ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Ikut Latihan Menembak


__ADS_3

Vote dong Bunda.... 😁


--------‐---------------------------‐-----------------------------------------


"Mau kemana?"


Satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering Bayu dengar ketika ia hendak pergi. Prita, istrinya itu entah mengapa jadi sering menanyakan kemana dia akan pergi. Padahal, dia hanya akan pergi ke kantor seperti biasa. Dia juga menanyakan jam berapa dia akan pulang, agendanya apa saja selama di kantor, sampai dengan siapa saja dia akan bertemu. Satu hari dia bisa bertanya dengan pertanyaan yang sama sampai lima kali.


Awalnya menyenangkan mendapat perhatian seperti itu dari istrinya. Dia merasa wanita itu menjadi lebih mencintainya dan tidak mau ditinggal-tinggal. Kadang ia sampai membatalkan kegiatannya yang tidak terlalu penting hanya untuk bercinta dengan istrinya yang menggemaskan. Prita tidak akan menolak saat ia menginginkannya.


Kali ini juga sama. Bayu sudah bersiap memakai pakaian olahraga, masih ditanya tujuannya mau kemana.


"Aku mau pergi olahraga, Sayang. Lihat pakaianku." jawabnya sembari memutar tubuhnya memamerkan pakaian yang ia kenakan.


"Aku ikut.... " ucap Prita dengan nada manja.


Bayu menatapnya dengan keheranan, istrinya mau ikut olahraga juga?


"Aku mau latihan menembak, Sayang. Yakin mau ikut?"


Prita mengangguk.


"Tunggu sebentar!"


Prita berlari ke arah kamar. Beberapa saat kemudian, dia sudah keluar mengenakan baju olahraganya.


"Ah, baiklah, kalau begitu, ayo!"


Bayu akhirnya mengalah dan mengijinkan Prita mengikutinya ke tempat latihan.


Di sana, Prita benar-benar ikut berlatih, bukan hanya sekedar menonton atau menemaninya. Meskipun awalnya sangat terganggu saat mendengar suara tembakan dari anggota lain, namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk ikut memegang senjata.


"Jangan takut, ini hanya benda mati. Kamu yang akan mengendalikannya."


Bayu menenangkan Prita yang tangannya tampak bergetar saat memegang pistol pertama kali. Ia memasangkan alat penutup telinga pada Prita agar lebih bisa konsentrasi. Senjata jenis pistol yang akan digunakan untuk latihan ia suruh Prita memegangnya dengan kedua tangan sembari ia tuntun dengan tangannya.


Posisi Bayu ada persis di belakang Prita, dengan badan bagian depan yang menempel pada punggung Prita. Posisi yang sangat romantis. Karena itulah Bayu lebih memilih mengajari Prita sendiri daripada menyuruh pelatih.


"Fokus, konsentrasi pada sasaran di depan."


"Atur nafasmu, jangan menahan nafas saat akan menembak. Tarik nafas dan hembuskan secara perlahan dan dinamis."


"Usahakan sikap tembak yang alami, posisi badan, lebar kaki, angkatan tangan pada senjata dan mata sesuai dan terarah alami pada sasaran."


"Rileks.... "


Mendengar bisikan kata 'rileks' di telinganya membuat Prita memerah malu. Dia jadi teringat kata-kata itu sering Bayu ucapkan saat mereka berdua sedang berhubungan. Konsentrasinya tiba-tiba hilang karena memikirkan hal yang tidak tidak-tidak.


"Ayo konsentrasi kok malah melamun."


Teguran dari Bayu membuat Prita fokus kembali pada senjata dan sasaran yang ada di hadapannya.


"Saat menekan picu, jangan dihentak, ya. Biasa saja, tetap tenang. Gunakan rasa dan emosimu, agar pistol ini bisa mencapai target sesuai yang diharapkan."


"Kamu siap?"


Prita mengangguk. Ia kembali berkonsentrasi. Setelah mantap, Ia tekan picu dengan tenang.


Dor!


Satu tembakan melesat cepat ke arah target. Meleset, namun masih mengenai tepinya.


"Bagaimana, kamu mau mencobanya sendiri?"


Prita mengangguk. Bayu sedikit menjauh darinya, memberi ruang agar dia lebih berkonsentrasi pada target. Bayu tidak menyangka, wanita lembut yang selalu terlihat pasrah di ranjang itu bisa menampilkan sisi lainnya yang lebih berani dan percaya diri.

__ADS_1


Bayu bukannya tidak menyukai kedua perbedaan itu. Dia justru senang melihat wanitanya begitu. Patuh saat di kamar dan berani saat di luar kamar.


Dor! Dor! Dor!


Beberapa tembakan Prita lesakkan. Semuanya belum sempurna mengenai target. Tapi, itu sudah sangat bagus setidaknya Prita berani memegang senjata.


Bayu memberikan tepuk tangan, "Good job, Honey. Aku bangga padamu."


Bayu menariknya ke dalam pelukan. Dikecupinya area telinga, pipi, hingga akhirnya ******* bibirnya.


"Oh, Ya Tuhan! Ini tempat umum dan kamu menciumku?" protes Prita. Dia kaget ketika Bayu tiba-tiba mencium bibirnya.


"Tidak ada yang peduli dengan kita, kamu tidak perlu khawatir."


Bayu tidak memberitahu kalau sebenarnya tempat itu sudah ia sewa untuk latihan dirinya bersama anak buahnya. Jadi, tidak ada orang luar selain Red Wine di sana.


"Kamu mau coba yang lebih panjang?" Bayu mengambilkan sebuah senapan laras panjang.


"Boleh. Apa caranya juga sama?"


"Pegang dan aku akan mengajarimu."


Bayu mengajari Prita memegang senjata itu dengan posisi pegangan tangan yang benar.


"Sepertinya kamu lebih suka yang panjang-panjang, ya?" goda Bayu di telinga Prita. "Punyaku jadi ikut berdiri karena membayangkanmu memegangnya seperti senapan ini."


"Kamu niat mengajariku atau hanya ingin mesum padaku?"


"Ini respon alami kalau aku berlama-lama dekat denganmu, Sayang."


"Sepertinya kamu bohong soal pernah impoten lima tahun ya, Tuan Bayu yang terhormat. Dimanapun kayaknya kamu selalu naf*su dan sangat lincah kalau kita di kamar."


"Hahaha.... Tapi aku berkata jujur. Punyaku bisa tegak lagi setelah bertemu denganmu."


"Awas saja kalau dipakai sembarangan lagi, aku sumpahi impoten lagi."


"Percayalah, aku sudah berubah. Aku ini orang yang sangat setia. Tidak ada wanita lain yang membuatku tertarik selain dirimu."


"Bagus. Kalau aku tahu kamu masih berhubungan dengan wanita lain, aku tidak akan berpikir dua kali untuk langsung meninggalkanmu."


"Rasa cemburumu besar juga."


"Memangnya kamu tidak? Aku hanya bertemu mantan suamiku saja kamu sudah semarah itu."


"Oh, ****! Jangan bahas dia, aku tidak suka. Dan kamu jangan pernah lagi menemui dia tanpa seizinku."


"Ayo, fokus. Arahkan pada sasaran. Tarik picunya."


Dor!


"Sekarang coba sendiri, ini agak berat."


"Auw!"


Prita memekik saat Bayu melepaskan tangannya. Senapan yang sekarang ia pegang memang lebih berat jika dibandingkan dengan pistol. Ia mempraktikkan cara yang Bayu ajarkan padanya. Saat sudah mantap untuk menembak, baru ia tarik pelatuk senapannya.


Dor! Dor! Dor!


Ternyata melakukan hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan cukup menyenangkan. Latihan menembak tak seseram yang ia bayangkan. Hampir sama dengan kegiatan memanah yang selama ini ia ikuti.


"Mau berlomba denganku? Lima kali tembakan, yang paling banyak mengenai sasaran dia yang menang. Dan yang kalah harus menuruti permintaan yang menang."


Bayu mengambil senapan yang lain. Ia mengisikan peluru kedalamnya hingga penuh.


"Yang benar saja? Aku baru satu kali ini latihan dan diajak berlomba? Itu namanya curang. Kita bukan lawan yang sepadan."

__ADS_1


"Aku memang berharap kamu kalah, Sayang. Ayo, berusahalah semampumu untuk mengalahkanku." Bayu menyeringai.


Prita berdecih, "Oke, meskipun kemungkinan menang hampir mustahil, aku akan tetap berusaha."


Prita mengangkat kembali senapannya dengan wajah setengah kesal. Kali ini, dia benar-benar serius mengarahkan pada target di depannya.


Sementara, Bayu senyum-senyum memandangi wanita di sebelahnya. Ternyata dia punya jika kompetitif juga padahal baru pertama kali belajar.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Prita melesakkan lima peluru berurutan. Dari kelimanya, hampir semua meleset. Hanya satu peluru yang mengenai papan target itupun tak tepan mengenai bagian tengah.


Bayu menahan tawa, wajah Prita tampak semakin kesal.


"Puas kan, melihatku kalah?"


"Tidak, tidak. Itu sudah cukup bagus, Sayang."


"Sekarang, giliranku, ya."


Bayu mengangkat senjata, membidikkannya pada target di depannya.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Kelima tembakan yang Bayu keluarkan tak ada satupun yang mengenai sasaran. Ia sengaja menembak dengan asal agar istrinya senang.


"Ah, ternyata tembakanku lebih parah darimu, Sayang. Aku kalah."


Bayu mengangkat kedua tangannya. Prita tersenyum senang karena menang.


"Bos.... "


Suara Ben mengalihkan perhatian mereka. Tiba-tiba saja orang itu sudah ada di sana. Prita melipat tangannya, dia tidak terlalu suka dengan kedatangan Ben.


"Kenapa, Ben?"


"Sepertinya ada sedikit kendala di sana. Bisakah kita berangkat lebih cepat dari rencana semula?"


"Kendala apa?"


"Ada perselisihan yang terjadi antara warga setempat dengan pekerja. Jadi, proses pemanenan gan.... "


"Stop, Ben. Kita bicarakan nanti setelah ini."


Bayu mencegah Ben melanjutkan ucapannya. Dia baru sadar kalau saat ini ada Prita sedang bersamanya.


"Sayang, kamu pulang dulu ya dengan sopir. Aku ada urusan dengan Ben. Ini agak sedikit lama, kamu akan bosan menunggu."


Prita berjalan ke arah Bayu, meraih tangannya dan menyandarkan kepala pada lengannya dengan manja.


"Aku akan menunggumu, katakan saja apa yang ingin kalian bahas. Aku hanya akan ada di sampingmu dan tidak akan mengganggu." katanya merajuk.


"Kasihan Livy, nanti dia mencarimu."


"Aku sudah menyu*suinya sebelum pergi. Apa kamu tidak suka aku menemanimu?"


Ben mematung melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia bingung harus bagaimana. Apa dia harus pergi atau tetap di sana. Sikap Prota yang sekarang sangat berbeda dengan sikapnya yang dulu.


"Bagaimana ini, Ben. Istriku tidak mau melepaskanku. Sepertinya aku harus mengajaknya ke tempat tidur sekarang."


"Ish! Kenapa berkata seperti itu di depan Ben!"


"Maaf, Ben. Kita bahas lain kali saja. Tidak apa-apa, kan?"


"Iya, Bos. Tidak apa-apa."

__ADS_1


Ben terpaksa mengalah. Ia pergi meninggalkan dua sejoli yang tampak lengket itu.


__ADS_2