pribadi seperti itu, artinya kita tidak profesional dalam bekerja. Dalam bisnis ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, masalah pribadi harus dikesampingkan. Bahkan banyak cerita kan, perjodohan demi kemajuan perusahaan. Orang-orang seperti itu bisa menikah hanya karena alasan bisnis, bukan berdasarkan cinta. Begitulah dunia bisnis."


"Aku juga masih ingat, dulu kamu pernah menyuruhku memasukkan satu mata-mata ke perusahaannya, kan, untuk mencari tahu tempat Bayu menyembunyikan Prita."


"Ya, aku ingat."


"Bukan kabar tentang Prita yang aku dapat, tapi justru tentang rencana penyelundupan 1 ton ganja oleh Bayu."


"Benarkah?"


"Ya, aku bahkan telah melaporkannya kepada pihak berwajib. Tapi nyatanya tidak ada berita tentang hal itu di TV. Apa mungkin orang suruhanku salah informasi?"


Irgi terdiam. Ia sudah tahu kalau Bayu seorang mafia yang cerdas dan licik. Tidak akan mudah untuk mengungkap kejahatannya.


"Mengerikan sekali kalau berurusan dengan orang seperti itu. Sepertinya dia orang yang sangat berbahaya. Walaupun aku belum tahu pasti dia benar-benar punya bisnis gelap atau tidak, tapi melihatnya langsung dari dekat aku jadi takut."


"Makanya kamu tidak usah berurusan dengannya. Kalau bertemu dia lebih baik menghindar, jangan sampai kamu diculik."


*****


Bayu menghisap rokok di kamar apartemennya. Dia langsung pulang setelah makan bersama Shuwan. Bertemu Irgi membuat perasaanya menjadi buruk. Prita dikelilingi oleh orang-orang yang menyebalkan. Ingin rasanya dia hancurkan juga perusahaan milik Irgi. Dia masih muda tapi tingkahnya sangat belagu.


Tok tok tok....


Pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Masuk, Alex." perintahnya.


"Ada apa, Alex?"


Tanpa berkata apapun, Alex hanya menyerahkan ponselnya kepada Bayu. Bayu menerimanya dan kaget melihat ada foto-foto Daniel di galeri ponsel Alex. Di sana juga ada foto Prita yang sedang bermain dengan ketiga anaknya di sebuah taman. Melihat senyuman yang mengulas di bibir wanita itu, Prita terlihat sangat bahagia. Ia ingin menertawakan dirinya sendiri yang masih mencintai istri orang.


"Mereka sudah kembali ke Indonesia." kata Alex.


"Kapan?"


"Beberapa hari yang lalu. Sekarang mereka tinggal di mansion milik keluarga Hartadi di daerah Kota S sebelah utara. Sedangkan Daniel dan Dean sudah mulai bersekolah di Global Labschool for kindergarten yang ada di dekat area taman kota. Mereka bersekolah 5 kali dalam seminggu mulai pukul delapan pagi hingga jam satu siang. Ayash Hartadi sudah kembali ke perusahaannya di PT Prayoga Jaya."


"Ah, berarti Irgi Mahesha sudah keluar dari perusahaan itu?"


"Tidak, Bos. Irgi Mahesha tetap menduduki jabatan sebagai presiden direktur sedangkan Ayash Hartadi sebagai CEO di perusahaan."


Bayu pikir Irgi akan kembali ke Singapura mengurusi perusahaannya. Ternyata kedudukannya tetap dan pemiliknya sendiri hanya sebagai CEO. Benar-benar persahabatan yang aneh.

__ADS_1


"Terima kasih Alex, atas informasinya. Kamu bisa beristirahat sekarang."


__ADS_2